Live

Perjuangan hidup dan bertahan hidup harus semangat bagi umat manusia di dunia.

Arsip Info

Rabu, 30 Agustus 2017

5 Mitos menyeramkan di gunung slamet

Misteri dan mitos gunung slamet

Gunung Slamet adalah salah satu dari 6 gunung yang ada di Jawa Tengah. Kata slamet dari nama Gunung Slamet, dalam bahasa indonesianya yaitu selamat. Sehingga dipercaya oleh masyarakat di lereng gunung ini akan memberikan keselamatan bagi masyarakat sekitarnya. Gunung Slamet menurut masyarakat jawa adalah salah satu gunung yang dianggap keramat.

Gunung Slamet dengan ketinggian 3428 meter dari permukaan laut, merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah, dan terbesar kedua di Jawa setelah Gunung Sumeru. Secara admistratif, Gunung Slamet dibagi menjadi 4 wilayah kabupaten, antara lain Kabupaten Purbalinggga, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Brebes, dan Kabupaten Tegal.

Gunung Slamet yang menjulang tinggi merupakan simbol kehidupan alam disekitarnya. Banyak yang ingin melakukan pendakian di Gunung Slamet karena rasa ingin tahu mereka dengan keindahan alam yang bisa dilihat dari puncak Gunung Slamet. Namun demikian, apabila akan memasuki kawasan Gunung Slamet harus berhati-hati, karena ketidakhati-hatian itu akan membawa bahaya bagi yang melakukan pendakian.

1. Mitos pendakian dan pantangan gunung selamet

a Pendakian
Gunung Slamet pada awalnya mempunyai hutan yang masih lebat sehingga cukup sulit untuk digunakan sebagai jalur pendakian. Hutan yang lebat dan rimbun menjadikan Gunung Slamet cukup berbahaya untuk didaki, karena dengan tanaman liar yang tumbuh lebat dapat menghalangi pandangan para pendaki untuk menemukan jalur untuk mencapai puncak. Kemungkinan para pendaki juga akan tersesat jika jalur pendakian ditutupi oleh tanaman liar yang menghalangi pandangan mereka.

Selama tahun 1975 - 1994 tercatat 17 orang meninggal di gunung Slamet, 10 orang diantaranya meninggal karena hujan salju pada bulan Februari 1992. Suhu dipuncak Gunung Slamet seringkali mencapai 0°C, oleh karena itu para pendaki harus menyiapkan fisik, logistik dan perlengkapan untuk mendaki gunung Slamet. Tahun 2007 ada 20 lebih pendaki yang meninggal dan 25 pendaki menghilang yang sampai sekarang belum ditemukan. Kejadian tersebut sering terjadi pada bulan Januari dan Februari. Sehingga pada saat itu masih jarang orang yang melakukan pendakian di Gunung Slamet.

Pendaki yang pertama kali melakukan pendakian di Gunung Slamet menurut cerita berabad-abad dahulu oleh sesepuh Dusun Bambangan adalah Mbah Jamur Dipa. Mbah Jamur Dipa diyakini oleh masyarakat dusun Bambangan sebagai bahureksa atau penguasa di Gunung Slamet. Menurut cerita masyarakat dusun Bambangan orang yang membuat jalan menuju puncak Gunung Slamet dari jalur Bambangan adalah juru kunci pertama yaitu Mbah Mertawitana.

Pertama kali yang mendaki di Gunung Slamet adalah Mbah Jamur Dipa, setelah itu yang membuat jalan untuk jalur pendakian sampai puncak Gunung Slamet adalah Mbah Mertawitan dan sekaligus sebagai juru kunci Gunung Slamet di Dusun Bambangan.

Alam merupakan tempat dimana manusia dapat hidup dan berinteraksi dengan sesama maupun dengan alam itu sendiri. Alam diciptakan untuk senantiasa dipelajari dan dipelihara karena alam dan manusia merupakan unsur yang saling membantu untuk keseimbangan dan keselarasan hidup di masa yang akan datang. Salah satu aktivitas yang sangat berperan hingga saat ini ialah pendakian gunung yang dimulai dari niat sampai keinginan untuk mencapai puncak. Bermula dari niat diri sendiri, pendakian gunung akan lebih terasa bermakna dan tergantung dari sudut pendakian itu sendiri. 

Persiapan pendakian di Gunung Slamet menjadi faktor untuk keselamatan bagi pendaki saat perjalanan pendakian di gunung. Persiapan itu diantaranya adalah menyiapkan perlengkapan yang harus dibawa oleh para pendaki seperti, Ransel (carrier), perlengkapan tidur yaitu sleeping bag (tempat tidur), tenda, matras, dan yang paling utama adalah bekal makanan, dan lain sebagainya. Persiapan mental dan fisik juga merupakan faktor pendukung kelancaran pendaki tersebut.

Para pendaki juga harus berhati-hati dengan aturan dengan tidak melanggar larangan-larangan saat melakukan pendakian di gunung Slamet. Larangan dan aturan itu sudah ada sejak dulu yang dihormati dan dijalankan oleh pendaki sampai sekarang ini. Jika para pendaki tidak mematuhi aturan dan melanggar larangan yang sudah ada, maka pendaki tersebut akan mendapat celaka atau musibah saat melakukan pendakian. Dimana sudah banyak cerita atau kejadian yang dialami para pendaki yang melanggar larangan tersebut, baik kejadian aneh atau pun musibah yang dialami pendaki tersebut.

b. Pantangan
Masyarakat Dusun Bambangan meyakini Gunung Slamet adalah gunung yang keramat, namun demikian Gunung Slamet sampai sekarang masih bisa untuk pendakian. Selain itu, untuk pendakian di Gunung Slamet biasanya untuk tujuan-tujuan khusus karena ada alasan spiritual yang mengaitkan adanya mitos, sehingga orang yang akan melakukan pendakian sebaiknya melengkapi beberapa syarat-syarat yang perlu dibawa, yaitu membawa bunga, kemenyan, dan didampingi oleh juru kunci. Tetapi untuk sekarang ini tidak dilakukan lagi bagi yang akan melakukan pendakian, karena mereka biasanya sudah tahu sebelumnya tentang kejadian-kejadian aneh namun tidak membahayakan jiwa mereka. Namun hal tersebut, ada pantangan yang tidak boleh dilakukan oleh para pendaki. Pantangan adalah larangan-larangan atau sesuatu yang tidak boleh dilakukan.

Pantangan dalam pendakian di Gunung Slamet yang paling penting dan harus di perhatikan adalah jangan berbicara sembarangan (jorok), berniat tidak baik, bertingkah laku tidak sopan, dan lainnya.

2. Mitos upacara ruwat bumi
Salah satu bentuk mitos di Gunung Slamet yang masih tetap dipelihara oleh masyarakat di Dusun Bambangan adalah mitos upacara ruwat bumi yang dilakukan di bulan Sura. Sistem kepercayaan masyarakat Dusun Bambangan menciptakan kearifan lokal untuk menjaga kelestarian alam di Gunung Slamet. Tujuan upacara ruwat bumi adalah menghormati Sang Bahureksa atau yang menguasai Gunung Slamet agar diberikan keselamatan bagi masyarakat setempat.

Gunung Slamet sebenarnya adalah tempat orang untuk meminta permohonan agar dikabulkan. Hal tersebut ditandai dengan diadakannya syukuran oleh masyarakat di Dusun Bambangan yang dilaksanakan satu tahun sekali di setiap bulan Sura yaitu tradisi upacara ruwat bumi. Upacara ruwat bumi merupakan salah satu bentuk mitos yang masih hidup dan tetap dipelihara sampai saat ini. Masyarakat Bambangan meyakini bahwa upacara ruwat bumi untuk mewujudkan keseimbangan manusia dengan alam agar dapat menciptakan ketentraman dan keselamatan di tempat mereka tinggal.

Pelaksanaan upacara ruwat bumi sudah dari zaman dulu dan turun temurun sampai sekarang mengikuti tanggal Jawa dilakukan pada malam Kliwon, dan biasanya dilaksanakan pada malam Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon, tujuannya untuk menghormati bulan Sura.

3. Mitos Mahluk Halus di gunung slamet
Mahkluk halus di Gunung Slamet yang dikenal oleh masyarakat di Dusun Bambangan adalah Sang Bahureksa atau penguasa di Gunung Slamet yaitu Mbah Jamur Dipa. Menurut cerita sesepuh di Dusun Bambangan, sebutan Mbah Jamur Dipa berawal dari seorang pendaki yang bermalam di Gunung Slamet dan bermimpi didatangi oleh sesosok orang yang bernama Mbah Jamur Dipa. Selain didatangi lewat mimpi, roh Mbah Jamur Dipa biasanya juga merasuki para pendaki untuk menunjukkan identitasnya, dengan cara berbicara melalui perantara manusia yang dirasukinya.

Pendakian di Gunung Slamet lebih baiknya dan disarankan meminta izin terlebih dahulu kepada Mbah Jamur Dipa dengan lewat perantara juru kunci atau pun niat dalam hati, untuk meminta keselamatan di perjalanan sampai puncak dan pulang dengan selamat. Selain Mbah Jamur Dipa sebagai penguasa di Gunung Slamet, di Dusun Bambangan juga terdapat mahluk halus yang dikenal oleh masyarakat Bambangan adalah Mbah Rantasari. Cerita yang beredar, asal usul dari Mbah Rantasari adalah adanya kejadian yang menimpa anak kecil yang dirasuki makhluk halus bernama Mbah Rantasari.

Mahluk halus Mbah Rantasari merupakan mahluk halus yang di kenal oleh masyarakat Bambangan. Mbah Rantasari dalam wujudnya bagi yang pernah melihat, sosoknya seperti wanita cantik yang memakai baju jawa berwarna hijau. Mayarakat di Dusun Bambangan percaya di Gunung Slamet terdapat banyak mahluk halus. Mahluk halus tersebut dari wujudnya bagi yang pernah melihat pada saat melakukan pendakian memperlihatkan wujudnya seperti kuntilanak dan pocong. Hal itu, berawal dari banyaknya pendaki yang meninggal dan hilang di Gunung Slamet.

Asal usul mitos makhluk halus medi tersebut, berawal dari para pendaki yang melihat sesosok makhluk halus pocong dan kuntilanak. Hal itu dipercaya karena dimasa dulunya banyak kejadian pendaki meninggal dan menghilang sampai tidak ditemukan di Gunung Slamet.

4. Mitos Tempat-tempat Angker
Mitos tempat angker di Gunung Slamet berada di Pos 2 yaitu pondok walang dan Pos 9 yaitu di pelawangan.

Asal-usul adanya tempat angker di Gunung Slamet berawal dari mitos beredar dari orang yang melakukan pendakian di Gunung Slamet. Gunung Slamet terdapat 9 pos untuk tempat peristirahatan para pendaki. Tempat peristirahatan tersebut ada 2 pos yang terkenal angker, yaitu di pos 2 dan di pos 9. Tempat angker tersebut berawal karena sering terjadi banyak pendaki yang meninggal di tempat tersebut.

Asal usul adanya tempat angker di Gunung Slamet di pos 2 dan di pos 9 dari banyaknya kejadian orang yang meninggal ditempat tersebut. Beredarnya mitos tersebut berawal dari informasi para pendaki yang setelah melakukan pendakian menceritakan peristiwa atau kejadian aneh kepada beberapa warga Bambangan, dan ternyata peristiwa aneh yang dialami para pendaki itu dialami juga oleh kelompok pendaki yang lain.

Sampai pada akhirnya ada seorang warga Bambangan yang ingin membuktikan kebenaran cerita itu, dan ternyata saat tidur di pos 2 orang tersebut diganggu oleh makluk halus yang sering diceritakan oleh banyak pendaki yang menginap di pos 2. Sedangkan di pos 9 yaitu di pelawangan dikenal dengan pasar siluman (setan), ditempat tersebut seperti banyak mahluk halus dengan suara-suara aneh yang didengar oleh para pendaki yang melintasi jalan tersebut. Keberadaan mitos tersebut benar-benar terjadi dan dialami oleh warga dusun Bambangan ata upun para pendaki di Gunung Slamet.

5. Mitos Binatang di Gunung Slamet
Menurut cerita masyarakat di Dusun Bambangan keberadaan mitos tentang binatang yang berada di Gunung Slamet sudah ada sejak jaman dahulu. Para pendaki pernah melihat binatang tersebut saat melakukan pendakian. Berawal adanya mitos tentang binatang tersebut dari beberapa pendaki yang tidak sengaja melihat ular yang berukuran besar di sungai kecil dan kuda sembani diatas puncak Gunung Slamet.

Mitos keberadaan binatang tersebut berawal dari rombongan pendaki pecinta alam dari Jakarta sekitar tahun 2004 melihat kuda sembrani menarik kereta pemiliknya Nyai Roro Kidul yang ada di Keraton Yogyakarta beserta kusirnya di atas Gunung Slamet yang pernah melihat ular besar di daerah sungai kecil. Sedangkan kuda sembrani berawal dari sekitar tahun 2004 ada orang yang naik Gunung Slamet dari Jakarta melihat yang dimitoskan tersebut menurut masyarakat Bambangan merupakan jelmaan dari mahluk halus. Mitos keberadaan binatang di Gunung Slamet tersebut hanya dialami oleh beberapa pendaki, sehingga mitos tentang binatang tersebut masih kurang didengar oleh masyarakat dusun Bambangan.

Masyarakat di Dusun Bambangan percaya bahwa selain manusia, di dunia semesta alam juga dihuni oleh mahluk-mahluk halus (lelembut) dan binatang-binatang. Gunung slamet juga merupakan gunung api, sejak zaman dahulu gunung api telah menarik perhatian nenek moyang kita, keistimewaan yang berkaitan dengan kepercayaan mereka sehari-hari. Pada zaman prasejarah, mereka mempunyai kepercayaan bahwa roh orang mati dianggap masih tinggal di sekeliling mereka, di pohon, di batu, di sungai, di gunung, dan dianggap sebagai pelindung kuat yang dapat dimintai pertolongan. Replika gunung, yaitu gunungan dipergunakan sebagai simbol kehidupan.

Dari beberapa pendapat mengenai Gunung dan replikanya, dapat disimpulkan bahwa Gunung merupakan tempat yang tinggi dan sebagai tempat kehidupan dari alam semesta dimana Tuhan Yang Maha Esa yang menentukan semua takdir di seluruh alam semesta.

Jika ingin mendaki ke gunung slamet, tetaplah waspada dan meminta perlindungan kepada sang pencipta.

Selasa, 29 Agustus 2017

Inilah penyebab banjir dan dampak bahayanya

Banjir

Banjir merupakan bagian dari permasalahan lingkungan fisik di permukaan bumi yang mengakibatkan kerugian dan dapat diartikan suatu keadaan di mana air sungai melimpah, menggenangi daerah sekitarnya sampai kedalaman tertentu hingga menimbulkan kerugian. Banjir memang bukan hal yang aneh, karena banjir terjadi di belahan bumi mana pun. Banjir bisa terjadi karena curah hujan tinggi, karena es mencair, karena tsunami, badai laut dan lain-lain.

Indonesia merupakan negara yang rawan terhadap bencana alam seperti banjir, tanah longsor, gempa bumi dan lain-lain, bahkan dapat dikatakan indonesia merupakan laboratorium bencana alam oleh orang asing, hal ini dikarenakan indonesia terletak pada daerah yang aktif tektonik dan vulkanik sebagai akibat pertemuan tiga lempeng tektonik, yaitu Lempeng India-Australia, Pasifik, dan Eurasia.

Khususnya Jawa, sebab terjadinya banjir masih didominasi oleh adanya curah hujan yang tinggi, sehingga berakibat air sungai meluap dan menggenangi daerah di sekitarnya. Seperti halnya yang terjadi di Bengawan Solo, ketika curah hujan tinggi dan Bengawan Solo tidak dapat menampung air yang berasal dari air hujan, maka terjadi luapan dan mengakibatkan banjir. Luapan Bengawan Solo ini menggenangi daerah-daerah pinggir sungai, terutama yang dilalui oleh Bengawan Solo.

Penanganan akibat banjir, seringkali terhambat akibat informasi yang diterima bersifat simpang siur, baik dalam hal jumlah korban maupun kerugian material yang diderita. Salah satu sebabnya adalah kurangnya informasi tentang karakteristik topografi daerah yang terkena banjir, sehingga pihak-pihak yang berkepentingan kurang cekatan dalam menanggulangi masalah banjir yang terjadi, hal ini merupakan sumber permasalahan yang utama, meskipun bantuan seringkali cukup cepat datang, selalu ada masalah pengkoordinasian dan merekam semua korban yang membutuhkan bantuan, dikarenakan belum mengetahui distribusi areal banjir.

Berikut ini adalah penyebab banjir

Sumber-sumber banjir adalah :
  • Curah hujan tinggi, baik di suatu kawasan maupun di hulu sungai.
  • Luapan air sungai akibat tingginya curah hujan di hulu sungai.
  • Runtuhnya bendungan.
  • Naiknya air laut (pasang/rob).
  • Tsunami.
Selain itu, faktor kerentanan di suatu daerah juga akan mempengaruhi terjadinya banjir. Faktor kerentanan tersebut adalah sebagai berikut:
  • Prediksi yang kurang akurat mengenai volume banjir.
  • Rendahnya kemampuan sistem pembuangan air.
  • Turunnya kapasitas sistem pembuangan air akibat rendahnya kemampuan pemeliharaan dan operasional.
  • Deforestasi.
  • Turunnya permukaan tanah akibat turunnya muka air tanah.
  • Perubahan iklim yang diakibatkan oleh pemanasan global.
Terjadinya banjir dapat menimbulkan bahaya, inilah dampak bahaya yang harus anda waspadai.

1. Kesehatan masyarakat
Penyakit kulit, demam berdarah, malaria, influenza, gangguan pencernaan seperti diare dan sebagainya merupakan penyakit yang umum terjadi pada saat banjir. Hal ini dikarenakan air bersih untuk berbagai keperluan (minum, memasak, mandi dan mencuci) sudah tercemar akibat banjir. Selain itu, genangan air banjir juga menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk yang menjadi penyebab timbulnya penyakit demam berdarah dan malaria.

2. Penyediaan air bersih
Berbagai bahan dan zat yang membawa berbagai jenis bakteri, virus, parasit dan bahan penyakit lainnya saat terjadi banjir, dapat mencemari sumur warga dan cadangan air tanah lainnya. Oleh karenanya sumur warga dan cadangan air tanah yang terkena banjir untuk sementara waktu tidak dapat digunakan.

3. Cadangan pangan
Di daerah pertanian, banjir dapat menyebabkan gagalnya panen, rusaknya cadangan pangan di gudang, dan kemungkinan juga rusaknya persediaan benih. Tergenangnya kolam akibat banjir juga dapat mengakibatkan hilangnya ikan. Selain itu banjir juga mengakibatkan rusaknya lahan pengembangan dan ketersediaan pakan ternak.

Untuk wilayah yang sering dilanda banjir, maka faktor-faktor yang berhubungan dengan bahaya banjir, yaitu :
  • Frekuensi banjir.
  • Tinggi permukaan tanah (topografi).
  • Kemampuan tanah untuk menyerap air.
  • Bentangan daerah seputar sungai (kontur sekitar sungai).
  • Catatan pasang surut dan gelombang laut serta kondisi geografi (untuk wilayah pantai/pesisir).
Bencana banjir dapat menimbulkan berbagai kerugian material maupun korban jiwa, baik yang meninggal, luka-luka atau hilang. Kerugian akibat bencana bisa berkurang apabila kapasitas meningkat. Semoga peringatan tersebut bermanfaat bagi anda.

8 Ciri daerah rawan banjir harus anda tahu

Bahaya banjir

Bencana alam tampak semakin meningkat dari tahun ke tahun yang disebabkan oleh proses alam maupun manusia itu sendiri yang menyebabkan korban jiwa, harta benda maupun material cukup besar. Bencana alam dapat dipicu oleh adanya penggundulan hutan, pembukaan lahan usaha di lereng-lereng pegunungan, dan pembuatan sawah-sawah basah pada daerah-daerah lereng lembah yang curam. Indonesia merupakan negara yang rawan terhadap bencana alam karena terletak pada daerah yang aktif tektonik dan vulkanik sebagai akibat pertemuan tiga lempeng tektonik, yaitu Lempeng India-Australia, Pasifik, dan Eurasia. Salah satu bencana alam yang sering terjadi di Indonesia adalah bencana banjir

Indonesia berlokasi di wilayah rawan terhadap berbagai kejadian bahaya alam, yaitu bencana geologi (gempa, gunung api, longsor, tsunami dan sebagainya) dan hidrometeorologi (banjir, kekeringan, pasang surut, gelombang besar, dan sebagainya). Kita mengenal pula Peringatan Dini Banjir. Peringatan dini dikeluarkan sesaat sebelum terjadinya bencana banjir. Selama ini, sistem peringatan dini banjir di Indonesia disampaikan berdasarkan tahapan kondisi siaga yang didasarkan tinggi muka air di beberapa pos pengamatan dan pintu air.

Kondisi morfologi Indonesia yaitu relief bentang alam yang sangat bervariasi dan banyaknya sungai yang mengalir diantaranya, menyebabkan selalu terjadi banjir di Indonesia pada setiap musim penghujan. Banjir umumnya terjadi di wilayah Indonesia bagian Barat yang menerima curah hujan lebih banyak dibandingkan dengan wilayah Indonesia bagian Timur. Faktor kondisi alam tersebut diperparah oleh meningkatnya jumlah penduduk yang menjadi faktor pemicu terjadinya Banjir secara tidak langsung. Tingkah laku manusia yang tidak menjaga kelestarian hutan dengan melakukan penebangan hutan yang tidak terkontrol juga dapat menyebabkan peningkatan aliran air permukaan yang tinggi dan tidak terkendali sehingga terjadi kerusakan lingkungan di daerah satuan wilayah sungai.

Bencana banjir di Indonesia yang terjadi setiap tahun terbukti menimbulkan dampak pada kehidupan manusia dan lingkungannya terutama dalam hal korban jiwa dan kerugian materi. Sebagai contoh pada tahun 2006 banjir bandang di daerah Jember Jawa Timur telah menyebabkan 92 orang meninggal dan 8.861 orang mengungsi serta di daerah Trenggalek telah menyebabkan 18 orang meninggal. Di Manado (Provinsi Sulawesi Utara) juga terjadi banjir disertai tanah longsor yang menyebabkan 27 orang meningal dengan jumlah pengungsi mencapai 30.000 orang. Banjir disertai tanah longsor juga melanda Sulawesi Selatan pada bulan Juni 2006 dengan korban lebih dari 200 orang meninggal dan puluhan orang dinyatakan hilang (data BAKORNAS PB, 23 Juni 2006 dalam RAN PRB).

Banjir terjadi pada saat pergerakan massa air dalam bentuk aliran permukaan terhambat oleh rendahnya kapasitas pembuangan sehingga terjadi genangan di wilayah tersebut.

Daerah rawan banjir memiliki ciri ciri khas sebagai berikut :
  • Daerah dengan topografi berupa cekungan dan/atau dataran landai, di mana elevasi tanah mendekati atau di bawah muka air laut.
  • Daerah dataran banjir alami seperti rawa dan bantaran sungai.
  • Daerah Aliran Sungai (DAS) yang melampaui batas kritis, dengan ciri-ciri : tanah tandus, rasio debit maksimum terhadap debit minimum sangat besar (sungai sangat kering di saat kemarau dan sangat penuh di saat hujan).
  • Daerah dengan curah/intensitas hujan sangat tinggi.
  • Daerah dengan sistem saluran pembuangan air penuh dengan sampah.
  • Daerah pantai yang rawan terhadap badai tropis.
  • Daerah pantai yang rawan tsunami yang bisa diakibatkan oleh gempa tektonik dasar laut maupun gempa akibat gunung api aktif yang terletak di dasar laut seperti krakatau.
  • Daerah hilir dam terutama yang telah beroperasi cukup lama.
Gejala yang paling popular yang sering terjadi pada korban korban bencana adalah stres dan stres paska trauma. Persiapkan dirilah sebelum datangnya banjir karena bencana banjir datang secara tiba2 atau pun tidak. Bencana datang kapan saja dan di mana saja.

Minggu, 27 Agustus 2017

10 Mitos tempat misteri situs sakral di indonesia

Mitos di indonesia

Situs sakral alami masih banyak terdapat di berbagai negara. Indonesia masih memilikinya di berbagai daerah, khususnya daerah yang masih terdapat masyarakat tradisional. Sebagai contoh masyarakat Baduy dan sekitar Jawa Barat, masyarakat Kampung Naga, masyarakat Suku Anak Dalam di Jambi, dan lainnya. Di berbagai wilyah di belahan dunia lain sekitar Asia, Africa dan wilayah lainnya masih ditemukan eksistensinya. Masyarakat yang mempunyai situs sakaral alami ini biasanya memiliki mitos-mitos tertentu akan wilayah yang mereka tempati.

Selanjutnya, atas dasar kepercayaan tersebut masyarakat melakukan ritual-ritual tertentu. Setidaknya, mereka memperlakukan situs tersebut dengan cara yang khas. Kebanyakan dari adanya mitos, ritual dan kepercayaan masyarakat tersebut akan berakibat positif bagi pengembangan dan konsesvasi lingkungan. Hal ini terungkap dalam berbagai studi yang dilakukan berkaitan dengan konservasi biodiversitas yang ternyata banyak dilakukan oleh masyarakat tradisional. Pada penelitian ini adakan ditunjukkan beberapa contoh mitos tentang situs sakral alami di berbagai daerah, sebagai penggambaran bahwa eksistensi tersebut berkontribusi banyak bagi pengembangan kearifan lingkungan dan disiplin Etika Lingkungan secara umum.

1. Mitos Onggoloco dan Hutan Wonosadi
Mitos Onggoloco dipercaya oleh masyarakat Beji Ngawen Gnung Kidul dan sekitarnya. Ini seperti hanya diurakikan dalam penelitian Sartini (2009:26-31). Mitos yag dipercayai masyarakat berawal dari kepercayaan mereka mengenai kedatangan orang-orang Majapahit karena adanya tekanan dari kerajaan Demak yang beragama Islam. Sekelompok keluarga yang terdiri dari antara lain seorang ibu, Roro Resmi, dan dua anak lelakinya ynag dikenal dengan Onggoloco dan Gadhingmas kemudian menetap di Wilayah Duren Beji Gunung Kidul dan menguasai lahan sampai hutan Wonosadi.

Perjuangannya menguasai tempat itu harus dilakukan dengan berjuang melawan penguasa makhluk halus yang bernama Gadhung Mlathi. Gadhung Mlathi yang takluk diperbolehkan tinggal di hutan dan bersedia membantu masyarakat sekitar dan tidak boleh menggangu. Onggoloco dan Gadhung Mlathi kemudian memanfaatkan hutan ini untuk memberi kepintaran kepada para pemuda dan juga untuk semadi. Pada masa tua, Onggoloco dan Gadhing Mas sering mengumpulkan para anak cucu keturunan dan mereka yang sudah berhasil dalam hidup. Para anak cucu diberi wejangan oleh para sesepuh ini dan mereka melakukan makan bersama untuk membangun kebersamaan.

Pada akhir masa tuanya, Ongoloco bersemadi dan mengalami moksa. Ia meninggal dan jasadnya tidak diketemukan. Sedangkan Gadhing Mas bertapa di Gunung Gambar, namun cerita tentang Gadhing Mas ini belum didapatkan secara cukup. Masyarakat sekitar hutan Wonosadi percaya akan kemampuan spiritual Onggoloco. Mereka juga mempercayai wasiat atau pesan yang disampaikan sebelum meninggalnya Onggoloco. Sebagian pesan adalah agar masyarakat menjaga hutan dan memelihara tanam-tanamannya yang dapat difungsikan sebagai obat. Para warga juga diberikan pesan untuk mengadakan acara serupa pada setiap tahun. Mereka anak cucu berkumpul agar dilanjutkan untuk menyambung tali kebersamaan atau silaturahmi dan waktunya ditentukan setelah panen sawah pada hari Senin Legi atau Kamis Legi. 

Atas dasar pesan inilah maka masyarakat setempat setiap tahun melakukan ritual Sadranan Wonosadi untuk memenuhi wasiat tersebut. Mereka mempercayai mitos-mitos terkait dengan kekuatan Onggoloco dan Gadhung Mlathi yang menguasai hutan. Mereka juga merasa harus selale menepati waktu diadakannya ritual Sadranan.

Sadranan dilakukan dengan ritual tertentu dan dengan perlengkapan (ubo rampe) yang sudah dtentukan seperti nasi tumpeng dan panggang ayam, atau nasi liwet dengan lauk pauknya yaitu sambel gepeng, gudheg, pencok dan gudhangan/uraban. Tidak jelas apakah jenis makanan ini sebagaimana yang disajikan pada waktu Onggoloco masih ada atau tidak. Bagaimana pun, kegiatan ini adalah bentuk penghargaan terhadap para leluhur. Biasanya, dalam budaya Jawa, ubo rampe upacara memiliki maksud simbolik tertentu yang melambangkan maksud dari kegiatan tersebut.

Di samping kepercayaan tersebut masyarakat sangat percaya pada kekuatan supranatural para penghuni hutan Wonosadi. Bahkan ketika dilakukan Sadranan, masyarakat sekitar Wonosadi mempercayai kedatangan roh Onggoloco dalam acara tersebut. Kekuatan para makhlus lain juga dipercayai menjaga hutan dengan adanya gangguan-gangguan bagi para warga masyarakat yang melakukan kegiatan di hutan tidak dengan cara yang baik, misalnya merusak, mengambil dan menebang pepohonan.

Masyarakat juga mempercayaai bahwa para makhluk halus tersebut akan menjaga mereka dari orang-orang jahat misalnya pencuri. Atas dasar kepercayaan ini maka memperkuat kesungguhan dan loyalitas untuk selalu melakukan ritual Sadranan untuk menghargai keberadaan mereka. Kepercayaan ini sangat bermanfaat bagi fungsi konservasi hutan sehingga diversitas kekayaan hutan masih terjaga, baik flora maupun faunanya. Terutama kekayaan tumbuhan dan aneka obat menjadi kekayaan hutan ini. Semangat memelihara alam menjadi bagian dari hidup masyarakat sekitar karena dibarengi dengan kepercayaan akan kekuatan spiritual yang berkaitan dengan keberadaan hutan tersebut.

2. Mitos Leuweung Titipan di Gunung Halimun
Di kawasan Gunung Halimun hidup sekelompok masyarakat yang masih kukuh memegang kebiasaan adat nenek moyangnya. Salah satu konsep yang mereka pegang adalah tentang hutan. Bagi mereka hutan disebut sebagai leuweung titipan `hutan yang dititipkan`. Hutan ini diakui oleh mereka sebagai hutan keramat. Menurut pandangan mereka, hutan leuweung titipan merupakan lahan cadangan atau tanah awisan incu-putu yang diperuntukkan anak-cucu yang penggunaannya dalam wewenang pimpinan adat mereka yang disebut sesepuh girang setelah mendapat wangsit karuhun.

Mereka percaya bahwa pada suatu saat nanti, apabila perintah dari karuhun tiba, kampung gede, yang merupakan pusat kegiatan pemerintahan dan upacara adat kasepuhan , akan pindah dari lokasi sekarang di kampung Ciptagelar ke wilayah rurukan jero di sekitar wilayah leuweung titipan. Keyakinan itu mereka sebut uga yaitu hari yang ditentukan oleh karuhun. Perpindahan kampug gede itu diyakini sebagai perpindahan terakhir yang mereka lakukan selama ini.

Adapun tugas utama sesepuh girang adalah menjaga dan memelihara leuweung titipan tersebut. Pelanggaran terhadap ketentuan karuhun itu diyakini akan menyebabkan bencana yang dirasakan baik berupa gangguan fisik atau psikis bagi mereka yang melanggarnya, yang disebut dengan istilah kabendon.

3. Mitos Kerbau Liar di Desa Tenganan, Bali
Cerita yang berkembang dan dipercayai oleh masyarakat di desa Tenganan, Pegringsingan, kabupaten Karangasem adalah sebagai berikut. Pada abad XV Raja Maya Dewawa sang penguasa di kerajaan Karangasem berselisih dengan Dewa Indra. Percecokan itu hingga terjadi secara terbuka berupa peperangan. Peperangan itu akhirnya dimenangkan oleh Dewa Indra. Untuk mengenang dan menghormati peristiwa itu maka di tempat tersebut diadakan upacara penyucian dengan menyembelih seekor kuda. Kuda korban tersebut disebut oncesrawa.

Ketika akan disembelih kuda oncesrawa rupanya mengetahuinya maka kuda tersebut melarikan diri dan menghilang. Masyarakat menjadi gaduh, ramai-ramai menangkap kuda oncesrawa, akan tetapi usahanya tidak berhasil. Masyarakat lalu mengaduh dan memohon petunjuk kepada Dewa Indra. Permohonannya dikabulkan bahkan Dewa Indra akan memberi penghargaan kepada siapa pun yang dapat menemukan kuda tersebut, baik dalam keadaan mati atau pun hidup. Dikatakan oleh Dewa Indra bahwa hadiah yang akan dijanjikan adalah berupa wilayah kekuasaan dengan batas wilayah bau bangkai kuda sampai tidak tercium lagi.

