Alam Semesta

Alam semesta ini sangat luas, banyak miliyaran bintang-bintang di luar angkasa. Ingin sekali menjelajah antar bintang dengan menggunakan pesawat pribadi. Untuk mengetahui ciptaan allah yang maha besar ini

Arsip Info

Senin, 31 Juli 2017

Budaya mistik dan mengenai benda jimat

Benda jimat
Ilustrasi jimat

Budaya mistik di indonesia
Budaya mistik merupakan sebuah topik yang masih menjadi perbincangan dan juga perdebatan setidaknya di era ini. Kajian ini makin beragam dimulai dari mengangkat isu sebuah benda dari etnisitas dan daerah tertentu, simbol pemimpin dan kebudayaan di masing-masing daerah hingga hal-hal yang memang berakar dari zaman dahulu, berkaitan dengan identitas kesukuan dan globalisasi. Budaya mistik ini merupakan budaya yang sudah ada sejak zaman kerajaan dan diciptakan sebagai bentuk penghormatan.

Manusia Indonesia tidak bisa lepas dari budaya mistik dari setiap daerah. Oleh karena itulah Tan Malaka menulis buku yang berjudul Madilog yang memiliki singkatan Materialisme, Dialektika dan Logika pada tahun 1942-1943 dan memberi penekanan besar pada pentingnya menggunakan rasionalitas atau akal pikiran dalam membuat keputusan dalam menentukan hidup oleh semua individu dan kelompok.

Prof. Kuntowijoyo telah memberikan tiga tingkat evolusi pemikiran manusia yaitu mitos, ideologi dan ilmu. Mitos itu, menurutnya, terjadi pada sebelum dan pada abad ke 19 serta awal abad ke 20. Bahkan hingga saat ini, mitos maupun mistik masih terus mempengaruhi pemikiran manusia indonesia. Dengan terjadinya hal tersebut maka menjadi bagian dari suatu budaya dan mempengaruhi aturan hidup manusia indonesia.

Proses modernisasi dan globalisasi menempatkan bangsa Indonesia dalam arus perubahan besar yang mempengaruhi segala dimensi kehidupan masyarakat, terutama kehidupan budaya. Pada hakekatnya perubahan itu merupakan proses historis yang panjang, yang berkembang dari masa ke masa. Di dalam sejarah Indonesia proses tersebut terlihat sejak dari awal pembentukan masyarakat pada masa prasejarah, kedatangan pengaruh kebudayaan Hindu-Budha, kedatangan agama dan kebudayaan
Islam, serta hadirnya pengaruh Barat, sampai masa kini.

Kepercayaan pada roh, makhluk halus dan benda magis lainnya. Budaya mistik ini berkembang di masyarakat dan hampir semuanya berdasarkan kepercayaan belaka dan bukan hasil dari pemikiran. Di Indonesia sendiri, ada budaya mistik tradisional di mana ada istilah kakang kawah ada ari-ari, papat kalimo pancer. Istilah ini merujuk pada makhluk hidup yang menyerupai diri kita secara wujud fisik dan bukan dalam hal sifat dan memiliki unsur gaib. Bentuk yang berkembang di masyarakat diantaranya adalah, selamatan, ngruwat, kepercayaan pada mahkluk halus, setan, jin dan semacamnya.

Selamatan adalah semacam upacara sesajian yang bertujuan untuk Yang Kuasa, para wali, dewa, bidadari dan kekuatan yang terdapat pada seorang ulama atau yang dihormati dengan tujuan untuk menyenangkan mereka. Ngruwat adalah upacara untuk membebaskan seseorang yang sedang kerasukan setan. Sesuai dengan pengertian masyarakat jawa, tidak semua orang dapat dilepaskan dari pengaruh seran di mana Sang Kala telah mendapat haknya untuk mempergunakan orang itu sebagai mangsanya.

Mengenai jimat
Berkaitan dengan definisi mistis dan berkaitan erat dengan budaya di indonesia, maka hal tersebut berkaitan pula dengan jimat. Di dalam kamus besar bahasa Indonesia sendiri, jimat memiliki arti hemat (membelanjakan uang), teliti, cermat dan seksama. Tamimah (jimat/ajimat) adalah suatu benda yang diyakini bisa menolak bala atau mendatangkan manfaat. Di dalam pengertian lain, jimat adalah benda yang disakralkan oleh pembuatnya atau pemakainya. Bisa berasal dari tumbuhan, batu, air yang mengkristal, hewan, manusia dan bahan lain yang sengaja di buat oleh manusia atau tercipta karena proses alam dan bahkan juga dari alam gaib. Jimat bukanlah sesuatu yang asing bagi peradaban manusia dari dulu hingga zaman modern saat ini. Di negara kita yang berlatar belakang kebudayaan animisme, jimat bukan merupakan suatu hal yang asing pada kehidupan sehari-hari masyarakat kita. Di negara maju pun tidak sedikit orang yang meyakini jimat yang dapat mendatangkan keberuntungan atau menghindarkan dari kesialan.

Kita dapat melihat penggunaan serta pemujaan jimat telah memasuki kehidupan masyarakat kita sehari-hari. Jika ingin bertambah laku, pedagang di pasar akan minta ‘penglaris’ kepada ‘orang pintar’ untuk ditaruh pada lokasi dagangannya. Jika ingin rumah selamat dari bala bencana maka di pintu digantungkanlah ‘sesuatu’. Jika orang hamil ingin kondisi janinnya sehat dan selamat maka setiap pergi ke luar rumah dibawalah gunting. Jika bayi sudah lahir maka harus ditaruh sapu lidi di sekitarnya agar tidak terkena gangguan-gangguan makhluk halus. Jika seorang ingin kuat dan kebal senjata maka dipakailah jimat cincin, sabuk dan bentuk-bentuk lainnya. Bila ingin cantik dan luwes dalam pergaulan maka dipasanglah susuk di bagian tertentu tubuhnya. Dan masih banyak lagi bentuk-bentuk lain.

Seorang penganut dan pengguna jimat, melaksanakan suatu keilmuan dengan memakai 2 metode. Pertama, membaca ayat suci sebagai wiridan (diulang dengan jumlah tertentu dan waktu tertentu dan yang kedua dengan menggunakan ilmu hikmah melalui ayat-ayat yang dituliskan pada media tertentu dan biasa diistilahkan dengan ilmu rajah.

Rajah sendiri berasal dari bahasa arab yang biasa disebut Wifiq atau Wafaq. Rajah itu sendiri merupakan sebuah tulisan yang mengandung energi gaib dan Rajah tersebut dapat mempengaruhi keadaan lingkungan sekitar. Tulisan ini dapat berbentuk huruf, angka, sandi, simbol dan gambar. Sebagian besar, rajah terdiri dari huruf dan angka dan tidak bisa menyusun kata. Dan memang tidak bisa diartikan dalam kata dan diyakini bisa memunculkan kekuatan gaib. Tulisan ini memiliki beragam jenis sesuai fungsinya. Memang tulisan ini bukan tulisan sembarangan yang ditulis di atas kers atau kain dan media lain. Ini merupakan tulisan yang bernuansa mistis. Setiap coretan garis, simbol dan sandi memiliki makna tertentu uang rajah ini lebih menekankan pada makna daripada arti. Makna yang dikandung ini merupakan tujuan yang hendak dicapai oleh pembuatnya dan memang khusus dibuat untuk membantu memenuhi hajat keinginan seseorang.

Ilmu ini merupakan ilmu yang rumit dan bagaimana caranya mengakses energi tertentu melalui tulisan dan kode yang dituliskan pada media tertentu sehingga berubah fungsi menjadi Azimat. Rajah ini juga bisa dituliskan pada bagian tertentu dari tubuh manusia atau di tubuh manusia dengan fungsi yang berbeda-beda. Alat penulisan ini bermacam-macam dari besi, tembaga, kayu, batu tulang hewan dan di zaman modern ini bisa menggunakan pena biasa dengan tinta, misik, kasturi, fotokopi, sablon dan scanner.


Referensi:
Suhaeri, Muhlis. (2009). Budaya Mistik. Borneo Tribune, pontianak.
Adrisijanti Romli, Inajati. (1997). “Islam dan Kebudayaan Jawa”, dalam Cinandi, Yogyakarta: Panitia Lustrum VII Jurusan Arkeologi UGM, hlm. 146-150.

Minggu, 30 Juli 2017

3 Tempat terkait dengan mitos nyi roro kidul

Mitos nyi roro kidul

Tempat hegemoni mitos Nyai Roro Kidul

Hubungan antara Keraton, Gunung Merapi, dan Laut Selatan merupakan satu kesatuan kekuatan kosmis Jawa. Nyai Roro Kidul sebagai pemimpin Pantai Selatan, mempunyai pengaruh kuat terhadap ketiga tempat tersebut. Nyai Roro Kidul sebagai tokoh untuk menyokong eksistensi keberadaan raja yang memerintah di Keraton, sedangkan di Merapi, ia berteman baik dengan Kiai Sapu Jagad penjaga kawah Merapi. Selain persahabatan yang terjalin kuat sejak dahulu, Nyai Roro Kidul Kidul juga mempunyai hubungan khusus dengan penunggu kawah Merapi. Berikut merupakan paparan analisis yang menjelaskan hegemoni mitos Nyai Roro Kidul terhadap tiga tempat tersebut.

1. Keraton
Keraton merupakan pusat pemerintahan sekaligus tempat keramat bagi tahta seorang raja. Tempat raja melakukan kepemimpinannya ini merupakan pusat dari segala kegiatan pemerintahan. Daerah kekuasaan Keraton biasanya berada dalam pusat kota. Namun, jika tinjauannya pada wilayah kebudayaan Jawa dari masa lalunya yaitu pada masa kerajaan Mataram, maka masyarakat Jawa oleh Koentjaraningrat dapat dibedakan ke dalam tiga tipe wilayah kebudayaan, yaitu (a) negarigung, (b) mancanegari, dan (c) pesisiran. Daerah Keraton inilah yang dikenal sebagai negarigung yaitu daerah di seputar kota Surakarta dan Yogyakarta.

Keraton di pusat ibu kota yang dikelilingi tempat-tempat penting membentuk lingkaran, dengan kantor-kantor pemerintahan di pusat kota. Para abdi dalem tinggal di sekitar wilayah keraton tersebut dengan pengabdian di Keraton. Masyarakat di daerah tersebut mengutamakan kehalusan baik dari tingkah laku, berbahasa, maupun kesenian. Namun, kepercayaan agama dalam masyarakat tersebut cenderung sinkretik karena menganut Islam kejawen.

Hegemoni mitos Nyai Roro Kidul dalam Keraton sangat terlihat karena tempat pertemuan khusus dengan sang raja berada di daerah sekitar wilayah Keraton. Raja menyediakan tempat khusus bagi Nyai Roro Kidul yang berposisi sebagai istri raja. Tempat pertemuan tersebut berada di Panggung Sanggabuwono di Keraton Surakarta untuk pertemuan dengan Kanjeng Sunan, dan Hotel Ambarukmo serta selo gilang di Parangkusumo untuk pertemuan dengan Kanjeng Sultan di Yogyakarta.

Yogyakarta, hampir setiap sudut kota dan peristiwanya tidak lepas dari kisah-kisah mistik. Sebagian masyarakatnya masih percaya wisik, wangsit, firasat, pralambang, dan kekuatan gaib. Jika menyangkut Merapi, maka jangan abaikan peran Keraton Yogyakarta dan penguasa Laut Kidul. Ketiganya seolah jadi sumber kekuatan yang saling menopang satu dengan yang lain. Keyakinan itu sudah hidup di tengah masyarakat secara turun temurun karena memang dijaga betul agar jangan sampai anak cucu generasi berikut melupakan begitu saja. Jangan sampai mereka lupa akan sejarah leluhurnya, namun juga belum memiliki tempat untuk berpijak dan menemukan nilai-nilai hidup yang baru. Jika hal itu sampai terjadi, maka mereka bisa menjadi generasi yang terombang-ambing oleh situasi zaman. Generasi yang tercerabut dari akar budayanya sendiri. Mungkin begitu. Sekurang-kurangnya, begitulah pendapat para budayawan dan sejarawan yang pernah kubaca.

Daerah Yogyakarta hingga sekarang masih penuh dengan kepercayaan terhadap hal gaib. Daerah ini dulu merupakan bagian dari kekuasaan Mataram meski telah terbagi menjadi empat bagian dengan dua wilayah pemerintahan keraton dan dua kadipaten yaitu Kesultanan Yogyakarta, Kadipaten Pakualaman, Kasunanan Surakarta, dan Kadipaten Mangkunegaran (catur sagotrah) berdasarkan perjanjian Giyanti yang ditandatangi pada tanggal 13 Februari 1755 dengan VOC. Mitos Nyai Roro Kidul berkembang pesat di dalamnya. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat mempercayai mitos tersebut yang menunjukkan bahwa hegemoni mitos Nyai Roro Kidul masih tertanam kuat.

Meskipun ada pihak yang menganggap bahwa kehadiran legenda Nyai Roro Kidul hanya sebagai propaganda politik dari pihak kerajaan atau Keraton untuk menakut-nakuti rakyatnya, namun dalam novel ini ditampik karena mengungkapkan berbagai kejadian supranatural yang secara langsung dialami oleh Sam. Kejadian tersebut berhubungan dengan Laut Selatan, Keraton, dan Merapi yang menguatkan kebenaran tentang keberadaan tokoh Nyai Roro Kidul dan hegemoni kekuasaannya terhadap masyarakat Jawa.

2. Gunung Merapi
Gunung Merapi merupakan gunung yang terletak di Jawa Tengah, wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, tepatnya + 20 km di sebelah utara Keraton Yogyakarta. Gunung Merapi merupakan gunung yang dikenal sebagai gunung paling aktif di Indonesia, bahkan di dunia. Merapi dipercaya sebagai gunung yang keramat karena di dalamnya dihuni oleh para jin, lelembut, atau roh-roh leluhur.

Gunung Merapi mempunyai peran yang sangat penting terhadap kelangsungan Keraton dan Laut Selatan. Pengadaan sesajen dan doa sering dilakukan di sekitar Merapi untuk menghormati kekuasaan makhluk halus Merapi dan Nyai Roro Kidul. Ritual tersebut dapat menghindarkan daerah Yogyakarta dari malapetaka, misalnya Merapi tidak akan marah dan meletus apabila diberi sesajen.

Keberadaan letak mistis geografis keraton Mataram bagi masyarakat Jawa memiliki filosofis istimewa. Posisi letak antara Gunung Merapi, Keraton Kesultanan Yogyakarta dan Laut Selatan berada dalam satu garis lurus dari selatan ke utara yang dinamakan "garis imajiner”. Merapi pun diyakini mempunyai penunggu bernama Kiai Sapu Jagad, yang mempunyai hubungan baik dengan Nyai Roro Kidul.

Dalam novel Sang Nyai, Merapi digambarkan sebagai tempat tinggal Kang Petruk, teman Kesi. Kang Petruk dikenal warga sebagai Mbah Petruk penunggu kawah Merapi. Kondisi Merapi yang saat itu semakin berbahaya membuat rakyat Yogyakarta cemas. Bahkan, himbauan untuk membuat sayur tolak bala di sekitar lereng Merapi telah dilakukan. Kegiatan tersebut agar terhindar dari bencana letusan Merapi. Sementara itu untuk warga di pesisir Pantai Selatan mengadakan upacara labuhan meminta pertolongan kepada Nyai Roro Kidul untuk membujuk Kiai Sapu Jagad agar tidak marah dan memuntahkan laharnya ke daerah Yogyakarta. Hubungan baik antara penunggu Merapi dengan Nyai Roro Kidul menandakan bahwa Nyai Roro Kidul juga menghegemoni penguasa Merapi. Jika, Nyai Roro Kidul berhasil membujuk Kiai Sapu Jagad maka diharapkan bencana tidak akan terjadi dan rakyat Yogyakarta selamat.

“Saya khawatir jika suatu saat nanti Merapi marah dan
meluluhlantakkan tempat-tempat semacam itu. Sebab, sedikit banyak,
keberadaan losmen itu mengotori kesakralan Merapi. Gunung yang satu
ini tidak bisa dibuat main-main. Beda dibanding gunung-gunung yang
lain. Merapi itu berkaitan erat dengan Keraton Yogyakarta dan penguasa Laut Selatan, Nyai Roro Kidul. Ingat waktu kamu naik andong gaib.
Berangkat dari selatan kali Opak melewati KeratonYogyakarta, lalu
menyusuri Malioboro, melewati tugu, baru kamu tiba di rumah Mbah
Petruk. Yang kamu lewati itu memang jalur penghubung utama tiga
sumber kekuatan di jantung Pulau Jawa. Merapi-keraton-Laut Selatan.
Para ahli budaya Jawa yakin sekali akan hal itu".

Berdasarkan kutipan tersebut gunung Merapi adalah gunung yang aktif, namun mempunyai tanah yang subur sehingga menjadi surga bagi rakyatnya, Selain itu, pasir dari gunung yang larut di sungai-sungai menjadi harta karun bagi para penambang pasir. Sebagai salah satu kekuatan penting di jantung pulau Jawa yang terkait dengan Keraton dan Laut Selatan, Merapi memberikan banyak berkah kepada warganya. Sayangnya, kesakralan Merapi mulai berkurang. Di lereng Merapi terdapat banyak losmen-losmen untuk berbuat asusila, dan itu sudah menjadi pekerjaan sampingan beberapa warga gunung yang berprofesi mengelola losmen sejenis. Dengan adanya hal tersebut, maka tidak heran jika Merapi akan murka. Kekayaan alam, kesuburan, dan tempatnya yang strategis dimanfaatkan untuk melakukan hal yang tidak baik.

Namun, letusan Gunung Merapi sebenarnya adalah sebuah siklus alam yang sudah seharusnya terjadi. Mitologi letusan Gunung Merapi tersebut dipakai dalam konseptual nilai-nilai yang mengatur hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan pencipta hidup, manusia dan alam adikodrati (sakral) dalam pemahaman Jawa. Hegemoni mitos Nyai Roro Kidul tetap mencakup wilayah Merapi berdasarkan relasi yang dibangun antara Kiai Sapu Jagad dan Sang Sultan sebagai penengah, hal ini sangat dipercaya oleh masyarakat Jawa, sehingga Gunung Merapi merupakan wilayah cakupan hegemoni mitos Nyai Roro Kidul.

3. Laut Selatan
Laut Selatan merupakan wilayah kekuasaan Nyai Roro Kidul yang paling terlihat. Ombak Laut Selatan Jawa yang tinggi dan ganas menandakan kekuasaan sang Ratu. Laut Selatan dijadikan medium persembahan adikuasa, yang memberi simbolisasi tritunggal yaitu:
(1) Ingkang sinuhun, yakni raja yang bertahta di singgasana duniawi.
(2) Sanahita, yakni ratu yang bertahta di singgasana kedewataan.
(3) Sasinara, yakni ratu yang menguasai alam rohani.

Dari ketiga unsur tersebut maka sosok Maharani Dewi Asmarawangi Cemaralungit dimitoskan sebagai Ratu Kidul, atau Nyai Roro Kidul pemimpin Laut Selatan. Berikut kutipan yang menjelaskan kekayaan dari Laut Selatan:

“Mataram yang makmur! Jika sampai kekurangan, bisa minta
bantuan Nyai Roro Kidul untuk membagikan kekayaannya. Sebab, konon
di kerajaan Laut Selatan ditimbun berton-ton emas. Tinggal bagaimana
caranya membujuk penguasa Laut Selatan itu untuk berbagi dengan
kawula Mataram. Pasti tidak keberatan mengingat penguasa Mataram
adalah kekasihnya!”

Sebagai kekasih dari para Raja Mataram di Keraton, Nyai Roro Kidul pemimpin Laut Selatan berkolaborasi dengan Sultan mempunyai hubungan simbolisasi seperti lingga dan yoni, laki-laki dan perempuan, suami istri yang menjalin kerjasama saling mengisi satu sama lain. Hubungan erat ini pun dibuktikan dengan bantuan Nyai Roro Kidul kepada Sri Sultan Hamengkubuwono I ketika membangun Keraton di kawasan bumi baru pada 1755 dengan bantuan Nyai Roro Kidul. 

Bantuan tersebut berupa perlindungan untuk kelancaran pembangunan Keraton. Pada saat itu terjadi badai, sehingga pembangunan itu takkan selesai jika terus demikian. Untuk itulah, Nyai Roro Kidul menggunakan kekuatan gaibnya, sehingga pembangunan tetap berjalan meski hari sedang badai. Hal itu merupakan bentuk hegemoni mitos Nyai Roro Kidul terhadap Raja Mataram. Raja masih sangat bergantung terhadap eksistensi sosok Nyai Roro Kidul.

Berdasarkan kepercayaan Jawa, Pantai Selatan yang berada di laut Jawa mempunyai ombak yang ganas. Keganasan laut dianggap mempunyai kekuatan supranatural. Segala aktivitas yang berhubungan dengan Laut Selatan harus dilakukan dengan seizin Nyai Roro Kidul agar selamat. Seperti contoh, upacara sesaji atau dikenal sebagai sedekah laut. Jika sesaji tidak dilakukan, maka rakyat percaya bahwa dapat terjadi kecelakaan laut atau timbul gelombang dan bencana yang bisa memakan korban. Namun, jika upacara dilaksanakan maka Nyai Roro Kidul akan memberikan berkah dan melindungi keselamatan rakyat Yogyakarta.

“Bukankah nyala api kemenyan tampak menjilat-jilat tinggi?”
“Ya.”
“Itu pertanda bahwa sang Nyai berkenan atas Labuhan Jaladri yang
kami laksanakan. Kalau beliau menolak, jangankan apinya menjilat-jilat,
kadang-kadang malah tidak mau nyala sama sekali kemenyannya".

Berdasarkan kutipan di atas, restu dari Nyai Roro Kidul pada acara labuhan mempengaruhi prosesi labuhan. Hegemoni mitos Nyai Roro Kidul menggerakkan rakyat untuk melaksanakan segala kegiatan harus dengan izin dari penguasa Laut Selatan, jika tanpa seizinnya maka akan menjadi musibah. Namun, kehidupan tidak ada yang tahu. Meskipun saat labuhan memakan korban, bukan berarti Nyai Roro Kidul tidak menerima persembahan. Hal itu merupakan takdir dari Sang Pencipta bahwa korban-korban yang tenggelam saat mencari barangbarang yang di larung memang sudah saatnya untuk berpulang.


Referensi:
Artha, Arwan Tuti. 2009. Langkah Raja Jawa Menuju Istana Laku Spiritual Sultan. Yogyakarta: Galang Press.
Sardjono, Budi. 2011. Sang Nyai. Yogyakarta: Divapress.
Sumadi. “Gunung Merapi dalam Budaya Jawa”. Jurnal Seni Rupa STSI Surakarta.

Sabtu, 29 Juli 2017

Mitos dan tradisi berkaitan dengan nyi roro kidul

Nyi roro kidul

Mitos nyi roro kidul
Jawa merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang terkenal dengan mitos. Terdapat beberapa dongeng yang tersamar berkembang dalam kebudayaan Jawa, khususnya yang berkaitan dengan Ratu Kidul yang mendiami dan menguasai Samudra Hindia (Samudra Indonesia). Mitos tersebut tersebar dari Parangtritis selatan Yogyakarta, Karangbolong di Selatan Gombong, Cilacap di Selatan Banyumas (Jawa Tengah), sampai ke Pelabuhan Ratu di Selatan Sukabumi (Jawa Barat). Ratu Kidul inilah yang dikenal oleh banyak orang awam sebagai Nyai Roro Kidul. Keberadaan Sang Nyai tersebut sangat diyakini oleh masyarakat Surakarta dan Yogyakarta sebagai istri raja dari dinasti Mataram Islam, sejak zaman raja terdahulu, Raden Sutawijaya yang bergelar Panembahan Senopati.

Mitos tentang Nyai Roro Kidul masih dipercayai rakyat setempat hingga saat ini, baik dari pihak Keraton (Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta), maupun rakyat kedua keraton tersebut dan dari bekas wilayah Kraton Galuh Padjajarandi Tanah Sunda (Jawa Barat). Mitos berawal dari kisah kisah pertemuan antara Panembahan Senopati dengan Nyai Roro Kidul di Babad Tanah Jawa:

Setelah Panembahan Senopati mendapat wahyu pada suatu malam, Ki Juru Mertani, paman sekaligus penasehatnya, belum merasa yakin jika kemenakannya itu telah menerima wahyu. Untuk memastikan, Panembahan Senopati diminta bertapa ke Laut Kidul, sedangkan Ki Juru Mertani bertapa ke Gunung Merapi. Panembahan Senopati segera berangkat, dan ia menceburkan diri ke laut Opak, bertapa dengan menghanyutkan diri mengikuti arus sungai Opak (tanpa mbathang) sampai di Laut Kidul. Mengetahui hal itu, Ratu Kidul menemui Panembahan Senopati, dan diajaknya Senopati ke keratonnya di dasar samudera.

Menyadari akan kecantikan Ratu Kidul dan ketampanan Senopati, keduanya saling terpikat dan menyatu dalam asmara. Sejak saat itulah Ratu Kidul menjadi istri Panembahan Senopati. Ketika Senopati mengajaknya hidup bersama dan mendampinginya sebagai Raja Mataram, Ratu Kidul dengan halus menjelaskan bahwa itu tidak mungkin dilakukan, karena ia makhluk halus/peri. Meski tak dapat mendampingi Senopati, Ratu Kidul berjanji akan selalu siap membantunya jika keraton Mataram sewaktu-waktu menghadapi bahaya.

Dari kisah tersebut diketahui bahwa mitos Nyai Roro Kidul hidup karena kepercayaan masyarakat akan rajanya yang memperistri seorang makhlus halus atau peri. Mitos ini berkembang di masyarakat karena terbukti dengan kisah tersebut adanya keselarasan kehidupan Jawa di lingkungan Yogyakarta meliputi wilayah Laut Selatan, Keraton, dan Gunung Merapi. Selain Ratu Kidul, raja wanita yang menempati keraton di dasar Laut Kidul (laut Selatan Pulau Jawa), yang bergelar Kanjeng Ratu Kidul, dikenal juga panglima atau senapati perangnya yang bergelar Nyai Rara Kidul. Namun, sering terdapat kekeliruan pengertian dari orang awam tentang kedua sosok tersebut. Untuk mempermudah, maka dalam penelitian ini menekankan pada tokoh Nyai Roro Kidul yang dikenal masyarakat Jawa.

Pengaruh agama dan filsafat Islam dalam tindakan simbolis orang Jawa terdapat dalam rangkaian upacara sekatenan. Upacara ini berkaitan dengan simbol pantai selatan sebagai wilayah kekuasaan Nyai Roro Kidul, hal ini dilakukan dengan melarung pakaian wanita persembahan dari raja yang merupakan keturunan Panembahan Senopati. Kisah panembahan Senopati atau yang disebut sebagai Wong Ngeksi Ganda terdapat dalam Serat Wedatama karya Mangkunegara IV. Tindakan simbolis upacara tersebut menampakkan pengaruh mitos mengalirnya kesaktian Panembahan Senopati yang telah berhasil menyatukan dirinya dengan kesaktian Nyai Roro Kidul demi kesejahteraan keturunannya yang bertahta di wilayah kerajaan.

Tradisi yang berhubungan dengan nyi roro kidul
Sebagai bentuk hegemoni yang lain, Nyai Roro Kidul juga menghegemoni tradisi dan adat istiadat masyarakat Jawa. Hal ini mencakup tradisi labuhan dan tradisi ziarah ke Cepuri Parangkusumo.

1. Tradisi Labuhan
Labuhan atau sedekah laut merupakan bentuk upacara yang dilakukan oleh warga pesisir. Tradisi ini sangat erat kaitannya dengan Nyai Roro Kidul karena dilakukan di tepi Pantai Selatan. Harus ada izin dari Nyai Roro Kidul jika ingin mengadakan labuhan, karena tradisi ini merupakan hubungan timbal balik antara raja yang berkuasa, dengan pemimpin Laut Selatan tersebut. Kewajiban Labuhan selalu dijalankan oleh raja setiap tahunnya, namun pada saat terjadi peristiwaperistiwa tertentu yang mengancam Yogyakarta maka ritual labuhan akan diselenggarakan. Dalam novel Sang Nyai, kondisi Merapi sedang berada dalam tahap hampir meletus. Untuk itulah, Ngarsa Dalem meminta rakyat di pesisir untuk melakukan labuhan guna meminta pertolongan pada Nyai Roro Kidul. Ritual labuhan itu mempunyai beberapa langkah, yaitu menyiapkan sesajen, selamatan,kenduri, dan upacara labuhan. Berikut uraiannya.

a. Sesajen
Sesajen merupakan simbolisme dalam adat Jawa. Maksud dibuat sesajen adalah untuk mendukung kepercayaan terhadap adanya roh halus yang berdiam atau mbahu reksa di tempat-tempat tertentu agar jangan mengganggu keselamatan, ketentraman, dan kebahagiaan yang mengadakan sesajen, atau sebaliknya untuk meminta berkah dan lindungan dari yang mbahu reksa untuk menjauhkan atau menghindarkan dari gangguan maupun bencana.

Sesajen merupakan tradisi yang dilaksanakan oleh orang Indonesia khususnya Jawa dalam peristiwa tertentu. Dalam novel Sang Nyai, sesajen diadakan untuk keperluan sebelum labuhan. Biasanya berisi makanan, kembang, bubur, tumpeng, rempah-rempah, atau semacamnya yang mempunyai nilai-nilai tertentu. Perhatikan kutipan berikut:

“Monggo, monggo, silakan.” Mbak Sum membuka taplak penutup sesajen yang akan dilabuh. “Ini ada tujuh tumpeng dan ingkung utuh satu. Ada jajan pasar lengkap. Tujuh macam kembang. Urap dari tujuh macam sayuran dan bubur tujuh warna,” jelas perempuan itu. Semua sesajen itu diletakkan di atas tampah, nampan besar terbuat dari anyaman bambu (Sang Nyai).

Sesajen yang disiapkan tersebut semua serba angka tujuh. Dalam bahasa Jawa tujuh adalah pitu. Jadi, sesajen tersebut mempunyai makna untuk mohon pitulungan atau pertolongan kepada Sang Pencipta agar diberi keselamatan. Sesajen yang diadakan tersebut juga bersamaan dengan kondisi Merapi yang sedang dalam keadaan darurat, sehingga dengan sesajen tersebut penduduk Pantai Selatan berharap bagi keselamatan saudara-saudara mereka yang tinggal di lereng Merapi. Perhatikan kutipan berikut ini:

Rombongan orang yang mau mengadakan labuhan lalu masuk kembali ke dalam rumah Mas Darpo dan tetangganya. Padahal, mereka sudah siap-siap melakukan prosesi. Berangkat dari rumah Mas Darpo sebagai juru kunci, lalu masuk ke Cepuri Parangkusumo. Di situ, semua sesajen dan barang-barang labuhan diletakkan dulu di atas selo gilang. Mas Darpo mendoakannya. Mempersembahkan semuanya itu untuk Panembahan Senapati dan Nyai Roro Kidul. Dengan harapan, keduanya bertemu lagi di selo gilang itu untuk memberikan berkah pertolongannya. Setelah itu, barulah prosesi dilanjutkan menuju pantai (Sang Nyai).

Berdasarkan kutipan tersebut jelas sekali bahwa hegemoni mitos Nyai Roro Kidul sangat mempengaruhi prosesi ini. Masyarakat membuat sesajen yang telah didoakan oleh Mas Darpo juga untuk dipersembahkan pada Panembahan Senopati dan Nyai Roro Kidul. Mereka percaya bahwa pertemuan keduanya akan dapat memberikan berkah pertolongan berkaitan dengan keadaan darurat di Merapi.

Sesajen yang disediakan dengan barang labuhan akan dilarung ke Laut Kidul dengan tujuan agar Nyai Roro Kidul mau membujuk Eyang Sapu Jagad di Merapi supaya tidak marah. Benda-benda itu juga bisa dimaknai sebagai alat untuk perantara, dengan menyediakan barang-barang kesukaannya diharapkan Nyai Roro Kidul merasa iba dan sanggup membujuk Eyang Sapu Jagad agar meredakan kemarahannya, sehingga Merapi tidak meletus. Kepercayaan ini masih berkembang di masyarakat sehingga hegemoni mitos Nyai Roro Kidul masih tertanam kuat di dalam jiwa masyarakat Jawa. Tradisi ini dapat dipercaya atau pun tidak, tetapi inilah upaya terakhir yang dapat dilakukan oleh masyarakat pesisir Pantai Selatan untuk membantu saudara-saudara mereka yang tinggal di sekitar
Merapi.

b. Selamatan
Tradisi selamatan atau dalam bahasa Jawa dikenal dengan slametan merupakan budaya Jawa asli. Slametan berasal dari kata bahasa Jawa slamet yang mempunyai arti selamat, bahagia, dan sentosa. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang biasanya digambarkan sebagai pesta ritual untuk mengawali proses upacara-upacara tertentu. Selain itu, tujuan dari selamatan adalah untuk tolak bala atau menahan gangguan dan musibah yang akan terjadi.

Kegiatan berwujud perjamuan makan sederhana dengan dihadiri kerabat dan seluruh tetangga untuk mencapai keselarasan dengan alam. Nilai dari acara selamatan ini antara lain berwujud kerukunan, kekeluargaan dan kebersamaan karena semua orang berkumpul dalam satu tempat. Semua orang mempunyai kedudukan yang sama di mata masyarakat atau dalam bertetangga.

Pada hakikatnya, ritual ini merupakan wujud dari permohonan izin kepada Sang Pencipta untuk mengawali suatu kegiatan yang lebih besar. Tradisi selamatan dalam novel Sang Nyai merupakan bentuk dari tradisi masyarakat Pesisir Selatan yang akan memulai upacara labuhan di pantai Selatan tempat Nyai Roro Kidul berkuasa. Selain itu, selamatan ini dalam rangka untuk menolak bencana yang akan menimpa akibat kondisi Merapi yang berbahaya. Perhatikan kutipan berikut ini:

“Pokoknya, utusan dari keraton,” jawab Mas Darpo kalem. “Mereka hanya meminta agar saya dan masyarakat di sini membantu keselamatan saudara-saudara kita yang tinggal di sekitar Merapi. Maka, kami lalu mengadakan selamatan, kenduri, dan nanti malam mengadakan labuhan. Yah, hanya itu yang bisa kami lakukan.” (Sang Nyai).

Peringatan untuk mengadakan selamatan, kenduri, dan labuhan berasal dari utusan Keraton, sehingga hal ini merupakan perintah secara langsung dari Ngarsa Dalem atau sang Sultan. Jadi, secara tidak langsung Ngarsa Dalem meminta rakyatnya untuk melakukan ritual itu agar Nyai Roro Kidul memberi izin dalam melaksanakan labuhan jaladri agar prosesinya lancar dan agar ia mau membantu rakyat yang sedang prihatin terhadap bahaya Merapi. Secara tidak langsung, Nyai Roro Kidul merupakan tokoh yang dominan dan dipercaya sebagai perantara dengan Sang Pencipta.

c. Kenduri
Kenduri dalam bahasa Indonesia baku memiliki arti perjamuan makan untuk memperingati peristiwa, minta berkat. Kenduri merupakan bagian rangkaian dari selamatan, atau merupakan puncak kegiatan selamatan itu sendiri. Kenduri mempunyai makna untuk sedekah, wujud berbagi dengan keluarga, sanak saudara, serta tetangga. Dari kenduri inilah maka tercipta kerukunan yang mempererat kesatuan. Kesatuan kepentingan, kesatuan cita-cita, dan juga kesatuan masing-masing individu yang ikut dalam ritual ini.

Jika selamatan itu meminta izin, maka kenduri adalah wujud sedekah untuk memperlancar perizinan itu. Prosesi dilakukan dengan membagi-bagikan nasi berkat atau nasi besek dan nasi tumpeng yang telah didoakan sebelumnya. Berkat yaitu wadah dari anyaman bambu yang dialasi daun pisang, diisi dengan tatanan nasi putih, mie goreng, telor rebus, daging ayam, sambal goreng kentang, acar wortel atau ketimun, kerupuk udang, dan pisang (isi berkat menyesuaikan yang punya hajat). Dalam acara kenduri harus ada pemimpin yang akan memimpin dalam pembacaan doa-doa. Dalam novel Sang Nyai acara kenduri tersebut dipimpin oleh juru kunci Parangkusumo, yakni Mas Darpo. Berikut kutipannya:

Mas Darpo mengangguk-angguk. Ia melihat jam tangan. Lalu, minta maaf karena harus pamit. Ia akan segera memimpin kenduri. “Silakan kalau Mas Sam mau istirahat dulu. Karena labuhan baru akan kami lakukan sekitar pukul delapan malam nanti,” katanya memberi informasi (Sang Nyai).

Acara selametan dan kenduri merupakan satu rangkaian ritual orang Jawa, yang dilanjutkan dengan prosesi labuhan jaladri dalam novel Sang Nyai. Ritual tersebut merupakan sebuah bentuk hegemoni dari penguasa. Masyarakat dengan senang hati melaksanakannya karena menganggap hal itu penting. Selamatan dan kenduri itu juga sebagai wujud kepedulian bagi sesama karena manusia hidup untuk saling membantu. Jika yang lain mengalami kesusahan, wajibnya yang lain mengulurkan tangan memberi bantuan dan turut prihatin. Seperti halnya warga di lereng Merapi yang membutuhkan bantuan doa dari saudaranya yang tinggal di pesisir pantai Selatan Yogyakarta agar terhindar dari bencana.

d. Upacara Labuhan
Labuhan merupakan bentuk kebudayaan Jawa pesisir. Secara etimologis, labuhan berasal dari kata labuh atau larung yang mempunyai arti membuang sesuatu ke dalam air baik sungai maupun laut. Labuhan mempunyai maksud memberi sesaji kepada roh halus yang berkuasa di suatu tempat. Dalam hal ini labuhan dimaksud untuk memberi sesaji kepada Nyai Roro Kidul, penguasa Laut Selatan.

Menurut Wiryapranitra dalam Babad Tanah Jawa, Raden Sutawijaya atau yang lebih dikenal sebagai Panembahan Senopati penguasa Mataram kala itu, pernah mengadakan perjanjian dengan Nyai Roro Kidul. Sang Nyai yang telah diperistri oleh Panembahan Senopati hendak dibawa hidup bersama dan mendampinginya sebagai Raja Mataram. Namun, Nyai Roro Kidul menjelaskan bahwa hal itu tidak mungkin dilakukan karena sang Nyai merupakan makhluk halus atau peri. Meskipun tak dapat mendampingi Sang Raja, Nyai Roro Kidul akhirnya berjanji akan selalu siap membantunya jika keraton Mataram sewaktuwaktu menghadapi bahaya.

Akhirnya, Panembahan Senopati mengabulkannya. Sebagai imbalan dari perjanjian itu Panembahan Senopati memberikan persembahan yang diwujudkan dalam upacara labuhan. Selanjutnya, upacara labuhan menjadi tradisi turuntemurun dalam kerajaan Mataram karena Nyai Roro Kidul dianggap hidup sepanjang masa. Raja pengganti Panembahan Senopati bertugas melestarikan tradisi yang telah ada tersebut sebagai wujud penghormatan terhadap Nyai Roro Kidul dan ikatan perjanjian yang masih tetap terjalin antara Keraton Yogyakarta dengan penguasa Laut Selatan. Dengan demikian, jika memenuhi kewajiban untuk mengadakan labuhan tersebut maka Nyai Roro Kidul akan senantiasa
menjaga keselamatan rakyat dan kerajaan Mataram. Bahkan jika sang raja meminta bantuan, dengan senang hati ia akan memberikan bantuannya.

Dalam novel Sang Nyai, Merapi dalam kondisi terancam meletus. Ngarsa Dalem melalui utusannya memerintah Mas Darpo sebagai juru kunci Parangkusumo untuk mengadakan upacara labuhan yang didahului dengan selamatan dan kenduri. Perhatikan kutipan berikut:

“Maksud dari labuhan itu apa, Mas?” “Ya, kami mohon kepada Sang Pencipta agar Merapi tidak sampai menelan korban nyawa. Biarkan meletus, karena memang sudah saatnya.
Ini sudah memasuki siklus empat tahunan. Lalu, kami juga akan minta pertolongannya supaya membujuk Eyang Sapu Jagad di Merapi. Untuk apa? Ya, minta jangan sampai lahar panas Merapi terlalu banyak dimuntahkan, supaya tidak menelan korban nyawa.” (Sang Nyai).

Dari data tersebut, dapat disimpulkan bahwa melalui labuhan tersebut Ngarsa Dalem secara tidak langsung meminta bantuan kepada Nyai Roro Kidul untuk melindungi rakyat Yogyakarta dari ancaman letusan Merapi. Meskipun sudah masuk siklus empat tahunan sebuah gunung yang aktif untuk meletus, namun permintaan dari Ngarsa Dalem bertujuan agar Nyai Roro Kidul dapat membujuk Kiai Sapu Jagad sebagai penjaga kawah Merapi agar gunung tersebut tidak meletus. Seandainya meletus, dengan labuhan tersebut meminta jangan sampai lahar Merapi terlalu banyak dimuntahkan, supaya tidak membahayakan penduduk apalagi menelan korban jiwa.

Selain itu labuhan juga disambut antusias oleh warga maupun orang-orang jauh yang ingin berburu barang-barang labuhan tersebut. Barang-barang yang telah dilabuh ke Laut Selatan dipercaya membawa berkah. Seperti penuturan Kang Trisno kepada Sam. Ia mendapat keberuntungan pada labuhan tahun lalu berupa selendang lurik. Berikut kutipannya:

“Di Parangkusumo, sering diadakan juga kok. Ramai sekali, Om. Barang-barang yang dilabuh itu dijadikan rebutan para pengunjung. Sebab, kami percaya jika barang-barang itu bertuah. Buktinya saya. Tahun lalu, saya mendapat selendang lurik. Ada yang mau membeli satu juta rupiah. Tidak saya berikan. Lalu tiba-tiba, datang seorang wanita cantik. Sudah tidak muda lagi. Umurnya kira-kira lima puluh tahun. Dia mau menukar selendang itu dengan sepeda motor baru. Ya sudah, saya berikan. Ini
motornya, hahaha.... Rezeki dari Nyai Roro Kidul, Om.” (Sang Nyai).

Berdasarkan kutipan tersebut maka barang-barang yang dilabuh dianggap telah disentuh oleh Nyai Roro Kidul sehingga dipercayai sebagai barang-barang yang bertuah. Siapa yang memiliki barang tersebut akan mendapat keberuntungan. Seperti Kang Trisno yang mendapatkan motor baru dari menjual selendang lurik hasil dari berburu saat labuhan. Masyarakat percaya bahwa hal itu merupakan rezeki dari Nyai Roro Kidul.

Dengan bentuk labuhan di atas maka diharapkan Nyai Roro Kidul dapat membantu mencegah letusan gunung Merapi, dan dapat memberikan berkah bagi masyarakat yang mendapatkan benda-benda labuhan demi kesejahteraan masyarakat itu sendiri. Dengan demikian seperti yang dikutip dari Sunarsih, dkk tujuan diadakannya upacara labuhan ialah untuk keselamatan pribadi Sri Sultan, Keraton Yogyakarta, dan rakyat Yogyakarta. Upacara labuhan juga memperkuat hegemoni mitos Nyai Roro Kidul terhadap Raja, masyarakat Yogyakarta, dan Gunung Merapi.

2. Tradisi Ziarah
Ziarah merupakan sebuah adat istiadat yang sering dilakukan oleh orang-orang Jawa seperti menengok makam leluhur atau mengunjungi tempat-tempat keramat. Hal tersebut mempunyai maksud untuk mendoakan atau meminta doa dari tempat yang diziarahi. Ziarah dalam novel Sang Nyai tersebut berkaitan dengan ziarah ke tempat keramat di Cepuri Parangkusumo, tepatnya di selo gilang. Selo gilang merupakan batu keramat tempat pertemuan Panembahan Senopati dengan Nyai
Roro Kidul. Berikut kutipannya:

“Nanti di sini, mereka itu sebenarnya mau apa?” tanyaku kepada 
Mas Darpo.
“Ya, intinya ziarah, tirakat, laku prihatin, memohon kepada Sang
Pencipta agar mau mengabulkan permohonan mereka.”
“Katanya, agar permohonannya terkabul, mereka harus
berhubungan suami istri, tetapi tidak dengan pasangan resminya, harus
dengan orang lain. Benar begitu?”
Mas Darpo tertawa terkekeh-kekeh. “Dari mana Mas Sam dengar
hal itu? Ini Parangkusumo, bukan Gunung Kemukus.” (Sang Nyai).

Parangkusumo merupakan tempat yang keramat. Untuk itulah banyak orang, bahkan dari luar kota melakukan ziarah, tirakat, maupun berlaku prihatin dengan mengunjunginya. Mereka berharap dapat memohon kepada Sang Pencipta agar mau mengabulkan permohonan mereka. Di Parangkusumo inilah Mas Darpo sebagai juru kunci bertugas menyampaikan doa dan permohonan para peziarah, dan diharapkan dengan doa tersebut maka Nyai Roro Kidul akan mengabulkannya. Nyai Roro Kidul merupakan perantara dengan Sang Pencipta.

Hal ini menegaskan bahwa hegemoni mitos Nyai Roro Kidul sangat kuat dalam adat ziarah di Parangkusumo. Untuk itulah Ngarsa Dalem memberikan surat tugas atau kekancingan pada Mas Darpo sebagai abdi dalem agar menjadi juru kunci Parangkusumo, yang terletak di Pantai Selatan. Mas Darpo mempermudah orang-orang untuk meminta berkah kepada Nyai Roro Kidul.Hal tersebut dijelaskan dalam kutipan berikut:

Laki-laki itu memaknai sebagai berkah dari Ngarsa Dalem, sultan di Keraton Yogyakarta yang memberi kekancingan atau surat tugas kepada dirinya untuk melayani para peziarah. Dan, yang tidak boleh dilupakan, Mas Darpo lagi, adalah berkah dari Nyai Roro Kidul! Penguasa Laut Selatan itu seolah mau bermurah hati padanya karena ia telah sudi menjaga selo gilang dengan baik. Itulah upah dari sebuah kesetiaan. Upah dari sebuah kerja yang tulus dan ikhlas. Meski sederhana, namun maknanya bisa sangat dalam jika dikupas (Sang Nyai).

Hal ini menandakan bahwa Sultan mempercayakan tugas untuk menjadi juru kunci Parangkusumo pada Mas Darpo. Kekancingan merupakan surat silsilah yang dikeluarkan oleh Tepas Darah Dalem (Kantor Urusan Keturunan Raja) atas nama sang Sultan. Keluarnya surat tersebut biasanya ditandai dengan penambahan gelar pada nama seseorang yang telah diangkat menjadi abdi dalem, atau merupakan keturunan Keraton.

Dalam novel Sang Nyai, Mas Darpo sebagai abdi dalem termasuk sebagai jajaran Lurah. Sebagai panggilan kehormatan ia dipanggil sebagai Mas Lurah. Walaupun gajinya hanya beberapa rupiah saja, tetapi tugas yang diembankan padanya oleh Ngarsa Dalem serta restu dari Nyai Roro Kidul membuahkan rezeki yang melimpah untuknya melalui tangan para peziarah. Hal itu merupakan upah
dari kesetiaan dengan kerja yang tulus dan ikhlas. Hal itu juga yang membuat rakyat semakin tunduk dengan kekuasaan sang Sultan dan Nyai Roro Kidul.

Ziarah yang dipimpin oleh Mas Darpo dilakukan pada setiap malam Jum’at Kliwon. Dalam ziarah tersebut biasanya orang mengantri dengan membawa sebungkus kembang telon, kemenyan, rokok kretek, dan amplop berisi uang seikhlasnya sebagai ucapan terima kasih. Mas Darpo menganggap amplop tersebut sebagai mahar atau maskawin. Ketika saatnya tiba, Mas Darpo akan mulai mendoakan para peziarah di selo gilang yang dikenal sebagai batu cinta, tempat pertemuan Panembahan Senopati dan Nyai Roro Kidul.

Hal tersebut ditandai dengan wangi kembang melati dan hembusan angin yang datang dari selatan pintu Cepuri Parangkusumo, Nyai Roro Kidul hadir ke tempat itu untuk mengabulkan permohonan dari para peziarah sehingga dengan demikian peziarah berharap doanya akan terkabul. Berikut kutipan yang menegaskan hegemoni mitos Nyai Roro Kidul melalui ziarah di Puri Parangkusumo:

Laki-laki itu mengangkat bahu. “Monggo sampean sendiri yang
bisa menyimpulkan. Nanti kalau saya, dikira memaksakan kehendak.
Mentang-mentang Juru Kunci Parangkusumo, lalu berkata begitu. Orang
bisa saja menuduh saya seperti itu. Apalagi, setiap malam Jum’at Kliwon,
Ratusan peziarah minta pertolongan saya untuk mendoakan keinginan
mereka, memohonkan kemurahan Sang Pencipta lewat Nyai Roro Kidul.
Nanti dikira saya mencari kebenaran untuk diri sendiri karena punya
pamrih, hehehe....” (Sang Nyai).

Dari kutipan di atas dapat diyakini bahwa Nyai Roro Kidul dianggap akan bermurah hati dan memohonkan doa kepada Sang Pencipta, sehingga rakyat percaya bahwa doanya dapat terkabul. Hegemoni ini sangat kuat, ditandai dengan banyaknya peziarah yang datang ke Parangkusumo tiap malam Jum’at Kliwon, dan hal itu semakin menguatkan kekuasaan Nyai Roro Kidul sebagai Ratu gaib Pantai Selatan yang dihormati oleh masyarakat Jawa.


Referensi:
Hajarwati, Dwi Isma. 2013. “Mitos dalam Novel Sang Nyai Karya Budi Sardjono.” Skripsi. Jombang: STKIP PGRI.
Permatasari, Intan Dewi. 2013. “Nilai Budaya Jawa dalam Novel Sang Nyai Karya Budi Sardjono dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Sastra Indonesia di SMA”. Skripsi. Tegal: Universtias Pancasakti.

Kamis, 27 Juli 2017

Asal-usul seni kuntulan dan proses terwujudnya

Seni kuntulan
Banyuwangi merupakan daerah yang kebudayaannya terbentuk dari keberagaman suku yang pernah singgah di sana, antara lain Jawa, Madura, Bali, Tionghoa dan lain-lain. Keberagaman suku tersebut membentuk sebuah suku baru yang diduga menjadi suku asli Banyuwangi. Yaitu suku Osing. Suku Osing merupakan hasil akulturasi budaya yang ada di Banyuwangi, memiliki ciri tersendiri seperti: bahasa, adat istiadat, sistem masyarakat, kesenian, ciri fisik dan pola pikir yang berbeda dengan suku lainnya. Hingga saat ini budaya dan kesenian yang hidup di Banyuwangi merupakan kesenian dan budaya asli maupun hasil akulturasi budaya antar etnis yang sangat digemari antara lain, kesenian kuntulan.

Kesenian kuntulan merupakan kesenian hasil dari akulturasi budaya agama Islam dengan budaya asli Banyuwangi. Secara harafiah kuntulan berasal dari bahasa Arab, tersusun atas dua suku kata, yaitu kunyang artinya terjadi, dan lail yang artinya malam. Hal ini dapat diartikan kuntulan dilaksanakan pada malam hari. Kesenian kuntulan berawal dari kegiatan para santri yang selesai mengaji di malam hari kemudian mengembangkan kesenian hadrah dengan menambahkan jidor pantus dan jidor bass pada bagian musiknya, yang berfungsi sebagai pengatur dan pengendali irama.

Namun penyajian kesenian ini kemudian berkembang dengan gerakan-gerakan tari sederhana, seperti gerakan sholat, wudhu (bersuci) dan berdo’a. Seluruh pemain baik pemusik dan penari seluruhnya adalah laki-laki, menggunakan kemeja putih, celana putih dan menggunakan peci (kopyah hitam), serta pemakaian dengan nama kuntulan. Asumsi Masyarakatawam disebut kuntulan karena kostumnya yang menyerupai burung kuntul.

Hingga sekarang kesenian Kuntulan masih dilestarikan oleh Suku Osing. Kesenian tersebut juga menjadi ciri khusus suku Osing dengan suku yang lain dan sebagai warisan budaya mereka.

Asal-usul seni kuntulan
Dari pengertian tersebut dapat diketahui bahwa kesenian Kuntulan ada sejak awal datangnya para santri sebagai penyebar Islam. Kesenian Kuntulan awalnya dilahirkan dari lingkungan Pondok Pesantren merupakan suku perguruan Islam tempat mendidik dan mengembangkan santri (kader umat Islam) guna kelanjutan perjuangan penyebaran Islam. Selain melakukan kegiatan belajar agama Islam, para Santri juga melakukan aktivitas berkesenian yaitu menyanyikan Shalawat Nabi berisi tentang puji-pujian (Barzanji) kepada Nabi Muhammad SAW.

Dengan demikian penyebaran Islam yang dilakukan oleh para Santri bertujuan melakukan aktivitasberkesenian dengan menyanyikan Sholawat Nabi.Selain itu, Masyarakat Using biasanya menyebut kesenian kuntulan sebagai Kesenian Hadrah Kuntul dan Kundaran, akan tetapi kebanyakan dari seluruh masyarakat Banyuwangi menyebutnya kesenian Kuntulan, hanya berbeda penyebutanya saja, tetapi makna yang terkandung di dalamnya sama-sama mengandung unsur Islamnya. Adapun Seni Kuntulan yang biasanya dilakukan oleh para santri ini menyajikan Sholawat dengan melakukan tata cara sendiri Penyajian tersebut.

Penyajian ini berupa vocal puji-pujian oleh seorang rodat (penyannyi yang menyanyikan lagu Arab) dan diiringi oleh permainan ritmis terbang (rebana berjumlah 5 buah. Kesenian ini dimanfaatkan oleh para santri sebgai seni pertunujan pada hari-hari besar Islam, seperti : Maulid Nabi, Tahun Baru Islam (Muharram, Isra’ Mi’raj dan lain sebagainya.

Dengan adanya penyajian tersebut kita dapat mempelajari kebudayaan-kebudayaan yang selama ini belum kita kenal baik masyarakat dari suku Osing sendiri maupun dari luar Suku Osing.

Proses terbentuk/terwujudnya seni kuntulan
Proses Terbentuknya Seni Kuntulan sendiri sebenarnya berasal dari kesenian Hadrah yang muncul pada awal. Kesenian Hadrah ini dulu sebenarnya digemari oleh masyarakat suku banyuwangi namun karena ada perkembangan zaman kesenian hadrah menjadi kuntulan.

Sekitar tahun 1950 kesenian Hadrah muncul. Pada awalnya hadrah sangat kental dengan nuansa Islam yang sifatnya mutlak, isinya 100% dakwah Islam, sumbernya dari Kitab Berzanji. Instrumen musik yang mengiringinya adalah rebana dan kendang. Penarinya laki-laki dengan bentuk tarian menyerupai tarian Saman dari Aceh. Tembang yang dilantukan adalah bait-bait burdah dan pelakunya para santri yang ada di pesantren tersebut. Pada waktu itu Hadrah sangat digemari oleh masyarakat Banyuwangi, akan tetapi setelah perkembangan zaman Hadrah mulai memudar dan munculah kesenian Handrah Kuntul atau kesenian Kuntulan.

Hal tersebut membuat kesenian kuntulan yang berasal dari Banyuwangi terus berkembang dan tidak menjadi masalah adanya pergantian dari kesenian Hadrah menjadi kesenian Kuntulan. Dalam perkembangan selanjutnya, penyebab kesenian Hadrah mulai memudar dan muncul kesenian Kuntulan dikarenakan mengalami berbagai perubahan baik dalam instrument musik, tarian, busana, maupun penampilanya. Setelah itu kesenian kuntulan berubah lagi menjadi kesenian Kuntulan Wadon.

Kuntulan Wadon, muncul sekitar tahun 1955. Kesenian ini sudah menyebar dibeberapa desa di Kecamatan Kabat dan Kecamatan Rogojampi antara lain: Desa Badean, Tambong, Kawang, Pengantingan dan Pendarungan. Tahun 1960-an kesenian Kuntulan mengalami penurunan peminat, sampai akhirnya pada tahun 1979, sebuah kelompok kesenian bernama Jingga Putih yang berada di bawah pimpinan Sumitro Hadi melakukan perubahan bentuk pertunjukan Kuntulan dari penari lanang (laki-laki) menjadi penari wadon (perempuan). Bersama kelompok lain keseniannya, Sumitro membuat karya-karya pertunjukan, seperti menciptakan tari jejer jaran dawuk, rodat siirian, dan termasuk didalamnya Kuntulan Wadon. Kelompok kesenian Jingga Putih berada di Desa Gladak, kecamatan Rogojampi. Perubahan yang dilakukan oleh Sumitro Hadi didasari karena penari perempuan lebih menarik dan tidak membosankan. Menurut Siti Lailatul Nur Azizah, (2014:45).

Perubahan penari ini juga diikuti dengan perubahan kostum dan tata rias penari. Kostum yang digunakan tidak lagi kemeja dan celana putih, tetapi berupa atasan kuning dan warna lain, penutup kepala dihiasi dengan hiasan bunga, mirip omprok (penutup kepala) pada penari Gandrung atributnya berupa kaus kaki dankaus tangan, dan tata rias yang digunakan sudah menggunakan make up seperti warna bibir, pemerah pipi dan pewarna kelopak mata.

Kesenian Kuntulan Wadon menjadi popular dikalangan masyarakat suku banyuwangi pada waktu itu, banyak masyarakar Banyuwangi yang menyukai dengan gaya dan penampilannya. Akan tetapi setelah adanya berkembangnya zaman Kuntulan Wadon mengalami perubahan menjadi kesenian Kundaran.

Kundaran didirikan pada tanggal 1 Januari 1980 oleh Sahuni, seniman asli dari Banyuwangi. Bersama kelompok kesenianya Sahuni menciptakan perubahan baru terhadap pertunjukan kesenian Kuntulan Banyuwangi. Sahuni memberikan ide pertujukan yang berbeda dengan kesenian Kuntulan biasa, hampir secara keseluruhan peyajian Kuntulan diubahnya. Perubahan tersebut meliputi: penambahan ensambel musik pengiring Damarwulan, yaitu reong, (sepasang kendang Bali lanang wadon), penambahan ensambel musik pengiring Gandrung, yaitu: kendang, kethuk, kenong, kluncing (triangle), serta penambahan pada instrumen pengiring kesenian Jaranan, berupa slompret. Dengan demikian perubahan ini dinamakan “Kuntulan Dadaran” karena pada dasarnya semua yang ada pada kesenian kuntulan terdahulu diubah dengan sedemikian rupa, dan terciptalah “seni pertunjukan”,
Menurut Siti Lailatul Nur Azizah (2014:47).

Penyajian kesenian Kundaran lebih bersifat instrumental yang lebih banyak menonjolkan komposisi musik dengan memadukan irama-irama baru ke dalam irama musik Kuntulan, sehingga Kundaran lebih variatif dan meluas dari pada kesenian Kuntulan terdahulu. Dengan demikian masyarakat lebih menyukai kesenian ini karena sifatnya yang lebih bervariasi dan tidak monoton.

Dalam wawancara bersama Sahuni selaku seniman Kuntulan, yang ditulis oleh Siti Lailatul Nur Azizah(2014:48) mengenai bagaimana perubahan kesenian Kuntulan dari waktu ke waktu dikatakan sebagai berikut:

“Perubahan pada kesenian Kuntulan di karenakan pertemuaannya dengan kesenian-kesenian khas Banyuwangi seperti Gandrung, Damarwulan dan tarian lainnya, sehingga merubah bentuk asli kesenian Kuntulan menjadi kesenian Kundaran atau Kuntulan Dadaran (seni Kuntulan yang diperlebar). Kenapa bisa dinamakan Kundaran? Karena pada kesenian ini lebih fleksibel dan melua, dari musik, tarian juga mengalami perubahan dan penambahan pada alat musik, tidak hanya itu saja para penari Kuntulan yang tadinya lakilaki ikut berubah menjadi penari perempuan (Wadon). Sehingga masyarakat Banyuwangi semakin tertarik, karena kesenian ini tidak monoton. Sedangkan sifat dari kesenian Kuntulan dan Kundaran sama-sama berdakwah Islam.”

Hingga saat ini kesenian Kuntulan menjadi warisan budaya di Banyuwangi dan tidak bisa ditinggalkan sebagai kebiasaan bagi warga Banyuwangi, khusunya bagi orang-orang suku Osing.


Referensi:
Azizah, Siti Lailatul Nur. 2014. Kesenian Kuntulan Dalam Suku Using Di Banyuwangi Tahun (1950-1980): Studi Akulturasi Antara Unsur Islam Dengan Kesenian Kuntulan. PhD Thesis. UIN Sunan Ampel Surabaya.
Susanti, Kristina Novi. Kesenian Kuntulan Banyuwangi: Pengamatan Kelompok Musik Kuntulan Mangun Kerto.

Rabu, 26 Juli 2017

Agama suku osing dan kepercayaan gaibnya

Suku osing

Suku Osing atau sering disebut juga dengan Suku Using merupakan suku asli yang berasal dari Banyuwangi tepatnya di Jawa Timur. Tidak hanya Suku Osing saja yang berasal dari Jawa Timur tetapi ada pula beragam jenis yang berasal dari Jawa Timur diantaranya adalah suku Jawa, Madura, Bali, Banjar, Melayu, Mandar dan suku Using yang mayoritas penghuni kota Banyuwangi.

Menurut Siti Lailatul Nur Azizah, (2014:26) mengatakan bahwa:
Suku Using adalah suku asli dari Banyuwangi. Using secara terminologis berasal dari kata sing-sering juga di ucapkan oleh suku Using hing yang berarti “tidak”, kemudian di maknai sebagai orang-orang yang “tidak” ikut mengungsi ketika terjadi Perang Puputan Bayu, sehingga tetap menempati wilayah Blambangan yang sekarang menjadi kota Banyuwangi.

Jadi secara garis besarnya masyarakat suku Osing tidak hanya ada di Banyuwangi, tetapi meliputi beberapa daerah di Jawa Timur yang dulu pernah dikuasai atau ikut wilayah Blambangan. Seperti sebagian Jember, Bondowoso, Situbondo dan Lumajang disebut masyarakat Using. Sebagian besar masyarakat suku Osing terdapat di kota Banyuwangi. Banyuwangi adalah kabupaten yang berada di ujung timur propinsi Jawa Timur.

Agama yang dianut “Suku Osing”
Jika diperhatikan dari sejarahnya, suku Osing awalnya memeluk ajaran Hindu-Budha yang diyakini sebagai agama mereka seperti halnya kerajaan Majapahit. Tetapi Sebagian besar masyarakat Osing beragama Islam, dan setengahnya lagi beragama Hindhu dan Budha.

Masyarakat Osing percaya pada para roh leluhur, reinkarnasi, moksa, dan hukum karma. Mereka juga percaya kepada roh yang dipuja (danyang) di sebuah tempat disebut Punden yang biasanya ada di bawah pohon atau batu besar. Meskupun saat ini agama mayoritas masyarakat Osing adalah Islam, hal tersebut akibat berkembangnya kerajaan Islam di daerah Pantura (Pantai Utara). Akan tetapi agama yang lain masih tetap ada di dalam Suku Osing.

Kepercayaan Ghaib/Mistis yang diyakini “Suku Osing”
Masyarakat Suku Osing sendiri memiliki beberapa kepercayaan yang masih mereka pecayai sampai saat ini. Masyarakat Osing masih memegang teguhnya tradisi dan budaya yang erat kaitannya dengan hal mistis, ini menimbulkan banyak persepsi negatif bagi masyarakat yang hanya mengetahui sebagian saja dari tradisi Osing, terutama karena sebagian besar tradisi masyarakat Osing yang memang masih sangat dekat dengan budaya sebelum Islam.

Meskipun kepercayaan tersebut masih dilakukan oleh Suku Osing, tetapi kepercayaan tersebut beberapa telah berubah dan menyesuaikan sesuai dengan agama yang dianut oleh Suku Osing. Ada beberapa keperccayaan Suku Osing yang sampai saat ini masih mereka lakukan. Bahkan di zaman yang modern ini masih ada juga kepercayaan yang berbau mistis yang dilakukan oleh Suku Osing.

Beberapa tradisi masyarakat Osing yang dianggap dekat dengan dunia gaib atau mistis antara lain:
  1. Adanya kepercayaan bahwa orang yang tentang ilmu pelet/Jaran Goyang. Ilmu ini digunakan untuk menarik lawan jenis yang kita sukai. Jika orang terkena ilmu ini maka orang tersebut tidak akan bisa menolak orang yang menyukainya. Image bahwa jika seseorang disukai oleh orang yang berasal dari suku Osing tidak akan bisa menolak lahir dari mitos ini. Padahal mitos ini hanya berlaku jika orang tersebut sama sama suka.
  2. Selametan setiap hari Senin dan Kamis di makam Buyut Cili yang dilakukan oleh orang yang akan mempunyai hajat ataupun sehabis melaksanakan suatu acara.
  3. Masa menanam padi dan bercocok tanam yang didasarkan kepada perhitungan dan hari baik dan buruk, serta tanda tanda alam yang terbaca.
  4. Tata cara selamatan yang sering kali dilaksanakan setiap hari tertentu dan pada saat tanggal tertentu. Frekuensi dari selamatan ini lebih sering daripada daerah lain.
  5. Adanya kepercayaan tentang santet dan ilmu hitam lainnya bila kita dianggap menyakiti orang yang berasal dari suku Osing.
Walaupun suku Osing awalnya memeluk ajaran Hindu-Budha yang diyakini sebagai agama mereka seperti halnya kerajaan Majapahit dan masyarakat Osing mayoritas beragama Islam. Penduduk suku Osing juga sebagian masih memegang kepercayaan lain seperti Saptadharma, yaitu kepercayaan yang kiblat sembahyangnya berada di Timur seperti orang Cina. Sistem kepercayaan di suku Osing masih mengandung unsur Animisme, Dinamisme, dan Monotheisme.

Terbukanya suku Osing dalam menerima pengaruh dari luar ini membuat kepercayaan mistis dan agama masih bercampur. Suku Osing merupakan suku yang masih menjaga tradisi dan kepercayaan dahulu, dan tetap bisa menerima agama Islam yang masuk ke wilayahnya saat itu.


Referensi:
Koentjaraningrat. 1994. Kebudayaan Jawa (Jakarta:Balai Pustaka)
Anastasia Murdyastuti,dkk. 2013. Kebijakan Akselerasi Pengembangan Kawasan Wisata Using Berbasis Democratic Governance. Penelitian Unggulan Universitas Jember.