Selasa, 06 Juni 2017

Puasa bersihkan racun & paduan optimalkannya

Puasa

Bulan puasa memang ditunggu-tunggu oleh umat islam. Banyak sekali yang menyambut bulan puasa di daerah-daerah dengan cara berbagai macam dan unik. Puasa sangat menyehatkan dan juga bisa membersihkan racun di dalam tubuh manusia. Maka dari itu, setiap di bulan suci ramadhan, diwajibkan berpuasa agar sehat dan hati menjadi tenang.

Saat puasa terjadi proses detoksifikasi. Zat-zat racun yang ada di tubuh dibersihkan. Jika dikerjakan secara benar, puasa tidak hanya menyucikan jiwa, tetapi juga membersihkan raga. Hal itu berkat efek detoksifikasi puasa pada tubuh. Mungkin Anda bertanya, benarkah ada zat-zat racun dalam tubuh? Dari mana asalnya? Soal itu, pakar nutrisi Andang W Gunawan menjelaskan zat racun dalam tubuh bisa berasal dari hasil metabolisme dan dari makanan yang kita konsumsi.

Setiap hari sel-sel tubuh melakukan metabolisme. Salah satu fungsinya antara lain mengganti sel-sel yang rusak dengan sel-sel baru. Sel-sel rusak tersebut menjadi sampah yang harus dibuang. Racun dari makanan berasal dari jenis makanan yang tidak sehat. Seperti makanan olahan yang penuh zat aditif termasuk pengawet, pewarna, dan perasa buatan, juga makanan berlemak tinggi, berkolesterol berpurin (asam urat), dan bergaram tinggi.

Sebenarnya, tubuh memiliki mekanisme pengeluaran zat-zat sampah melalui buang air besar, buang air kecil, keringat, serta pernapasan. Namun ketika mekanisme itu terganggu akibat gaya hidup dan pola makan yang salah serta banyaknya polusi, proses pengeluaran racun tidak berjalan maksimal. Sedikit demi sedikit racun dari metabolisme dan makanan tidak sehat itu menumpuk dalam tubuh. Ketika racun menumpuk, biasanya tubuh akan memberi peringatan. Pada saat ini keasaman tubuh sudah terlalu tinggi atau mengalami asidosis.

Dilansir dari mediaindonesia, Asidosis membuat tubuh rentan terserang penyakit. Gejala awal asidosis antara lain sering sakit kepala, asma, sinusitis, mudah alergi, sering pilek, batuk, dan flu, sering kembung, sembelit, maag, kulit berjerawat, keputihan, napas dan keringat bau, dan kelebihan berat badan.

‘’Pada saat ini, tubuh memerlukan detoksifikasi,’’ ujar Andang pada sebuah talk show, beberapa waktu lalu. Menurut Andang, ada beberapa metode detoksifikasi. Antara lain membatasi konsumsi dengan hanya makan buah-buahan dan air selama beberapa hari, atau hanya dengan mengkonsumsi air, atau dengan berpuasa. Mengapa puasa menjadi metode detoksifikasi?

‘’Pada hari-hari biasa saat kita terus mengkonsumsi makanan, sebagian energi kita tersita untuk melakukan proses pencernaan. Saat puasa, kita tidak makan dan minum dari imsak hingga magrib. Hal itu membuat energi tersebut lebih fokus untuk zat-zat sampah dari dalam tubuh,’’ terang lulusan Queensland Institute of Natural Science itu.

Bertahap Proses detoksifikasi saat puasa terjadi dalam beberapa tahap. Tahap pertama (hari 1-2) adalah yang paling berat saat kita harus menyesuaikan diri dengan perubahan jam makan saat puasa. Pada tahap itu biasanya orang akan sakit kepala, pusing, mual, mata berkabut, dan timbul lapisan tebal pada lidah.

Di tahap kedua (hari 3-7) biasanya proses detoksifikasi makin berat. Pada tahap itu tubuh mulai menyesuaikan diri dengan kondisi puasa. Volume kerja sistem pencernaan berkurang dan energi tubuh terpusat untuk pembersihan dan penyembuhan. Racun mulai keluar, menyebabkan kulit berminyak, mungkin timbul jerawat atau bisul.

Tahap ke-3 (hari ke 8-15) tubuh mengalami peningkatan energi dan pikiran lebih jernih. Akan muncul rasa nyeri pada bekas-bekas luka pada tubuh menandakan adanya penyempurnaan proses penyembuhan. Pada tahap akhir (hari ke 16-30) tubuh sudah mulai beradaptasi dengan detoksifikasi. Pada tahap ini tubuh be kerja pada kapasitas maksimum mengganti sel-sel yang rusak dan terjadi keseimbangan homeostatis.

Optimal dengan pola makan benar
Untuk mengoptimalkan proses detoksifikasi kita harus memilih menu sehat. Berikut panduan pola makannya. 

Sahur
- Jus buah/buah potong segar.
- Protein dari telur rebus/susu
kedelai/tahu tempe.
- Sayuran segar.
Buka puasa (magrib)
- Jus buah/buah potong segar.
Makan malam (sesudah isya/tarawih)
- Nasi merah/kentang/pasta.
- Lauk (sebisa mungkin vegeta
rian/hindari yang tinggi lemak).
- Sayuran masak (tumisan/cah/
kukus).
- Sayuran mentah (lalap/selada/
jus).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar