Jumat, 06 Oktober 2017

Inilah flora dan fauna di pulau nias

Pulau nias
Nias merupakan sebuah pulau yang berada di sebelah barat Pulau Sumatera. Pulau Nias dikenal di dunia luar baik dalam negeri maupun luar negeri sebagai suatu pulau yang menarik. Pulau Nias memiliki berbagai potensi yang menarik baik dari sumber daya alamnya (potensi alamnya), kependudukannya, kehidupan sosialnya, dan juga sejarah dan adat istiadatnya serta kebudayaanya. Secara adimistratif Nias merupakan kabupaten yang termasuk dalam Propinsi Sumatera Utara.

Nias telah dikenal oleh dunia luar jauh sebelum Negara Indonesia terbentuk, maka bisa dikatakan hal ini dapat dijadikan satu poin penting dalam memajukan Nias. Nias mempunyai banyak potensi yang bisa menarik wisatawan datang berkunjung. Potensi alam yang mengagumkan seperti pantai yang indah berpasir putih, ombak besar untuk surfing, air terjun yang alami, goa dan bukit berbatu, hutan-hutan yang masih asli. 

Selain itu ada potensi lain yang layak untuk dikembangkan dan menjadi daya tarik wisatawan, yaitu potensi budaya. Kebudayaan Nias yang unik dengan peninggalan-peninggalan budayanya seperti batu megalit, Rumah Adat Nias yang mempunyai nilai Arsitektural yang tinggi, adat istiadat suku Nias yang penuh makna dan bernilai tinggi, kesenian tradisional seperti tari (salah satunya tari perang yang sangat menarik), lompat batu, lagu-lagu daerah dan hasil kerajinan tangan seperti patung dari batu dan kayu , dan masih banyak hal-hal lainnya yang dapat menarik wisatawan berkunjung ke Pulau Nias, seperti pesta budaya Nias (Pesta Ya’ahowu) yang biasanya dilakukan sekali setahun, di mana dalam acara ini tiap-tiap kecamatan se-Kabupaten Nias menampilkan atraksi budaya, pameran, dan juga mengikuti lomba/ festival.

Sebagai sebuah pulau yang cukup besar di Samudera Indonesia, Pulau Nias memiliki keanekaragaman hayati yang kaya.

Flora
Tumbuhan yang terdapat di pulau ini terdiri dari tumbuhan domestik yang mempakan budidaya masyarakat, diantaranya padi (Oryza sativa) yang dibudidayakan di sawah atau ladang, jagung (Zea mays), ketela rambat (Convolvulus batatas), jeruk (Shaddock Hindia B), durian (Durio zibethinus), nanas (Bromèlia ananas), langsat (Lansium donesticum), mangga (Mangifera indica), pisang (Musa sp.), karet (Havea brassiV/ensis), kelapa (Cocos nucifera), kopi (Coffea spp.), cengkeh (Eugenia aromatica), cokelat (Theobroma cacao) dan nilam (Pogostemon cablin), dan tanaman liar seperti paku-pakuan, pakis, dan gambir (Uncaria gambir).

Berkenaan dengan flora di Nias, adalah merupakan kebiasaan masyarakat Nias untuk memakan sirih (mengunyah sirih selengkapnya, yang dilakukan baik oleh laki-laki maupun perempuan). Bahan baku makan sirih, yang juga mewarnai flora di Nias, berupa daun sirih, yakni tanaman merambat di pohon lain yang daunnya berasa agak pedas (Piper belle), yang dikunyah bersama dengan buah pinang (Areca catechu) yang tua benvama kuning kemerah-merahan, dan endapan rebusan daun gambir (Uncaria gambir) yang airnya diuapkan. Kapur yang diperoleh dari olahan batu gamping juga merupakan komponen pelengkap dalam makan sirih. Makan sirih adalah kunyahan yang mencandu dan sekaligus dipercaya sebagai penguat gigi.

Fauna
Berbagai jenis hewan hidup di pulau ini, diantaranya jenis-jenis ikan (Pisces), baik dari laut, tambak maupun kolam air tawar, babi (Sus sp.), kerbau (Bovidae), dan kambing (Capra sp.). Disamping itu di wilayah tertentu masih dapat dijumpai hewan-hewan liar diantaranya rusa (Cervidae), berbagai jenis burung (Aves), termasuk burung beo Nias dan babi hutan (Sus scrofa). Burung beo Nias (Gracula religiosa), berbulu hitam berkilau yang dapat dilatih menirukan bunyi, yang demikian khas ternyata mengalami nasib buruk, justru karena kekhasannya.

Saat ini populasi hewan yang dahulu sempat dianggap sebagai hama tanaman pertanian demikian rendah, bahkan dikuatirkan akan mengalami kepunahan. Pemerintah telah mengeluarkan peraturan yang melarang adanya perburuan dan perdagangan jenis burung tersebut.


Referensi:
Badan Pusat Statistik Kabupaten Nias. Nias Dalam Angka 1997
Tim Penelitian Balai ari^eolog! Medan, 1997. Laporan Hasii Penelitian Arkeologi dan Arkeometri Situs Gomo dan Sekitarnya, Kecamatan Gomo, Kabupaten Nias, Provinsi Sumatera Utara. Medan: Balai Ariteolog! Medan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar