4 Jenis gigitan ular berbisa dan gejalanya

Ular berbisa
Kasus gigitan ular berbisa di Indonesia cukup tinggi, terutama di daerah pedesaan. Tidak jarang kasus tersebut mengakibatkan orang yang tergigit meninggal dunia. Hal ini didukung oleh keengganan masyarakat pedesaan untuk berobat ke rumah sakit karena terbentur masalah biaya. Masyarakat pedesaan cenderung membiarkan bekas gigitan tersebut tanpa alternatif pengobatan. Mereka menganggap luka tersebut dapat sembuh dengan sendirinya.

Pada waktu menggigit korban, ular berbisa biasanya akan mengeluarkan dosis maksimal. Pengeluaran bisa ini terjadi karena ada kontraksi otot di rahang atas bagian belakang yang menekan kelenjar bisa. Bisa (racun) mengalir melalui saluran yang bermuara pada ujung taring bisa, sehingga begitu taring bisa menancap otomatis bisa langsung masuk ke tubuh korban yang selanjutnya bercampur dalam aliran darah korban.

Bisa ular diproduksi oleh kelenjar bisa yang terletak di dalam kepala ular bagian belakang. Kelenjar bisa dapat dilihat dengan cara membuka kulit ular pada daerah bibir atas sampai pangkal rahang (sepanjang supralabialis sampai post temporalis). Jika daerah ini dibedah akan terlihat adanya kelenjar bisa yang besarnya bergantung pada jenis dan ukuran ular.

Kelenjar bisa berwarna putih dan ujungnya bermuara pada pangkal taring bisa di sekeliling kelenjar bisa terdapat otot-otot penekan kelenjar bisa. Alat ini berfungsi menekan kelenjar bisa sewaktu ular mematuk (menggigit) sehingga bisa dapat dipompa dengan cepat melalui taring bisa ke dalam tubuh mangsa. Uular dapat mengontrol kuantitas bisa yang dikeluarkan menurut ukuran mangsa.

Bisa ular dibagi menjadi dua tipe yaitu neurotoksin dan hemotoksin. Bisa neurotoksin menyerang jaringan syaraf, seperti syaraf pada sistem pernafasan dan sistem sirkulasi terutama jantung. Kematian korban gigitan ular tipe bisa neurotoksin adalah karena terjadi kelumpuhan pada sistem pernafasan dan sistem sirkulasi. Tipe bisa ini biasanya dimiliki oleh ular dari famili Elaphidae, contohnya ular kobra, weling, welang, dan warakas. Sedangkan bisa bertipe hemotoksin menyerang pembuluh darah sel-sel darah merah. Sel-sel darah dibuat pecah sehingga tidak dapat mengangkut oksigen. Tipe bisa ini biasanya dimiliki oleh ular dari famili Viperidae dan Crotalidae. Dari kedua tipe bisa ini pada prinsipnya sama yaitu penderita akan meninggal karena kesulitan mendapatkan oksigen dari luar.

Secara umum, akan timbul gejala lokal dan gejala sistemik pada semua gigitan ular.

Gejala lokal: edema, nyeri tekan pada luka gigitan, ekimosis (kulit kegelapan karena darah yang terperangkap di jaringan bawah kulit).

Gejala sistemik: hipotensi, otot melemah, berkeringat, menggigil, mual, hipersalivasi (ludah bertambah banyak), muntah, nyeri kepala, pandangan kabur

1. Gigitan Elapidae (misal: ular kobra, ular weling, ular welang, ular sendok, ular anang, ular cabai, coral snakes, mambas, kraits)

- Semburan kobra pada mata dapat menimbulkan rasa sakit yang berdenyut, kaku pada kelopak mata, bengkak di sekitar mulut.

- Gambaran sakit yang berat, melepuh, dan kulit yang rusak.

- Setelah digigit ular
a. 15 menit: muncul gejala sistemik.
b. 10 jam: paralisis urat-urat di wajah, bibir, lidah, tenggorokan, sehingga sukar bicara, susah menelan, otot lemas, kelopak mata menurun, sakit kepala, kulit dingin, muntah, pandangan kabur, mati rasa di sekitar mulut. Kematian dapat terjadi dalam 24 jam.

2. Gigitan Viperidae/Crotalidae (ular: ular tanah, ular hijau, ular bandotan puspo):

- Gejala lokal timbul dalam 15 menit, atau setelah beberapa jam berupa bengkak di dekat gigitan yang menyebar ke seluruh anggota badan.

- Gejala sistemik muncul setelah 5 menit atau setelah beberapa jam.

- Keracunan berat ditandai dengan pembengkakan di atas siku dan lutut dalam waktu 2 jam atau ditandai dengan perdarahan hebat.

3. Gigitan Hydropiidae (misalnya: ular laut):

- Segera timbul sakit kepala, lidah terasa tebal, berkeringat, dan muntah.

- Setelah 30 menit sampai beberapa jam biasanya timbul kaku dan nyeri menyeluruh, dilatasi pupil, spasme otot rahang, paralisis otot, mioglobulinuria yang ditandai dengan urin warna coklat gelap (ini penting untuk diagnosis), ginjal rusak, henti jantung.

4. Gigitan Rattlesnake dan Crotalidae (misalnya: ular tanah, ular hijau, ular bandotan puspo)

- Gejala lokal: ditemukan tanda gigitan taring, pembengkakan, ekimosis, nyeri di daerah gigitan, semua ini indikasi perlunya pemberian polivalen crotalidae antivenin.

Hal yang harus anda tahu tentang ciri-ciri ular berbisa atau pun tidak
 
Ciri-ciri ular berbisa:
1. Bentuk kepala segiempat panjang
2. Gigi taring kecil
3. Bekas gigitan: luka halus berbentuk lengkungan

Ciri-ciri ular tidak berbisa:
1. Bentuk kepala segitiga
2. Dua gigi taring besar di rahang atas
3. Bekas gigitan: dua luka gigitan utama akibat gigi taring
Rasa nyeri pada gigitan ular mungkin ditimbulkan dari amin biogenik, seperti histamin dan 5-hidroksitriptamin, yang ditemukan pada Viperidae.

Sindrom kompartemen merupakan salah satu gejala khusus gigitan ular berbisa, yaitu terjadi edem (pembengkakan) pada tungkai ditandai dengan 5P: pain (nyeri), pallor (muka pucat), paresthesia (mati rasa), paralysis (kelumpuhan otot), pulselesness (denyutan).


Refenrensi:
Supriatna, J. 1981. Ular Berbisa Indonesia. Lembaga Biologi Nasional, LIPI. Jakarta: Penerbit Bharatara Karya Aksara.
Sudoyo AW, et.al. (ed.) Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi IV. 2006. FK UI. Jakarta. Hlm. 210-212.
Strorer & Usinger. 1971. Elements of Zoology. New Yor: McGraw-Hill Book Company, Inc.

1 Response to "4 Jenis gigitan ular berbisa dan gejalanya"