Sabtu, 01 Juli 2017

Inilah dampak positif dan negatif pernikahan dini

Pernikahan
Pernikahan adalah sunnah rosul yang wajib dilaksanakan jika sudah mempunyai pasangan dan sudah siap menikah untuk menghidupi anak dan istri. Pernikahan merupakan akad yang menghalalkan pergaulan dan membatasi hak dan kewajiban serta tolong menolong antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang bukan muhrim. Adapun tujuan pernikahan adalah untuk mendapatkan ketenteraman batin dan rasa kasih sayang antara suami dan istri.

Tetapi tidak semua orang yang usianya sudah matang dan sukses dalam segala hal bisa membentuk keluarganya menjadi keluarga yang sangat diidam-idamkan (keluarga sakinah). Apalagi seseorang yang masih muda, masih dini, masih banyak tergantung dengan orang tuanya terutama dalam hal ekonomi sangat tipis untuk bisa membentuk keluarganya menjadi keluarga yang sakinah, meskipun ada yang bisa membentuk keluarganya menjadi keluarga yang sakinah dengan posisi usia yang masih dini dan belum memiliki pekerjaan, tergantung pada orang tua tetapi tidak banyak dan jarang.

Namun dibalik itu semua, ada dampak positif dan negatifnya jika melakukan pernikahan dini.

1. Dampak positif dari pernikahan dini

a. Menyelamatkan dari penyimpanan seks
Mereka menyegerakan menikah karena takut terjerumus pada lembah zina sangat agung dalam pandangan Islam.

b. Sehat jasmani dan rohani
Penyaluran seks yang benar, itulah menjadi kunci kesehatan jasmani dalam rumah tangga. Berbagai survei menunjukkan, mereka lebih kebal dari penyakit daripada mereka yang belum menikah. Bahkan mereka yang berumah tangga jika sakit cepat sembuh dibandingkan yang masih bujangan atau perawan.

c. Lebih cepat memiliki keturunan

d. Diantara tujuan pernikahan adalah berketurunan.

2. Dampak negatif dari pernikahan dini dapat dilihat dari beberapa segi, yaitu:

a. Ketidakharmonisan Keluarga

Konflik adalah bumbu penyedap dalam suatu perkawinan. Ada banyak perkawinan berubah menjadi lebih mesra dan mantap setelah digoncang oleh konflik yang hebat. Tetapi ada yang sebaliknya, tidak sedikit perkawinan menjadi runyam karena terus digoncang oleh konflik, sehingga hubungan suami istri meskipun masih hidup bersama dalam satu rumah, tidak saling bertegur sapa, dan masing-masing seperti dua orang yang bermusuhan. Dan tidak jarang konflik tersebut berakhir dengan suatu perceraian, apabila tidak dapat diselesaikan.

Menurut hasil penelitian Landis & Landis, ada tiga masalah yang paling sering menjadi biang keladi dalam perkawinan. Yakni masalah seks, keuangan dan komunikasi.

  - Faktor Seksual
Suami istri yang mengalami permasalahan ini, kebanyakan perkawinannya akan mudah digoncang oleh konflik. Ada banyak permasalahan seksual yang kerap dialami oleh suami istri, misal suami tidak tahu bagaimana harus menyenangkan istri di atas ranjang. Karena suami tidak tahu, dia kemudian berbuat sembarangan, main kasar dan brutal. Dalam hal ini suami tersebut telah melakukan suatu kebodohan, karena memiliki keyakinan yang salah bahwa dia yakin istrinya pasti akan senang jika suaminya main kasar, main tekan sekuat tenaga.

Kebodohan suami tersebut, jelas akan membuat istri selalu tertekan setiap berhubungan intim. Dalam hal ini, istri tersebut akan kesakitan. Hubungan intim yang seharusnya amat menyenangkan, berubah menjadi sesuatu hal yang menakutkan. Akibatnya, istri sering menolak jika diajak berhubungan intim, atau dilakukan setengah hati jika mau. Yang akan terjadi sangat jelas sekali, bahwa suami pun akan merasa kesal dan kecewa, jika dalam urusan seksual istri sudah takut, sementara suami kesal dan kecewa, maka perkawinan sudah diambang bahaya. Perkawinan akan terancam oleh kemelut yang lebih runyam.

  - Faktor Keuangan
Keuangan sering menjadi biang keladi konflik dalam perkawinan. Dalam hal ini, konflik yang disebabkan oleh masalah keuangan bukan hanya terjadi pada keluarga miskin saja. Sebab banyak keluarga kaya dilanda konflik, karena masalah keuangan. Suami istri saling curiga, karena masalah keuangan selalu tidak beres. Hal ini disebabkan karena suami sering menyembunyikan sebagian gajinya tanpa sepengetahuan istri, sedangkan pihak istri selalu merasa kekurangan dengan bagian yang diterimanya dari suami (selalu merasa kurang dalam hal uang belanja).

