Sabtu, 02 September 2017

Inilah efek konsumsi daging kambing berlebihan

Daging kambing

Semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya bahan pangan yang bergizi tinggi, maka kebutuhan akan bahan pangan asal ternak semakin meningkat pula. Salah satu pangan hasil ternak adalah daging kambing yang merupakan daging yang khas dalam hal bau, palatabilitas (rasa). Daging kambing banyak disukai oleh masyarakat, karena mudah didapatkan, mudah cara pengolahannya, banyak variasi masakan yang dapat dibuat, dan lebih murah jika dibandingkan dengan daging sapi atau daging merah yang lain. Daging kambing juga mempunyai kandungan nutrien yang sangat baik bagi tubuh manusia karena daging kambing mengandung zat besi, potasium dan tiamin yang cukup tinggi.

Menjelang Idul Adha, penjualan hewan kurban, semacam kambing dan sapi, memang meningkat. Namun jangan salah. Pencinta daging kambing tentu tak perlu menunggu Lebaran Haji untuk menikmati kelezatannya. Walaupun ada saja yang tak suka karena baunya yang tajam, daging kambing tetap diburu penggemarnya. Tapi segala sesuatu yang berlebihan tentu tidak baik, termasuk mengkonsumsi daging kambing. Terlebih bila Anda penderita hipertensi atau stroke. Kambing dipercaya memiliki kadar lemak yang cukup tinggi. Bila dikonsumsi terus-menerus, dapat meningkatkan kolesterol dalam tubuh, yang akan memicu berbagai penyakit.

Di Indonesia daging kambing adalah satu makanan favorit terutama sate kambing. Daging kambing yang dikonsumsi memang bisa menyebabkan tekanan darah seseorang menjadi tinggi, apalagi jika orang tersebut sudah memiliki riwayat hipertensi (tekanan darah tinggi). Naiknya tekanan darah ini kandungan kalium pada daging sapi lebih tinggi daripada daging kambing, dan kandungan natrium lebih tinggi pada daging kambing daripada daging sapi dan GFR dan aliran darah ginjal meningkat 20-30% setelah seseorang makan daging dengan protein tinggi.

Daging kambing mempunyai nilai gizi yang tinggi, berupa protein, lemak, kalori dan kalsium.Dalam hal makanan olahan daging kambing merupakan hal yang familiar dalam masyarakat karena daging kambing berasa enak dan gurih, namun konsumsi yang berlebihan dapat meningkatkan risiko terjadinya penyumbatan pembuluh darah yang akan mengakibatkan penyakit jantung dan stroke.

Kadar lemak daging kambing 50-65 persen lebih rendah daripada daging sapi. Kandungan kolesterol kambing hanya 5-39 mg per 100 gram daging. Sedangkan daging sapi 42-78 mg per 100 gram. Dari komposisi tersebut, terlihat daging kambing jauh lebih sehat. Masyarakat harus memperhatikan bahwa yang dimaksudkan dengan daging kambing di sini adalah dagingnya, bukan otak dan jeroan (babat serta usus). Otak dan jeroan daging kambing mengandung lemak total, lemak jenuh, dan kolesterol yang tinggi.

Perhatikan pula soal lemak. Jika Anda mengkonsumsi sate kambing yang berlemak, apalagi dipadu dengan minuman beralkohol, bisa berbahaya. Pasalnya, paduan kolesterol dan alkohol dapat mempersempit pembuluh darah bagian bawah tubuh. Apabila kebiasaan ini terus-menerus dilakukan, akan menyebabkan kerja hati, ginjal, dan jantung lebih berat.

Masyarakat harus berhati-hati dengan mitos bahwa daging kambing dapat meningkatkan gairah seksual. Memang daging kambing termasuk afrodiziak. Artinya, bahan itu diduga bisa membangkitkan gairah atau potensi seksual.

Daging kambing digolongkan afrodiziak karena mengandung L-argynin (sejenis asam amino yang menjadi bahan dasar nitric oxide/NO). Sebab, NO memberi efek pelebaran pembuluh darah, yang membuat aliran darah ke penis ikut lancar. Akibatnya, masyarakat membabi buta kala makan daging kambing agar lebih “greng.

Padahal kebutuhan protein tubuh hanya 56-48 mg per hari. Jika berlebihan, justru memicu obesitas. Bila ingin meningkatkan gairah seksual, kebugaran tubuh dan kondisi psikologis yang baik secara ilmiah telah terbukti mampu membuat potensi seksual pria maupun wanita pada kondisi optimal.

Makan sate kambing berlebihan juga tidak baik untuk pria dengan riwayat penyakit metabolik. Bagi penderita ginjal, konsumsi daging kambing dalam porsi besar juga berbahaya. Sebab, ginjal bekerja ekstra untuk mencerna daging kambing. Efeknya, banyak protein yang tak tercerna dengan sempurna. Akibatnya, protein itu mengendap pada organ-organ vital.

Tapi jangan khawatir. Daging kambing tetap memiliki kelebihan. Disarankan orang berdiet memakan daging kambing, karena derajat keasamannya hampir mendekati pH (pangkat hidrogen) tubuh manusia sehingga tubuh sangat mudah menyesuaikan diri.

Selain itu, daging merah, seperti daging kambing, sumber proteinnya baik dan kaya akan mineral-mineral yang sangat penting buat tubuh, seperti zat besi, seng, mangan, dan vitamin B, yakni tiamin, riboflavin, serta niasia. “Agar kesehatan tubuh maksimal, sebaiknya daging kambingnya diimbangi konsumsi sayuran dan buah-buahan.

Efek konsumsi daging kambing terhadap tekanan darah sering terjadi
Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah yang lebih tinggi dari normal. Hipertensi memiliki banyak komplikasi antara lain penyakit stroke, serangan jantung, gagal ginjal dan penyakit pembuluh darah lain yang sangat ditakuti oleh masyarakat. Tingginya prevalensi hipertensi dan komplikasi yang ditimbulkan menyebabkan peningkatan kewaspadaan masyarakat terhadap penyakit tersebut. Penderita hipertensi akan melakukan berbagai upaya untuk mengontrol tekanan darah, antara lain dengan membatasi pengaturan jenis makanan yang diduga dapat meningkatkan tekanan darah. Salah satu makanan yang diduga meningkatkan tekanan darah adalah daging kambing.

Hasil analisis yang dilakukan peneliti di IPB menunjukkan bahwa daging kambing memiliki lemak total, kolesterol, dan lemak jenuh yang lebih rendah dibandingkan dengan daging lain pada umumnya. Penelitian mengenai efek daging kambing terhadap peningkatan tekanan darah menunjukkan hasil yang tidak konsisten. Satu penelitian menyatakan bahwa daging kambing menyebabkan peningkatan tekanan darah, sementara yang lain menyatakan sebaliknya. Dalam kaca mata agama Islam, daging kambing merupakan makanan yang thayyib (baik). Hal tersebut terbukti dengan terdapatnya perintah menyembelih kambing pada saat Idul Adha dan aqiqah.

Daging kambing berpotensi meningkatkan tekanan darah karena mengandung protein cukup tinggi, dalam penelitian ini terkandung 6,25 mg protein. Sementara itu mengkonsumsi makanan khususnya protein dapat menimbulkan respon spesific dynamic action yang lamanya tergantung besar protein yang dikonsumsi. Protein dapat meningkatkan metabolisme tubuh sebesar 30% dimulai dari 60 menit sampai dengan tiga atau 12 jam sesudahnya. Peningkatan metabolisme tubuh ini akan diikuti dengan peningkatan aliran darah sistemik yang memungkinkan peningkatan tekanan darah.

Ada pun kandungan lemak jenuh pada daging kambing diketahui dapat memicu kenaikan berat badan yang berisiko dapat meningkatkan tekanan darah, selain itu tertimbunnya lemak jenuh di dalam tubuh akan meningkatkan risiko aterosklerosis yang berkaitan dengan kenaikan tekanan darah. Orang yang mempunyai kebiasaan mengkonsumsi lemak jenuh akan berisiko terserang hipertensi sebesar 7,72 kali dibandingkan orang yang tidak biasa mengkonsumsi lemak jenuh.

Hal tersebut apabila dikaitkan dengan anjuran Islam dalam berbagai kepentingan untuk mengkonsumsi daging kambing masih dapat diterima karena daging kambing memiliki kandungan gizi yang tinggi, akan tetapi dalam mengkonsumsi tidak dianjurkan berlebih-lebihan, karena keseimbangan diet sangat diperlukan. Apabila seseorang mengkonsumsi daging secara berlebihan akan berdampak pada meningkatnya tekanan darah. Selain itu sebagai umat Islam melakukan sesuatu secara berlebihan itu berarti bertentangan dengan firman Allah dalam Al Quran surat Al A’raaf ayat 31 yang menyatakan bahwa Allah memerintahkan supaya manusia makan dan minum namun dilarang berlebih-lebihan, karena Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar