Sabtu, 24 Juni 2017

Sejarah & mitos di kelenteng boen tek bio

Kelenteng boen tek bio di tangerang

Sekitar tahun 1684, masyarakat Tionghoa yang bertempat tinggal di perkampungan letak Sembilan Tangerang bergotong royong membangun sebuah kelenteng yang diberi nama Kelenteng Boen Tek Bio. Berasal dari kata Boen yang berarti sastra, Tek yang berarti kebajikan, dan Bio yang berarti tempat ibadah yang besar, maka Kelenteng Boen Tek Bio disebut juga sebagai "tempat ibadah sastra kebajikan".

Kelenteng Boen Tek Bio merupakan salah satu dari tiga kelenteng besar di daerah Tangerang. Dua klenteng lainnya adalah Kelenteng Boen Hay Bio berdiri 1694 dan Kelenteng Boen San Bio berdiri 1689. Sesuai dengan pernyataan humas Kelenteng Boen Tek Bio, Oey Tjin Eng, ketiga kelenteng di Tangerang tersebut berada dalam satu garis lurus yang ketiganya memiliki nilai kebajikan. Boen San Bio artinya kebajikan setinggi gunung, dan Boen Hay Bio artinya kebajikan seluas lautan.

Dewa, atau dewi utama yang disembah di kelenteng ini adalah Dewi Kwan Im. Di sisi kiri dan kanannya juga terdapat patung-patung dewa lainnya. Bangunan Kelenteng Boen Tek Bio sempat beberapa kali direnovasi dan mengalami perombakan hingga menjadi seperti saat ini, terlihat megah dengan warna merah dan kuning keemasan.

Kelenteng Boen Tek Bio memiliki satu tradisi unik yang sudah berlangsung ratusan tahun, yaitu Gotong Toapekong. Kegiatan ini diadakan tiap dua belas tahun sekali yaitu tiap tahun naga menurut kalender Cina. Dalam prosesinya, para kaum Tionghoa dan masyarakat sekitar mengarak patung Dewi Kwan Im dari kelenteng Boen Tek Bio di daerah Pasar Lama ke kelenteng Boen San Bio di jalan Moch Toha. Ritual ini dilakukan demi menolak bala dan mengusir hawa jahat yang ada di bumi.

Selain Gotong Toapekong, Kelenteng Boen Tek Bio juga merayakan Pesta Petjun (dalam bahasa Mandarinnya dikenal dengan nama 端午节 Du#n W$ Jié, festival yang diadakan setiap bulan lima tanggal lima penanggalan Cina). Di pesta ini, ada beberapa kegiatan seperti panggung musik dan perlombaan balap perahu naga. Setelah kejadian Gerakan 30 S, semua kegiatan ini dilarang oleh pemerintah dan baru diperbolehkan kembali setelah zaman reformasi.

Mitos-mitos di kelenteng boen tek bio tangerang

Fenomena-Fenomena Menarik di Kelenteng Boen Tek Bio
Berdasarkan hasil wawancara dengan Engkong (panggilan akrab untuk Oey Tjin Eng) pada saat penulis berkunjung ke Kelenteng Boen Tek Bio, Engkong menceritakan beberapa fenomena menarik tentang kelenteng tersebut. Sekitar tahun 1942, pada saat Jepang masuk ke Indonesia terjadi pertempuran di beberapa daerah di Jawa, salah satunya di Tangerang. Dalam pertempuran tersebut, tentara Jepang menembakkan senjata mortir secara membabi buta. Mortir-mortir tersebut jatuh di sembarang tempat, meledak dan menghancurkan tempat tersebut. Mortir tersebut juga jatuh di daerah belakang Kelenteng Boen Tek Bio dan di kuburan yang hanya berjarak beberapa meter dari kelenteng, namun anehnya tidak satu pun dari mortir tersebut yang meledak.

Fenomena menarik lainnya adalah pada saat terjadi bencana banjir besar di tahun 1883. Seluruh daerah di Tangerang terkena banjir, namun hanya kelenteng Boen Tek Bio yang tidak terkena banjir. Hal serupa juga terjadi pada tahun 1887, di saat air sungai Cisadane meluap. seluruh daerah disekitarnya terbenam air setinggi satu meter, namun menurut saksi mata, air tersebut seakan membelah di depan kelenteng sehingga Kelenteng Boen Tek Bio tidak terbenam air. Fenomena-fenomena menarik Kelenteng Boen Tek Bio membuat masyarakat Tangerang semakin percaya pada kelenteng tersebut dan berdasarkan data penjaga kelenteng, hari demi hari jemaahnya pun semakin bertambah.

Air Emak (Dewi Kuan Im) : Obat Mujarab Berbagai penyakit
Di halaman belakang kelenteng, terdapat patung Dewi Kwan Im setinggi sekitar tiga meter. Selain itu terdapat juga sebuah sumur yang disebut dengan nama sumur sumber rezeki. Mitos yang dikenal mengenai sumur tersebut adalah konon di dalamnya berdiam anak naga putri hijau. Sumur tersebut ditutup dan di dinding sumur dipasang keran-keran yang mengalirkan air keluar sumur. Beberapa jemaat biasa menggunakan air tersebut untuk membersihkan diri dan mencuci muka. Air dari sumur sumber rezeki ini dianggap suci dan dipercaya bisa membawa keberuntungan.

Masyarakat Cina Benteng dan masyarakat Tangerang yang percaya pada Kelenteng Boen Tek Bio percaya bahwa air Emak (Dewi Kwan Im) adalah obat mujarab yang dapat mengobati berbagai penyakit. Menurut masyarakat sekitar Kelenteng Boen Tek Bio, Air Emak Kwan Im telah terbukti dapat mengobati segala penyakit, bahkan penyakit yang tidak dapat diobati dengan obat apa pun. Hal tersebut didukung oleh Mbah Jambrong, salah satu aktivis Kelenteng Boen Tek Bio, ia bercerita bahwa dahulu ia mengalami sebuah kecelakaan. Ia sudah berobat ke dokter dan kemana-mana namun tak kunjung sembuh, lalu pada akhirnya ia meminta air Mak Kwan Im dan ajaibnya tidak lama setelah itu penyakitnya pun sembuh.

Bukti-bukti seperti itu membuat masyarakat sekitar Kelenteng Boen Tek Bio dan masyarakat Cina Benteng jika sakit, pada umumnya meminta air kepada Emak. “Taruh saja air di depan Dewi kwan Im, lalu air itu didoakan. Maka, di kemudian hari apabila air itu diminum dipakai untuk mandi oleh orang yang sakit maka orang itu akan sembuh”, ujar Ko Acong.

Hu: Pelindung dan Pembawa Keberuntungan
Mitos selalu identik dengan simbol dan ikon, sebab simbol merupakan realitas dari mitos itu sendiri. Simbol merupakan suatu perwujudan dari sesuatu abstraksi yang melambangkan sesuatu tanpa harus menghadirkan secara langsung objek yang ditampilkannya. Perwujudan simbol dalam hal ini dapat berupa tempat ibadah, sesajen, patung, totem, mite-mite, dan sebagainya.

Pada masyarakat Tangerang terdapat sebuah benda yang dipercayai dapat menjadi pelindung dan pembawa Keberuntungan, yaitu Hu. Hu atau jimat yang berupa selembat kertas merupakan sesuatu yang dipercaya akan memberikan suatu efek atau keajaiban yang bermanfaat kepada penggunanya.  Terdapat berbagai jenis Hu dengan beberapa warna dan bentuk. Dari hasil penelitian penulis di Kelenteng Boen Tek Bio dan wawancara dengan beberapa masyarakat sekitar, kami menemukan dua macam jenis Hu. Hu yang pertama adalah benda yang sering kita lihat dalam film-film misteri vampir Cina, benda tersebut merupakan kertas berbentuk persegi panjang dan berwarna kuning yang di atasnya dituliskan aksara Cina. 

Menurut masyarakat Tionghoa, tulisan yang ada pada kertas Hu tersebut merupakan simbol yang dipercaya dapat menolak bala atau menakuti setan, sehingga kerap di pasang di pintu-pintu rumah warga. Hu tersebut pun digunakan untuk menjaga harta berharga sehingga tidak hilang, oleh karena itu masyarakat di sekitar Kelenteng Boen Tek Bio kerap meletakkan Hu dalam laci atau dompet yang berisi uang mereka, menurut mereka hal tersebut dilakukan agar uang mereka tidak hilang diambil Tuyul.