Dengan demikian, sumber keruwetan yang menyangkut masalah keuangan, yang kemudian menyebabkan keruwetan adalah disebabkan oleh suami istri yang kurang pandai dalam mengelola keuangan. Pada prakteknya kalau suami istri tidak bisa mengelola keuangan dengan baik, maka masalah keuangan akan sering ruwet, dan akhirnya akan mengakibatkan konflik perkawinan yang berat. Masalah keuangan memang menjadi sengsara, karena suami istri yang bersangkutan selalu gegabah dalam mengelola keuangan, dan sebaliknya, banyak perkawinan semakin lama semakin makmur dan bahagia sejahtera, karena suami istri yang bersangkutan selalu cermat dan hemat dalam mengelola keuangan.

  - Faktor Komunikasi
Suami istri yang sering konflik, karena komunikasi di antara keduanya kurang sehat. Antara suami dan istri masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri di luar rumah. Suami sibuk dengan pekerjaannya sendiri (lebih banyak di luar rumah karena tuntunan pekerjaan), sedangkan istri sibuk dengan kegiatan di luar rumah juga (arisan ,belanja, memasak bareng ibu-ibu PKK, dan sebagainya). Suami istri akan lancar dalam urusan komunikasi, jika mereka selalu saling memperhatikan dengan penuh rasa cinta dan tanggung jawab.

Hampir semua orang tahu bahwa komunikasi merupakan kunci keharmonisan hubungan suami istri. Sebab, pada hakikatnya tujuan kedua belah pihak yang telah sepakat menjadi suami istri itu adalah sama. Yakni sama-sama menginginkan keluarga bahagia, sama-sama sayang anak, sama-sama tidak ingin rebut, dan sama-sama tidak ingin merugikan nama baik keluarga dalam masyarakat, dan lain sebagainya. Komunikasi merupakan satu-satunya alat untuk mengungkapkan perasaan antara dua individu yang memiliki kepribadian berbeda satu dengan yang lainnya. 

Meskipun suami istri telah hidup bersama bertahun-tahun lamanya, namun keduanya berbeda latar belakangnya (budaya, adat, dan pendidikan), maka sikapnya pun berbeda pula. Oleh karena itu jangan mengharapkan sesuatu tanpa terlebih dahulu mengutarakan atau memaksakan agar orang lain tahu dengan sendirinya apa yang diinginkan. Tidak ada kunci terbaik kecuali komunikasi untuk mengutarakan isi hati. Jadi anggapan “diam” harapan bisa lancar adalah keliru. Maka kalau ada ketidaksamaan kehendak antara suami istri, maka komunikasilah sebenarnya.39 Komunikasi merupakan jembatan yang menghubungkan antara dua hal yang berbeda, kalau jembatan yang dibangun bagus, maka hal itu akan meminimalisasi permasalahan-permasalahan yang memungkinkan munculnya konflik.

b. Perceraian

Perceraian adalah suatu perbuatan sah yang sangat dibenci Allah. Demikian ajaran agama mengingatkan, sebagai perbuatan yang sah, perceraian memang bisa terjadi dan dilakukan oleh orang-orang baik. Tetapi karena dibenci Allah, tentu perceraian hanya berdampak negatif, yakni hanya membuat penderitaan bagi orang-orang yang bersangkutan. Jika perceraian harus terjadi, hal itu akan memakan korban. Korban pertama adalah suami istri yang melakukannya. Sedangkan korban berikutnya adalah anak-anak.

Suami bercerai dengan istrinya dapat dipastikan akan segera melanda keresahan, terutama dalam pemenuhan kebutuhan biologisnya. Kalau seorang yang mempunyai ketabahan atau ketakwaan, kebutuhan biologius (seksual) akan bisa ditekan, atau dilupakan. Dengan demikian perceraian suatu jalan yang serba “menjanjikan” berbagai derita. Dan karena itu adalah omong kosong jika ada wanita atau pria yang habis cerai mengaku hidup bahagia, sebab bagaimana ia bisa bahagia jika kebutuhan seksualnya mengalami kesulitan, disamping itu dia akan merasa kesepian karena pendamping hidupnya tidak ada.

Jika perceraian dilakukan setelah ada anak-anak, biasanya mereka akan ikut menderita. Berbagai penelitian membuktikan, bahwa anak-anak yang tidak memiliki orang tua tidak lengkap (karena sudah cerai) cenderung hidup memperhatinkan. Dalam hal ini, anak-anak tersebut juga akan cenderung bersikap rendah diri, pemurung atau nakal. Bagi anak-anak, perceraian orang tuanya bisa menjadikan bayang-bayang menakutkan. Dengan demikian, perceraian yang dilakukan orang tua (suami-istri) bukan hanya bisa menjadi trauma bagi anak-anak. 

Dalam hal ini, anak-anak yang orang tuanya bercerai cenderung enggan untuk berkeluarga. Banyak diantara mereka, yang terpaksa menjadi bujang atau gadis tua, dan jika mereka menikah, maka ia akan selalu dihantui bayang-bayang perceraian. Derita dibalik perceraian memang sangat banyak. Dalam keadaan bagaimana pun orang-orang yang melakukan perceraian akan cenderung menderita. Penderitaan tersebut secara psikolis akan menjadi beban di masa yang akan dating. Menurut sebuah penelitian, orang-orang yang menikah lagi setelah bercerai, cenderung sulit untuk melupakan pasangan yang sudah diceraikan. Hal ini secara psikologis memang dapat mengerti, sebab sepasang suami istri sekali pun sudah bercerai, masih memiliki ikatan emosional khususnya pengalaman batin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar