Senin, 16 Oktober 2017

Fenomena dan kejadian kesurupan di sekolah

kesurupan

Fenomena mistis kesurupan
Gangguan kesurupan terjadi karena adanya reaksi kejiwaan yang dinamakan reaksi disosiasi atau reaksi yang mengakibatkan hilangnya kemampuan seseorang untuk menyadari realitas di sekitarnya, yang disebabkan oleh berbagai faktor seperti tekanan fisik maupun mental serta labilitas kepribadian. Selain itu, gangguan kecemasan juga menjadi salah satu penyebab penting terjadinya kesurupan. Faktor sugesti juga berperan penting dalam kejadian kesurupan massal.

Pada masyarakat Indonesia, fenomena kesurupan ini selalu dikaitkan dengan gangguan dari roh halus yang mengambil alih tubuh korban selama beberapa waktu dan membuat korban tidak sadar akan apa yang dia perbuat. Paham kesurupan seperti ini merupakan paham tradisional (kuno) yang berkembang secara turun menurun di dalam masyarakat.

Kejadian kesurupan cukup banyak menimpa pelajar Indonesia, yang kebanyakan berada dimasa remaja, ini tentu saja akan berpengaruh pada masa depan bangsa. Remaja yang terkena gangguan kesurupan adalah siswa yang dalam kondisi jiwa labil. Gaya hidup remaja masa kini cenderung jauh dari nilai-nilai religiusitas. Pada masa ini, siswa yang belajar di sekolah menengah berada dalam masa peralihan. Masa ini ditandai dengan berbagai perubahan yang mengarah pada kemantapan dalam beberapa aspek kehidupan, antara lain aspek biologis, intelektual, dan emosional.

Kasus kejadian kesurupan
Fenomena kesurupan yang terjadi di SMPN 1 Kndur telah membuat persepsi yang berbeda-beda dalam masayarat yang ada didalam maupun diluar sekolah. Mempercayai hal-hal gaib adalah persepi mayoritas masyarakat. Sebagai bukti nyatanya masyarakat lebih mempercayai hal-hal gaib bahwa yang menjadi penyebab utama kesurupan yang terjadi di SMPN 1 Kundur dirasakan penyebabnya adalah sosok makhluk gaib.

Dalam fenomena kesurupan missal yang terjadi di SMPN 1 Kundur dapat dilihat penafsiran masyarakat terhadap tidakana kolektif mereka adalah penggunaana jimat dan penggunaan paranormal untuk mencegah dan menagatsi kesurupan yang menimpa para korban kesurupan. Tindakan yang awalnya dimulai oleh satu orang akhirnya berubah menjadi tindakan massal masyarakat untuk menggunakan jimat dan paranormal yang dilakukan oleh kluarga para korban bahakan keluarga dari siswa-siswi yang tidak menjadi korban pun juga ikut menggunakan jimat atau tangkal agar anak-anaknya tidak menjadi korban kesurupan. 

SMPN 1 Kundur sebagai sekolah menengah pertama yang terbesar dan terbaik di kecamatan kundur sekolah ini memiliki jumlah siswa terbanyak yaitu berjumlah 724 siswa yang terdiri dari 19 lokal. Pada tanggal 2 Januari 2012 peristiwa kesurupan masal menimpa sekolah menengah pertama yang terbaik di kecamatan kundur ini. Peristiwa kesurupan yang terjadi di SMPN 1 Kundur ini bermula dari adanya kegiatan renovasi sekolah, renovasi yang dilakukan oleh pihak sekolah awalnya ditujukan untuk memperindah dan mempercantik sekolah berubah menjadi sumber petaka bagi sekolah, yang mana akibat dari renovasi sekolah itu adalah kesurupan massal yang menimpa para siswa dan berlangsung hingga hampir 1 bulan.

Fenomena kesurupan masal yang menimpa SMPN 1 Kundur ini bermula sejak awal tahun baru 2012. Peristiwa ini diyakini oleh banyak ornag berasal dari batu yang di pecahkan karena pihak sekolah akan mengadakan renovasi sekolah. Tak disangka sehari setelah kegiatan renovasi dimulai muncullah satu kejadian yang sangat menghebohkan dan menggemparkan, yaitu kesurupan masal yang menimpa beberapa siswa-siswi dan guru yang berada di sekolah pada saat itu.


Batu yang terletak dibawah pohon besar didekat lapangan upacara ini memang sudah ada sejak sekolah ini pertama kali didirikan. Dari awal sekolah ini berdiri batu tersebut belum pernah sekalipiun direnovasi atau di pindahkan baru tahun inilah pihak sekolah ingin merenovasi dan menghancurkan batu tersebut sehingga menjadi awal penyebab kejadian kesurupan yang menimpa SMPN 1 Kundur.


Sumber utama yang di percaya masyarakat dalam peristiwa kesurupan di sekolah ini adalah tepatnya di lapangan upacara terdapat batu-batu yang di tanam di sekitar lapangan upacara, karena dinilai sudah tidak layak lagi, maka pihak sekolah memutuskan untuk merenovasi lapangan upacara agar lebih indah. Kegiatan renovasi pun dimulai oleh tukang yang telah ditunjuk pihak sekolah, dalam awal pengerjaanya seperti tidak terjadi apa-apa namun setelah selang satu hari timbulah hal-hal aneh yaitu berupa kesurupan massal yang menimpa para siswa yang saat itu sedang belajar praktek biology di laboraturium sekolah. Beberapa siswi langsung kesurupan saat sedang praktek. Siswa-siswi yang kesurupan itu ada yang menangis, maenjerit, tertawa, memaki-maki dan berbicara sendiri.

Melihat bahwa banyaknya siswi yang kesurupan menjadikan pihak sekolah lebih memilih untuk memulangkan seluruh siswanya. Pemulangan siswa bertujuan agar kesurupan tidak terlalu menyebar dan menimpa siswa-siswa yang lainya. Atas pertimbangan dari pihak sekolah pemulangan siswa siswi merupakan langkah yang paling terbaik meskipun harus merelakan kegiatan belajar mengajar terhenti. Kesurupan masal ini berlangsung massal setiap hari, karena berlangsung setiap hari maka siswa yang telah tiba disekolah dan siap untuk menerima pelajaran terpaksa harus kembali pulang kerumahnya masing-masing.

Kesurupan masal yang terjadi di SMPN 1 Kundur itu ternyata tidak hanya terjadi sekali saja, namun kesurupan masal ini terus terjadi berulang-ulang kali. Hampir setiap hari Kesurupan terjadi namun anehnya kesurupan yang terjadi itu pada umumnya banyak yang menimpa siswa-siswa perempuan dibandingkan siswa laki-laki. Semenjak kejadian itu berlangsung belum jelas informasi kenapa lebih banyak siswi perempuan yang menjadi korban kesurupan dibandingkan siswa laki-laki. Dari informasi yang didapat ternyata pemicu kesurupan massal itu masih berasal dari batu yang ada dilapangan upacara telah dipecahkan.

Kesurupan massal yang terjadi di SMPN 1 Kundur sangat dapat sangat mempengaruhi perkembangan mental siswa-siswi yang bersekolah di sekolah tersebut, gara-gara kesurupan massal tersebut, korban yang yang kesurupan menjadi sangat takut untuk kesekolah, hal ini juga didukung oleh orang tua mereka masing-masing, para orang tua yang anaknya menjadi korban kesurupan menjadi sangat khawatir akan keselamatan anaknya jika bersekolah, jadi para orang tua lebih memilih untuk membiarkan anaknya berada dirumah. Bagi siswa-siswi yang berada disekolah menjadi tidak nyaman karena dihantui rasa takut saat berada dikelas maupun diluar kelas. Dari peristiwa kesurupan massal itu juga memberikan dampak secara langsung bagi siswa, yaitu banyaknya para siswa harus ketinggalan pelajaran.

Peristiwa kesurupan masal yang terjadi di SMPN 1 Kundur ini memang benar-benar sangat memberikan dampak yang besar bagi siswa-siswi yang menjadi korban kesurupan. Masalah kesurupan ini jika dibiarkan berlarut-larut maka akan dapat memberikan dampak buruk bagi perkembangan piskologis dan perkembangan mental siswa. Maka dari latar belakang penelitian ini, penulis ingin menggambarkan bagaimana peristiwa kesurupan yang terjadi di SMPN 1 Kundur dan bagaimana tindakan yang di ambil siswa-siswi yang menjadi korban kesurupan terhadap fenomena kesurupan di SMPN 1 Kundur.

Kesurupan massal yang terjadi di SMPN 1 Kundur dipercayai oleh mayoritas siswi-siswi yang menjadi korban kesurupan karena adanya gangguan makhluk gaib yang merasuk kedalam tubuh siswi yang kesurupan. Adanya renovasi di sekolah menjadi penyebab makhluk halus itu mengganggu penghuni sekolah. Korban kesurupan mayoritas adalah kelas 3 dan dari 26 populasi 25 adalah perempuan dan 1 laki-laki. Ada banyak bentuk kelakuan siswa yang mengalami kesurupan seperti menjerit, menangis, berbicara dan memaki-maki.

 

Referensi:
Zulham Iskandar, Kesurupan Siswa di Kediri, Pikiran Rakyat.
Weber, Max, 1958. The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism. New York: Charles Scribner‟s Sons.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar