Waspada, risiko kesehatan akibat perubahan iklim

Perubahan iklim cuaca

Berbagai pemantauan iklim di dunia telah menunjukkan bahwa rata‐rata suhu permukaan bumi dalam tiga dekade terakhir mengalami kenaikan yang siginifkan dibandingkan dengan ratarata suhu permukaan bumi dua abad terakhir. Menyajikan data perbedaan ratarata selisih suhu bumi yang sejak tahun 1980 terus naik dibandingkan rata‐rata suhu selama 30 tahun, yaitu 1961‐1990. Apa artinya, di seluruh dunia, manusia akan menghadapi perubahan lingkungan hidupnya, karena perubahan suhu mempengaruhi banyak hal. Jika tren kenaikan suhu tersebut terus dibiarkan, sebagaimana yang disajikan AlGore dalam film Climate Change, manusia akan punah di muka bumi.

Mengapa kita takut punah? Bukankah semua agama samawi mengajarkan bahwa suatu ketika dunia akan sangat panas dan tidak ada lagi manusia yang bisa hidup atau meminta pertolongan dari manusia lain. Itulah Kiamat!. Doomsday!. Armagedon! Mengapa kita harus khawatir? Bukankah hal itu memang sudah merupakan takdir Tuhan. Alam ini tidak kekal. Bukan manusia yang mengatur. Tuhan sudah mengatur segalanya. 

Bukankah kenaikan suhu juga dapat disebabkan karena suhu permukaan matahari yang semakin tinggi? Apa yang bisa diperbuat manusia? Beribu pertanyaan dapat kita sebarkan. Tetapi, yang jelas, manusia telah diberi instink dan juga diajarkan oleh agama untuk mencegah kemunkaran. Mencegah terjadinya sesuatu yang merusak atau membahayakan manusia dan makhluk lainnya di muka bumi ini. Takdir hanya terjadi, jika segala usaha maksimal manusia tidak membuahkan hasil. Itulah barangkali Takdir kiamat manusia.

Betul, bagaikan juga dinosaurus yang pernah merajai dunia, manusia yang kini menguasai dunia akan punah suatu masa. Dinosaurus punah karena, menurut teori, terjadi perubahan iklim akibat bumi tertimpa meteor besar yang mengubah iklim bumi. Kekuasaan manusia di bumi juga akan berakhir karena bumi sudah tidak lagi memenuhi iklim yang dapat ditolerir oleh spesies manusia. 

Hanya saja, berbeda dengan dinosaurus, kenaikan iklim di bumi kini disebabkan oleh manusia. Cilakanya, efeknya bukan saja musnahnya manusia, tetapi musnahnya juga jutaan spesies makhluk hidup lain. Bermasalah? Sebelum ada manusia, bumi juga kosong, karena iklim di bumi tidak tidak memungkinkan makhluk bisa hidup. Begitu juga di beberapa planet lain, perbedaan temperatur siang malam yang sangat besar menyebabkan makhluk yang kita kenal di bumi tidak bisa hidup.

Kemungkin pertama adalah terjadinya kenaikan rata‐rata suhu bumi bergeser menjadi lebih panas secara merata. Suhu terendah bergeser semakin panas, suhu tertinggi juga bergeser semakin panas. Skenario kedua, kenaikan varian suhu di bumi. Rata‐rata suhu bumi tetap, tidak banyak perubahan akan tetapi variasi suhu panas‐dingin semakin lebar. Kadang terjadi suhu ekstrim panas dan terjadi suhu ekstrim kiri. Kita telah mengenal El Nino dan La Nina. Suhu panas menyebabkan semakin banyak uap air di udara yang menyebabkan tingginya curah hujan di salah satu bagian bumi. Turunnya hujan atau salju yang sering atau lebih banyak menimbulkan suhu lebih dingin di bagian bumi tersebut.

Penduduk di sebagian belahan bumi, seperti di Mongolia sudah terbiasa dengan suhu ekstrim, minus 40 0C di musim dingin dan plus 45 derajat Celcius di musim panas. Kita di Indonesia tidak pernah mengalami suhu ekstrim. Kini hidup di dunia yang amat menyenangkan, yang di negara‐negara utara atau selatan dikenal sebagai suhu musim panas yang selalu hangat. Suhu di Indonesia bervariasi hanya antara 18‐35 derajat celcius. 

Jangan heran, jika kita menjadi pemalas dan senang relaks terus. Memang, mereka yang biasa hidup di empat musim sangat menantikan musim panas yang hangat dan mereka menghabiskan libur panjang di musim panas. Karena kita selalu berada di musim panas, maka kita selalu “libur”. Akibatnya produktifitas kita rendah. Skenario ketiga adalah kombinasi kenaikan rata‐rata yang seragam, shift to the right, dan kenaikan varians suhu di bumi. Kombinasi ini tentu saja mengharuskan manusia beradaptasi dengan lingkungan suhu yang baru.

Bagaimana kita beradaptasi? Kita tidak perlu khawatir. Tuhan telah melengkapi diri kita dengan termo‐regulator dan termo‐adaptor. Akan tetapi, seperti juga termostat di mobil kita, termostat di tubuh kita juga mempunyai batas kerja. Pada suhu tertentu, termostat akan rusak dan jika hal itu terjadi, seluruh tubuh kita tidak bisa menangkap sensor panas dan karenanya tidak beradaptasi. Mempelajari pengalaman selama ini, di beberapa belahan bumi, seperti di Timur Tengah, penduduk sudah biasa hidup pada suhu 50‐55 derajat celcius di musim panas. Mereka masih mampu beradaptasi. Begitu juga penduduk di Alaska dan di lingkaran kutub sudah biasa juga hidup pada suhu ‐40 derajat celcius di musim dingin. Jika saja suhu terpanas rata‐rata di Indonesia naik dari kini sekitar 35 derajat celcius menjadi 50 derajat celcius, kita masih bisa beradaptasi. Namun demikian, lingkungan hidup kita, pohon dan binatang, juga beradaptasi.

Mungkin banyak pohon yang menjadi sumber kehidupan kita akan mati atau tidak produktif lagi. Kita akan kesulitan bahan makanan produksi dalam negeri, sebagaimana orang‐orang yang hidup di gurun harus mengimpor sayuran dan buah‐buahan segara dari negara lain. Mungkin kita akan memproduksi korma. Tetapi bagaimana dengan mereka yang kini hidup di suhu 50‐55 0C maksimum. Jika suhu rata‐rata naik sampai 10‐15 derajat celcius terjadi juga di sana, maka di musim panas mereka tidak bisa keluar. Diperlukan banyak mesin pendingin di musim panas. 

Bukti empirik menunjukan bahwa tubuh manusia masih bisa beradaptasi. Lebih dari itu, akal kita bekerja lebih canggih untuk mencari pakaian dan menciptakan mesin‐mesin yang bisa mengubah suhu rumah, kantor, bahkan mungkin pertanian. Tidak ada masalah. Tetapi, mungkin banyak kuman dan vektor penyakit yang bermutasi sehingga menimbulkan masalah baru. Kita belum tahu. Bisa jadi, kenaikan rata‐rata suhu bumi 5‐15 derajat celcius merata atau varians yang naik akan menimbulkan penyakit baru. Mungkin akan kita temui penyakit malaria di Inggris, Rusia, atau Kanada. Sebaliknya, kita mungkin akan banyak menemui penyakit yang kini banyak terjadi di Timur Tengah. Mungkin juga lingkungan hidup kita akan mirip dengan lingkungan hidup di gurun sahara.

Jadi, efek langsung iklim terhadap kesehatan manusia mungkin tidak terlalu banyak, karena kemampuan manusia beradaptasi baik oleh dirinya sendiri karena adanya termostat yang baik. Mungkin juga manusia bisa beradaptasi dengan menggunakan akalnya, sehingga manusia bisa tetap hidup untuk suatu periode perubahan suhu rata‐rata sampai pada suhu maksimum yang kini terjadi di beberapa belahan bumi. 

Tetapi, efek iklim terhadap kesehatan manusia dipengaruhi banyak faktor lain, khususnya perubahan yang terjadi pada binatang dan tumbuhan pembawa atau penyebab penyakit. Termasuk perubahan terhadap virus, bakteri, dan parasit yang selama ini menjadi agen penyakit. Maka kita harus bekerja keras menemukan penyebab penyakit dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.


Referensi
Kuhn dkk. Using climate to predict infectious disease epidemics / Communicable Diseases Surveillance and Response, Protection of the Human Environment, Roll Back Malaria., WHO Geveva, 2005
Kovats. R.S dkk. Climate Change And Human Health: Impact And Adaptation. WHO. Geneva, 2000

0 Response to "Waspada, risiko kesehatan akibat perubahan iklim"

Posting Komentar