Senin, 12 Juni 2017

Sejarah dan misteri di bangunan lawang sewu


Sejarah lawang sewu
Kota Semarang pada masa lampau sebagai kota pelabuhan dan kota dagang. Daya tarik itu mengundang pedagang dari berbagai daerah untuk kunjung dan singgah ke pelabuhan Semarang untuk berdagang dan tinggal menetap. Semarang sebagai kota penting oleh para penguasa baik sultan-sultan Mataram maupun para pembesar kolonial dengan alasan temapat Kota Semarang strategis karena itulah Semarang menjadi kota yang bertolak kolonial atau barat.

Selama masa pemerintahan Belanda di Semarang mereka membangun beberapa bangunan untuk memperkuat kekuasaanya. Bangunan-bangunan tersebut hingga saat ini masih banyak yang berdiri kokoh hingga saat ini. Hal tersebut menunjukan bahwa keberadaan Belanda di Semarang tidak hanya memberikan dampak negatif bagi perkembangan Kota Semarang namun juga dampak positif dengan berdirinya bangunan-bangunan yang kuat, bangunan tersebut antara lain Lawang Sewu, Kantor Pos Besar Semarang, Gereja Blenduk, Toko Oen dan lain-lain.

Bangunan-bangunan Belanda yang masih berdiri hingga saat ini sejumlah lima buah bangunan yang menjadi ikon Kota Semarang, salah satu yang terkenal adalah Lawang Sewu. Lawang Sewu terletak di bundaran Tugu Muda yang dahulu disebut Wilhelminaplein. Lawang Sewu dibangun oleh Belanda pada tahun 1904 dan selesai tahun 1907 ini dulunya diperuntukkan untuk Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS, perusahaan jawatan kereta api swasta pada jaman Belanda sebagai kantor administrasi.

Masyarakat setempat menyebutnya Lawang Sewu (Seribu Pintu) dikarenakan bangunan tersebut memiliki pintu yang sangat banyak. Bangunan ini memiliki banyak jendela yang tinggi dan lebar, sehingga masyarakat sering menganggapnya sebagai pintu (lawang). Dalam perkembangnya saat ini Lawang Sewu sudah tidak dipergunakan sebagai kantor perusahaan kereta api, namun telah berkembang menjadi sebuah objek wisata masyarakat. Bahkan sebelumnya bangunan tersebut pernah juga dipakai sebagai Kantor Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementrian Perhubungan Jawa Tengah. Pada masa perjuangan gedung ini memiliki catatan sejarah tersendiri yaitu ketika berlangsung peristiwa Pertempuran lima hari di Semarang (14 Oktober-19 Oktober 1945).

Lawang sewu, satu diantara sedikit bangunan yang mempunyai integritas arsitektur yang kuat perpaduan antara pengaruh luar indische dengan keunikan lokal yang kental dan tanggap terhadap iklim maupun lingkungan sekitar yang masih tersisa. Dari segi tampilan bangunanya gedung Lawang Sewu menganut gaya Romanesque Revival dengan. Secara umum gedung Lawang Sewu tidak memiliki simbol yang penting, namun bila ditinjau dari skala Kota atau wilayah keberadaan gedung yang terletak di tengah-tengah Kota Semarang ini, keberadaannya sangat berarti bagi pembentukan citra lingkungan dan mampu tampil sebagai“landmark” bagi Kota Semarang. Keseluruhan gedung ini merupakan karya yang sangat indah sehingga dijuluki“ Mutiara dari Semarang

Sebagai bangunan kuno dan bersejarah, gedung ini identik dengan Kota Semarang, menjadi tetenger atau pun landmark kawasan sekitarnya, dan memenuhi kriteria Catanese Snyder (1979) untuk dikonservasi. Pemenuhan kriteria tersebut sebagai berikut Pertama nilai Estetika yang tinggi. Tolak ukur estetika ini dikaitkan dengan nilai estetis dan arsitektonis yang tinggi dalam hal bentuk, struktur, tata ruang, dan ornamennya. Kedua nilai Kejamakan, Lawang Sewu mewakili satu kelas atau jenis khusus bangunan yang cukup berperan, karena karya arsitektur tersebut mewakili suatu jenis khusus yang spesifik. Ketiga nilai Kelangkaan, Lawang Sewu jelas sebuah bangunan yang sangat langka, karena hanya satu dari jenisnya, atau merupakan contoh terakhir yang masih ada, bahkan merupakan satu-satunya di dunia, atau tidak ada di lain daerah. Keempat nilai Peranan Sejarah, Lawang Sewu juga menjadi saksi sejarah perjalanan penjajahan kolonial sampai Pertempuran Lima Hari di Semarang.

Wisata misteri di bangunan lawang sewu


Gedung bekas kantor pusat perusahaan kereta api (trem) penjajah Belanda atau Nederlandsch Indishe Spoorweg Naatschappij (NIS) itu terletak di kawasan Simpang Lima, Tugu Muda, kota Semarang. Gedung tiga lantai ini dibangun pada 1904, yang merupakan karya arsitek Belanda ternama, Prof. Jacob F. Klinkhamer dan B.J. Queendag. Disebut Lawang Sewu (Seribu Pintu), ini dikarenakan bangunan tersebut memiliki pintu yang sangat banyak. Kenyataannya, pintu yang ada tidak sampai seribu. Lagi pula bangunan ini memiliki banyak jendela tinggi dan lebar, yang dianggap pintu oleh masyarakat.

Lawang Sewu sudah menjadi wisata wajib bagi yang berkunjung ke kota Semarang. Pada masa perjuangan gedung ini memiliki catatan sejarah tersendiri, ketika berlangsung peristiwa Pertempuran Lima Hari di Semarang pada 14-19 Oktober 1945. Ia menjadi lokasi pertempuran yang hebat antara pemuda AMKA (Angkatan Muda Kereta Api) melawan Kempetai dan Kidobutai, Jepang. Pemerintah memasukan Lawang Sewu sebagai salah satu dari 102 bangunan bersejarah di Kota Semarang yang patut dilindungi. Peristiwa sejarah yang merubah fungsi bangunan sesuai dengan jamannya inilah yang menjadi daya tarik pariwisata Lawang Sewu. Selain itu misteri mistis yang menyelimutinya juga menjadi pemikat wisatawan untuk berkunjung.

Arus lalu lintas di seputaran kawasan Tugu Muda cukup ramai namun suasana berubah menjadi tenang dan sepi ketika memasuki halaman bangunan Lawang Sewu. Bangunan Lawang Sewu cukup besar dengan halaman yang cukup luas. Namun setiap wisatawan yang masuk baik itu sendiri mau berkelompok wajib menggunakan jasa pemandu. Di lantai satu kita bisa bisa melihat foto-foto bersejarah. Terdapat juga lorong dengan banyak pintu yang biasa dijadukan objek foto-foto oleh para wisatawan. Di ujung lorong, jika kita melihat kebawah terdapat sebuah selokan yang konon pada waktu masa penjajahan Jepang, selokan itu dijadikan untuk pembuangan mayat yang kepalanya sudah dipisahkan.

Naik ke lantai atas merupakan loteng yang masih terbuat dari kayu. Pada masa pemerintahan Belanda, ruangan ini digunakan sebagai gudang penyimpanan, namun pada masa penjajahan Jepang ruang ini beralih fungsi menjadi ruang penyiksaan tawanan. Yang paling ditunggu-tunggu adalah ruangan bawah tanah, yang dulunya adalah penampungan air dan kemudian dijadikan ruang penjara oleh Jepang. Untuk memasuki ruang bawah tanah ini para wisatawan harus merogoh kocek lagi untuk menyewa sepatu boot, karena ruangan ini digenangi oleh air sekitar 30cm.

Ada dua jenis penjara di ruangan bawah tanah ini, yang pertama adalah penjara berdiri, ruangan berukuran 1x1 meter dan dipenuhi air setinggi lutut orang dewasa sehingga tawanan tidak bisa duduk karana bisa terlelap air dan harus berdiri sampai akhir hayatnya. Parahnya lagi, satu ruangan sempit itu bisa diisi sampai 6 orang. Yang kedua adalah penjara jongkok, di mana 7 sampai 8 orang tawanan dijejalkan dalam ruangan selebar 1,5 meter dengan tinggi 1 meter. Bisa dibayangkan betapa tersiksanya mereka. Ruangan bawah tanah ini juga berfungsi sebagai tempat pemasungan kepala kemudian mayatnya ditenggelamkan di sungai secara diam-diam.

Misteri, mistis, supranatural, dan hantu, semua itu memang menjadi daya tarik tersendiri Lawang Sewu. Lihat saja jumlah pengunjung yang melonjak di malam Jumat. Setiap pengujung pasti memiliki pengalaman dan kejadian unik yang bisa menjadi bahan berbagi cerita, dan tidak sedikit yang merasakan kejadian misteri di sana. Coba saja anda googling kata “Lawang Sewu”, ratusan pengalaman aneh dan penampakan makhluk halus mudah sekali ditemui. Oh iya, tentang shooting “Dunia Lain” itu benar adanya, silahkan search videonya di situs youtube jika penasaran dengan sosok kera yang muncul di kamera.

Lawang Sewu masuk dalam salah satu nominasi Lomba Cipta Pesona Wisata (Cipta) Award 2012 yang digelar Direktorat Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Lawang Sewu adalah wakil dari jawa tengah dan akan bersaing dengan destinasi wisata nasional lainnya untuk memenangkan Cipta Award 2012. Cipta Award merupakan kompetisi tingkat nasional yang diberikan kepada pengelola daya tarik wisata Indonesia seperti alam, budaya, dan buatan.

Lawang Sewu sudah menjadi ikon bagi kota Semarang, dan bisa menjadi destinasi wisata yang sangat menarik bagi anda yang suka dengan hal supranatural, meskipun dari segi sejarah Lawang Sewu juga sangat menarik. Pada musim liburan, seperti Lebaran kemarin, jumlah pengunjung bisa mencapai lebih dari 13 ribu orang. Saat ini gedung tersebut juga digunakan sebagai kantor PT KAI (Kereta Api Indonesia), dan ada beberapa bagian gedung yang direnovasi untuk menyesuaikan fungsinya sebagai kantor. Namun tetap menarik sebagai tempat wisata dan masih menjadi favorite bagi masyarakat Semarang sampai sekarang. Selain itu gedung tua ini juga sering digunakan sebagai tempat foto pre-wedding.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar