Fakta dibalik iklan dan pembelian rokok

Merokok
Industri rokok merupakan salah satu industri yang berkembang pesat di Indonesia. Penerimaan cukai terbesar di Indonesia bersumber dari cukai hasil tembakau dan rokok, hal ini menunjukkan produk rokok memberi sumbangan yang besar pada perekonomian di Indonesia. Selain memberi sumbangan yang besar pada perekonomian, produk rokok juga memberi sumbangan yang besar pada masalah kesehatan di Indonesia.

Di era informasi dan teknologi yang semakin berkembang iklan menjadi sarana untuk pemasaran yang kian diminati oleh berbagai organisasi profit. Iklan adalah salah satu sarana promosi yang dipakai oleh organisasi profit untuk mendorong, membujuk khalayak ramai agar tertarik dengan hasil produksi yang ditawarkan. Seperti yang kita ketahui, organisasi profit merupakan organisasi yang berorientasi untuk mencari keuntungan atau laba yang diperoleh dengan menjual barang atau jasa yang dihasilkan.

Adanya iklan menyebabkan terjadinya banyak pergeseran dalam nilai, kita sering mendengar istilah „termakan iklan‟, istilah tersebut menggambarkan keinginan untuk melakukan pembelian dikarenakan tertarik dengan apa yang ditawarkan atau ditampilkan oleh iklan suatu produk bukan karena kebutuhan yang dimiliki individu. Iklan dirancang untuk mencapai komunikasi mengenai pengetahuan produk, ketertarikan, pembentukan citra produk, serta minat membeli. Organisasi profit yang turut menggunakan iklan dalam upaya untuk memasarkan produknya adalah industri rokok.

Fakta pembelian rokok

Minat membeli adalah suatu kekuatan pendorong atau motif yang bersifat instrinsik yang mampu mendorong seseorang untuk menaruh perhatian secara spontan, wajar, mudah, tanpa paksaan dan selektif pada suatu produk untuk kemudian mengambil keputusan membeli. Minat membeli dapat disebabkan oleh beberapa faktor, promosi merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan munculnya minat membeli dan iklan adalah salah satu cara yang digunakan untuk melakukan promosi.

Minat akan muncul apabila individu merasa suatu objek memiliki nilai yang positif dan menguntungkan bagi dirinya. Hal ini berlaku pula pada minat membeli produk rokok, umumnya individu hanya tertarik untuk melakukan pembelian pada produk yang dirasa akan memberinya keuntungan, sedangkan produk rokok bila dilihat dari sisi mana pun tentu tidak membawa keuntungan sama sekali dan bahkan memberikan kerugian. Bila dilihat dari kenyataan yang ada, dapat dikatakan bahwa terdapat suatu hal yang membuat produk rokok dapat dinilai memberikan suatu keuntungan sehingga dapat menimbulkan minat membeli.
 
Pada jaman sekarang yang lebih memprihatinkan adalah bila menjumpai remaja yang umumnya belum mempunyai penghasilan sendiri tetapi dapat menyisihkan uang sakunya untuk membeli produk rokok, kerap kali dianggap sebagai hal yang biasa.

Walaupun tidak ada yang memungkiri bahaya dari produk rokok tetapi minat membeli masyarakat terhadap produk rokok dapat dikatakan sangat tinggi, dan ini merupakan suatu fenomena. WHO menyebutkan Indonesia merupakan negara ketiga di dunia yang memiliki jumlah perokok terbesar di dunia setelah Cina dan India. Jumlah perokok yang tinggi ini menunjukkan minat membeli rokok yang tinggi di Indonesia.

Rokok memang bukan merupakan produk yang asing di kalangan remaja, hampir seluruh remaja mengenal produk rokok dan sebagian diantaranya memiliki minat membeli terhadap produk rokok. Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2010 menunjukkan bahwa lebih dari 60% usia pertama kali orang merokok di Indonesia kurang dari 20 tahun, dan kelompok umur 15-19 tahun merupakan yang terbesar, sebanyak 43,3%. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar orang telah mengenal rokok sejak usia remaja, dan membeli rokok pertamanya pada usia remaja. Data WHO mempertegas bahwa dari seluruh jumlah perokok yang ada di dunia, sebanyak 30% adalah kaum remaja (WHO, 2013), selain itu hasil riset terhakhir yang dilakukan oleh GYTS (Global Youth Tobacco Survey) terhadap remaja di Indonesia pada 31 desember 2012 menunjukkan bahwa bahwa pengguna rokok pada kaum muda laki-laki 41,1% dan perempuan 3,5% (WHO, 2013).

Minat membeli rokok yang tinggi di kalangan remaja tentu saja merupakan hal yang memprihatinkan. Minat membeli rokok yang tinggi ini salah satunya merupakan akibat dari maraknya iklan rokok yang terpapar pada berbagai media. Iklan memiliki peranan membentuk persepsi masyarakat terhadap produk dengan menciptakan citra suatu produk di mata masyarakat, walaupun citra baik konsumen pada atribut ektrinsik produk tidak memiliki efek langsung terhadap minat membeli. Agresifnya iklan dan promosi rokok menyebabkan jumlah perokok usia anak dan remaja semakin meningkat setiap tahunnya, berdasarkan riset diketahui bahwa jumlah perokok remaja meningkat tiga kali lipat dari 7,1% di tahun 1995 menjadi 18,3% di tahun 2013. Kesan macho, gaul, dan solidaritas yang dicitrakan iklan promosi dan sponsor rokok telah berkontribusi signifikan dalam menggiring remaja menjadi perokok aktif.

Fakta dibalik iklan rokok

Remaja merupakan sasaran iklan yang tepat karena remaja berada pada masa transisi dan terdapat ketidakstabilan dalam mengadopsi nilai, serta diperkuat juga dengan interaksi sosial di antara remaja yang menyebabkan remaja mudah terpengaruh. Pesan yang terdapat dalam iklan merupakan serapan nilai baru atau memperkuat nilai yang sebelumnya telah mereka anut. Ketidak stabilan remaja dalam mengadopsi nilai merupakan peluang yang memudahkan pasar untuk menggaet remaja. Iklan masuk dalam dunia remaja dengan memanfaatkan situasi psikologis remaja.

Sasaran utama iklan rokok adalah kaum pria karena konsumen terbanyak produk rokok adalah pria, hal itu yang menyebabkan iklan-iklan rokok di televisi memanfaatkan figur kedewasaan dan kejantanan dalam promosinya. Rokok menjadi gaya hidup dan citra diri seseorang yang sehat, sukses, dan dinamis. Iklan dapat menimbulkan minat membeli konsumen salah satunya adalah dengan pemberian informasi yang menarik tentang produk yang ditawarkan. Bahkan analisis time-series data tentang rokok di Ukraina menunjukkan hubungan positif yang kuat antara penjualan rokok dan aktivitas iklan rokok.

Penelitian di DKI Jakarta menunjukkan 99,7% remaja melihat iklan rokok di televisi, 86,7% di media luar ruang, dan 76,2% di koran serta majalah. Studi penelitian menyimpulkan iklan dan promosi rokok merangsang anak untuk inisiasi merokok, merangsang perokok anak untuk tetap merokok dan mendorong anak yang telah berhenti merokok untuk kembali merokok (Kementrian Kesehatan RI, 2012). Sedangkan di provinsi DIY, berdasarkan hasil riset diketahui bahwa iklan rokok paling banyak diperoleh masyarakat dari televisi (34,8%), dan tidak tersaingi oleh media lainnya (Dinas Kesehatan Provinsi DIY, 2009). Iklan, promosi, serta sponsor rokok menyasar anak-anak dan remaja sebagai pasar potensial, bahkan Philip Morris (1981) menyatakan bahwa remaja hari ini adalah calon pelanggan tetap hari esok. 

Persepsi yang positif terhadap iklan-iklan tayangan televisi swasta meingkatkan sikap konsumtif pada remaja (Priyohadi, 1998). Iklan, promosi dan sponsor rokok adalah strategi pemasaran ampuh untuk mempengaruhi anak dan remaja. Hasil studi UHAMKA dan Komnas Anak pada tahun 2007 menyatakan bahwa terdapat 99,7% anak melihat iklan rokok di televisi, 68% memiliki kesan yang positif terhadap iklan rokok, dan 50% merasa lebih percaya diri seperti yang disampaikan di iklan.

Selain itu, menyatakan bahwa sasaran iklan rokok adalah kaum laki-laki. Iklan rokok memang lebih ditujukan kepada konsumen laki-laki, karena jumlah konsumen perempuan hanya sebagian kecil dibandingkan konsumen laki-laki.

Slogan, dan ciri khas dalam iklan rokok juga turut memunculkan persepsi yang dapat mempengaruhi minat membeli dan pandangan konsumen terhadap produk, karena itu iklan rokok kerap kali digunakan oleh produsen untuk awareness yang ditujukan untuk sasaran pasarnya. Ada hubungan positif antara citra merek dengan minat membeli, semakin positif citra merek maka diikuti pula dengan semakin tingginya minat membeli.

Terdapat berbagai persepsi atau pandangan masyarakat terhadap iklan rokok, ada yang memandangnya dari segi positif dan ada pula yang memandangnya dari segi negatif. Selain alasan karena persepsi adalah sesuatu yang personal, ini juga dikarenakan iklan rokok merupakan iklan yang implisit dan kontra argumentasi. Disebut implisit karena pada iklan rokok tidak pernah ditunjukkan produk rokok secara langsung, dan disebut kontra argumentasi karena disatu sisi produsen iklan rokok membuat iklan rokok sedemikian menarik agar dapat mempersuasi konsumen untuk membeli produknya, contohnya iklan Marlboro yang dibuat identik dengan pria macho berkuda yang melambangkan kejantanan atau iklan rokok yang menampilkan selebriti idola, tetapi disisi lain iklan rokok harus menyertakan peringatan dari bahaya merokok seperti “Merokok Membunuhmu”.

Melihat iklan di media masa dan elektronik yang menampilkan gambaran bahwa perokok adalah lambang kejantanan atau glamour, membuat remaja seringkali terpicu untuk mengikuti perilaku seperti yang ada dalam iklan tersebut. Iklan rokok khususnya yang menggunakan media televisi memang kerap kali menonjolkan sisi maskulinitas, sebagai contoh iklan produk rokok Djarum Super yang bertema “My Great Adventure Indonesia” iklan ini menampilkan persahabatan beberapa lelaki dengan tubuh atletis dan gagah sedang melakukan berbagai aktivitas ekstrim.

Pemasangan peringatan bahaya merokok pada iklan di televisi kerap kali tidak terlalu diperhatikan oleh konsumen karena penayangannya yang sangat minim, hanya 10% dari total durasi iklan televisi  dan bahkan sering kali sudah menghilang sebelum sempat diperhatikan sehingga kecil kemungkinan terbentuknya persepsi yang negatif terhadap iklan rokok.


Dilansir dari berbagai sumber

0 Response to "Fakta dibalik iklan dan pembelian rokok"

Posting Komentar