Efek perubahan iklim dan beberapa penyakitnya

Perubahan iklim cuaca

Tentang efek kesehatan yang disebabkan oleh perubahan iklim yang sangat bergantung dari termostat manusia, akal manusia dan lingkungannya. Sesungguhnya perubahan iklim dapat mempengaruhi kesehatan manusia secara langsung maupun tidak langsung. Terlepas dari kemampuan manusia beradaptasi dan kemampuan akal manusia, efek iklim terhadap manusia sama dengan efek iklim terhadap makhluk yang lain. Setiap makhluk memiliki rentang suhu dan kelembaban lingkungan sendiri‐sendiri yang memungkinkannya bertahan hidup, hidup subur, dan mematikan. Keunggulan manusia dari makhluk lain adalah kemampuan akalnya untuk mengubah lingkungan hidupnya. Dalam jangka pendek, memang manusia masih bisa bertahan karena kemampuan otaknya tersebut. Akan tetapi, pada suhu ekstrim tinggi atau ekstrim rendah, manusia tetap tidak mampu hidup, meskipun dibantu oleh otaknya. Selanjutnya kita akan membahas efek langsung dan efek tidak langsung perubahan iklim terhadap kesehatan manusia.

Efek langsung gelombang panas dan musim dingin
Efek langsung perubahan iklim terhadap kesehatan manusia tidaklah mudah dirumuskan. Definisi perubahan iklim dan efek langsung bervariasi. Iklim mencakup perubahan suhu permukaan bumi, yang dipengaruhi letak geografis, ketinggian, dan lingkungan biota suatu daerah. Kunci perubahan iklim adalah perubahan suhu di suatu tempat di muka bumi. Perubahan suhu tersebut mempengaruhi angin, hujan, salju, tumbuh‐tumbuhan, dan setelah itu hewan, termasuk organisme mikro. Jika kita analisis perubahan suhu permukaan salah satu bagian bumi, sebagai penyebab perubahan lainnya, maka efek yang paling langsung terhadap kesehatan masnusia adalah efek ekstrim dingin dan ekstrim panas, relatif terhadap rentang suhu yang toleransi manusia, tanpa manipulasi diri atau lingkungan.

Dalam kondisi natural, sama seperti binatang, manusia bisa bertahan pada suhu 10‐35 derajat C, tanpa kesulitan berarti. Tetapi pada suhu diatas 40 derajat C, maka sebagian manusia, khususnya anak‐anak dan orang berusia lanjut, mulai mengalami kesulitan. Suhu tinggi yang disertai kelembaban rendah menyebabkan mudahnya terjadi kekurangan air dalam tubuh (dehidrasi). Dehidrasi dapat menimbulkan berbagai gangguan fungsi temporer sampai permanen, tergantung lamanya dehidrasi terjadi. Kematian karena suhu terlalu panas (heat stroke) di kalangan jemaah haji Indonesia, yang banyak terjadi ketika musim haji jatuh di musim panas, merupakan contoh efek langsung iklim.

Ketika gelombang panas melanda Eropa, banyak kematian penduduk lanjut usia tidak terhindarkan. Seperti dikemukakan oleh Confalonieri (2007), gelombang panas yang menyerang Perancis di bulan Juli dan Agustus 2003 telah menewaskan lebih dari 14.800 orang. Kematian tersebut merupakan dampak langsung dari iklim ekstrim panas. Tidak semua orang terkena dampak langsung, meskipun ia berada di luar (tanpa mencari tempat teduh, ruang berpendingan, atau berendam di air yang lebih dingin). Status kesehatan seseorang juga menentukan dampak langsung suhu ekstrim, baik panas maupun dingin. Dalam gambar tersebut tampak bahwa suhu rata‐rata harian di musim panas selama tahun 2003 lebih tinggi dari suhu rata‐rata harian tiga tahun sebelumnya.

Jumlah mortalitas selama musim panas 2003 juga jauh lebih tinggi dari jumlah mortalitas rata‐rata pada bulan yang sama, selama periode tiga tahun sebelumnya. Suhu rata‐rata antara tanggal 9‐14 Agustus 2003 naik dari rata‐rata diantara 20‐25 derajat C menjadi diatas 30 derajat C. Tidak terlalu tinggi untuk ukuran orang Indonesia, apalagi orang di sahara, tetapi suhu tersebut lebih tinggi sekitar 10 derajat C dari suhu rata‐rata tiga tahun sebelumnya. Tetapi jumlah mortalitas naik dari rata‐rata 50 orang per hari menjadi sekitar 300 (enam kali lipat) pada suhu tertinggi bulan itu. Hal ini menunjukkan bahwa adaptasi tubuh manusia tergantung dari kondisi sebelumnya.

Manusia bisa beradaptasi secara evolutif terhadap perubahan suhu permukaan bumi. Untuk penduduk yang hidup di gurun sahara, suhu setinggi itu tidak menimbulkan morbitas, apalagi mortalitas. Selain suhu ekstrim panas, suhu ekstrim dingin juga menyebabkan morbiditas dan mortalitas tinggi. Di negara‐negara empat musim, penduduk yang tidak memiliki rumah atau penduduk yang karena miskin tidak memiliki rumah dan pemanas yang memadai mengalami berbagai penyakit yang dapat mematikan. Efek langsung suhu dingin sering terjadi pada orang‐orang yang terjebak di salju untuk waktu beberapa lama. Jika di suhu panas terjadi heat stroke, di suhu dingin terjadi frozen bite. Manusia juga mati kedinginan karena sirkulasi darah ke otak, khususnya, terhambat. Hambatan sirkulasi darah ke anggota badan, karena otot‐otot membeku dan aliran darah terhambat menyebabkan nekrosis, jaringan di anggota badan mati. Apabila hal tersebut berlangsung lama, maka keadaan tidak bisa dipulihkan. Apabila jantung dan otak masih berfungsi, orang tersebut harus menjalani amputasi.

Efek tidak langsung: Penyakit menular
Efek tidak langsung dari iklim jauh lebih banyak dan lebih sulit dihitung kerugian ekonominya. Banyak faktor penyulit atau penyerta yang juga turut menentukan efek iklim tidak langsung terhadap manusia. Badai Sidr yang terjadi di Bangladesh bulan November 2007 telah merenggut korban jiwa lebih dari 2.000 orang dan ratusan ribu orang lain menderita berbagai penyakit kulit, saluran pencernaan, dan kekurangan makanan. Jelas, topan dan badai terjadi akibat perbedaan suhu di permukaan bumi. Tetapi orang lebih mudah melihat dampak bencana alam ini terhadap kehidupan manusia secara keseluruhan. Yang paling banyak diungkap terutama adalah kehilangan tempat tinggal, kesulitan makan, dan baru terjadi gangguan kesehatan. Sulit sekali menentukan sebab langsung badai terhadap kesehatan.

Tetapi yang pasti, setiap terjadi bencana alam, bukan hanya karena perubahan iklim, tetapi termasuk bencana akibat gempa atau kebakaran, dua bantuan utama dikirimkan yaitu makanan dan kesehatan. Meskipun demikian, asosiasi orang dalam menilai bencana banjir, topan, dan gelombang panas yang menimbulkan kebakaran hutan bukanlah efek iklim terhadap kesehatan. Dalam hubungan ini, efek iklim terhadap kesehatan manusia umumnya dinilai jauh. Musim panas yang berkepanjangan menyebabkan petani tidak bisa menanam bahan makanan. Hal ini berakibat suplai makanan lokal berkurang sampai terjadi kelaparan. Aspek keamanan pangan, food security, juga terkait dengan perubahan iklim dan pada akhirnya menimbulkan masalah kesehatan. Masukan makanan yang kurang atau tidak seimbang mengganggu fungi‐fungsi tubuh, menurunkan kekebalan tubuh, dan pada anak‐anak dapat menimbulkan kretinisme bahkan perkembangan kecerdasan yang rendah yang permanen. Tetapi, lagi‐lagi, hal ini biasanya tidak dipandang sebagai hubungan iklim terhadap kesehatan.

Akan tetapi, sesungguhnya efek iklim terhadap kesehatan secara tidak langsung sudah dikenal sejak lama. Kita mengenal siklus demam berdarah yang terkait dengan musim hujan. Begitu juga dengan serangan influenza, malaria, diare, tifus dan sebagainya. Penyakit‐penyakit tersebut berhubungan dengan perubahan iklim melalui perubahan kehidupan vektor atau bahan‐bahan transmisi penyebab penyakit.

Sesungguhnya banyak penyakit yang berhubungan dengan cuaca, baik langsung maupun tidak langsung. Tabel di bawah ini memperlihatkan besarnya kerugian (diukur dengan DALY, disability adjusted life years) hilangnya waktu produktif manusia (setelah dikurangi masa disabilitas) di dunia. Dalam tabel di bawah ini juga disajikan mode transmisi penyakit dan hubungannya dengan variasi cuaca. Tampak bahwa influenza menghilangkan 94 juta tahun produktif manusia di muka bumi ini. Kasus influenza ditularkan melalui udara dan kejadiannya bervariasi dengan variasi cuaca. Sensitifitas penyakit ini terhadap cuaca bisa jadi berubah, menjadi tambah banyak atau tambah sedikit, dengan pemanasan global.

Inilah beberapa penyakit yang berkaitan dengan cuaca
  • Influenza
  • Kolera
  • Malaria 
  • TBC
  • Meningitis 
  • DBD 
  • Ensefalitis Jepang
Secara ringkas, berbagai literatur dan studi yang telah dilakukan oleh para ahli, baik di tingkat universitas, pemerintah, maupun lembaga internasional seperti WHO telah membuktikan bahwa banyak penyakit yang berkaitan erat dengan iklim. Kejadian sakit dapat dipengaruhi iklim secara langsung, seperti heat stroke, dapat juga dipengaruhi oleh perkembangan vektor pembawa penyakit atau kondisi sosial ekonomi yang berubah. Banjir dan kekeringan berkaitan dengan suplai air bersih dan bahan makanan, yang pada gilirannya mempengarhui juga kesehatan manusia. Dampak terberat dari pengaruh kesehatan adalah kematian. Tabel di bawah ini meringkas berbagai hubungan iklim dan kesehatan.

Dampak Kesehatan dan Efek yang Telah Diketahui Berhubungan dengan Cuaca/Iklim

Dampak kesehatan:
1. Mortalitas karena gangguan Kardiovaskular, pernafasan, dan stroke.
2. Rinitis Alergika, Alergi hidung.
3. Kematian dan rudapaksa (injuries).
4. Penyakit menular dan gangguan mental.
5. Kelaparan, gangguan gizi, diare, dan penyakit saluran pernafasan.
6. Penyakit menular melalui nyamuk, roden, dan tungau (malaria, Demam Berdarah, Elepantiasis, dll).
7. Penyakit menular melalui air dan makanan

Efek, sesuai nomor yang di atas
1. Kenaikan mortalitas ringan selama gelombang panas Hubungan berbentuk hurup V dan J antara kenaikan suhu dan kematian penduduk Kematian karena heat stroke meningkat selama terjadi gelombang panas Cuaca mempengaruhi konsentrasi polutan berbahaya.
2. Cuaca mempengaruhi insiden alergik musiman dan produksi aeroalergen.
3. Banjir, tanah longsor, dan badai menimbulkan rudapaksa dan kematian langsung.
4. Banjir memutus suplai air bersih dan merusak sistem sanitasi dan mungkin merusak jaringan transportasi yang pada akhirnya membahayakan kesehatan Banjir memungkinkan tumbuhnya tempat‐tempat pembiakan vektor dan menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) Banjir meningkatkan gangguan stress.
5. Kekeringan mengurangi persediaan air dan higiene yang menimbulkan banyak masalah kesehatan
Kekeringan juga meningkatkan risiko kebakaran hutan yang menimbulkan polusi dan kekurangan pangan.
6. Suhu tinggi memperpendak perkembangan patogen di dalam tubuh vektor dan mempercepat transmisi ke manusia Setiap vektor memiliki suhu optimum untuk pertumbuhan vektor dan bahan patogen.
7. Suhu mempengaruhi pertumbuhan kuman di dalam makanan dan air serte memudahkan penularan ke manusia. Suhu juga mempengaruhi ketersediaan air dan makanan, yang apabila jumlahnya terbatas, risiko penularan semakin besar. Iklim ekstrim juga dapat mencemari sumber air bersih.


Referensi:
McMichael AJ. Dkk. Global climate change. Dalam Comparative Quantification of Health Risks.
Memeograf, 2007.

Kovats. R.S dkk. Climate Change And Human Health: Impact And Adaptation. WHO. Geneva, 2000.
Confalonieri, U., B. Menne, R. Akhtar, K.L. Ebi, M. Hauengue, R.S. Kovats, B. Revich and A. Woodward, 2007: Human health. Climate Change 2007: Impacts, Adaptation and Vulnerability. Contribution of Working Group II to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change, M.L. Parry, O.F. Canziani, J.P. Palutikof, P.J. van der Linden and C.E. Hanson, Eds.,Cambridge University Press, Cambridge, UK, 391‐431

0 Response to "Efek perubahan iklim dan beberapa penyakitnya"

Posting Komentar