Masyarakat segera memburu kuda oncesrawa yang menghilang tersebut. Ada sekelompok orang yang yang biasa disebut wong paneges atau wong penengen. Mereka ini termasuk orang-orang yang dikasihi karena selalu taat dan menghormati kepada Dewa Indra. Bangkai kuda berhasil ditemukannya. Wong penengen tersebut diberi daerah dengan batas seperti yang dijanjikan. Oleh wong penengen daerah pemberian tersebut diberi nama desa Tenganan, yang berasal dari kata tengen.

Daerah Tenganan, tempat matinya kuda oncesrawa, ini sangat subur, banyak jenis tumbuhan hidup. Di samping itu banyak dijumpai beraneka satwa liar, misalnya, ular, kera, burung, musang, landak, dan kerbau. Mereka ini keberadaannya dilindungi oleh masyarakat Tenganan. Bahkan, di desa ini terdapat sekelompok kerbau yang liar, tidak dipelihara. Mereka bebas ke mana saja, mau hidup yang di perkampungan maupun di hutan. Masyarakat desa Tenganan tidak mengusik atau merasa terganggu atas keberadaan kerbau liar tersebut. Masyarakat merasa mendapat berkah dan bersahabat terhadapnya. Oleh karena itu, kerbau liar dan jenis-jenis satwa lain yang hidup di daerah ini dilindungi keberadaanya oleh masyarakat supaya tidak punah.

Kerbau liar yang misterius ini biasanya mencari makan di kawasan hutan dan perkampungan. Kalau ke rbau berada di depan rumah seseorang,maka orang tersebut percaya mereka mendapat kunjungan, sehingga mereka wajib memberikan makan, karena “kehadiran tamu”. Biasanya kerbau tersebut diberi makan daun kelor dan berbagai jenis tumbuhan yang ada di sekitar kampung.

Masyarakat Tenganan mempercayai kerbau liar itu mempunyai keajaiban, misalnya kotorannya dapat digunakan sebagai obat, kutunya dapat menyembuhkan berbagai penyakit, dan sebagainya. Kerbau hanya boleh digunakan untuk upacara suci di pura yang digunakan sebagai caru, yang berlangsung setiap tahun sekali. Caru kerbau ini diyakini mempunyai makna dapat mengembalikan kekuatan bumi ke kekuatan yang ada di sekitarnya.

Agar keberadaan kerbau liar yang diyakini telah membawa berkah, maka masyarakat melakukan hal-hal sebagai berikut.

a. Menjaga keberadaanya, tidak boleh diperdagangkan. Kerbau liar hanya boleh dimanfaatkan untuk caru pura yang dilakukan setahun sekali.
b. Untuk mencukupi makan kerbau liar, maka masyarakat berusaha menanam tanaman di lahan perkampungannya dan melestarikan hutan agar tetap lebat.

4. Wana Ngkiki pada Masyarakat Toro Sulawesi Tengah
Golar Baso (dalam Soedjito, 2009:251-253) menjelaskan bahwa pada masyarakat adat Toro di Sulawesi Tengah, dikenal adalah kawasan hutan keramat yang disebut Wana Ngkiki dan Wana. Menurut Taswirul Aliyatin Widjaya (2009), Ngkiki adalah kawasan hutan primer yang hanya ditumbuhi rerumputan dan lumut sedangkan Wana adalah hutan primer yang di dalamnya hidup hewan dan tetumbuhan langka yang bisanya dipakai sebagai obat. Wilayah ini miliki kolektif masyarakat kecuali damar dapat dimiliki oleh orang pertama yang menemukannya. Selain kedua jenis kawasan hutan, masih ada kawasan hutan lain yang dapat dimanfaatkan secara lebih bebas dengan pengaturan masyarakat adat Toro, yang berkaitan dengan pembukaan lahan, pemanenan kayu dan juga pengambilan rotan.

Lanjut Baso, bagi masyarakat Toro, wilayah hutan ini dianggap keramat karena di dalamnya masyarakat sering melakukan aktivitas spiritual. Wilayah hutan ini tidak boleh diubah fungsinya oleh masyarakat, misalnya menjadi hutan produktif. Sesuai dengan fungsinya yang hanya menjadi tempat melakukan kegiatan spiritual, maka hutan ini memiliki nilai konservasi tinggi. Wilayah ini dipastikan menjadi sumber udara segar dan daerah tangkapan air hutan. Wilayah ini menempatkan fungsinya sebagai pengkeramatan sosial, spiritual dan adat.

5. Mitos Hutan Keramat Suku Baduy
Menurut kepercayaan suku Baduy bahwa bumi dianggap bermula dari masa yang kental dan bening, lama-kelamaan mengeras dan melebar. Titik awal, tempat diciptakan bumi tersebut diyakini terjadi di daerah Sasaka Buana, di Gunung Pamuntuan, di daerah hulu sungai Ciujung, bagian selatan kampung Cikeusik, daerah Tangu (Baduy Dalam).

Sementara, Batara Cikal, salah satu tujuh batara yang dianggap leluhur suku Baduy dipercayai diturunkan di Parahiangan atau biasa disebut Sasaka Domas, yang menjadi tempat awal kelahiran Sunda wiwitan. Hutan Sasaka Domas ini termasuk daerah yang paling disakralkan. Daerah ini menjadi tempat pemujaan, tidak boleh dikunjungi setiap waktu, termasuk orang Baduy sendiri.

Dua daerah hutan yaitu Sasaka Buana dan Sasaka Domas merupakan kawasan yang dilindungi dan disakralkan keberadaannya. Mereka yakin bahwa awal dunia dan awal manusia lahir dari daerah tersebut. Mereka menggunakan sistem perlindungan untuk menjaga kawasan tersebut. Orang Baduy membagi menjadi tiga zona perlindungan hutan, yaitu.

a. Daerah perkampungan dan dukuh lembur. Daerah yang tidak boleh dibuka dijadikan huma atau ladang.
b. Daerah untuk huma atau reuma, yaitu hutan sekunder bekas ladang yang diberakan.
c. Daerah hutan tua, yaitu hutan yang dikonservasi dan dicadangkan, tidak pernah dijadikan ladang.

Pada zona pertama dan kedua, daerah perkampungan dan dukuh lembur serta daerah huma dan reuma, menjadikan daerah ini rimbun ditutupi beraneka vegetasi. Hal ini berfungsi penting bagi pelestarian keanekaragaman hayati, perlindungan tanah dari bahaya erosi, pengaturan sistem hidrologi, habitat satwa liar, memelihara iklim mikro, dan fungsi sosial ekonomi. Sementara, pada zona ketiga, hutan titipan atau leuweung kelot, mempunyai fungsi ekologi hayati.

Oleh karena itu, hutan keramat tersebut terhindar dari penebangan, pembukaan sawah dan kerusakan, serta memiliki fungsi sangat penting bagi tujuan konservasi, yaitu konservasi jenis-jenis tumbuhan, sebagai habitat jenis-jenis fauna,fungsi perlindungan tanah dan hidrologi air sungai,fungsi menjaga iklim mikro, dan fungsi sosial budaya untuk kepentingan agama/kepercayaan masyarakat lokal seperti orang Baduy.

Menurut kepercayaan suku Baduy bahwa bumi dianggap bermula dari masa yang kental dan bening, lama-kelamaan mengeras dan melebar. Titik awal, tempat diciptakan bumi tersebut diyakini terjadi di daerah Sasaka Buana, di Gunung Pamuntuan, di daerah hulu sungai Ciujung, bagian selatan kampung Cikeusik, daerah Tangu (Baduy Dalam).

Sementara, Batara Cikal, salah satu tujuh batara yang dianggap leluhur suku Baduy dipercayai diturunkan di Parahiangan atau biasa disebut Sasaka Domas, yang menjadi tempat awal kelahiran Sunda wiwitan. Hutan Sasaka Domas ini termasuk daerah yang paling disakralkan. Daerah ini menjadi tempat pemujaan, tidak boleh dikunjungi setiap waktu, termasuk orang Baduy sendiri.

Dua daerah hutan yaitu Sasaka Buana dan Sasaka Domas merupakan kawasan yang dilindungi dan disakralkan keberadaannya. Mereka yakin bahwa awal dunia dan awal manusia lahir dari daerah tersebut. Mereka menggunakan sistem perlindungan untuk menjaga kawasan tersebut. Orang Baduy membagi menjadi tiga zona perlindungan hutan, yaitu.

a. Daerah perkampungan dan dukuh lembur. Daerah yang tidak boleh dibuka dijadikan huma atau ladang.
b. Daerah untuk huma atau reuma, yaitu hutan sekunder bekas ladang yang diberakan.
c. Daerah hutan tua, yaitu hutan yang dikonservasi dan dicadangkan, tidak pernah dijadikan ladang.

Pada zona pertama dan kedua, daerah perkampungan dan dukuh lembur serta daerah huma dan reuma, menjadikan daerah ini rimbun ditutupi beraneka vegetasi. Hal ini berfungsi penting bagi pelestarian keanekaragaman hayati, perlindungan tanah dari bahaya erosi, pengaturan sistem hidrologi, habitat satwa liar, memelihara iklim mikro, dan fungsi sosial ekonomi. Sementara, pada zona ketiga, hutan titipan atau leuweung kelot, mempunyai fungsi ekologi hayati. 

Oleh karena itu, hutan keramat tersebut terhindar dari penebangan, pembukaan sawah dan kerusakan, serta memiliki fungsi sangat penting bagi tujuan konservasi, yaitu konservasi jenis-jenis tumbuhan, sebagai habitat jenis-jenis fauna,fungsi perlindungan tanah dan hidrologi air sungai,fungsi menjaga iklim mikro, dan fungsi sosial budaya untuk kepentingan agama/kepercayaan masyarakat lokal seperti orang Baduy.

6. Mitos Tana Toa di Bulu Kumba Sulawesi Selatan
Menurut kepercayaan masyarakat Tanah Toa, Kajang, bahwa hutan merupakan pusat kehidupan dan dipercayai di hutan ini bersemayam para arwah dan roh-roh nenek moyang mereka. Para roh dan arwah dapat naik turun, dari bumi ke langit dan sebaliknya dari langit turun ke bumi. Dari konsep ini dapat diambil pengertian bahwa asal usul manusia Tanah Toa,Kajang itu berasal dari kehidupan hutan.

Manusia pertama Amma Toa turun dari langit ke bumi terjadi di daerah hutan Tombolo atau kawasan hutan. Keberadaan bumi pertama kali dipercayai dibuat oleh Turie’Ara’na. Turie’ Ara’na ini adalah yang menguasai kawasan hutan yaitu tanah tua atau Tana Toa. Turi Ara’na dan manusia digambarkan mempunyai hubungan yang erat. Tuhan dan alam adalah satu adanya. Konon menurut kepercayaan Patuntung yang dianut oleh orang-orang Tanah Toa, Kajang, bahwa dalam diri manusia terbentuk dari unsur dari ibu, unsur dari ayah, dan unsur dari Turie’ Ara’na. Ibu memberikan darah daging, urat, dan otak. Ayah memberikan bulu, kulit, kuku, dan tulang. Sedangkan Turie’ Ara’na memberikan mata, telinga, hidung, mulut, dan hati/perasaan.

Manusia dan hutan mempunyai keterkaitan sejak adanya manusia. Oleh sebab itu bagi masyarakat Tanah Toa, Kajang, kehadiran hutan tidak dapat dilepaskan dengan kehidupannya. Aturan-aturan yang mengatur hidup kemasyarakatannya tertuang dalam ajaran Pasang.

Ajaran Pasang itu dianggap kehendak dari yang Maha Berkehendak yang disampaikan dengan lisan dan tidak boleh ditulis, yang diturunkan pada Ammatoa I, kemudian diteruskan ke Ammatoa penerus dan dianggap sebagai sumber nilai yang mengatur kehidupan dunia dalam perjalanan menuju khidupan kemudian. Pasang ini dianggap sebagai sumber hukum (adat) lingkungan keammatoaan, yang paling dasar.

Pasang tidak boleh diubah atau ada yang berusaha mengubahnya. Larangan ini dimaksudkan sebagai upaya untuk melestarikan, baik Ammatoa, lingkungan , dan budaya. Ammatoa adalah pemimpin kepercayaan patuntung yang dianut oleh masyarakat Tanah Toa, Kajang. Ammatoa ini bertugas membimbing masyarakatnya agar berperilaku layak dan benar. Seorang Ammatoa harus buta huruf.

Masyaratkat Tanah Toa, Kajang, menganut kepercayaan Patuntung dengan ajaran yang disebut Pasang atau pesan. Adapun beberapa pesan tersebut misalnya sebagai berikut.
a. Jagalah dunia beserta isinya, langit, manusia, dan hutan.
b. Hujan dan hutan tak dapat dipisahkan. Penebangan yang tak terkendali akan akan mengurangi hujan dan hilangnya sumber mata air. Oleh karena itu penebangan hutan dianggap sebagai sebuah pelanggaran.
c. Urusan penebangan hutan adalah tugas dan kewenangan Ammatoa untuk menghalangi dan melarangnya.

Selanjunya, dalam hukum adat untuk penebangan kayu di hutan wilayah TanahToa Kajang, dijelaskan sebagai berikut.

a. Pokok Babbalak, yaitu kalau batang kayu diambil dari Borongna Karamaka, hutan lindung keramat, maka akan didenda sebesar Rp. 800.000,00 dan segulung kain putih.
b. Tannga Babbalak, yaitu kalau pohon yang ditebang di Borongna Battasaya, hutan dekat kebun, maka akan didenda sebesar Rp. 400.000,00 dan segulung kain putih.
c. Cappak Babbalak, jika pohon yang ditebang dari koko atau kebun orang, maka didenda sebesar Rp. 200.000.00.

7. Kawasan Larangan di Mandailing Natal Sumatera Utara
Zulkifli Lubis (dalam Soedjito, 2009: 165-172) mengadakan kajian tentang daerah Mandailing Natal. Dan menemukan istilah “rarangan” atau larangan, daerah yang dilarang dijamah manusia dengan semena-mena. Ada beberapa wilayah yang termasuk daerah larangan antara lain kawasan yang berhubungan dengan sumber mata air.

Yang termasuk kawasan dilarang adalah kawasan hutan “arangan rarangan”, juga daerah aliran sungai yang dipantangkan untuk mengmbil ikan atau disebut lubuk larangan. Narobo-robo, daerah yang dingin-dingin, atau yang lembab-lembab, pantang dimasuki manusia atau paling tidak bila seseorang ingin memasukinya harus dengan cara hati-hati. Kawasan semacam ini diangap sebagai hunian makhluk halus atau kekuatan supraalami. Kawasan ini biasanya terdapat di hulu sungai, sekitar mata air, tau di lereng atau puncak gunung. Dalam bahasa Mandailing kawasan ini disebut rubaton, kawasan yang dipercayai dikuasai oleh makhluk halus.

Kepercayaan akan wilyah kekuasaan makhuk halus ini berkaitan dengan kepercayaan animistik. Masyarakat dulu mempercayai bahwa menebang kayu sembarangan akan membuat celaka. Anak-anak juga dilarang bermain di aliran sungai dan di lubuk yang dalam dengan pohon-pohon rimbun. Anak-anak dilarang mengganggu sigulambak, makhluk halus yang sedang mandi di sungai atau anak-anak dilarang mengganggu ikan-ika peliharaan makhluk halus tersebut.

8. Potingan di Rokdok Siberut Sumatera Barat
Menurut Darmanto, dalam Soedjito (2009: 139-141), di wilayah Siberut terdapat satu daerah yang sangat dikeramatkan yaitu di dusun Rokdok, yang luasnya hanya sekitar lima kilo meter persegi. Kawasan Rokdok dapat dikategorikan sebagai hutan sekunder, tetapi dikeramatkan dan tidak sembarang orang bisa masuk. Kawasan ini dianggap keramat karena menurut pengalaman masyarakat sekitarnya, wilayah ini mempunyai kegaiban-kegaiban.

Potingan berasal dari kata po atau polak yang berarti tanah, dan ngaaat, yaitu tiruan bunyi pintu yang berderit dari rumah tua Mentawai jaman dulu. Bunyi seperti pintu berderit ini dipercayai berasal dari satu dinding di salah satu tebing. Bunyi tersebut sangat ditakuti masyarakat karena bila terdengar, dipercayai akan muncul kejadian luar biasa seperti orang meninggal, wabah penyakit massal, atau bencana alam. Masyarakat juga mempercayai adanya ayam jantan raksasa, yang bia ayam tersebut berkoko juga merupakan pertanda kematian.

Tidak hanya bunyi pintu dan kokok ayam, masyarakat sekitar mengaku sering mendengar bunyi tetabuhan, gong dan gendang. Suara ini juga dianggap sebagai pertanda mala petaka, bencana alam, wabah penyakit atau kematian. Masyarakat juga mempercayai bau harum “sikopuk” yang tanaman ini hanya dapat dilihat oleh orang pintar. Dari beberapa sumber dijelaskan bahwa sikerei adalah pimpinan adat yang dapat berkomunikasi dengan makhluk halus atau dukun yang bisa mengobati orang sakit. Masyarakat dapat menghirup bau sikopuk ini sebagai obat.

Mereka mempercayai salah satu bagian, di wilayah puncak kawasan ini, merupakan tempat berkumpulnya roh para leluhur mereka. Bagi masyarakat Rokdok, semua kegiatan yang berhubungan dengan hutan harus dilakukan dengan ijin. Ijin dilakukan dengan mengadakan upacara yaitu upacara Paniki yang ditujukan kepada leluhur. Pengalaman seorang informan, Fransiscus Aman Lauren, menunjukkan keganjilan ketika ia tidak sengaja melempar puntung rokok dan membakar ranting-ranting. Pada perjalanan pulang, tiba-tiba rambut kepalanya habis terbakar. Masyarakat juga percaya bahwa mereka dilarang mandi telanjang di sungai yang melintasi Potingan maka orang tersebut akan mengalami sakit. Menebang kayu tanpa melakukan Punaki juga dilarang karena dipercaya dapat menimbulkan celaka. Masyarakat percaya tidak boleh berbicara dan berbuat buruk di wilayah hutan.

Pola kepercayaan masyarakat yang sangat kuat, secara tidak langsung berakibat pada pemeliharaan hutan. Masyarakat akan sangat terbatasi untuk memanfaatkan hutan sehingga konservasi hutan dan kerusakan lingkungan hutan relatif lebih dapat terjaga.

9. Tempat-tempat Keramat pada Masyarakat Suku Dani-Baliem Papua
Menurut penelitian Purwanto, dalam Soedjito (2009:192-203), disimpulkan bahwa sekalipun masyarakat suku Dani-Baliem Papua memiliki kawasan-kawasan hutan yang dikeramatkan, tetapi mereka pada dasarnya tidak menempatkan fungsi konservasi sebagai efek dari pengkeramatan hutan. Hal ini mungkin berkaitan dengan kehidupan masyarakat yang cenderung banyak melalukan peperangan antar suku. Pengeramatan hutan bagi masyarakat ini lebih merupakan alasan tradisi dan penguasaan teritori dibandingkan dengan motivasi melakukan konservasi. Meskipun demikian, apa yang mereka lakukan sesungguhnya berdampak pada fungsi konservasi.

Masyarakat Dani-Baliem Papua memiliki empat kawasan hutan yang dilindungi dan dianggap keramat, yaitu:

a. Tempat keramat (wakunmo)
Kawasan ini adalah tempat tertentu di batas daerah kekuasaan dan tempat tersembunyi di kaki-kaki bukit. Kawasan sakral ini dijadikan sebagai tempat untuk menyimpan tombak yang dibungkus alang-alang dan merupakan peninggalan orang yang telah meninggal. Penyimpanannya dilakukan setelah pembakaran mayat (kremasi). Wilayah yang merupakan tempat keramat untuk menyimpan tanda kematian ini merupakan tanda penguasaan wilayah.

b. Tempat sakral dan rahasia (wusanma)
Kawasan ini merupakan tempat menyembunyikan benda-benda adat dan senjata perang seperti anak panah dan tombak. Kawasan ini berkaitan dengan tanda keperkasaan dari seseorang yang telah membunuh musuh-musuhnya. Penyimpanan benda-benda adat ini di masa damai dilaksanakan di pilamo adat (pilamo adalah rumah adat Papua, Honai) sedangkan pada masa perang dan genting penyimpanan dilakukan di tempat rahasia (wusanmo). Kawasan ini disakralkan karena tempat ini juga merupakan tempat nenek moyang mereka disemayamkan.

c. Tempat perang dan tempat terbunuhnya kepala suku (wima-bunasili)
Kawasan ini cukup sempit untuk wilayah hutan, hanya terdiri dari puluhan atau waturan meter persegi saja. Meskipun kawasan ini termasuk keramat tetapi orang awam masih boleh masuk dengan syarat tidak melakukn pengrusakan.

d. Tempat yang dilindungi (wikimono, wileboma,sinoma).
Kawasan ini lebih bebas, merupakan daerah tumbuh jenis tumbuhan tertentu. Wikomono berada di lembah dan merupakan daerah yang banyak ditumbuhi bahan pagar dan kayu bakar. Wileboma adalah wilayah yang banyak ditumbuhi pohon pelindung angin yang biasa dipakai sebagai bahan bangunan. Sedangkan wilayah siroma banyak ditumbuhi pepohonan sin yang dianggap mempunyai nilai tinggi.

10. Faknik di Pulau Panreki Biak-Numfor Papua
Yuanike dalam tulisane (dalam Sudjito, 2009:205-210). Melakukan penelitin di Pulau Panreki Biak-Numfor Papua. Ia mendapatkan adanya fungsi sentral dari faknik, suatu entitas yang dipercaya menguasai tempat-tempat tertentu yang dianggap keramat.

Faknik, menurut persepsi dan pengalaman masyarakat, adalah hantu laut yang dapat mewujud seperti batu karang yang besar, daratan yang tiba-tiba muncul, ikan atau gurita raksasa, gelobang besar atau adanya cahaya yang terang. Faknik dipercayai muncul pada waktu tertentu misalnya malam hari atau pada malam bulan sabit. Faknik akan muncul ketika seeorang tidak menepati nazarnya atau melakukan tindakan asusila. Kepercayaan pada faknik merupakan pengakuan secara adat pada kekuatan alam dan kekuatan gaib yang memiliki hubungan emosional dengan pulau Panreki.

Ketika orang bertemu dengan faknik, maka ia harus melakukan ritual tolak bala supaya perjalanannya lancar. Ritual tolak bala merupakan ungkapan minta maaf kepda hantu laut. Ritual dilakukan dengan mencuci tangan dan membasuh muka dengan air laut dengan diikuti lafal permohonan maaf. Aktivitas berikutnya adalah melakukan pelemparan sesaji yang terdiri dari sirih, pinang, tembakau dan benda-benda logam seeprti ung, timah, atu perhiasan. Usai melakukan ritual, masyarakat akan merasa aman.

Sebagai penutup dapat disimpulkan bahwa kepercayaan terhadap faknik akan mempengaruhi cara masyarakat berhubungan dan memperlakukan alam. Hal ini termasuk juga tentang moralitas dalam kehidupan.


Referensi:
Sartini, 2009, Mutiara Kearifan Lokal Nusantara, Kepel Press, Yogyakarta.
Soedjito, Herwasono, dkk., 2009, Situs Keramat Alami: Peran Budaya dalam Konservasi Keanekaragaman Hayati, MAB Indonesia, Jakarta.
Taswirul Aliyatin Widjaya, 2009, “Kearifan Lokal Masyarakat di Sekitar Taman Nasional Lore Lindu Palu Sulawesi tengah dalam Pengelolaan Hutan dan Pemanfaat Sumber Daya Alam”.

Jumat, 25 Agustus 2017

Pertolongan dan tips mencegah tersengat kalajengking

Kalajengking

Arthropoda merupakan hewan yang mempunyai kaki bersendi-sendi (beruas-ruas). Hewan ini banyak ditemukan di darat, air tawar, dan laut, serta di dalam tanah. Hewan ini juga merupakan hewan yang paling banyak jenis atau macam spesiesnya. Arthropoda terbagi menjadi 4 kelas, yaitu Kelas Crustacea (golongan udang), Kelas Arachnida (golongan kalajengking dan laba-laba), Kelas Myriapoda (golongan luwing) dan Kelas Insecta (serangga).

Arachnida meliputi kalajengking, laba-laba, tungau atau caplak. Umumnya hewan ini bersifat parasit yang merugikan manusia, hewan dan tumbuhan dan juga bersifat karnivora sekaligus predator. Kelompok Arachnida tersebut yang memiliki racun secara alami adalah kalajengking dan laba-laba, namun demikian di Indonesia kedua jenis hewan tersebut tidak menyebabkan keracunan yang fatal.

Meski begitu, tetap harus berhati-hati dengan sengatan dari kalajengking yang bersifat racun. Bisa saja sengatan racun kalajengking tersebut sama mematikannya dengan ular. Biasanya orang yang takutkan hewan tersebut datang ketika lagi tidur. Selain kalajengking, entah itu kelabang, kecoa, atau hewan serangga yang lainnya. Kalau kalajengking di rumah jarang sekali terlihat, kebanyakan yang terlihat di rumah adalah kecoa, tikus, dan kelabang. Tapi, tetap waspada barang kali sewaktu-waktu kalajengking ada di rumah berdiam di kamar mandi atau di pojok rumah yang lembab.

Pertolongan pertama tersengat kalajengking
Secara umum efek sengatan kalajengking tidak menimbulkan efek berbahaya. Korban dapat dirawat dirumah dan dimonitor selama 8 jam. Setiap sengatan harus dilakukan penatalaksaan luka dengan benar. Bersihkan lokasi sengatan dengan air dan sabun atau antiseptik ringan. Penanganan awal berupa kompres pada lokasi sengatan dengan air dingin / kantung es selama 15-20 menit. Harus diusahakan supaya racun tidak tersebar ke seluruh tubuh dengan imobilisasi (jangan gerakkan) bagian tubuh yang tersengat, kecuali yang menimbulkan efek nekrotik (kematian sel). Pemberian antihistamin dan anti nyeri non narkotik dapat dilakukan oleh tenaga medis atau dokter. Di pelayanan kesehatan lakukan monitor pada anak-anak selama 2 jam setelah muncul gejala.

Keracunan sistemik umumnya jarang namun berpotensi terjadi terutama pada anak-anak. Korban dengan gejala simptomatik disarankan ditangani di rumah sakit. Monitor kondisi luka sengatan dan segera periksa ke fasilitas kesehatan apabila terjadi tanda infeksi, nyeri tidak hilang makin parah atau bila gejala yang terjadi mengkhawatirkan.

Tips mencegah tersengat kalajengking 
  • Hindari menumpuk batu atau kayu di sekitar rumah atau kebun.
  • Ajari anak-anak untuk mengenal kalajengking dan menjauhinya bila berdekatan dengan kalajengking. Bila tersengat, segera panggil orang tua untuk meminta bantuan.
  • Gunakan baju berlengan panjang dan celana panjang saat hiking atau berkemah. Jika melihat kalajengking, jangan memegang kalajengking dengan tangan kosong, gunakan alat penjepit untuk menjauhkan kalajengking.
Kalajengking bisa datang di mana saja baik di luar atau pun di dalam rumah. Jika anda menemukan kalajengking di rumah, langsung saja dibunuh lalu dibuang karena takut terjadi apa-apa ketika tidur bisa saja kalajengking menyengat, terutama pada anak-anak atau bayi di rumah. Ada beberapa kasus di berita tentang hewan serangga yang masuk ke dalam telinga atau pun hidung seperti kelabang, itu sangat menyakitkan. Kalajengking pun bisa saja datang terus masuk ke dalam tubuh manusia ketika tidur. Semoga artikel ini bermanfaat untuk anda yang sedang membaca.

Kamis, 24 Agustus 2017

Tentang kalajengking dan efek bahaya racunnya

kalajengking racun
Kalajengking merupakan hewan yang berukuran kecil berkaki delapan dengan ekor yang mengandung racun. Kalajengking umumnya ditemukan di habitat kering dan lingkungan yang panas, namun beberapa spesies dapat ditemukan di hutan. Kalajengking aktif di malam hari, memakan serangga dan kalajengking kecil lainnya, pada siang hari biasanya bersembunyi di bawah batu, batang kayu atau pohon. Kalajengking mampu bertahan hidup dalam berbagai kondisi baik panas kering maupun dingin hingga beku tanpa makan dan minum selama berbulan-bulan. Dengan memperlambat sistem metabolisme tubuhnya, kalajengking dapat bertahan hidup lama pada kondisi tak ada makanan.

Tubuh kalajengking terdiri dari dua bagian yaitu bagian sefalotoraks dan bagian ekor. Kalajengking memiliki delapan kaki, sepasang capit dan ekor yang panjang. Pada ekor kalajengking terdapat telson pada ujung ekor yang mengandung dua kelenjar racun yang mengeluarkan racunnya melalui penyengat tajam di ujung ekor. Ciri-ciri kalajengking yang racunnya mematikan adalah capitnya terlihat lemah, bagian badan kurus namun bagian ekor gemuk.

Pada umumnya kalajengking tidak agresif dan menyengat manusia hanya jika kalajengking tersebut merasa terancam atau tersudut. Kalajengking menjepit mangsanya sebelum menyengat dengan cara melengkungkan sengatnya diujung ekor melewati bagian atas kepalanya. Kalajengking tidak berburu makanan tetapi menunggu mangsanya yang terdeteksi oleh rambut sensorik. Selain itu, kalajengking juga dapat menyerang mangsanya dari jarak jauh dengan cara menyemprotkan racun dari ujung ekor yang dapat menyebabkan kebutaan sementara bila terkena mata.

Inilah nama sepesies kalajengking yang ada di Indonesia.

1. 
Heterometrus spinifer
Heterometrus spinifer

2.
Heterometrus cyaneus
Heterometrus cyaneus

3.
Heterometrus liophysa
Heterometrus liophysa

4.
Heterometrus longimanus
Heterometrus longimanus


Racun kalajengking
Terdapat sekitar 1500 spesies kalajengking di seluruh dunia dan sekitar 25 spesies diantaranya dapat membunuh manusia. Seluruh spesies kalajengking beracun namun hanya beberapa spesies yang dapat berakibat fatal bila menyengat manusia. Walaupun sengatannya menyakitkan, sengatan kalajengking umumnya tidak berakibat fatal namun hanya reaksi lokal pada daerah yang disengat. Kalajengking yang paling mematikan adalah Hemiscorpion lepturus, Leiurus quinquestriatus dan Mesobuthus tamulus yang bersifat sitotoksik. Di Indonesia, spesies kalajengking yang banyak ditemukan adalah Heterometrus spinifer, Heterometrus cyaneus, Heterometrus liophysa, Heterometrus longimanus yang tidak menimbulkan efek berbahaya

Racun kalajengking merupakan campuran kompleks yang terdiri dari protein, neurotoksin, nukleotida, asam amino, kardiotoksin, nefrotoksin, toksin hemolitik, fosfodiesterase, fosfolipase A, hyaluroinidase, asetilkolinesterase, glikosaminoglikan, histamin, serotonin, dan zat-zat lain. Neurotoksin dalam racun kalajengking sangat mematikan bahkan lebih mematikan dibandingkan neurotoksin dari bisa ular. Neurotoksin adalah komponen venom atau racun yang bekerja pada sistem saraf perifer. Hasil analisa menunjukkan nilai LD50 beberapa neurotoksin kalajengking 10 kali lipat lebih kuat daripada sianida.

Sengatan kalajengking menyebabkan rasa sakit yang luar biasa yang menjalar ke dermatom (area kulit dengan saraf spinalis) yang dapat menimbulkan efek sistemik yang mengancam jiwa. Racun masuk dan mengendap di kulit dalam jaringan subkutan. 70% racun dari konsentrasi maksimum menyebar dalam waktu 15 menit kedalam darah. Racun terserap hampir sempurna dalam tubuh dalam waktu 7-8 jam. Racun kalajengking yang masuk ke dalam tubuh memerlukan waktu 4 -13 jam untuk tereliminasi dari darah.

Efek klinis dari sengatan kalajengking bergantung pada sepesies kalajengking dan tingkat letal dan banyaknya racun yang masuk ke dalam kulit. Efek sengatan kalajengking umumnya menyebabkan efek lokal namun juga dapat menyebabkan efek sistemik.
  • Efek sengatan kalajengking umumnya hanya menyebabkan efek lokal berupa rasa nyeri (kadang-kadang parah, rasa terbakar dan dapat menyebar), bengkak, kemerahan pada lokasi sengatan, sensitif terhadap sentuhan, dan sensasi mati rasa/kesemutan. Sengatan kalajengking juga beresiko menyebabkan reaksi hipersensitivitas.
  • Pada beberapa spesies kalajengking mempengaruhi sistemik. Racun kalajengking menyebabkan efek keracunan parah yang menstimulasi efek sistem saraf simpatis dan parasimpatis. Tanda-tanda dan gejala autonomic storm yaitu stimulasi parasimpatetis sementara (muntah, keringat berlebihan, salivasi kental, bradikardi, kontraksi ventrikel prematur, hipotensi) dan stimulasi simpatis berkepanjangan (ekstremitas dingin, hipertensi, takikardi, edema paru dan syok).
Jadi, berhati-hati lah bila bertemu dengan hewan kecil seperti kalajengking. Terkadang ada kalajengking yang bersifat beracun yang mematikan.

Referensi:
Kovarik, Frantisek. 2004. Euscorpius: Occasional Publications in Scorpiology.
P. Gopalakrishnakone. 1990. A Color Guide to Dangerous Animals. Sinagpore University Press: Singapore.
Bawaskar, Himmatrao Saluba, Bawaskar, Pramodini Himmatrao. 2012. Scorpion Sting: Update. Journal of the Association of Physicians of India. Vol 60.