Minggu, 01 Oktober 2017

7 Macam upacara pada ritual adat suku dayak

Suku dayak
Sesaji merupakan makanan (bunga-bungaan dan sebagainya) yang disajikan kepada orang halus (roh-roh, dewa, dan sebagainya)”. Sesaji banyak digunakan oleh suku-suku di Indonesia, seperti Suku Jawa, Bali, Sunda, Suku Dayak, dan suku-suku lainnya untuk pemujaan pada ritual adat.

Suku Dayak percaya terhadap roh-roh dan kekuatan gaib pada benda-benda yang dianggap keramat. Mereka juga percaya adanya pencipta alam semesta. Oleh karena itu, untuk menghormati roh-roh dan kekuatan gaib serta dewa, mereka mengadakan berbagai upacara dalam kehidupannya seperti: Nyengkelan Tanah, Tolak Bala, upacara kematian, upacara pengobatan, Makai Taun Meri’ Batu atau tahun baru, upacara adat Bekalih ke tanah, upacara Muja tanah atau Mamuja, dan upacara waktu istri hamil.

Dalam adat istiadat Dayak dikenal Gawai Dayak atau dikenal juga dengan Naik dango dan Maka’ dio. Gawai Dayak merupakan salah satu upacara tradisional, umumnya dilakukan untuk penyembahan dan pemujaan terhadap kekuatan alam dan roh-roh gaib, selamatan atas karunia dan berkat yang diberikan Allah Tala atau Petara (Tuhan yang Mahaesa), serta memperkuat persaudaraan.

Keananekaragaman adat istiadat Suku Dayak di setiap daerah tentunya berbeda-beda, meskipun maksud dan tujuan dari upacara tersebut sama. Berikut adalah macam-macam upacara ritual adat Suku Dayak :

1. Upacara Nyagahatan (upacara musim tanam dan panen suku Dayak)
Upacara Nyagahatan biasanya dipimpin oleh petugas adat yang menangani padi yang disebut Tuha Tahut. Upacara dilakukan disebuah ditempat di dekat sawah (Panyugu). Sebelum upacara adat suku Dayak melakukan tahap menanam padi yaitu: “ngerinteh jalai (merintis jalan), nebaeh (menebas), nebang (menebang), nunu umai (membakar lahan), menugal benih dan menanam bibit, mantun padi atau menyiang, ngetau atau panen padi, dan pengemasan padi. Pada saat ritual ini, bertujuan untuk menghindari gangguan saat proses menanam padi, agar padi tumbuh subur.

2. Ngampar Bide
Dalam Ngampar bide sendiri terdapat serangkaian tahapan pelaksanaan, yaitu Nyangahathnmanta’ (pelantunan doa atau mantra) sebelum seluruh kelengkapan upacara disiapkan dan ngadap buis, yakni tahapan penyerahan sesaji (buis) kepada Jubata (Tuhan). (1) Nyangahatn manta’ terbagi menjadi tiga bagian, yaitu: matik (semacam upacara pemberitahuan kepada kepada awapama atau roh leluhur dan Jubata (Tuhan) tentang akan diadakannya upacara tersebut; Ngalantekatn (memohon keselamatan bagi semua pihak pelaksanan upacara); dan Mibis (semacam upacara pemurnian agar kotoran musnah). Dalam upacara Nyangahatn manta, sesuai namanya, sesaji yang disiapkan biasanya adalah bahan yang belum masak atau mentah (manta); (2) Gadap Buis (Nyangahatn masak), merupakan upacara adat puncak dari keseluruhan proses Ngampar bide dimana seluruh peraga adat sudah tersedia.

Ngampar Bide dihadiri para tokoh Dayak yang berperan dalam menyiapkan Gawai. Mereka membahas persiapan, menyiapkan, dan tentunya melaksanakan acara inti, yaitu memohon perlindungan Jubata atas kelancaran upacara. Pada upacara penutupan akan digelar gulung bide (gulung tikar) yang menandai berakhirnya upacara.

3. Upacara Gawai Makai Taun
Gawai Makai Taun dalah upacara tahun baru sebagai ucapan syukur kepada Petara (tuhan) atas rezeki yang telah diberikan dan memohon berkah-Nya untuk tahun yang akan datang.

4. Upacara Adat Buah
Upacara Adat Buah adalah salah satu upacara adat yang menjadi tradisi suku Dayak Pesaguan Kalimantan Barat. Upacara ini dilakukan untuk menyambut musim buah dalam kehidupan masyarakat Pesaguan. Tujuan upacara ini adalah agar mendapat hasil panen yang melimpah dan bersyukur pada Tuhan.

5.Sesaji Upacara Pemberian Nama Bayi (Batalah)
Suku Dayak melaksanakan upacara adat saat kelahiran anak untuk memberikan nama yang baik pada anak yang telah lahir (Batalah). Tujuan upacara adat ini adalah agar anak senantiasa mendapat perlindungan dari Petara (Tuhan).

6. Upacara Ba’ayun Maulid
Perayaan Maulid memang tidak biasa. Karena selain pembacaan syairsyair Maulid, disertai dengan prosesi dan ritual budaya Ba’ayun Anak, karena pelaksanaannya bertepatan dengan perayaan Maulid maka disebut juga Ba’ayun Maulid. Tempat pelaksanaannya tidak sembarangan. Bertempat di Mesjid atau biasa disebut mesjid keramat, membuat ritual ini menjadi luar biasa, dengan maksud agar anak senantiasa sehat, cerdas, berbakti kepada orang tua dan taat beragama, sangat kontras dengan tempatnya yang dikeramatkan. 

7. Ritual Tiwah
Ritual Tiwah adalah upacara tradisional yang menghubungkan dengan orang yang sudah meninggal, yaitu mengantarkan tulang belulang kerangka orang mati menuju suatu rumah yang ukuran kecil yang memang sengaja di buat untuk menyimpaan tuang belulang orang yang meninggal, rumah ini di namakan sandung.

Ritual Tiwah bertujuan sebagai ritual untuk meluruskan perjalanan Roh atau arwah yang bersangkutan menuju Lewu Tatau (surga) sehingga bisa hidup tentram dan damai di alam Sang Kuasa.


Referensi:
Johan, Weintre. 2004. Beberapa Penggal Kehidupan Dayak Kanayatan. Kekayaan Ritual dan Keanekaragaman Pertanian di Hutan Kalimantan Barat. Makalah Studi Lapangan. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.
Kantor Penelitian Pengembangan dan Informatika. 2008. Gawai Dayak Makai Taun. Kapuas Hulu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar