Senin, 12 Juni 2017

Misteri kehadiran mitos hantu di jawa

Makhluk halus di jawa

Setiap daerah senantiasa memiliki mitologi yang diwariskan secara turun-temurun. Begitu pun masyarakat Jawa. Mitologi dapat berupa cerita mistis dan menyeramkan. Yang unik, Jawa memiliki kekhususan dalam menyebut dan mengidentifikasi cerita mistis untuk senantiasa dihubungkan dengan keberadaan makhluk gaib atau roh bergentayangan. Akibatnya, Jawa memiliki banyak sebutan nama dan jenis hantu (memedi) yang tidak dijumpai di daerah atau masyarakat suku lain. Namun, kini mitologi tentang hantu lokal itu tak lagi banyak dikenal.

Seiring dengan perkembangan zaman, generasi masa kini seolah-olah telah makin rasional. Namanama hantu di Jawa bangkrut secara eksistensial. Padahal, mitologi tentang nama hantu itu dibuat berdasar pemikiran yang dilandasi tujuan dan maksud tersembunyi. Bukankah tidak ada mitos yang lahir tanpa kesengajaan?

Masyarakat Jawa percaya hantu memiliki spesifikasi dan cara kerja yang terstruktur. Artinya, setiap hantu memiliki mangsa dan target khusus. Sebagai contoh, zaman dulu jika banyak ayam mati mendadak dengan seketika masyarakat percaya hewan ternak itu diganggu dinkel. Dinkel adalah hantu yang secara khusus mengganggu ayam.

Atau saat seseorang terkena beri-beri dan busung air, masyarakat percaya itu disebabkan oleh gangguan hantu bernama dhegen. Hantu itu berwujud seperti uap yang masuk tubuh manusia, menyebabkan salah satu bagian tubuh membengkak. Jika sapi, kerbau, dan kambing mati mendadak berarti diganggu hantu potok. Saat anak-anak sawanen atau kejang-kejang, itu perbuatan hantu sawan.

Masih banyak lagi nama hantu di Jawa, seperti anja-anja, antu alas, antu omah, banaspati, bajang angkrik, bermana-bermani, blorong, bontot, cinunuk, dadang dawus, den bisu, drubiksa, belis, gebluk, tuyul, kuntilanak, gendruwo, jerangkong, kebleg, kanun, kemamang, laha, lampor, wewe.

Hantu-hantu tersebut sebisa mungkin harus dihindari dengan berbagai syarat dan pantangan. Misalnya, jika tidak ingin diganggu belis, hantu yang merasuki tubuh seseorang (kesurupuan) atau membuat manusia celaka, jangan keluar saat matahari surup (sesaat sebelum magrib). Jadi orang Jawa senantiasa menyuruh anak-anak masuk ke rumah pada waktu itu. Atau, jangan berpergian mendekati waktu magrib, karena di suatu tempat sering terjadi kecelakaan dan tragedi memilukan. Jika malam telah tiba, jangan pergi sendirian ke sawah atau kebun. Sebab, bisa-bisa kemamang akan menampakkan diri. Kemamang berwujud seperti bola api yang menakuti manusia di tempat gelap.

Pemikiran lokal 
Semua tentang hantu itu dibuat berdasar pemikiran lokal dari hasil endapan akumulasi peristiwa yang dialami masyarakat Jawa. Tentu saja kita tak harus memercayai mitos tentang hantu itu secara nyata. Namun senantiasa ada pesan hendak disampaikan dari mitos, terlepas dari begitu seram dan mengerikan mitos itu.

Ada banyak fakta ilmiah yang bisa kita ungkap dari kehadiran mitos bagi kehidupan orang Jawa. Larangan keluar menjelang magrib, misalnya, secara ilmiah pada waktu itu peralihan cahaya terjadi, titik temu antara terang dan gelap, siang ke malam. Mata manusia pada waktu demikian tak dapat melihat secara sempurna, sehingga butuh penyesuaian. Akibatnya, banyak kecelakaan terjadi di jalan raya.

Mitos tentang hantu dibuat karena masyarakat Jawa kala itu tak dapat menganalogikan ilmu pengetahuan secara runtut, terperinci, terlebih ilmiah. Mereka hanya mengetahui dan merasakan gejala tanpa mampu mengurai detail penjelasan.

Mitos kemudian dipercayai dan disebarkan dari mulut ke mulut (budaya lisan). Ia diwariskan dari satu generasi kegenerasi lain. Namun, kini mitos tentang nama-nama hantu tak dapat dijumpai lagi. Generasi masa kini hanya mengenal sedikit tentang nama hantu seperti tuyul, gendruwo, kuntilanak. Itu pun karena sering muncul di layar televisi lewat serial drama dan film horor. Selebihnya, mereka mengalami keterasingan dari nama hantu di Jawa.

Bagaimana pun nama-nama hantu di Jawa adalah produksi dari sebuah pemikiran rasional nenek moyang kita untuk bernegosiasi dan berdialog dengan alam. Kehadirannya tak semata-mata mencerminkan tingkat pengetahuan. Lebih dari itu, nama-nama hantu di Jawa adalah lorong kecil dalam melihat dinamika dan kebudayaan. Hantuhantu hadir untuk menjembatani dan mengikat manusia Jawa agar tak keluar dari adab dan kebudayaanya. Ia menjadi simpul yang mengingatkan tentang jejak sebuah peradaban.

Mari kita perkenalkan kembali hantu-hantu di Jawa kepada anak-anak. Bukan hendak menakuti dan membuat mereka menangis, melainkan sebagai upaya mentransformasikan kekayaan tradisi di Jawa. Sambil disertai alasan logis dan kajian ilmiah, mitos tentang nama-nama hantu akan hadir dalam wujud baru dan lebih segar. Hantu-hantu di Jawa kini butuh perhatian dan sentuhan untuk diangkat kembali eksistensi mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar