Kamis, 24 Agustus 2017

Waspadalah, bahaya fluoride dalam pasta gigi

Bahaya fluorida
Fluorida merupakan unsur kimia yang ditemukan secara alami di tanah dan air, biasanya ditambahkan ke pasokan air minum, berbagai produk gigi, pasta gigi dan larutan kumur untuk mencegah kerusakan gigi. Fluorida telah menjadi salah satu bahaya lingkungan dan mempunyai dampak yang signifikan pada kesehatan manusia. Pada konsentrasi yang lebih tinggi (> 1,5 mg/L) fluorida dapat menyebabkan fluorosis.

Fluorida telah ditemukan dapat menembus sawar darah otak dan dengan mudah berakumulasi dalam jaringan otak. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan pada otak dan sel-sel saraf karena mampu menginduksi eksitotoksisitas dan stres oksidatif, sehingga menyebabkan apoptosis sel. Paparan fluorida dalam jangka waktu lama dan konsentrasi tinggi menyebabkan perubahan patologis jaringan dan organ, terutama gigi, tulang, struktur dan fungsi otot rangka, sumsum tulang belakang, dan otak. Kerusakan pada sel Purkinje cerebellum dapat mengakibatkan gangguan koordinasi motorik.

Masalah yang banyak diderita oleh sebagian besar masyarakat di dunia ini adalah penyakit gigi dan mulut, secara umum penyakit yang banyak di keluhkan oleh masyarakat adalah karies dan kerusakan jaringan periodontal, karies banyak dijumpai pada kehidupan manusia modern karena dikaitkan dengan pola hidupnya sehari-hari seperti pola makan dengan makanan olahan yang lebih mudah melekat pada permukaan gigi yang tidak bersifat self cleansing (membersihkan gigi), self cleansing berfungsi untuk membilas plak yang melekat di gigi.

Kesehatan gigi dan mulut merupakan hal yang sangat penting bagi kita semua. Terutama pada masa pertumbuhan anak-anak. Upaya utama dalam pemeliharaan kesehatan gigi anak adalah menyikat gigi. Oleh karena itu, orangtua sebagai figur terdekat hendaknya dapat memperhatikan hal-hal yang dapat menarik minat anak untuk menyikat gigi seperti pemilihan pasta gigi yang sesuai.

Pasta gigi yang mengandung fluorida menjadi pilihan karena dapat memperbaiki dan mempertahankan struktur gigi resisten terhadap kerusakan dan pembusukan serta merangsang remineralisasi, sehingga kerusakan dan pembusukan gigi bisa diatasi lebih cepat.

Jenis fluorida yang paling banyak digunakan dalam pasta gigi adalah jenis sodium monofluoro fosfat (MFP) dan sodium fluoride (NaF), di Indonesia, kandungan fluorida pada pasta gigi anak ternyata cukup besar, yaitu antara 800-1500 ppm (setara dengan 1,086 mg MFP/ml atau 1,085 mg NaF/ml). Padahal di beberapa negara, batas maksimal kandungan fluorida mulai dikurangi. Contohnya, di negara Eropa, Australia, dan New Zealand kandungan fluoride berkisar 250-500 ppm. Berdasar penelitian, orang dewasa menggunakan 0,30 gr pasta gigi sekali pakai dan anak-anak sepertiganya.

Menurut salah satu penelitian, diperkirakan 25-38% anak menelan pasta gigi sewaktu menyikat gigi. 5 Pasta gigi anak dianjurkan mengandung fluorida di bawah 500 ppm atau <0,5 mg/g pasta ( 1 gram pasta setara dengan 12 mm pasta gigi). Fluorida bila dicerna dalam kadar yang tinggi dapat menyebabkan fluorosis. Salah satu gejala masalah kesehatan ini adalah perubahan warna pada gigi, di mana gigi berubah warna dari putih, menjadi kuning, cokelat, lalu akhirnya hitam. Bila terjadi berkepanjangan, fluorosis bisa berujung pada masalah kesehatan lain yang lebih serius.

Gejala awal keracunan fluorida termasuk gangguan pencernaan, mual, muntah, dan sakit kepala. Dosis minimal yang dapat menghasilkan gejala ini diperkirakan 0.1 sampai 0.3 mg / kg fluorida (yaitu, 0.1 sampai 0.3 miligram fluoride untuk setiap kilogram berat badan).

Gejala keracunan fluorida akut hampir sama dengan penyakit umum lainnya (misalnya, sakit perut, mual, flu), 80 % insiden keracunan fluorida terjadi pada anak usia 6 tahun dengan kadar fluorida 5mg/kgBB. Sebagaimana dicatat dalam Journal of Public Health Dentistry : "Memperkirakan kejadian eksposur fluorida beracun nasional juga diperumit oleh adanya bias. Orang tua atau pengasuh mungkin tidak menyadari gejala yang terkait dengan toksisitas fluorida ringan seperti kolik atau gastroenteritis, terutama jika mereka tidak melihat anak menelan fluorida. 

Demikian pula, karena sifat spesifik dari gejala ringan sampai sedang, dokter tidak mungkin untuk memasukkan toksisitas fluorida tanpa riwayat konsumsi fluorida."  Meskipun insiden kejadian tertelan nya pasta gigi pada anak banyak yang tidak terdiagnosis, jumlah laporan ke Poison Control Center di AS mengalami peningkatan sejak Food and Drugs Administration (FDA) mengeluarkan peringatan bahaya racun Flourida. Memang, di awal 1990-an (sebelum peringatan FDA), ada sekitar 1.000 laporan keracunan setiap tahun dari pasta gigi fluoride. Saat ini, terdapat peningkatan 20 kali lipat sejak FDA menambahkan peringatan.

Pantas saja zaman sekarang banyak penyakit yang aneh-aneh dibandingkan zaman dulu. Orang-orang harus sadar mengenai hal ini, karena efeknya dalam jangka waktu yang lama. Direkomendasikan jika menggunakan pasta gigi lebih baik yang herbal dan air minum pun diusahakan jangan mengandung fluorida. Jika makan, direkomendasikan makanan yang alami agar tetap sehat.


Referensi:
Committee on Fluoride in Drinking Water. Fluoride in drinking water . National Research Council. 2006.
Easmann, R.P., D.E. Steflik, D.H. Pashley, R.V. McKinney, and G.M. Whitford. 1984. Surface changes in rat gastric mucosa induced by sodium fluoride: A scanning electron micron.
Shulman JD, Wells LM.Acute fluoride toxicity from ingesting home-use dental products in children, birth to 6 years of age. Journal of PublicHealth Dentistry 57: 150-8.. Journal of Public Health Kedokteran Gigi 57: 150-8.1997

Tidak ada komentar:

Posting Komentar