Sejarah dan sains air laut di planet bumi

Laut indah

Laut adalah awal kehidupan
Tanpa laut, tidak akan ada kehidupan di bumi menurut pendapat beberapa ahli. Temuan para peneliti menghasilkan beberapa teori tentang awal kehidupan di bumi. Beberapa juta tahun lalu, kehidupan diduga dimulai dari bawah laut (air), dari wilayah laut dangkal atau laut dalam (hydrothermal vent). Mahkluk hidup kemudian berkembang, mencapai pinggir laut, dan mencari jalan sendiri ke arah darat. Jika teori ini benar, ialah sangat menakjubkan bahwa semua mahkluk hidup di darat maupun di laut, yang ada saat ini, berasal dari laut. Pandangan tersebut di atas tidak bermaksud untuk mengundang debat diantara pembaca dan pengguna tentang awal kehidupan.

Namun, paling tidak, kita diajak untuk mulai melihat dan memahami laut secara lebih mendalam. Bagi sebagian besar dari kita, laut ialah tempat yang indah, menakjubkan, sekaligus menakutkan, dan pada saat yang sama tidak kita mengerti. Alasannya bisa kita mengerti, atau bahkan sangat jelas kita tidak bisa melihat ke dalam laut sejauh yang kita inginkan. Kita perlu menyelam ke dalam laut. Karena keterbatasan fisik, kita hanya mampu menyelam sampai pada kedalaman tertentu dan dalam periode waktu tertentu. Kita hanya tahu laut di bagian pinggir, sangat sedikit dari sebegitu luasnya lautan. Itu pun kita lakukan dengan resiko kecelakaan yang relatif tinggi – keracunan nitrogen, tekanan hidrostatik yang bisa menyebabkan pecahnya pembuluh darah dan kelumpuhan, kalau tidak hati-hati atau melewati batas kemampuan fisik manusia.

Penampakan fotografi planet bumi dari udara menunjukkan warna dominan biru. Warna biru ini terjadi karena warna laut yang menutupi hampir 71% dari permukaan planet bumi. Walaupun sangat luas, para ahli ternyata lebih tertarik untuk mempelajari bulan dibanding laut. Mereka lebih memahami permukaan bulan dibandingkan dasar laut. Permukaan bulan bisa terlihat dari bumi (dengan menggunakan paralatan bantu khusus). Sedangkan dasar laut tertutupi oleh kegelapan dan menyimpan misteri bagi manusia. Laut tidak mempunyai batas yang jelas. Pengembara di darat tidak pernah kehilangan arah karena mengenal tanda-tanda darat (landmark). Mereka tidak akan mengalami dis-orientasi. Di laut, tidak ada istilah landmark sehingga pelaut harus mencari tandatanda alam agar tidak kehilangan arah. Kalau permukaan laut saja kita tidak kenal, apalagi dasar laut. Sangat ironis kalau kita menyebut diri memahami laut lebih dari pemahaman kita terhadap permukaan bulan.

Sejarah tentang air laut pada zaman dulu 
Pada abad pertengahan, bangsa Yunani konon memperkenalkan istilah Okeanos, yang selanjutnya secara global disebut Ocean. Kata ocean, pada beberapa teks di Indonesia, umumnya diartikan sebagai Laut, dan pada teks ini kita akan selalu menggunakan istilah tersebut. Pada bagian lain kita juga akan menemukan istilah Sea dan Marine, yang juga diartikan sebagai laut. Istilah marine digunakan sebagai lawan kata dari terrestrial, diterjemahkan sebagai daratan – Marine Fisheries misalnya, ialah istilah yang menjelaskan kegiatan penangkapan ikan di laut; sebagai antipodal dari Inland Fisheries, ialah perikanan tangkap di perairan umum (air tawar). Jelasnya, kata sea dan marine ialah sinonim dari ocean, artinya laut. Kata Ocean, pada bagian lain, juga digunakan untuk menjelaskan pemisahan laut menjadi bagian lebih kecil, menunjukkan karakteristik tertentu. Pada arti yang berbeda ini kita sudah menyiapkan istilah Samudera.

Bangsa Yunani membayangkan laut sebagai sebuah sungai besar yang mengelilingi bumi. Definisi ini tentu saja masih belum lengkap, dari pandangan manusia modern saat ini. Namun, munculnya istilah okeanos, harus diakui sebagai kemajuan besar untuk mulai melihat, mempelajari dan memahami peranan Laut pada kehidupan manusia. Sebagai mahluk yang hidup di darat, pengetahuan kita pada Laut, secara umum, harus kita akui masih sangat terbatas. Seorang ahli dan praktisi bidang kelautan, Roberts Callum, memperkirakan kita baru memahami rahasia laut sekitar 2% dari pengetahuan sesungguhnya. Jumlah spesies laut yang diketahui dalam catatan ilmiah, jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah temuan spesies yang ada di darat. Sementara, teori yang cukup kuat menyatakan bahwa kehidupan di bumi dimulai dari Laut.

Sains tentang laut
Laut ialah seluruh badan air asin yang saling berhubungan dan menutupi 70% (tepatnya 70,78%) dari permukaan bumi. Jumlah ini tidak termasuk Danau Asin (Salt Lake) yang tidak dinyatakan sebagai laut, berdasarkan definisi di atas. Air pada permukaan bumi, dengan demikian, bisa dibedakan berdasarkan tempatnya, ialah: air laut dan badan air yang ada di darat, selain Laut. Dari total badan air yang menutupi permukaan bumi, 97% ialah air laut. Hanya sekitar 3% air di bumi yang bukan air laut. Citra (image) dari satelit terhadap planet bumi memperlihatkan warna dominan biru. Laut lebih banyak menyerap spektrum cahaya selain biru; spektrum warna biru akan dipantulkan dan tertangkap oleh citra satelit, yang menunjukkan identitas laut. Dari sisi luas permukaan, laut jelas sangat dominan, namun kita tampaknya belum menghargai laut sebagai mana mestinya. Kita mempergunakan istilah planet bumi, bukan planet laut, dalam peradaban dan perkembangan pengetahuan manusia.

Secara geografis, manusia membagi wilayah laut menjadi empat bagian kecil, masing-masing diberi identitas sebagai Ocean, kita terjemahkan sebagai samudera: Samudera Atlantic(k), Samudera Hindia (menjelaskan istilah Indian Ocean), Samudera Pasific(k) dan Samudera Artic(k). Samudera Pasifik, pada beberapa teks, juga dipisahkan dengan Samudera Antartik sehingga total menjadi lima samudera. Samudera Pasifik ialah yang paling luas (50,1% dari luas laut), diikuti oleh Samudera Atlantik (26,0%), Samudera Hindia (20,5%) dan Samudera Artik (3,4%). Di darat, kita mengenal istilah continent, diartikan sebagai benua, ialah daratan luas yang diskret dan idealnya, masing-masing dipisahkan oleh laut. Berdasarkan kebiasaan atau konvensi (bukan kriteria baku), kita mengenal tujuh benua, ialah: Asia, Afrika, Amerika Utara, Amerika Selatan, Antartik(a), Eropa dan Australia.
 
Pada catatan ini, kita bisa melihat bahwa istilah benua dan samudera bisa saling dipertukarkan. Pada beberapa teks, istilah continent (benua) dibuat untuk menunjukkan kondisi antipodal (berlawanan) –Benua Eropa ialah antipodal dari Benua Australia. FAO (Food and Agriculture Organization) dari PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa), membagi wilayah perikanan menjadi tiga bagian besar, ialah: Perikanan Samudera Pasifik, Samudera Hindia dan Samudera Atlantik. Masing-masing wilayah samudera dibagi lagi menjadi sub-wilayah yang lebih kecil. Karena dibuat berdasarkan konvensi, dan dibuat untuk memudahkan pemahaman masing-masing bidang kajian, perbedaan antara istilah samudera dan benua tidak perlu diperdebatkan lebih lanjut.

Samudera sering digambarkan sebagai badan air asin yang kontinyu, mengelilingi benua atau continent. Masing-masing samudera mempunyai wilayah yang lebih dangkal, yang berbeda dengan wilayah di sekitarnya secara fisik, kimiawi maupun biologis. Masing-masing wilayah bagian ini disebut sea atau laut. Ahli-ahli geografi membuat definisi, laut (sea) ialah: pemisahan wilayah samudera menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, masing-masing, sebagian atau seluruhnya dipisahkan oleh daratan. Berdasarkan definisi ini, paling tidak teridentifikasi terdapat 50 laut (seas) di dunia – Laut Arafura, Laut Flores, Laut Jawa atau Laut Timor ialah ekspresi dari penjelasan istilah laut sebagai bagian dari samudera.

Berdasarkan kebiasaan, planet bumi (bukan planet laut) dibedakan menjadi dua belahan bumi atau hemisphere, ialah: belahan bumi utara (northern hemisphere) dan belahan bumi selatan (southern hemisphere). Jika planet bumi dibelah pada bagian tengah, ialah equator, setengah bumi bagian atas disebut northern hemisphere, dan sebaliknya, southern hemisphere. Melalui pembagian ini, ditunjukkan bahwa lebih dari 70% daratan terletak pada belahan bumi utara dan dihuni oleh sekitar 90% penduduk dunia. Sebaliknya, lebih dari 80% belahan bumi selatan ditutupi oleh laut, dan dihuni hanya oleh 10% penduduk dunia. Dengan cara yang sama, planet bumi juga bisa dibedakan menjadi belahan timur (eastern hemisphere) dan barat (western hemisphere). Namun kita sangat jarang menemukan pemisahan ini pada naskah ilmiah untuk tujuan spesifik.

Ketika seseorang menyelam ke dalam air laut, tekanan air laut di sekitar kita, disebut tekanan hidrostatik, akan meningkat. Tekanan hidrostatik ditentukan oleh pengaruh berat air yang ada di atas kita – tekanan air laut biasanya diukur dalam satuan atmosphere; 1 atmosphere (atm) ialah tekanan udara pada permukaan air laut. Tekanan air laut meningkat 1 atm untuk setiap peningkatan kedalaman 10 m. Rata-rata kedalaman air laut ialah 3.798 m (di bawah permukaan air laut). Tekanan hidrostatik pada kedalaman tersebut ialah setara dengan 388 atm. Palung laut, terjemahan dari istilah trench, ialah bagian terdalam dari laut, sempit dan panjang (bisa mencapai ribuan km). Palung laut terdalam, terdapat di Samudera Pasifik, disebut Mariana Trench, mencapai kedalaman 11.033 m. Tekanan hidrostatik pada kedalaman tersebut mencapai 1.070 atm. Tanpa alat bantu khusus, manusia tidak akan pernah mencapai dasar pada palung laut Mariana. Sebagai pembanding, lembah terdalam di darat ialah Hell Canyon yang terletak di Oregon, Amerika. Lembah tersebut mencapai kedalaman maksimum 2.400 m. Lembah terdalam di laut ialah 4,6x lebih dalam dibandingkan hal yang sama terdapat di darat.

Dasar laut, pada beberapa tempat, mempunyai topografi yang bergelombang seperti di darat. Laut juga mempunyai Sea Mount, atau Gunung Laut, sebagian diantaranya tercatat masih aktif. Beberapa gunung laut tidak terlihat karena berada di dalam laut. Sebagian lagi, gunung laut sudah muncul ke permukaan darat. Gunung tertinggi, yang muncul dari dasar laut ialah Gunung Mauna Kea, ditemukan di Hawai. Tinggi gunung Mauna Kea mencapai 10.200 m dari dasar laut. Gunung tertinggi di darat ialah Mount Everest, mencapai 8.848 m dari atas permukaan laut. Lembah terdalam, gunung tertinggi ternyata ada di laut, bukan di darat.

Suhu air laut berbeda dan bervariasi dari satu lokasi ke lokasi lain, tergantung pada kedalaman dan posisi lokasi (pada lintang bumi). Suhu air laguna dangkal yang terisolasi bisa mencapai 37 °C, pada siang hari. Suhu air laut akan berubah berdasarkan jauhnya jarak dari equator. Suhu air laut di sekitar equator (diwakili oleh Indonesia) ialah antara 24 – 29 °C. Suhu air pada daerah kutub ialah antara 0 – 4 °C. Sekitar 87% air laut mempunyai rata-rata suhu 4,40 °C. Thermocline ialah istilah untuk menjelaskan suatu wilayah pada kedalaman air laut, dengan perbedaan suhu yang tinggi. Semakin jauh ke dalam, suhu air laut menurun secara bertahap atau perlahan. Pada thermocline, penurunan suhu terjadi secara drastis dibanding wilayah di atas maupun di bawahnya. Thermocline bisa bersifat permanen atau musiman. Thermocline permanen terjadi ketika air laut di kutub, yang dingin, bergerak ke arah equator dan berada di bagian bawah. Thermocline musiman disebabkan oleh pengaruh sinar matahari. Ketika suhu air permukaan cukup dingin, secara mendadak dia turun ke bawah dan kondisi thermocline menghilang.


Referensi:
Allaby, M., 2009. Oceans: A Scientific History of Oceans and Marine Life. New York, USA, Facts on File.
Lee, G., & J. Stokes, 2006. Marine Science: An Illustrated Guide to Science. New York, USA, Chelsea House.

0 Response to "Sejarah dan sains air laut di planet bumi"

Posting Komentar