Inilah sejarah perfilman horor di indonesia

Sejarah film horor

Perkara film horor sebagai sebuah genre belum selesai sampai di sini. Khususnya di dalam perbincangan film Indonesia kita mengenal kategori-kategori konvensional lain yang sungguh rancu dan kerap bertumpang-tindih dengan genre film horor adalah film mistik dan film legenda. Kedua kategori terakhir ini bukanlah genre film yang dikenal luas dalam wacana film internasional. Nasib keduanya, sebagaimana nasib taksonomi lokal yang lain, sangat mengenaskan karena tidak memiliki kejelasan definitif. Dan, mohon segera dimaklumi: jangan sekali-kali para pakar dan kritikus film mencoba memahaminya secara ketat karena film mistik dan legenda adalah buah dari kesalahpahaman. Yang disebut film mistik ternyata tidak berhubungan sama sekali dengan mistisisme dan film legenda tidak niscaya berbasis sebuah legenda.

Jika melihat kebelakang dalam sejarah film Indonesia dekade 80-an, kedua genre film ini memang sudah biasa dirancukan. Kisah para wali pada fase awal penyebaran Islam di Jawa, yang lebih populer dengan sebutan Walisanga, misalnya, bukanlah sebuah legenda. Maka, film tentang mereka pun tidak dapat seenak perutnya saja dikategorikan sebagai film legenda. Meskipun mustahil ada mistikus yang protes, kisah Nyi Blorong dan Ratu Laut Kidul sama sekali tidak berkaitan dengan mistisisme sehingga tidak masuk-nalar kalau dikategorikan sebagai film mistik.

Kondisi ini menjadi semakin runyam tatkala para produser, filmmakers, dan komentator film mengacaukan keduanya dengan genre film horor. Oleh karena itu, jangan heran apabila ada seorang pengamat film yang mengatakan bahwa asal-usul sejarah film horor di Indonesia dimulai dari film Loetoeng Kasaroeng (1926). Sungguh gegabah, tetapi memang begitulah jalan nalar yang melengkung.

Pada awal 2000-an Jelangkung dan Tusuk Jelangkung pada awal 2000-an yang meraup sukses komersial, genre film horor kini menemukan gairahnya kembali. Bagaikan penyakit latah yang menular, booming film horor terjadi, sampai-sampai majulah seorang Shanker yang dengan gagah-perkasa berambisi untuk menjadi raja industri film horor di negeri ini. Memang tidak banyak yang berhasil mencapai peringkat box office, namun film-film semacam Hantu Jeruk Purut dan Misteri Terowongan Casablanca layak dijadikan eksemplar.

Pada era 70-an dan 80-an, pelopor genre ini adalah film-film semacam Tuan Tanah Kedaung atau Beranak Dalam Kubur yang dibintangi oleh Suzanna pada paruh-pertama dasawarsa 70-an. Film yang disebut pertama berbasis kisah sejarah lokal yang sudah bercampur legenda, sementara yang kedua mengangkat kepercayaan populer tentang sejenis hantu perempuan yang ngetop dengan julukan kuntilanak.

Pada pertengahan 80-an film-film Suzanna yang meramu seks dan horor pun hadir dan menjamur. Sama seperti film-film yang lahir di era sebelumnya, film-film ini biasanya berangkat dari mitos dan cerita rakyat tertentu. Film tentang hantu pun, dalam upaya kategorisasi sintaktis yang lebih halus, tidak niscaya masuk ke dalam genre film horor. Tentu ingat akan film Ghost di awal 90-an, bahkan kenal betul akan film-film semacam Scooby-Doo dan Casper. Film yang dibintangi oleh Demi Moore itu lebih tepat digolongkan ke dalam film melodrama, sedangkan dua yang terakhir film komedi anak-anak.

Menurut amatan Rumah Sinema (sebuah production house), film-film horor kontemporer Indonesia semakin mendekati teknik videoklip: peralihan shot demi shot yang tangkas dengan ritme serbacepat; pemilihan sudut-pandang kamera (camera’s angles) yang ekstrem dan dramatis; serta tatacahaya yang condong ke arah chiaroscuro. Dari sisi ideologis, tambahnya, film-film ini pun dilandasi oleh orientasi nilai yang berbeda atau, setidak-tidaknya, sudah bergeser bila dibandingkan dengan film-film horor pada era-era sebelumnya.

Teks-teks yang melatarbelakangi film-film ini memang bukan lagi mitos- mitos rural-agraris sebangsa Nyi Blorong atau Sundel Bolong, melainkan mitos-mitos urban masa kini atau “kisah nyata” yang beredar dari mulut ke mulut dalam kehidupan sehari-hari. Ciri pembeda ini sebetulnya sudah kasat-mata dari karakterisasi dan pemilihan latar spasialnya. Para tokohnya adalah anak-anak muda dan remaja perkotaan yang terlibat tali percintaan dan sekaligus diteror oleh sesosok hantu.

0 Response to "Inilah sejarah perfilman horor di indonesia"

Posting Komentar