Sabtu, 01 Juli 2017

Ternyata daun pandan wangi bisa cegah kanker

Daun pandan wangi
Info laporan penyakit kanker
Laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada 2014 menyebut jumlah penderita kanker akan terus meningkat hingga mencapai 24 juta orang pada 2035. Selama kurun ini jumlah pasien yang meninggal akibat kanker juga naik dari 7,6 juta menjadi 8,2 juta. Sementara berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2013, prevalensi kanker di Indonesia sendiri sudah mencapai 1,4 per 1000 penduduk, dan merupakan penyebab kematian nomor tujuh.

Fenomena kejadian kanker serviks ibarat fenomena gunung es, jumlah kasus yang timbul ke permukaan lebih sedikit dari kasus yang sesungguhnya karena banyak kasus kanker serviks yang tidak terdeteksi oleh petugas kesehatan. Gejala awal penyakit ini tidak mudah diamati, karena memang hampir tidak ada gejala yang terlihat. Sehingga penderita pada stadium awal tidak akan menyadari dirinya sudah terjangkit penyakit ini. Hal ini dikarenakan perjalanan infeksi HPV (Human Papiloma Virus) sampai menjadi kanker membutuhkan waktu yang cukup lama yaitu 7-10 tahun, namun kanker serviks ini tidak menunjukkan gejala kesakitan sama sekali pada stadium dini. 

Hal inilah mengakibatkan banyak wanita merasa tidak perlu memeriksakan diri sejak dini. Pada wanita yang tidak pernah melakukan deteksi dini kanker cenderung ditemukan pada stadium lanjut, di mana kanker sudah sulit disembuhkan. Hal ini dikarenakan sel kanker telah menyebar melalui pembuluh darah, pembuluh limfe, dan dapat melalui organ vital langsung seperti organ kemih, rektum, endometrium atau pun organ pencernaan .

Usaha pengobatan kanker telah banyak dilakukan tetapi sampai saat ini belum ditemukan obat yang dapat mengatasi penyakit tersebut. Pengobatan kanker dapat dilakukan dengan cara medis dan tradisional. Pengobatan medis dilakukan dengan cara operasi, pemberian obat-obatan hasil sintesis, dan kemoterapi, tetapi pengobatan ini dapat menimbulkan efek samping karena obat-obatan itu sendiri bersifat racun terhadap tubuh. Pada stadium awal terapi operatif lebih dipilih, namun pada stadium invasive sampai saat ini baik dilakukan radioterapi maupun kemoterapi belum dapat memperbaiki prognosisnya. Mahalnya pengobatan kemoterapi juga menyebabkan masih tingginya angka kematian akibat kanker serviks di Indonesia.

Oleh karena itu, diperlukan obat alternatif dari bahan alam yang dapat menghambat atau menyembuhkan penyakit kanker secara selektif, efektif, dan tidak menimbulkan efek samping. Daun Pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb) merupakan tumbuhan perdu tahunan yang tumbuh subur di dataran rendah maupun dataran tinggi seperti halnya Propinsi Jawa Timur. Tumbuhan ini mudah dijumpai di pekarangan atau tumbuh liar di tepi selokan yang teduh. 

Daun pandan wangi sering digunakan sebagai bahan penyedap, pewangi, dan pemberi warna hijau pada masakan. Selain itu juga berkhasiat untuk menghitamkan rambut, menghilangkan ketombe, rambut rontok, lemah saraf, tidak nafsu makan, rematik, sakit disertai gelisah, serta pegal linu. 

Penelitian daun pandan wangi
Selama ini belum pernah dikaji tentang pemanfaatan daun pandan sebagai anti kanker. Senyawa bioaktif yang terkandung dalam daun pandan menurut hasil penelitian Husna (2007), ialah terpenoid, steroid, alkaloid, flavonoid, dan saponin. Antioksidan seperti terpenoid berperan penting bagi tubuh manusia dalam menetralisir radikal bebas yang mengakibatkan penyakit degeneratif termasuk kanker (Halliwell & Gutteridge 1999).

Daun pandan wangi mengandung aktivitas antioksidan sebesar 66,82% (Prameswari 2014). Disinilah peran daun pandan wangi sebagai pencegah kanker juga menghambat terbentuknya sel kanker yang semakin banyak. Antioksidan adalah zat yang dibutuhkan tubuh untuk menangkap dan meredam radikal bebas (free radical avenger). Antioksidan menstabilkan radikal bebas dengan melengkapi kekurangan elektron yang dimiliki radikal bebas dan menghambat terjadinya aksi berantai dari pembentukan radikal bebas yang dapat menimbulkan stress oksidatif. 