Jenis Hu yang kedua adalah jimat yang dianggap dapat menjadi pelindung dan pembawa keberuntungan. Berbeda dengan Hu jenis yang pertama, masyarakat Cina Benteng juga percaya pada benda-benda yang dikeramatkan, salah satunya adalah perahu naga keramat milik Kelenteng Boen Tek Bio. Pada malam hari kedua Festival Pecun, dilaksanakan acara memandikan perahu naga keramat tersebut. Mereka percaya bahwa kain yang digunakan untuk memandikan perahu tersebut dapat membawa keberuntungan dan dapat dijadikan Hu atau jimat. Menurut mbah Jambrong, salah satu aktivis Kelenteng Boen Tek Bio yang menyimpan robekan kain tersebut di dalam dompetnya menyatakan bahwa Hu tersebut dipercayai dapat menjadi pelindung dari hal-hal jahat, menjaga kesehatan, melancarkan rezeki dan enteng jodoh.

Pintu Kesusilaan dan pintu Kebenaran : Jalan Hidup Manusia yang Benar
Kelenteng Boen Tek Bio memiliki dua buah pintu yang memiliki arti tersendiri dalam prosesi peribadatan, yakni Pintu Kesusilaan dan Pintu Kebenaran. Pada saat berdoa, umat diharuskan memulai berdoa dengan memasuki pintu kesusilaan dan keluar melalui pintu kebenaran.

Di ruangan kiri bagian pintu masuk Pintu Kesusilaan terdapat 4 ruangan. Di dalam ruangan pertama terdapat patung Kim Sin Kha Lam Ya  merupakan malaikat pintu dan penjaga kuil yang terkenal angker, di ruangan kedua terdapat patung Kim Sin Kong Ce Couw Su pendeta Buddha pada zaman Dinasti Tang dan dua muridnya. Selanjutnya di ruangan ketiga terdapat patung Kim Sin Thian Siang Seng Bo dikenal sebagai wanita yang berbudi luhur yang lahir pada masa Dinasti Song Utara. 

Terakhir ada tiga patung Kim Sin Sam Kwan Thay Tee merupakan dewa penguasa tiga alam: langit, bumi dan air terdapat di ruangan kanan Pintu Kebenaran. Di ruangan terakhir yang terletak paling dekat dengan Pintu Kebenaran, terdapat patung Kim Sin Tee Tjong Ong Po Sat, dewa ketenangan yang dipuja oleh banyak masyarakat di sekitar Boen Tek Bio dan Buddha Rupang Mi Lek Hud yang juga dikenal sebagai Matreya, dewa maha pengasih dan menolong.

Meski sederhana, Kedua lorong ini memiliki arti yang cukup dalam. Maksud dari kedua pintu tersebut adalah mengajak umat manusia untuk hidup dengan melalui jalan kesusilaan, sesuai dengan norma-norma susila, apabila hal tersebut dijalankan dengan baik maka pada akhirnya manusia akan melalui jalan kebenaran, yaitu berjalan di hidup yang benar.

Kelenteng Boen Tek Bio yang terletak di Pasar Lama Tangerang merupakan warisan budaya Cina. Klenteng ini hingga kini masih digunakan sebagai tempat ibadah bagi umat Buddha, Dao, dan Konghuchu. Bukan hanya itu, Bon Tek Bio juga telah menjadi sebuah perkumpulan keagaaman dan sosial. Mitos-mitos yang ada di Kelenteng Boen Tek Bio tidak hanya berupa cerita fantastis imajinatif dan bersifat irasional, akan tetapi mitos-mitos mengandung pula nilai-nilai etis dan moral yang secara tidak langsung terselubung dalam rekaan simbolik mitos-mitos tersebut. Sekumpulan mitos dengan segala nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, secara tidak langsung akan mempengaruhi kehidupan suatu masyarakat yang membentuknya.


Referensi: 
Alkatiri, Zeffry. Manusia Mitos dan Mitologi. Depok: FS-UI. 1998.
Cassirer, Ernst. Manusia dan Kebudayaan: Sebuah Esai Tentang Manusia, terj. A.A. Nugroho. Jakarta: PT Gramedia. 1987.
Suryanatanegara, Stefanus Hansel. Kelenteng Boen Tek Bio Tangerang Kajian
Arsitektural. Depok: FIB-UI. 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar