Fakta akan pencemaran air harus anda tahu

Pencemaran air

Seperti yang juga mungkin anda tahu bahwa air adalah salah satu dari sekian banyak zat yang ada di alam yang begitu penting bagi kita manusia. Bahkan menurut saya, air menduduki urutan kedua sebagai zat penting setelah oksigen. Kalau oksigen, kita sebagai manusia mungkin hanya punya waktu beberapa menit sebelum mengucapkan selamat tinggal dunia. Air yang saya tempatkan sebagai urutan kedua, kita manusia masih punya waktu hidup beberapa hari tanpa air sebelum kita mati kekeringan.

Dalam sebuah siklus yang disebut hidrologi, yang menjelaskan akan siklus air, pengertian sederhananya air di mana pun dia berada adalah sama, perbedaannya adalah masalah waktu saat sekelompok air itu berada pada suatu tempat tertentu dengan kondisi tingkat kemurnian tertentu.

Karena bagaimana pun juga air adalah berjalan sesuai siklus yang kurang lebih misalnya kita awali dari kumpulan milyaran kubik air di laut, karena panas matahari, menyebabkan air dipermukaan mengisi ketidakjenuhan uap air di daerah atasnya. Uap air ini karena sifat ringannya terbawa ke atas membentuk kelompok-kelompok yang kemudian membesar dan membesar menjadi segulung awan.

Karena beda tekanan dan perputaran bumi, awan ini bergerak sehingga suatu ketika bisa jadi menggumpal di atas sebuah daratan. Ketika semakin jenuh sehingga udara sudah tidak bisa lagi menampung uap air dengan kadar kandungan lebih banyak lagi, kumpulan uap air tadi lahir menjadi tetes air, sehingga jadilah hujan mengguyur daratan.

Ketika hujan mengguyur daratan semisal di atas puncak bukit, bagi bukit yang subur ditumbuhi pohon, Pohon-pohon ini seakan menjadi penghalang air untuk dengan mudah mengalir ke dataran yang lebih rendah, sehingga air lebih suka terserap masuk ke dalam lapisan tanah membentuk semacam ‘sungai’ di bawah tanah, yang sebagian disedot di pemukiman-pemukiman menjadi air sumur yang dikonsumsi untuk kebutuhan sehari-hari. Dipakai, kemudian limbahnya dalam bentuk terlarut dalam air masuk ke selokan, mengalir ke sungai dan akhirnya kembali ke laut.

Atau sebagian menempuh jalan lain, bila kebetulan hujan jatuh di daerah yang tanpa pepohonan sehingga air lebih suka untuk langsung turun ke dataran yang lebih rendah pada permukaan tanah, tanpa sempat terserap masuk ke dalam tanah. Kemudian sebagian menggenang di daerah pemukiman, menggenang menjadi danau, sebagian masuk sungai, begitu seterusnya akhirnya tetap kembali ke laut. Begitu seterusnya siklus akan tetap demikian sebagai bagian dari kesetimbangan alam.

Sampai dengan kurang lebih tiga abad yang lalu, di titik mana pun dalam siklus di atas kita menampung air, rasanya tidak akan begitu berbahaya bila kita konsumsi. Karena bila pun tercemar, cemaran yang terkandung dalam air tadi bersifat alami sehingga akan selalu dapat memberi kesempatan kepada tubuh kita untuk melakukan adaptasi.

Tapi seperti yang sudah saya ceritakan di awal, kita sekarang telah hidup di zaman industrialisasi di mana dampak limbah industri belum dapat kita kendalikan sepenuhnya. Setiap tahun berjuta ton partikel padat terlepas di udara melalui cerobong asap pabrik dan knalpot kendaraan sehingga mengkontaminasi awan yang terbentuk, sehingga hujan yang turun pun dirasa dari hari ke hari semakin tinggi derajat keasamanya.

Setiap tahun berjuta kubik limbah cair keluar dari pabrik, yang bahkan para ahli lingkungan pun terkadang tidak begitu yakin benar ketika membuat desain pengolah limbah suatu pabrik, bisa berkata bahwa limbah cair yang dibuang sudah aman.

Industrialisasi yang berdampak proses urban sehingga tumbuh konsentrasi pemukiman-pemukiman padat, terkadang mengambil air tanah melalui sumur-sumur mereka melebihi kemampuan air tanah tersebut menyediakan sediaan air yang cukup bagi kebutuhan pemukiman tersebut. Sehingga yang seharusnya sungai bawah tanah tersebut ‘mengalir’ ke laut, gangguan keseimbangan ini menyebabkan justru perembesan air laut jauh dari garis pantai. Kita dengar sekarang begitu banyak pemukiman kota besar yang sudah tidak bisa lagi langsung memasak air sumurnya karena keruh dan terasa asin.

Belum lagi industri-industri yang di dalamnya menghasilkan limbah kimia, limbah biologi atau mungkin limbah radioaktif, yang bisa saya katakan di sini tidak ada seorang pun yang berani merasa yakin dalam lubuk hati nurani mereka bahwa pengolahan yang telah mereka lakukan terhadap limbah tersebut seratus persen aman.

Ketika berabad-abad beradaban menghasilkan berbagai macam ‘hasil karya’ manusia berupa indutrialisasi, kotanisasi, semenisasi yang berdampak adanya kerusakan yang mengganggu kesetimbangan air di alam telah mengubah air yang seharusnya dengan mudah kita manfaatkan, menjadi air yang bisa jadi malah merupakan sumber penyakit bagi tubuh kita.

Benar, Air yang dengan mudah kita dapatkan di alam ini, saat ini telah tercemari limbah pabrik, resapan air laut, asap industri. Yang kemudian terkandung di dalamnya zat-zat berbahaya bagi tubuh kita yang dapat menyebabkan dari yang ringan instant seperti gatal-gatal dikulit atau timbulnya penyakit diare, maupun yang berat bersifat menimbun sehingga berakibat timbulnya potensi penyakit macam kanker.

Sebagai contoh pada tahun 2004, Jakarta telah dinobatkan menjadi kota ketiga yang memiliki kandungan cemaran udara terkotor didunia. Baik terutama dari asap kendaraan bermotor, asap pabrik, atau asap rokok. Bisa dibayangkan keadaan ini ketika kemudian turun hujan, semua cemaran yang terkandung di udara ini seolah digelontor untuk ikut larut dalam air hujan masuk ke dalam tanah menjadi air tanah. Belum lagi kemudian air tersebut bercampur dengan cemaran-cemaran lain hasil resapan limbah padat dan limbah cair. Dan air itulah yang kemudian diambil dari dalam tanah untuk dikonsumsi.

Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di kota-kota besar, yang dulu melayani masyarakat dengan air bersih, sepertinya kualitasnya semakin menurun dari tahun ke tahun. Sehingga sebagian masyarakat di perkotaan terutama lebih memilih membeli air layak konsumsi terutama untuk minum- dari pada memasak air sumur atau air dari PDAM.

Di sisi lain, sekarang banyak dijual bermacam macam jenis air minum. Dari air minum dalam kemasan dimana sudah terdapat banyak merk air minum dalam kemasan beredar di pasar Indonesia. Belum lagi sekarang bermunculan air minum dalam kemasan yang diembel-embeli kandungan oksigen. Juga banyak bermunculan depot-depot isi ulang dengan harga lebih murah per volume airnya. Bahkan sekarang muncul jenis air yang bernama air heksagonal, jenis zat apa lagi itu. Menurut berbagai informasi yang saya dapatkan bahwa air hexagonal lebih sehat dan aman dari pada air jenis lainnya.

Sehingga dalam kondisi fakta seperti ini terhadap kualitas air di sekitar kita, sudah sepantasnyalah kita harus berusaha sadar dan memperluas wawasan untuk tahu dan yakin bahwa air yang kita, keluarga kita yang kita cintai, semua umat manusia konsumsi ini adalah aman.

0 Response to "Fakta akan pencemaran air harus anda tahu"

Posting Komentar