Antioksidan yang terkandung dalam daun pandan akan bereaksi dengan radikal bebas dan mengubahnya menjadi senyawa yang tidak reaktif dan relatif stabil sehingga tidak menyebabkan kerusakan membran dan permeabilitas sel. Sehingga sel kanker tidak dapat terbentuk oleh tubuh.

Senyawa terpenoid yang terdapat dalam daun pandan wangi diperoleh dari uji dengan ekstrak etil asetat meliputi neofitadiena, 3,7,11,15-tetrametil 2-heksadekena, fitol, skualena, dan gamma cis-seskuisiklogeraniol. Senyawa terpenoid dikenal pula sebagai salah satu golongan senyawa kimia dalam tanaman yang memiliki aktivitas antikanker dan antioksidan (Lisdawati, 2002).

Salah satu jenis terpenoid yaitu monoterpen dalam penelitian Setiadi (2000) yang berkhasiat sebagai antineoplastik (antikanker) dan telah terbukti dapat menonaktifkan pertumbuhan sel kanker payudara dan seskuiterpen sebagai komponen utamanya. Triterpenoid adalah senyawa yang mendominasi senyawa terpenoid dengan jumlah rantai 3 kali rantai terpenoid (Agustina Laura, 2013).

Termasuk asam ursolat yang juga golongan triterpenoid dapat mencegah pertumbuhan sel abnormal (kanker) sekaligus menyuruh sel abnormal yang sudah ada untuk bunuh diri (apoptosis). Sehingga daun pandan wangi dianjurkan sebagai antikanker alami dengan proses kerja yang tidak menimbulkan efek samping.

Selain senyawa terpenoid terdapat juga senyawa flavonoid dalam daun pandan. Salah satu senyawa flavonoid terdapat dalam daun G. procumbens. Meiyanto et al. (2007) melaporkan bahwa ekstrak etanolik daun G. procumbens mampu menghambat pertumbuhan tumor payudara tikus yang diinduksi karsinogen DMBA (7,12-dimetil benz(a)ntrazena). Pemberian ekstrak sebelum dan selama fase inisiasi mampu meningkatkan aktivitas enzim GST (gluthation Stransferase). 

Dengan demikian, detoksifikasi metabolit DMBA (epoksida) akan meningkat dan dapat diekskresikan dalam bentuk merkapturat (bentuk yang lebih polar) ke dalam urin atau feses. Penurunan metabolit reaktif DMBA menyebabkan penurunan insidensi ikatan dengan DNA (DNA adduct) sehingga proses karsinogenesis dapat dihambat. Jika proses karsinogenesis terhambat maka perkembangan sel kanker dapat terhambat, bahkan sel kanker yang sudah ada dapat berkurang karena senyawa flavonoid yang terdapat dalam daun pandan wangi (Ren et al., 2003).

Penelitian lebih lanjut melaporkan bahwa flavonoid yang diisolasi dari fraksi etil asetat ekstrak etanolik memiliki efek sitotoksik terhadap sel T47D dan diamati adanya peningkatan ekspresi p53 dan Bax. Senyawa flavonoid juga dapat menghambat proliferasi melalui inhibisi proses oksidatif yang dapat menyebabkan inisiasi kanker. Mekanisme ini diperantarai penurunan enzim xanthin oksidase, siklooksigenase (COX) dan lipooksigenase (LOX) yang diperlukan dalam proses prooksidasi sehingga menunda siklus sel (Ren et al., 2003). 

Aktivitas antikanker juga ditunjukkan flavonoid melalui induksi apoptosis. Flavonoid menghambat ekspresi enzim topoisomerase I dan topoisomerase II yang berperan dalam katalisis pemutaran dan relaksasi DNA. Inhibitor enzim topoisomerase akan menstabilkan kompleks topoisomerase dan menyebabkan DNA terpotong dan mengalami kerusakan. Kerusakan DNA dapat menyebabkan terekspresinya protein proapoptosis seperti Bax dan Bak dan menurunkan ekspresi protein anti apoptosis yaitu Bcl-2 dan Bcl-XL. Dengan demikian pertumbuhan sel kanker terhambat (Ren et al., 2003).

Senyawa golongan flavonoid pada daun pandan wangi mampu menghambat proses karsinogenesis baik secara in vitro maupun in vivo. Penghambatan terjadi pada tahap inisiasi, promosi maupun progresi melalui mekanisme molekuler antara lain inaktivasi senyawa karsinogen, antiproliferatif, penghambatan angiogenesis dan daur sel, induksi apoptosis, dan aktivitas antioksidan (Ren et al., 2003). 

Sebagian besar senyawa karsinogen seperti hidrokarbon aromatik polisiklik (HAP) memerlukan aktivasi oleh enzim sitokrom P450 membentuk intermediet yang reaktif sebelum berikatan dengan DNA. Ikatan kovalen antara DNA dengan senyawa karsinogen aktif menyebabkan kerusakan DNA. Flavonoid dalam proses ini berperan sebagai agen pencegah tumorigenesis. Pengeblokan aksi karsinogen dapat melalui beberapa mekanisme antara lain melalui inhibisi aktivitas isoenzim sitokrom P450 yaitu CYP1A1 dan CYP1A2 sehingga senyawa karsinogen tidak reaktif. Mekanisme pencegahan yang lain dapat terjadi melalui induksi enzim pemetabolisme fase II yang berperan penting dalam detoksifikasi senyawa karsinogen. 

Flavonoid juga meningkatkan ekspresi enzim gluthation Stransferase (GST) yang dapat mendetoksifikasi karsinogen reaktif menjadi tidak reaktif dan lebih polar sehingga cepat dieliminasi dari tubuh. Selain itu, flavonoid juga dapat mengikat senyawa karsinogen sehingga dapat mencegah ikatan dengan DNA, (RNA), atau protein target. Karsinogen aktif seperti radikal oksigen, peroksida dan superoksida, dapat distabilkan oleh flavonoid melalui reaksi hidrogenasi maupun pembentukan kompleks (Ren et al., 2003).

Aktivitas antioksidan dalam daun pandan wangi dapat menurunkan resiko terjadinya sel kanker serviks. Radikal bebas yang masuk dan terbentuk dalam tubuh dapat berubah menjadi kurang reaktif dan relatif stabil. Sedangkan dengan kandungan terpenoid dan flavonoid dalam daun pandan wangi dapat menghambat sel kanker bahkan dapat membunuh sel kanker itu sendiri melalui mekanisme apoptosis. Mekanisme apoptosis adalah kemampuan tubuh untuk mematikan sel tubuh secara alami bagian sel yang sudah tidak dibutuhkan oleh tubuh lagi.

Sebenarnya dalam tubuh sudah ada mekanisme apoptosis ini secara alami. Tapi jumlahnya hanya sebagian kecil saja. Karena saat tubuh menghasilkan banyak sel kanker, maka mekanisme apoptosis ini hanya pada beberapa sel saja. Mekanisme ini tidak sebanding dengan jumlah sel yang seharusnya mengalami mekanisme apoptosis juga. Dengan senyawa terpenoid yang terdapat dalam daun pandan wangi diharapkan mampu meningkatkan mekanisme apoptosis dalm tubuh penderita. 

Selain itu, senyawa flavonoid yang terdapat dalam daun pandan wangi dapat menghambat pertumbuhan sel kanker melalui pengaktifan enzim GST (gluthation S-transferase). GST (gluthation S-transferase) mampu menghambat pertumbuhan sel kanker. Sehingga daun pandan wangi memiliki banyak mekanisme sebagai alternatif kanker serviks yaitu mulai mencegah, menghambat pertumbuhan sel kanker dan membunuh sel kanker melalui mekanisme apoptosistadi.

Pengeluaran senyawa terpenoid dan flavonoid sebagai antikanker yaitu dengan diekstrak dan direaksikan dengan asam asetat (Lisdawati, 2012). Untuk memperoleh ekstrak daun pandan wangi, daun pandan wangi yang telah dikeringkan dan dihaluskan, dimaserasi dengan etil asetat (3 x 24 jam), setelah dilakukan penyaringan kemudian ekstrak dipekatkan pada suhu 40–65 °C hingga diperoleh padatan gum berwarna hijau (etil asetat 1,71 g).

Uji kandungan menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Efek toksik masing-masing ekstrak diidentifikasi dengan presentase kematian larva udang menggunakan analisis probit (LC50). Ekstrak aktif kemudian diuji kandungan fitokimianya dan senyawa bioaktif yang terkandung di dalamnya dengan menggunakan GC-MS 6890 N-5973 Agilent dengan kolom ( HP-5, 0.25 mm * 30 m * 0.25 μm). Berdasarkan analisa GC-MS, salah satu senyawa terpenoid yang diduga bersifat toksik terhadap udang A. salina Leach. yang memiliki waktu retensi 22,61, kualitas 98 % dan luas puncak 6,40 % adalah skualena. Senyawa ini bermasa molekul relatif (m/z) 409 (M+1 = 410) dengan rumus molekul C30H49 (Sukandar, 2007).

Orang yang mengkonsumsi 4 g ekstrak daun pandan wangi yang sudah direaksikan dengan etil asetat mampu menghambat sel kanker dengan aktivitas 288,4 ppm. Dengan aktivitas ini maka sel kanker yang terdapat dalam tubuh penderita kanker serviks akan terhambat bahkan mengalami apoptosis.

Kesimpulannya bahwa Ekstrak daun pandan wangi dengan etil asetat dapat menghambat pertumbuhan sel kanker.


Referensi:
World health organization (WHO) dan berbagai sumber lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar