Selasa, 10 Oktober 2017

Inilah mitos dan fakta lesbian harus tahu

Mitos dan Fakta Lesbian pada Seputar Kesehatan


Hak setiap orang untuk sehat diakui dalam berbagai perjanjian internasional dan regional sebagai bagian fundamental dari hak asasi manusia. Banyak negara di seluruh dunia yang telah memasukkan hak untuk sehat dalam konstitusi mereka. Ini berarti bahwa pemerintah harus menciptakan kondisi yang tepat sehingga setiap warga negara dapat menikmati kondisi sehat yang terbaik.

Selama ini, ada banyak sekali mitos yang berkembang seputar kesehatan, dan ketika menyoal kesehatan lesbian, mitos yang berkembang menjadi berlapis karena berkaitan dengan orientasi seksual dan identitas gender. Di sisi lain, minimnya informasi dan kampanye kesadaran publik mengenai kesehatan lesbian, menjadikan lesbian menerima dan percaya dengan mitos dan stigma yang berkembang tersebut. Begitu pula halnya dengan para petugas kesehatan seperti dokter, perawat, dll.

Walaupun pandangan keliru dan stereotype mengenai kesehatan perempuan dan homoseksualitas secara umum masih berkembang, kami hanya akan fokus secara khusus pada informasi kesehatan lesbian.

Beberapa mitos dan fakta lesbian yang berhubungan dengan kesehatan:

1. Kanker Payudara dan Kanker Leher Rahim

Mitos:
  • Lesbian tidak perlu pemeriksaan ginekolog secara teratur.
  • Lesbian beresiko lebih tinggi terkena kanker payudara daripada perempuan heteroseksual.
Fakta:
  • Tes medis ginekologi dapat mendeteksi IMS dan beberapa kanker seperti kanker payudara dan kanker leher rahim. Itulah sebabnya tes ginekolog sangat penting untuk semua perempuan dari segala usia, apapun orientasi seksual mereka.
  • Secara umum sebetulnya hampir semua perempuan beresiko terkena kanker payudara. Mengkonsumsi alkohol dan tembakau yang berlebihan juga sangat berkaitan erat dengan hal ini. Fakta banyaknya lesbian yang tidak memiliki anak beresiko terkena kanker payudara dibanding perempuan heteroseksual menunjukan bahwa lesbian memang lebih beresiko terkena kanker payudara. 
2. IMS dan HIV

Mitos:
  • Hubungan seksual sesama perempuan bukanlah pengalaman seksual yang sesungguhnya.
  • Relasi seksual sesama perempuan tidak beresiko tertular HIV.
  • Seorang lesbian tidak mungkin mempunyai relasi seksual dengan laki-laki.
Fakta:
  • Wacana mengenai seksualitas perempuan baru berkembang pada akhir tahun 1960-an. Ketika perjuangan hak-hak perempuan terjadi. Jika kelompok lesbian mendapatkan manfaat dari perjuangan hak-hak seksual perempuan, seharusnya keyakinan bahwa seksualitas lesbian bukan pengalaman seksualitas yang sesungguhnya tidak akan berkembang, begitu juga dengan anjuran NO
  • SEX agar tidak kena IMS.Resiko penularan HIV antar perempuan memang sangat kecil, tetapi ada. Beberapa kasus HIV dalam relasi sesama perempuan sudah teridentifikasi (meskipun penelitian pada isu ini masih sangat minim). Hal ini membuktikan bahwa praktek seksual sesama perempuan beresiko terkena HIV.
  • Tidak hanya seksualitas lesbian, ada banyak seksualitas lainnya. Misalnya beberapa perempuan yang tidak mengidentifikasikan seksualitasnya. Mereka memiliki relasi seksual secara cair baik dengan laki-laki maupun perempuan. Di beberapa negara, ada banyak perempuan, apakah heteroseksual atau bukan, menikah untuk mempunyai anak atau bertahan hidup secara ekonomi.
3. Mental Kesehatan

Mitos:
  • Para lesbian hidup terisolasi, tidak stabil secara kejiwaan, depresi dan tidak bahagia.
  • Homoseksual adalah konsep Barat.
Fakta:
  • Orientasi seksual seseorang tidak dipengaruhi oleh apakah kamu adalah orang yang berbahagia atau tidak. Justru lesbophobia menjadi penyebab hancurnya kebahagiaan sebuah keluarga dan pertemanan serta kehidupan social seorang lesbian, lesbophobia melahirkan tekanan social yang berdampak kepada kehidupan sehat lesbian. Karena itu, kebahagiaan harus dimulai dari dirimu sendiri dengan menerima orientasi seksual kamu dan berbagi cinta kepada lingkungan sosial di sekitarmu. Banyak lesbian yang hidup berbahagia, sejahtera dan sukses. Kunjungilah mereka.
  • Homoseksual tidak melanggar tatanan sebuah masyarakat. Ada banyak sejarah kelompok masyarakat yang dapat menerima keberadaan mereka. Misalnya di Benin, Kenya dan Afrika Selatan diperbolehkan praktek seksual sesama perempuan bahkan untuk menikah. Hal ini terjadi sebelum jaman kolonial masuk. Di China, perempuan homoseksual diterima oleh Dinasti Ts’ing (1644-1911). Hal ini bertolak belakan dengan kondisi sekarang dimana banyak kelompok masyarakat yang menolak homoseksualitas dengan menstigmanya atau mengkriminalkan mereka dengan ancaman penjara atau hukuman mati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar