Jumat, 27 Oktober 2017

6 Mitos dan larangan di desa bakaran wetan

Balai desa bakaran wetan

Warga Bakaran wetan yang masih hidup dalam tradisi dan masih benar-benar mempercayai mitos sangat menghormatinya sebagai tatanan sosial dan mereka sadar bahwa masih ada kekuatan gaib di sekitar mereka dan masih menjalankan mitos-mitos tersebut. Mitos-mitos yang ada di Desa Bakaran antara lain dan masih dipercaya oleh masyarakat sampai sekarang:

1. Mitos larangan membuat rumah dengan batu bata merah
Masyarakat Bakaran sampai saat ini tidak memperbolehkan membuat rumah dari batu bata merah. Hal ini disebabkan bangunan pertama Nyai Sabirah adalah sumur yang ternyata terbuat dari batu bata merah, untuk menghormati pepundennya warga tidak mau membuat rumah dari batu bata merah.

Menurut keterangan dari juru kunci Basir sukarno apabila ada yang membuat rumah dengan batu bata merah yang mendiami rumah tersebut akan sakit, berkepanjangan dan akhirnya rumah tersebut dirobohkan oleh pemiliknya.

Rumah bapak Saidan warga Bakaran setempat, beliau tidak percaya akan mitos tersebut Bapak Saidan nekat membangun rumahnya dengan batu bata merah dengan alasan batu bata merah lebih murah dari batu bata putih. Bapak Saidan tidak menghiraukan larangan di desa Bakaran Wetan. Akhirnya rumah tersebut setelah jadi, anak dari Bapak Saidan itu meninggal tidak sakit dan beliau cerai dengan istrinya akhirnya rumah itu dirobohkan oleh pemiliknya hingga sekarang bangunan yang telah dirobohkan itu masih ada, dan sampai sekarang masyarakat Bakaran tidak berani membangun rumah dengan batu bata merah.

2. Masyarakat Bakaran Wetan tidak mau membangun dengan batu
bata merah selain telah ada suatu kejadian yang dialami Bapak Saidan, juga merupakan suatu penghormatan kepada Nyai Sabirah atas jasajasanya kepada masyarakat Bakaran.

Larangan berjoget antara laki-laki dan perempuan (tayuban) Tayuban adalah tarian yang dilakukan pria dan wanita berpasangan dan diiringi dengan gamelan jawa serta penggendang sebagai pengatur irama. Dalam tayuban ini bisanya lelaki dan perempuan berjoged bersama dengan lelakinya biasanya melakukan hal-hal tidak senonoh terhadap wanita seperti mencubit pipi si wanita, memegang pantan wanita ini merupakan suatu tindakan pelecehan terhadap wanita.

Nyai Sabirah merupakan tokoh wanita yang disegani oleh masyarakat Bakaran pada khusunya dan masyarakat Pati pada umumnya. Nyai Sabirah mengajarkan kepada masyarakatnya agar wanita tidak kalah dengan laki-laki ini dibuktikan dengan beliau mengajarkan membatik agar mereka juga dapat menghidupi keluarga mereka tidak hanya laki-laki yang bisa mencari nafkah. Jadi seandainya wanita dapat mencari nafkah untuk keluarga mereka kedudukan mereka sama dan tidak dilecehkan oleh laki-laki maka semasa hidup Nyai Sabirah tidak suka pelecehan terhadap kaum wanita.

3. Mitos Larangan Menjual Nasi
Warga Bakaran Wetan dimanapun dia berada dilarang berjualan nasi. Hal ini sebagai rasa hormatnya kepada Nyai Sabirah. Sampai saat ini warga tidak berani menjual nasi karena takut akan kutukan Nyai Sabirah, sebab semasa hidup Nyai Sabirah tidak pernah menjual nasi sebagai makanan pokoknya bahkan beliau selalu memberi nasi kepada siapa yang membutuhkan.

Warga Bakran Wetan sangat percaya hal tersebut jadi mereka sampai sekarang tidak pernah menjual nasi. Dari hasil wawancara, dahulu ada yang mencoba menjual nasi akhirnya semua masakan yang akan dia jual termasuk nasi itu basi padahal baru saja selesai dimasak. Para pedagang makanan atau masakan di Desa Bakaran Wetan tidak berani menjual nasi bukan berarti mereka tidak menyediakan nasi untuk para pembeli. Para pembeli seandainya menginginkan nasi tidak boleh bilang dengan kata beli nasi tapi dengan kata Nyuwun Sekul (meminta nasi) dan pedagang itu dengan suka rela membiri nasi itu gratis tanpa memungut biaya.

4. Mitos larangan mencicipi makanan apabila memasak buat kendurian yang hubunganya buat acara di Petilasan Nayi Sabirah
Warga Bakaran Wetan mereka apabila memasak buat acara kendurian tidak pernah dicicipi. Hal ini dikarenakan dulu semasa hidup Nyai Sabirah tidak pernah mencicipi masakan yang akan beliau suguhkan ke para tamu yang datang dan beranggapan apabila dicicipi terlebih dahulu akan menyisakan makanan itu pada tamu yang datang.

Jadi mereka masyarakat Bakaran Wetan meniru cara hidup Nyai Sabirah semasa hidup sebagi rasa penghormatan kepada leluhurnya. Kebiasaan semacam ini masih dilakukan dan dipercaya masyarakat Bakaran Wetan dan mereka percaya apabila dilanggar akan mendapatkan hal yang tidak diinginkan seperti halnya dalam mitos tidak mencicipi masakan yang digunakan dalam kenduri ini apabila dilanggar makanan yang baru dimasak tersebut akan basi.

5. Mitos Larangan Tidak boleh Memasak Bagi Ibu-ibu harus dengan keadaan suci tidak boleh memasak dalam keadaan kotor apabila memasak untuk acara kendurian
Warga Bakaran Wetan apabila memasak masakan untuk kenduri harus dengan keadaan bersih atau suci tidak berhalangan (haid) atau dalam keadaan kotor. Hal ini mempunyai alasan karena kenduri ini adalah suatu ritual yang sakral dan doa untuk para leluhurnya. Masyarakat Bakaran Wetan menganggap hal tersebut merupakan ibadah jadi mereka mengibaratkan apabila kita melakukan ibadah harus dengan keadaan bersih dan suci.

Mitos ini masih sangat dipercaya oleh warga masyarakat Bakaran Wetan sebagai wujud penghormatan apabila mitos ini dilanggar masakan yang baru dimasak untuk kenduri dalam jangka waktu yang tidak lama akan menjadi basi.

6. Mitos Harus Meledang Bayi yang Baru Lahir dan Pengantin
Meledang bayi yang baru lahir dan pengantin ini merupakan salah satu upacara atau ritual di Desa Bakaran Wetan. Upacara dipercaya masyarakat Bakaran sebagai upacra meminta restu kepada Nyai Sabirah untuk bayi yang baru lahir dipercaya agar setiap langkah yang bayi itu akan tempuh mendapatkan keberhasilan. Upacara ledang pengantin ini dimaksudkan agar dalam menjalani kehidupan yang baru setelah mereka menjalani ijab qabul akan lebih baik.

Upacara ledang Bayi dan pengantin ini adalah upacara mengintari Petilasan Nyai Sabirah sebanyak tiga kali. Upacara ledang bayi ini dilakukan dengan cara menggendong bayi yang baru lahir dan yang menggendong bayi itu bukan ibunya karena ibu si bayi itu masih dalam keadaan kotor karena orang yang baru saja melahirkan itu dalam keadaan nifas yang diwakilkan orang lain. Upacara ledang pengantin ini juga sama seperti ledang bayi hanya saja yang membedakan adalah pelaku upacara, untuk ledang pengantin ini dilakukan pengantin yang baru melakukan ijab qabul dan mengintari petilasan Nyai Sabirah dengan berpakaian pengantin dan lengkap beserta make-upnya sebanyak 3 kali.

Masyarakat Bakaran Wetan sangat percaya dengan hal tersebut, mereka selalu melakukan upacara itu dan mereka juga percaya apabila tidak melaksanakan upacara itu akan mendapatkan Bebendhu (keburukan, Bencana).


Referensi:
Dojosantosa.1985. Unsur Religius dalam Sastra Jawa. Semarang : Aneka Ilmu.
Hari Susanto, P. S . 1987 . Mitos Menurut Pemikiran Mircea Elliade . Yogyakarta : Kanisius.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar