Alam Semesta

Alam semesta ini sangat luas, banyak miliyaran bintang-bintang di luar angkasa. Ingin sekali menjelajah antar bintang dengan menggunakan pesawat pribadi. Untuk mengetahui ciptaan allah yang maha besar ini

Arsip Info

Kamis, 30 November 2017

7 Langkah menghadapi bencana angin puting beliung

Angin topan (puting beliung)

Angin Puting beliung merupakan salah satu bencana yang merugikan bahkan dapat menelan korban jiwa. Indonesia merupakan negara yang mempunyai potensi bencana, baik gempa bumi, longsor, tsunami, puting beliung dll. Bencana yang terjadi di Indonesia banyak disebabkan oleh beberapa faktor dan faktor yang paling mempengaruhi ialah keadaan topografi di Indonesia, termasuk pola pergerakan angin puting beliung. Angin puting beliung sangatlah unik, karena meskipun dapat diprediksi namun lokasi kejadiannya masih menjadi teka-teki. Bencana ini bersifat merusak hingga dapat menelan korban jiwa.

Angin Puting Beliung belakangan ini sering terjadi di berbagai wilayah di Indonesia dan umumnya terjadi pada musim pancaroba.  Angin Puting Beliung merupakan bencana alam dan sulit diprediksi kapan akan terjadi dan dapat menimbulkan korban jiwa manusia, kerusakan/kerugian harta benda dan dampak psikologis. Mengingat dampak yang ditimbulkan oleh Angin Puting Beliung begitu luas, maka diperlukan adanya upaya Mitigasi pengurangan resiko bencana Angin Puting beliung melalui pemberian informasi dan pemahaman kepada masyarakat tentang apa itu Angin Puting Beliung.

Berikut ini adalah langkah-langkah untuk menghadapi bencana angin puting beliung

1. Saat terjadi bencana, Jangan berjalan-jalan di luar ketika topan masih bertiup
Jangan mendekati sungai atau saluran irigasi karena akan sangat berbahaya. Jangan menggunakan lift. Apabila ruangan listrik atau kamar mesin yang terdapat di bawah tanah terendam banjir, lift menjadi tidak dapat berfungsi. 

2. Perkirakan akan terjadinya banjir
Perhatikan baik-baik informasi dari Badan Meteorologi dan pemerintah terkait informasi air pasang atau luapan air. Harap segera lakukan persiapan evakuasi. Berhati-hatilah jika anda berada di bawah tanah. Kemungkinan dapat terjadi banjir di tempat parkir bawah tanah, kota bawah tanah serta kereta bawah tanah. Harap selalu berhati-hati. (6 jam hingga sesaat sebelum terjadi bencana).

3. Ketika pemberitahuan mengenai evaluasi telah dikeluarkan oleh pemerintah, harap bergerak dalam kelompok.
Kunci pintu rumah rapat-rapat, beritahukan kondisi kepada tetangga sekitar dan laksanakan evakuasi secara bersama-sama. Ada baiknya untuk berjalan sepatu training atau trekking untuk berjaga-jaga apabila harus berjalan di area yang tergenang air. Apabila pemberitahuan untuk evakuasi telah diumumkan, lekas persiapkan evakuasi untuk orang-orang yang membutuhkan bantuan khusus, seperti lansia dan anak-anak. Dalam situasi bencana seperti ini, prioritaskan lansia dan anak-anak, atau keluarga yang mengurusi lansia dan anak-anak, untuk dievakuasi terlebih dulu. Segera pindahkan mereka ke tempat yang aman dengan menggunakan mobil atau kendaraan yang tersedia. Evakuasi dapat dilaksanakan dengan membawa mereka ke tempat yang tinggi seperti bukit, rumah keluarga/kerabat, atau fasilitas kesejahteraan. (6-12 jam sebelum terjadi bencana).

4. Persiapkan senter, bahan makanan dan benda penting lainnya
Pada saat terjadi topan, ada kemungkinan air berhenti mengalir dan listrik padam. Persiapkan senter, radio untuk mengumpulkan perkembangan informasi, serta bahan makan dan air minum untuk beberapa hari ke depan. Pindahkan barang-barang rumah tangga ke tempat yang tinggi. Terutama barang-barang yang mudah rusak apabila basah terkena air. Ada baiknya untuk mendaftarkan barang-barang tersebut kepada asuransi properti terlebih dahulu. (12-36 jam sebelum terjadi bencana).

5. Apabila anda tinggal di daerah dataran rendah, persiapkanlah karung berisi pasir
Karung-karung berisi pasir dapat berfungsi untuk membendung banjir atau luapan air sungai, serta dapat pula memperlambat datangnya banjir. Tanyakan kepada kantor wilayah tempat anda tinggal mengenai ketersediaan karung pasir. Apabila tidak tersedia karung pasir, anda dapat membuat tanggul sendiri. Caranya, masukkan air ke dalam karung sampah yang terbuat dari plastik, kemudian tempatkan karung-karung air tersebut ke dalam blok beton. Atau, cara lain dapat pula dengan menggunakan botol air mineral yang telah diisi air dan masukkan botol-botol tersebut ke dalam kardus. (36-48 jam sebelum terjadi bencana).

6. Lakukan pemeriksaan dan pembersihan drainase
Selokan yang tersumbat merupakan penyebab genangan di jalanan, taman dan tempat lainnya. Dengan kondisi ini, ruangan bawah tanah serta tempat parkir bawah tanah juga akan terkena imbasnya. Selain itu, apabila selokan di beranda tersumbat oleh daun atau sampah, ada kemungkinan terjadi banjir di loteng atau lantai 2 ke atas. Oleh karenanya, harap lakukan pemeriksaan dan pembersihan pada drainase.

7. Perkuat genting atau atap yang terbuat dari seng
Apabila genting kabur karena diterpa angin dan mengenai seseorang, hal ini dapat menyebabkan kecelakaan yang lebih parah dari sekedar luka-luka. Selain itu, pastikan pula tidak ada kebocoran serta keretakkan pada dinding. Hal yang perlu dilakukan selanjutnya ialah, mengikat barang-barang yang mudah ambruk seperti antena televisi, sepeda, serta tanaman dalam pot dengan tali dan menyimpannya di dalam ruangan.

Rabu, 29 November 2017

Inilah tanda keracunan timbal dan cara pencegahan

Bahaya keracunan timbal
Timbal adalah logam beracun yang ditemukan dalam produk-produk umum seperti cat, pipa air, beberapa wadah keramik berglazur, piring-piring, dan lantai keramik, kaleng timah, bensin, dan buangan knalpot mesin. Timbal berdosis tinggi dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang parah. Tetapi keracunan timbal yang lebih umum adalah timbal yang diserap secara perlahan dari paparan dalam jumlah kecil yang terus berulang. Tak ada tanda-tanda keracunan timbal yang jelas, tetapi setelah beberapa lama menyebabkan masalah kesehatan yang serius.

Keracunan timbal lebih berbahaya pada anak-anak dibanding orang dewasa karena timbal mempengaruhi pertumbuhan syaraf dan otak anak-anak. Makin kecil anaknya, dampak keracunan timbal akan semakin berbahaya. Setelah beberapa waktu, bahkan paparan timbal dalam jumlah sedikit pun dapat membahayakan perkembangan mental.

Seperti racun lainnya, timbal masuk ke dalam tubuh melalui makanan atau minuman, atau diserap melalui kulit. Timbal dapat merusak ginjal dan darah, syaraf, dan sistem pencernaan. Kandungan timbal yang sangat tinggi di dalam darah dapat menyebabkan muntah, jalan sempoyongan, lemah otot, serangan jantung, atau koma. Gangguan lesehatan memburuk bila kadar timbal dalam darah meningkat.

Tanda-tanda
Jika menurut Anda seseorang keracunan timbal, lakukan tes darah di pusat kesehatan masyarakat atau klinik. Pada saat seseorang memperlihatkan tanda-tanda keracunan timbal, kandungan timbal dalam darahnya sudah tinggi. Oleh karena itu penting mencegah keracunan timbal. Tanda-tanda keracunan timbal antara lain:
  • Pemarah.
  • Selera makan rendah dan kurang tenaga.
  • Sulit tidur.
  • Sakit kepala.
  • Anak-anak kehilangan keterampilan yang sebelumnya sudah dimiliki.
  • Anemia (darah lemah).
  • Konstipasi (susah buang air besar).
  • Sakit dan kram di puser (ini biasanya tanda pertama terjadinya keracunan timbal dengan dosis yang tinggi).
Pencegahan
Mencegah terpapar timbal adalah cara terbaik:
  • Cari tahu apakah petugas kesehatan setempat menguji kandungan timbal di dalam air. Jika kandungan timbal dalam air Anda tinggi, cari sumber air lain untuk minum dan masak.
  • Biarkan air kran  mengalir selama satu menit sebelum mengambilnya untuk minum atau masak.
  • Jangan menggunakan peralatan keramik berglazur untuk makan atau memasak.
  • Hindari makanan dari kaleng yang disegel dengan timbal.
  • Buang mainan yang catnya sudah usang jika Anda tidak tahu apakah catnya mengandung timbal.
  • Jangan menyimpan cairan dalam wadah kristal bertimbal karena timbal dapat terlepas ke dalam cairan.
  • Hindari menanam tanaman pangan, membangun  rumah atau menggali sumur di atas atau di dalam tanah yang mungkin mengandung timbal. Jika Anda menemukan batu baterai, serpihan cat, drum oli, dan sampah industri lainnya baik di atas tanah atau terkubur di dalam tanah, itulah tanda bahwa tanah sudah terkontaminasi.
  • Cuci tangan sebelum makan, terutama jika Anda selesai bekerja di luar rumah atau jika anak-anak selesai bermain di luar rumah.
Mencegah keracunan timbal dari cat
Bila cat mulai usang atau dicat secara sembarangan, maka cat akan pudar dan kadang mengelupas atau rontok dari dinding, pegangan tangga, dan mebel. Serpihannya dapat dengan mudah dihirup atau ditelan oleh anak-anak kecil. Jika catnya mengandung timbal, maka sangat berbahaya. Cara terbaik untuk mencegah keracunan timbal dari cat yang usang adalah dengan membuangnya dan menggantinya dengan cat yang tidak mengandung timbal.

Saat membuang cat yang usang:
  • Selalu gunakan sarung tangan, masker, dan kacamata pelindung.
  • Jangan biarkan anak-anak bermain di tempat yang sedang dikerjakan atau di tempat-tempat yang mungkin sudah terkontaminasi.
  • Untuk menjaga agar debu cat tidak beterbangan, basahkan permukaannya dengan air sambil Anda mengamplas dan mengeroknya.
  • Bersihkan semua debu cat secara hati-hati setiap kali menyelesaikan satu bagian. Gunakan kain pel basah dan lap basah, bukan sapu.
  • Kumpulkan serpihan cat dan debu dalam sebuah kaleng atau wadah lain yang kuat, ikat di dalam kantong plastik, dan tanam dalam secara aman.
Mencegah keracunan timbal dari pipa air
Beberapa pertanda bahwa air Anda mungkin sudah terkontaminasi timbal adalah air yang berwarna karat dan noda pada piring dan pakaian yang dicuci. Air dari pipa yang mengandung timbal sebaiknya tidak digunakan untuk membuat susu bayi, dan jika mungkin pipa yang mengandung timbal harus diganti dengan pipa yang terbuat dari besi, tembaga, atau plastik.

Karena timbal pada pipa lebih mudah larut dalam air panas daripada dalam air dingin maka lebih baik tidak menggunakan air panas dari pipa yang mengandung timbal untuk keperluan minum dan memasak. Biarkan air mengalir sampai sedingin mungkin sebelum menggunakannya. Beberapa filter air dapat menyaring timbal..

PENTING: Merebus air tidak membuang timbalnya, malah membuatnya semakin berbahaya!

Mencegah keracunan timbal dari polusi udara luar
Untuk menangkap debu dari luar yang mungkin mengandung timbal, letakkan lap basah di bawah pintu dan di jendela. Untuk mengurangi pemaparan timbal dari udara, pemerintah dan sektor industri harus bekerja sama untuk mengurangi penggunaan timbal dalam produk-produk industri dan membatasi tingkat pencemaran udara yang pemerintah ijinkan dari sektor industri.

Senin, 27 November 2017

Sejarah perlawanan terhadap hindia belanda di bali

Perahu belanda

Selama abad XIX dan dasa warsa pertama abad XX, di seluruh Hindia Belanda sering terjadi perlawanan para penguasa lokal terhadap pemerintahan kolonial Belanda. Setiap agresi Belanda dianggap memperkosa kemerdekaan dan merendahkan martabat raja serta rakyat yang diserangnya.1 Bahkan dalam sejarah Indonesia, periode tersebut dikatakan sebagai periode perlawanan terhadap kolonial Belanda.

Perlawanan ini dapat dianggap sebagai bentuk gerakan protes melawan dominasi Belanda atau reaksi terhadap segala tindakan penjajah. Perlawanan-perlawanan serupa sangat laten dan sering terjadi di berbagai daerah. Di Bali, sejumlah perlawanan telah terjadi sejak tahun 1846 dan baru berakhir setelah Belanda berhasil menaklukkan kerajaan Klungkung pada tahun 1908.

Tragedi kemanusiaan yang pernah membudaya di Bali adalah perdagangan budak. Sangat ironis dalam sejarah Bali bahwa perekonomian Bali sampai pada permulaan abad XIX masih sangat tergantung pada ekspor budak. Jumlah budak yang dijual oleh para bangsawan Bali setiap tahun sebanyak 2.000 orang. Sebaliknya, mereka meng-impor koin-koin tembaga, senjata dan terutama candu yang dikonsumsi secara luas oleh masyarakat Bali.

Sejak masa pemerintahan sementara Inggris sudah diusahakan untuk membatasi perdagangan budak dan akhirnya memang berhasil menghapuskannya. Akan tetapi hal ini mengancam pendapatan kaum bangsawan Bali tepat ketika Gunung Tambora sedang melancarkan aksi penghancurannya atas perekonomian pertanian Bali. Beruntunglah di kemudian hari letusan gunung Tambora itu memberikan dampak yang positif. Timbunan abu Gunung Tambora segera menaikkan kesuburan tanah, sehingga tanah Bali menghasilkan produk-produk pertanian. Singapura yang merupakan daerah jajahan Inggris, menjadi pasar ekspor Bali yang baru untuk komoditi khususnya beras, kopi dan nila serta daging babi. Para raja dan bangsawan Bali tidak lagi menjual rakyatnya tetapi tenaga mereka dibutuhkan untuk menggarap lahan-lahan pertanian.

Dalam bidang ekonomi dan politik, kontak dengan bangsa Belanda telah mengakibatkan semakin merosotnya kedudukan para penguasa pribumi. Namun demikian Belanda memang memiliki dua alasan sepihak untuk menempatkan pulau Bali di bawah pengaruh atau bahkan kekuasaannya. Yang pertama adalah perampokan dan perampasan yang dilakukan oleh orang-orang Bali terhadap kapal-kapal yang terdampar dan yang kedua adalah kekhawatiran akan adanya kemungkinan kekuatan Eropa lainnya yang akan melakukan intervensi atau menguasai Bali.

Perjanjian yang ditandatangani pada tanggal 24 Mei 1843 antara pemerintah Hindia Belanda dengan tujuh kerajaan Bali, yaitu Klungkung, Karangasem, Buleleng, Gianyar, Bangli, Payangan dan Mengwi, antara lain mencantumkan masalah Tawan Karang. Belanda menuntut dihapuskannya Tawan Karang (Undang-Undang Tawan Karang=Klip Recht). Tawan karang merupakan lembaga hukum adat antar bangsa yang berlaku di Bali dan Lombok, suatu hak yang dimiliki oleh raja dan rakyat pantai untuk merampas kapal atau perahu yang kandas di perairan pantainya. Kapal atau perahu yang terdampar itu hanya boleh ditolong oleh penduduk pantai di wilayah kerajaan itu.

Belanda menganggap Tawan Karang ini sebagai perintang yang sangat merugikan aktivitas perdagangannya, namun bagi raja-raja Bali peraturan Tawan Karang merupakan undang-undang maritim warisan nenek moyang yang tidak perlu dipermasalahkan. Perlawanan raja dan rakyat Badung terhadap Belanda yang dikenal dengan istilah Puputan Badung,3 bermula dari terdamparnya sebuah perahu dagang bernama Sri Komala di daerah Badung pada tahun 1904. Sri Komala adalah sebuah perahu dagang milik orang Cina tetapi berbendera Hindia Belanda. Ada dugaan sebetulnya perahu itu milik perusahaan Belanda yang disewa oleh orang Cina untuk berdagang ke Pulau Bali-Lombok atau pulau-pulau lainnya.

Puputan Badung memang hanya berlangsung selama enam hari yaitu dari tanggal 15 September sampai tanggal 20 September 1906. Namun demikian perang itu menunjukkan bagaimana raja dan rakyat Badung menanggapi situasi kolonial dan memberikan interpretasi terhadapnya serta bagaimana sikap yang paling tepat mereka lakukan. Mereka berani mempertahankan jiwa raga melawan musuh demi membela kerajaannya. Meskipun masih dalam lingkup Bali, rasa nasionalisme muncul mulai dari raja hingga seluruh rakyat demi untuk mempertahankan harga diri dan adat istiadat.

Penyebab utama Puputan Badung adalah ketika pemerintahan Hindia Belanda secara sepihak memaksa raja Pemecutan untuk mengganti kerugian perahu Sri Komala beserta isinya yang terdampar di pantai dalam wilayah Badung. Selama dua tahun dilakukan perundingan-perundingan untuk mencari jalan keluar secara damai, namun tidak berhasil. Raja dan rakyat Badung yang merasa tidak melakukan penjarahan terhadap perahu Sri Komala tentu saja menolak untuk membayar ganti rugi, sementara pihak Belanda bersikeras menimpakan kesalahan kepada raja dan rakyat Badung dengan ancaman akan memblokade Badung dan Tabanan yang berada di belakangnya.

Oleh karena tidak terjadi kesepakatan maka meletuslah Puputan Badung yang dahsat dan berakibat sangat fatal khususnya bagi Badung dan Tabanan. Kedahsatan itu terutama karena Puputan Badung bisa dikategorikan sebagai perang rakyat. Dalam perang itu seluruh rakyat mendapat bagian baik secara aktif maupun pasif. Setiap laki-laki dan wanita bahkan setiap anak-anak ikut menjalankan perannya masing-masing. Peran aktif dilakukan oleh laki-laki yang telah mampu melawan musuh, sementara para wanita dan dan anak-anak berperan secara tidak langsung di garis belakang. Ada beberapa alasan pemilihan topik ini. Pertama, penulisan sejarah perlawanan lokal masa kolonial masih sangat sedikit. Salah satu penyebabnya karena terkendala masalah bahasa lokal dan bahasa asing (Belanda) yang dipakai sebagai sumber baik di dalam buku maupun arsip. Kedua, selama ini belum ada yang mengupas secara gamblang apa yang dimaksud dengan puputan. Masalah puputan hanya ditulis secara sepotong-sepotong dalam buku-buku. Yang ketiga, sumber arsip tersedia cukup banyak walau ditulis dalam bahasa Belanda.

Situasi kerajaan Badung pada waktu mengadakan puputan terhadap pasukan Belanda tergambar dalam sumber tradisional dan arsip kolonial. Di situ tampak bagaimana masyarakat menanggapi situasi kolonial dan memberikan interpretasi terhadapnya serta bagaimana sikap yang paling tepat mereka lakukan. Mereka berani mempertaruhkan jiwa raga melawan musuh demi keajegan kerajaan. Perlu disadari bahwa dua kelompok sumber sama-sama memiliki kekuatan dan kelemahannya sendiri-sendiri, sama-sama dilekati oleh subjektivitasnya masing-masing. Oleh karena itu diperlukan sikap kritis dan senantiasa waspada terhadap segala bentuk subjektivitas yang melekat di dalamnya, sehingga kajian yang mendekati objektivitas lebih tercermin dalam penulisan.

Artikel ini menggunakan metode sejarah dalam lingkup kerjanya. Perlawanan kerajaan Badung di Bali dianalisis dengan menggunakan metode sejarah yang meliputi heuristik, kritik sumber, sintesis dan historiografi/ rekonstruksi. Dalam menjelaskan Puputan Badung sebagai fenomena sejarah, maka akan dikemukakan beberapa faktor yang saling terjalin, faktor-faktor yang mampu mematangkan situasi sehingga meletus berupa puputan. Pendekatan dengan memperhatikan aspek-aspek analitis untuk memandang puputan Badung diharapkan mampu memberi wawasan baru dalam mengungkapkan periode perlawanan terhadap pemerintahan Hindia Belanda di Indonesia.

Sejarah badung di pulau bali
Kerajaan Badung ini berada di daerah Bali Selatan dengan letak yang cukup strategis, karena berada di jalur perdagangan antara Eropa dengan Australia. Kapal-kapal yang berangkat dari Eropa dengan tujuan akhir Australia, biasanya setelah berhasil melewati Tanjung Harapan di Afrika Selatan, kemudian melanjutkan perjalanannya menuju Singapura dan terus ke Batavia. Dari Batavia kapal-kapal itu ke Surabaya atau Besuki dan menuju Ampenan di Lombok melalui Selat Bali dan Selat Lombok.6 Badung juga dikenal sebagai daerah penghasil beras berkualitas tinggi yang dikirim keluar Bali. Badung sudah dikenal sejak tahun 1343 pada waktu kerajaan Majapahit menduduki Bali. 

Kabupaten Badung dulunya bernama Nambangan sebelum diganti oleh I Gusti Ngurah Made Pemecutan pada akhir abad XVIII. Daerah ini merupakan salah satu pusat perdagangan budak sejak berkeca-muknya perang di Bali tahun 1650. Nama Badung semakin terkenal ketika seorang pembesar Badung bernama Kiai Jambe Pulo ikut dalam memadamkan pemberontakan di Gelgel tahun 1686.

Pada tahun 1696 Badung yang semula menjadi bagian kerajaan Klungkung, kemudian menjadi kerajaan yang berdiri sendiri. Akan tetapi pada tahun 1700 Badung menjadi bagian kerajaan Mengwi yang muncul sebagai sebuah kerajaan akibat dari semakin lemahnya kerajaan Bali karena adanya pemberontakan. Di Bali, sejumlah perlawanan telah terjadi sejak tahun 1846, yaitu Perang Buleleng tahun 1846, Perang Jagaraga I tahun 1848, Perang Jagaraga II tahun 1849, Perang Kusamba tahun 1849 dan Perang Banjar tahun 1868.

Meskipun terjadi konflik bersenjata antara Badung dengan daerah-daerah di sekitarnya, akan tetapi saling hubungan perdagangan di antara mereka yang sudah berlangsung sejak abad XVII masih tetap berjalan. Sebagai contoh hubungan perdagangan Badung dengan Gianyar, Tabanan dan Klungkung tetap berjalan dengan sangat baik. Berbagai komoditi yang diperdagangkan antara lain alat-alat rumah tangga, kapas, candu, beras dan pakaian, bahkan budak, senjata dan amunisi.

Dari Mengwi dikirim barang dagangan seperti kapas, kesumba, kacang, mentimun, kelapa, jagung, ketela, ubi dan cabai. Semua barang dagangan ditransit di pelabuhan Kuta kemudian dikirim ke luar Bali oleh pedagang-pedagang asing. Dengan peranan Kuta sebagai tempat transit perdagangan, maka kerajaan Badung yang menguasai Kuta mempunyai peranan penting dalam bidang ekonomi bagi kerajaan-kerajaan di Bali yaitu sebagai penyalur barang-barang perdagangan.

Stratifikasi sosial masyarakat Badung terbagi menjadi empat wangsa antara lain: brahmana, ksatria, wesya disebut triwangsa dan jaba (kaula). Tiap-tiap wangsa memiliki penggolongannya sendiri-sendiri sehingga tampak sangat bervariasi misalnya wangsa Brahmana terbagi menjadi Siwa dan Budha, ksatria terbagi menjadi ksatria.

Sistem perekonomian kerajaan Badung meliputi cara pengolahan tanah dan pembagian air (subak). Sumbersumber ekonomi yang didapat dan pengelolaan sumber-sumber ekonomi yang berlimpah dari kerajaan Badung dilakukan dengan cara berikut.
1. Perdagangan Budak
2. Iuran Negara yang diperoleh dari orang-orang Bugis yang tinggal di sekitar Dukuh/ Kepaon/ Kuta dan sekitar Serangan/ Kesiman.
3. Pemungutan pajak tanah, pemungutan pajak pasar, pajak pelabuhan, pajak sabungan ayam.
4. Bertani, yang dilakukan orang Bali dengan membajak dan mengerjakan sawah sehingga ketika musim panen, mereka menjual beras dan hasil pertanian lainnya kepada pedagang-pedagang dari pulau lain, seperti Jawa, Lombok, Sulawesi, Banda yang datang ke Badung.
5. Beternak sapi, yaitu sapi-sapi Bali yang kualitasnya terkenal sangat bagus sehingga banyak permintaan terhadap sapi-sapi Bali tersebut.

Insiden Perahu Sri Komala hingga Puputan mengakibatkan perlawanan terhadap belanda

Perang di bali

Pada tanggal 27 Mei 1904 sebuah perahu dagang terdampar di pantai timur kerajaan Badung.9 Perahu dagang itu bernama Sri Komala, memakai bendera Belanda dan berlayar dari Banjarmasin mengangkut barang dagangan milik orang Cina bernama Kwee Tek Tjiang. Oleh karena kapal itu kandas dan pecah maka para penumpang kapal menurunkan barang yang masih dapat diselamatkan. Barang itu terdiri dari peti kayu, koper kulit, dan nahkoda minta bantuan kepada bandar di Sanur untuk ikut menjaga keamanan barang-barang yang diturunkan. Atas permintaan pemilik barang maka peristiwa terdamparnya kapal itu dilaporkan kepada raja Badung, I Gusti Gde Ngurah Made Agung.

Dengan adanya laporan tersebut, raja Badung pergi ke tepi pantai dan memerintahkan kepada Boen Tho, seorang Cina di Sanur untuk membantu mengamankan barang-barang dari kapal itu. Semua barang yang terdiri dari gula pasir, minyak tanah dan terasi diturunkan dari kapal dan diangkut ke darat oleh 11 orang Bali yang melakukan tugasnya dengan jujur dan tidak ada yang mencuri. Pada tanggal 29 Mei 1904, datang utusan raja Badung ke pantai untuk mengadakan pemeriksaan. Kedatangannya disambut oleh Kwee Tek Tjiang yang membuat laporan palsu dengan menyatakan bahwa rakyat kerajaan Badung telah mencuri 3700 ringgit uang perak serta 2300 buah uang kepeng. Laporan ini tidak diterima oleh utusan raja karena tidak disertai bukti.

Kwee Tek Tjiang yang merasa tidak puas karena laporannya tidak ditanggapi, menghadap sendiri kepada raja Badung untuk mengadukan kehilangan uangnya itu. Raja Badung menolak pengaduannya karena setelah diadakan pemeriksaan kepada rakyatnya, ternyata tuduhan Kwe Tek Tjiang tidak sesuai. Apalagi rakyat Badung dituduh merampas perahu Sri Komala tersebut pada tanggal 27 Mei 1904. Kwee Tek Tjiang kemudian menghadap residen J. Eschbach. Dihadapan residen, Raja Badung sudah menyatakan rakyatnya tidak melakukan perampasan dan pencurian seperti yang dituduhkan pemilik kapal, tetapi residen tetap memaksa raja Badung harus mengganti kerugian sebesar 3000 ringgit. Namun raja Badung yang yakin rakyatnya tidak melakukan pencurian menolak membayar ganti rugi walaupun pemerintah Hindia Belanda mengultimatumnya.

Penolakan raja Badung mengakibatkan pemerintah Hindia Belanda mengirimkan angkatan laut ke perairan Badung untuk melakukan blokade ekonomi di laut. Pemerintah Hindia Belanda bertujuan agar para pedagang yang semula melakukan perdagangan dari dan ke Badung, menghentikan kegiatannya melalui laut. Akibatnya, sejumlah pedagang tidak berani melakukan kegiatan perdagangan.

Selama blokade itu, ada banyak laporan yang disampaikan kepada Raja Badung mengenai kejadian-kejadian pelanggaran yang dilakukan oleh orang kapal jaga. Negeri Badung juga menderita banyak kerugian atas pajak cukai ekspor yang jumlahnya mencapai 1500 ringgit, yang diberlakukan sejak penutupan negeri Badung. Lebih dari itu, semua biaya yang dikeluarkan untuk membayar kapal-kapal jaga sebesar 2173 ringgit dibebankan juga kepada Raja Badung,sehingga Raja Badung harus membayar biaya keseluruhannya sebesar 5173 ringgit. Raja Badung yang merasa terhina dan marah tentu saja tidak menerima perlakuan tersebut, yang oleh karena itu beliau dengan tegas menolak untuk membayar semua ongkos untuk biaya operasional kapal-kapal jaga.

Ekspedisi militer Belanda ke Badung tidak terjadi seketika, tetapi terlebih dahulu diawali dengan perundingan yang gagal. Pertama Residen Buleleng mengirim surat kepada Raja Badung yang isinya menyatakan bahwa Frederik Albert Liefrinck, yang pernah menjabat sebagai Residen Bali dan Lombok dan sekarang duduk sebagai anggota Raad van Nederlandsch-Indie, akan dikirim untuk berunding bersama-sama dengan Residen Bali dan Lombok yang baru pulang dan Raja Badung untuk menyelesaikan masalah kesulitan dan kerugian yang diderita negeri Badung. Namun demikian dalam musyawarah itu juga tetap ditegaskan mengenai keharusan Raja Badung untuk mengganti biaya selama penutupan negeri Badung sebesar 10.213 ringgit. 

Biaya itu dipotong dengan uang cukai pajak yang sudah diterima oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda sebanyak 8040 ringgit. Artinya Raja Badung masih harus membayar kembali sebanyak 2173 ringgit dan 3000 ringgit untuk kerugian pemilik perahu Sri Komala, sehingga jumlah keseluruhannya adalah 5173 ringgit. Jika Raja Badung tetap menolak maka pemerintah Hindia Belanda akan mengerahkan pasukannya untuk menyerang negeri Badung dan segala akibat yang akan menimpa rakyatnya merupakan tanggungjawab Raja Badung. Oleh karena Raja Badung menolak usulan Belanda, yang berarti perundingan mengalami kegagalan, maka perang akan segera terjadi. Demikianlah selanjutnya pemerintah Hindia Belanda mengultimatum negeri Badung dan mengeluarkan Surat Keputusan untuk memblokade serta mengirimkan ekspedisi militernya ke negeri Badung.

Menjelang kedatangan pasukan Belanda, raja Badung mengadakan rapat untuk membulatkan tekad seluruh rakyat untuk mengahadapi serangan Belanda yang akan datang. Dalam rapat itu seluruh rakyat menyatakan kesetiaannya kepada raja dan ikhlas mempertaruhkan jiwa dan raganya untuk menghadapi serangan Belanda. Sebelum bergerak ke medan pertempuran, laskar kerajaan biasanya dikumpulkan di puri sambil menerima perintah dari raja bersamaan dengan pelaksanaan upacara yang dipimpin seorang pendeta. Persembahyangan yang dilakukan pada sebuah pura menunjukkan bahwa raja bersama rakyatnya sebagai makhluk cenderung menghubungkan dirinya dengan dzat tertinggi, Hyang Widhi. Dalam melakukan tindakan, rakyat dan raja mohon petunjuk Tuhan sesuai dengan yang digariskan oleh agama Hindu, agama yang dianut oleh mayoritas rakyat kerajaan Badung.

Di pihak Belanda, sesuai dengan ultimatum yang ditujukan terhadap Raja Badung agar menyerahkan diri dalam waktu 1 x 24 jam kepada Belanda dan memberikan tenggang waktu 2 x 24 jam kepada Tabanan, Gubernur Jenderal B. van Heutzs memerintahkan untuk mengirim ekspedisi militer pada tanggal 12 September 1906. Armada kapal perang yang akan mengangkut pasukan di selat Badung dikumpulkan.11 Setelah diadakan pengintaian oleh pasukan Belanda dari kapal marinir yang beroperasi di perairan Bali, maka diterima informasi bahwa tempat yang aman dan dianggap cocok sebagai tempat berlabuh untuk kekuatan ekspedisi adalah di Sanur.

Perang yang berlangsung selama enam hari (15-20 September 1906) berakhir dengan Puputan di kerajaan Badung. Keputusan puputan diambil Raja Badung setelah usai pertempuran di Sanglah, 18 September 1906. Dari geguritan Bhuwana Winasa didapatkan informasi, malam seusai perang yang merenggut nyawa banyak orang dari pihak Badung itu, Raja yang baru berusia 26 tahun itu mengadakan musyawarah dengan para pendeta kerajaan.

Perang bagi raja sangat boleh jadi bukan laku sia-sia, melainkan justru sebagai suatu pilihan cara untuk mengobarkan wirasa (emosi), yaitu menyulut api semangat keberanian dalam diri untuk membela kebenaran. Wirasa pada akhirnya meletupkan semangat, sehingga perang pun bisa dimaknai sebagai suatu kurban persembahan di medan laga. Tidak mengherankan bila sumber-sumber susastra agama Hindu di Bali, seperti kakawin Nitisastra kemudian mengalirkan pemahaman perang di medan laga berbuah kemuliaan, menuai sebutan perwira, dan dipuji-sanjung masyarakat.

Sebaliknya, menyerah, apalagi lari dari arena pertempuran, justru akan menuai makian. Perang bagi raja-raja justru menjadi pemicu kebangkitan gairah surgawi, kerohanian, bukan semata pertempuran raga dan perebutan kekuasaan. Di sana seperti ada ''janji'' surgawi atas pilihan terhadap keberanian dan wirasa (emosi) menjadi spirit pembangkit rasa lain, bahkan juga dipilih sebagai jalan ''penyucian''.


Referensi:
ANRI, Arsip Bali-Lombok No. 71.
ANRI, Nota betreffende de op de kust van Badoeng gestrande prauw Sri Koemala, 27 Agustus 1906.
J.C. van Leur, Indonesia trade and society, (Bandung, 1960), hal 22-56.
Miguel Covarrubias, op cit, hal. 27-28. Lihat juga Henk Schulte Nordholt, Kriminalitas, Modernitas dan Identitas dalam Sejarah Indonesia, (Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2002), hal. 95.
C, eerste deel, (Amsterdam, P.N. van Kampen, 1861), hal. 60.

Kamis, 23 November 2017

3 Ritual pemujaan pada gunung di negara jepang

Gunung fuji di jepang

Wilayah daratan Jepang yang sempit ternyata sebagian besar (85%) terdiri dari pegunungan. Gunung-gunung ini sangat erat hubungannya dengan kehidupan sehari-hari, misalnya sayur-sayuran dan buah-buahan yang sebagian besar dihasilkan di daerah pegunungan, dan kayu untuk bangunan rumah serta peralatan rumah tangga. Tetapi, gunung juga sering mendatangkan bencana bagi masyarakat yang tinggal di gunung dan sekitarnya, misalnya dengan adanya gempa tektonik dan letusan gunung berapi.

Di lain pihak, gunung-gunung ini memegang peranan yang cukup penting dalam kehidupan kerohanian masyarakat Jepang, terutama bagi yang tinggal di gunung dan sekitarnya. Sejak zaman dahulu hingga sekarang gunung telah menjadi obyek pemujaan orang, tidak hanya di Jepang tetapi juga di seluruh dunia, karena gunung selalu memberikan kemakmuran kepada umat manusia. Pepohonan di gunung menyerap air hujan, lalu mengalirkannya kembali melalui sungai-sungai. Tidak salah kalau banyak kuil didirikan di pegunungan sebagai hulunya dengan tepi laut sebagai hilirnya, suatu konsep yang bagi umat Hindu diyakini menjadi dualitas yang menjadi sumber kemakmuran. 

Keberadaan gunung dengan sosoknya yang agung dan pada umumnya dikelilingi oleh hutan lebat, menimbulkan kesan di dalam benak manusia sebagai sesuatu yang sakral dan misterius. Kuil yang berada di pegunungan pun akan menimbulkan kesan sakral, memberikan kesejukan pikiran dan kenyamanan, apalagi dengan pemandangan alam yang indah akan mampu mewujudkan gunung menjadi tempat yang dapat dijadikan sebagai sarana untuk berkonsentrasi menuju, memuja, dan mendekatkan diri kepada para dewa.

Di Jepang, keberadaan gunung juga diperlakukan sebagai sesuatu yang sakral dan objek pemujaan. Jepang memang dikenal sebagai negara kepulauan yang mempunyai lebih dari empat puluh gunung, baik yang masih aktif maupun tidak aktif lagi. Gunung-gunung yang terkenal sebagai obyek pemujaan antara lain gunung Fuji, Haguro, Yoshino (Kinpu), Omine, dan Kumano. Faktanya pada hampir semua gunung tinggi di Jepang mempunyai kuil pemujaan sendiri-sendiri. Orang Jepang hingga kinipun masih melakukan pemujaan secara religius terhadap gunung, misalnya dengan cara mendaki gunung pada musim panas dan melakukan ritual-ritual keagamaan tertentu di gunung.

Upacara Pemujaan terhadap Gunung bagi masyarakat jepang
Pemujaan terhadap gunung sudah menjadi salah satu bagian kehidupan orang Jepang sejak zaman dahulu. Hingga sekarang masih bertahan dalam bentuk pemujaan yang dilakukan orang per orang atau dalam suatu institusi keagamaan. Salah satu institusi keagamaan yang terbesar dalam pemujaan gunung adalah Shugendō. Shugendō adalah aliran keagamaan yang banyak mendapat pengaruh Budha Mantrayana yang didirikan oleh seorang yamabushi bernama En no Gyōja pada pertengahan abad ke tujuh. Shugendō sendiri berarti “jalan” pelaksanaan dan penguasaan kekuatan magis yang dilakukan melalui proses pertapaan. Proses pertapaan tersebut dilakukan di gunung-gunung, sehingga orang-orang yang melakukannya disebut yamabushi (orang/pendeta yang bertapa dan tinggal di gunung). Yamabushi inilah yang biasanya menjadi pembimbing dalam ritual-ritual keagamaan di gunung-gunung atau ritual keagamaan yang berhubungan dengan gunung.

Pemujaan gunung di Jepang dapat dibagi dalam tiga kategori gunung, yaitu :

1. Gunung berapi tidak aktif yang berbentuk kerucut
Gunung-gunung ini umumnya terletak di dekat pantai. Para pelaut dan nelayan percaya sesuai dengan tradisi yang ada bahwa dewa yang mengendalikan pelayaran berada di puncak gunung-gunung ini. Bagi mereka, gunung-gunung ini dianggap sebagai penghubung antara langit dan bumi.

2. Gunung sebagai sumber air
Pemujaan gunung sebagai sumber air dimulai sejak masyarakat Jepang kuno yang hidup dari bertani membuat kuil-kuil yang ditujukan bagi para dewa gunung yang mendatangkan hujan dan menjaga sumber air. Secara umum, dapat dikatakan bahwa upacara pemujaan terhadap gunung dilakukan petani untuk menjaga sawahnya. Mengingat pentingnya sawah bagi kehidupan orang Jepang, sukar dibedakan apakah upacara tersebut dilakukan untuk yama no kami (dewa gunung) atau ta no kami (dewa sawah). Para ahli menyimpulkan bahwa antara yama no kami dan ta no kami sebenarnya merupakan satu kesatuan. Seperti dikatakan Befu (1981:102), dipercaya bahwa ta no kami tinggal di sekitar gunung yang jauh dari pemukiman dan disebut juga yama no kami. Mereka akan turun pada musim semi dan akan kembali ke gunung pada musim gugur setelah masa panen. Selain petani, pemujaan terhadap yama no kami juga dilakukan oleh pemburu, penebang kayu, dan pengumpul kayu bakar.

3. Gunung dalam hubungannya dengan arwah orang yang sudah meninggal
Gunung yang termasuk dalam kategori ini dianggap memiliki peran penting dalam perkembangan pemujaan terhadap arwah leluhur di Jepang. Dalam hal ini, ada dua hal dasar yang bertentangan satu sama lain. Kepercayaan bahwa gunung merupakan tempat tinggal bagi yang sudah meninggal hal ini mencerminkan kebiasaan di masa lampau tentang penguburan jenazah di gunung dan kepercayaan bahwa gunung merupakan tempat bertemunya dunia ini dan dunia berikutnya adalah didasarkan pada anggapan tradisional bahwa surga atau dunia lain ada di suatu tempat di luar wilayah gunung.

Seperti sudah disebutkan di muka, 85% wilayah daratan Jepang terdiri dari pegunungan. Namun demikian, tidak semua gunung yang ada berfungsi sebagai sumber kepercayaan masyarakat atau dianggap sebagai gunung suci, yang menjadi objek pemujaan religius dan tempat dilaksanakannya praktek-praktek religius. Sementara itu, hampir dalam setiap gunung suci di Jepang mempunyai dua situs pelayanan keagamaan. Situs-situs tersebut adalah yamamiya (kuil di puncak gunung) dan satomiya (kuil di kaki gunung). Kuil-kuil tersebut menjadi simbol kesucian gunung dan tempat melakukan pemujaan pada waktu-waktu tertentu.

Upacara pemujaan terhadap gunung sangat berkaitan erat antara kehidupan manusia, arwah para leluhur, dan kami (dewa). Upacara tersebut dilakukan dalam bentuk matsuri (festival keagamaan). Upacara yang paling terkenal adalah Bon Matsuri atau Obon (festival musim panas untuk arwah para leluhur) bagi umat Budha dan Oshōgatsu (perayaan tahun baru) bagi umat Shintō. Upacara ini menandai berakhirnya kunjungan tahunan arwah para leluhur ke “rumah duniawi” mereka, yang oleh para umatnya dilakukan dengan berkunjung ke jinja (kuil Shintō) atau otera (kuil Budha).


Referensi:
Bellah, Robert N. 1992. Religi Tokugawa : Akar-akar Budaya Jepang. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Befu, Harumi. 1981. Japan : An Anthropological Introduction. Tokyo: Charles E. Tuttle.
Earhart, H. Byron. 1970. A Religious Study of the Mount Haguro Sect of Shugendo. Tokyo: Sophia University.
Eliade, Mircea. 1959. The Sacred and the Profane. New York: Harcourt, Brace & World.
Hori, Ichiro. 1983. Folk Religion in Japan, Midway Reprint.

Rabu, 22 November 2017

3 Mitos cerita yang populer di cina

Pada masa primitif 4000 tahun yang lalu, manusia sangat ingin mengenal alam, namun karena tingkat pengetahuan manusia saat itu masih rendah, maka hanya bisa bergantung pada imajinasi dan hal-hal mistis terhadap alam dan kehidupan manusia yang pada akhirnya membuat semacam penjelasan sederhana. Mitologi Cina mengandung bermacam-macam kisah sakral atau kisah luar biasa yang menceritakan bagaimana dunia dan manusia diciptakan. Kisah-kisah tersebut dianggap sakral karena berhubungan dengan kehidupan para dewa yang menjelma menjadi nilai spiritual yang mendalam bagi bangsa Cina.

Ragam mitos di Cina memang tak sedikit, namun tidak semuanya dikenal oleh masyarakat dunia. Seperti yang telah disebutkan bahwa mitos berakar dari imajinasi. Bukan berarti masyarakat Cina tidak memiliki imajinasi, hanya saja kemajuan intelektual mereka masih tertahan di tahap awal. Hal ini tentu saja karena pada zaman dulu masyarakat Cina tidak menjalin hubungan dengan bangsa lain, maka tidak menimbulkan suatu kompetisi. Jika ada kompetisi, dibutuhkan kerja otak yang aktif agar tidak mengalami subjugasi (ketundukan atau berada di bawah dominasi), inferioritas, atau kepunahan. Segalanya tentu saja kembali pada sejarah yang telah ditorehkan oleh bangsa Cina, karena dengan begitu dapat diketahui mengapa pola pikir masyarakat Cina zaman dulu begitu tertutup.

Cina, memiliki berbagai macam mitos yang masing-masing juga memiliki berbagai macam versi. Dari sekian banyak mitos tersebut, di bawah ini adalah beberapa mitos yang populer atau terkenal di dalam masyarakat Cina.

1. Pangu Menciptakan Alam Semesta

mitos pangu

Pangu adalah salah satu tokoh yang paling menarik dalam mitos kosmogoni (penciptaan alam semesta) Cina. Kisah ini mungkin termasuk mitos penciptaan versi Cina yang paling awal, yaitu pertama kali muncul pada masa Dinasti Han (206 SM-220 M). Banyak ahli percaya bahwa cerita ini dipengaruhi oleh para pedagang yang berjalan melalui Timur Tengah, India, Afrika, dan Cina yang berjualan sutra, rempah-rempah, dan barang berharga lainnya. Cerita mengenai Pangu pun terdapat berbagai macam versi. Kisah berikut ini adalah salah satu versinya.

Menurut legenda, ia menciptakan alam semesta dan mampu membelah bumi dan langit. Karakter pan berarti cangkang telur, dan gu  berarti mengunci atau kokoh. Makna tersebut merujuk pada dirinya yang berawal dari sebuah telur, lalu menetas untuk menyelesaikan kekacauan dengan membentuk alam semesta. Pangu tinggal di dalam sebuah telur. Di sanalah ia tidur dengan tenang tanpa adanya gangguan. Di dalam telur itu Pangu berkembang semakin besar. Pada suatu hari, alam menjadi tidak stabil. Saat Pangu terbangun, yang dilihatnya hanyalah kegelapan dan kebingungan. Akhirnya Pangu mencari cara untuk menciptakan suatu keteraturan. Tangannya mengambil meteor lalu dibentuknya menjadi seperti kapak, dan ia melemparkan tepat ke tengah telur tersebut dengan diiringi bunyi yang luar biasa dahsyat. Bunyi itu menggema di seluruh bumi dan membelah seluruh partikel dan gas alam semesta menjadi dua. Salah satu unsurnya, yang merupakan kekuatan murni dunia, berubah menjadi langit.

Sedangkan unsur yang lain, yang merupakan kekuatan kegelapan, berubah menjadi langit. Setiap hari, langit bertambah tinggi sepuluh kaki, bumi berkembang sepuluh kaki lebih tebal, dan Pangu tumbuh sepuluh kaki lebih tinggi. Hal ini berlangsung selama 18.000 tahun. Ketika bumi telah tercipta sempurna dan langit menjadi semakin tinggi, Pangu pun merasa lelah dan akhirnya meninggal. Setelah kepergiannya, tiap-tiap bagian tubuh Pangu berubah menjadi pelengkap alam semesta ini. Kepalanya berubah menjadi gunung-gunung yang tinggi, dagingnya menjadi tanah, janggutnya menjadi gugusan bintang, pembuluh darahnya menjadi aliran sungai, kulitnya dan rambutnya menjadi rumput dan pepohonan, mata kirinya menjadi matahari, mata kanannya menjadi bulan, nafasnya menjadi angin dan awan, dan keringatnya menjadi hujan. Begitulah alam semesta ini tercipta menurut legenda masyarakat Cina. Pangu dianggap sebagai pahlawan pencipta alam semesta. Kisah ini juga yang mengenalkan adanya dua kekuatan alam semesta, yaitu Yin (unsur ringan) dan Yang (unsur berat).

Kisah Pangu ini begitu populer dan dikenal luas oleh masyarakat Cina, bahkan masyarakat keturunan Cina di dunia. Meskipun saat ini era teknologi sedang berkembang pesat, namun kisah ini selalu ada di setiap generasi. Hal ini membuktikan bahwa mitos mengenai Pangu masih dipercaya oleh masyarakat. Kisah ini tidak akan tetap hidup dalam kehidupan manusia jika masyarakat sudah tidak mempercayai lagi mitos tersebut. Dengan kata lain, mitos ini memiliki fungsi bagi kehidupan sosial. Mengacu pada fungsi mitos menurut Zeffry dalam Manusia Mitos dan Mitologi, menurut penulis, fungsi mitos Pangu ini adalah sebagai sarana dan alat pendidikan yang membentuk dan mendukung berlakunya nilai yang ada. Nilai yang bisa diambil dari kisah Pangu ini adalah rasa keinginan untuk memberi manfaat bagi orang lain dan peka terhadap lingkungan. Hal ini tercermin saat Pangu berusaha untuk menciptakan ketenangan dan menghentikan kekacauan alam semesta, dan saat ia merelakan jasadnya yang telah mati sebagai awal mula penciptaan langit dan bumi demi kedamaian alam semesta.

2. Nuwa Menciptakan Manusia

Nuwa

Banyak mitos tentang penciptaan manusia dalam mitologi Cina. Di antaranya menceritakan manusia yang diciptakan oleh dewa, yang ditebarkan dari benih-benih, yang dikeluarkan dari mulut para dewa dan dewi; manusia dibentuk dari suara, yang tercipta dari sentuhan antar dua lutut dewa, yang terbentuk dari metamorfosis hewan, yang berasal dari metamorfosis sebuah tanaman, yang keluar dari sebuah gua atau muncul dari sebongkah batu besar, yang diciptakan oleh matahari, dan sebagainya. Salah satu kisah penciptaan manusia yang populer dalam mitologi Cina adalah mitos tentang Nuwa. Nama Nüwa disebutkan di beberapa literatur Cina kuno, seperti Shujing (Klasika Sejarah) pada 8 SM, Shanhaijing (Klasika Gunung dan Laut) pada 3 SM, dan Tianwen (Pertanyaan Langit) pada 4 SM.

Sosok Nuwa banyak ditemukan dalam lukisan-lukisan Cina kuno dan patung tembaga. Sosoknya kebanyakan digambarkan sebagai dewi yang memiliki wajah dan tangan seorang manusia, namun berbadan ular atau naga. Dalam buku-buku Cina modern, Nuwa digambarkan sebagai seorang wanita cantik. Selain menciptakan manusia, Nüwa juga dikisahkan mampu memperbaiki langit.

Pada saat langit dan bumi telah tercipta namun belum ada kehidupan manusia, Nuwa hidup seorang diri. Meskipun dapat menikmati keindahan bumi, ia merasa sedih karena kesepian. Suatu hari, ia sedang duduk di pinggir sungai melihat bayangannya dalam pantulan air sungai. Ia pun terpikir untuk menciptakan manusia agar dunia ini dapat terisi oleh hiruk pikuk manusia yang akan menemaninya. Lalu ia mengambil lumpur di pinggir sungai dan membentuknya seperti sebuah boneka yang memiliki kepala, bahu, dada, dan tangan. Ia menciptakan berbagai bentuk manusia agar mudah mengenali ciptaannya. Tinggi, pendek, kurus, gemuk, bermata besar, sipit, dan sebagainya. Lalu ketika Nüwa bernafas, nafasnya memberikan kehidupan bagi manusia yang diciptakannya.

Pada akhirnya Nuwa merasa lelah dan bingung bagaimana bila suatu saat manusia mati dan dirinya tidak ada, tentu saja cepat lambat manusia akan punah. Lalu ia menemukan ide untuk menciptakan manusia lelaki dan perempuan, dan memberitahu seluruh manusia tentang pernikahan agar selalu ada regenerasi manusia. Setelah itu Nuwa pun pergi ke langit lalu duduk di kereta yang ditarik oleh enam ekor naga.

Mitos ini cukup terkenal di antara mitos-mitos Cina lainnya. Tokoh Nuwa sebagai dewi yang menciptakan manusia selalu hadir dalam buku kumpulan legenda Cina terbitan masa kini. Kisah ini memberikan gambaran moral bahwa dalam kehidupan, manusia selalu membutuhkan orang lain, dan alangkah baiknya bila kita dapat berguna pula bagi orang lain dan lingkungan di sekitar kita. Fungsi inilah yang membuat kisah ini memiliki nilai lebih dan tetap dipercaya dan diceritakan secara turun-temurun dalam masyarakat.

Nuwa tidak hanya sebagai tokoh mitologi, namun ia adalah seorang dewi yang dipuja oleh masyarakat Cina. Di provinsi Henan, Hebei, dan Gansu, terdapat kuil yang ramai dikunjungi oleh masyarakat untuk memuja dewi Nüwa.

3. Chang’E Sang Dewi Bulan

Chang’E Sang Dewi Bulan

Kisah Chang’E tak kalah populer bila dibandingkan kisah-kisah tentang dewa lainnya dalam mitologi Cina. Mitos ini ditemukan pada periode awal Zaman Negara-Negara Berperang (Zhanguo Shidai) pada tahun 5 SM. Cerita Chang’E selengkapnya muncul di Huainanzi pada masa awal Dinasti Han. Dikisahkan bahwa Chang’E adalah istri seorang pemanah unggul bernama Yi. Yi memiliki obat abadi dari Xiwangmu, dan Chang’E berhasil mencuri dari suaminya lalu akhirnya menelan obat tersebut. Obat abadi itu mengubah Chang’E menjadi seorang dewi dan ia pun terbang ke bulan. Sejak saat itu Chang’E tinggal di bulan dan masyarakat menyebutnya Dewi Bulan. Versi lain cerita ini mengisahkan sepasang suami istri, yaitu Yi Pemanah Ulung dan Chang’E. Mereka hidup bahagia sebagai dewa dan dewi di ‘Langit’. Suatu hari, Yi memanah sembilan matahari sehingga Dijun (salah satu Dewa Matahari) pun sangat marah hingga mengusir suami istri ini ke bumi. 

Semenjak tinggal di bumi, Chang’E merasa kesepian karena merindukan saudaranya sesama dewi. Yi yang sangat menyayangi istrinya pun akhirnya rela pergi menghadap Xiwangmu di Gunung Kunlun untuk meminta obat abadi yang dapat membawa mereka kembali ke Langit. Perjalanan panjang pun dilaluinya dengan melewai gurun yang panas, badai yang hebat, dan mendaki gunung yang sangat tinggi untuk bertemu Xiwangmu. Hingga akhirnya ia sampai di tempat Xiwangmu bersemayam. Ketika Yi menyatakan maksudnya kepada Xiwangmu, ia hanya bisa tertawa pelan dan berkata bahwa para dewa-dewi baru saja memakan buah persik terakhir. Perlu waktu 3000 tahun untuk menunggu buah persik yang akan matang berikutnya. Akhirnya Xiwangmu memberi Yi sebuah ramuan dan berkata, “Ramuan ini akan membawamu dan istrimu kembali ke Langit. Tapi kau harus meminumnya di malam hari yang terang. Jika tidak, kau akan terjebak di suatu tempat di antara langit dan bumi “.

Sesampainya di rumah, Yi segera menyampaikan peringatan dari Xiwangmu mengenai obat tersebut kepada istrinya. Namun Chang’E tak kuasa lagi untuk segera bertemu dengan saudara-saudaranya di ‘langit’. Ia pun berencana akan meminum dua botol sekaligus ramuan tersebut agar lebih dulu sampai di ‘langit’ dan meminta maaf kepada Dijun atas kesalahan suaminya, lalu ia akan pergi ke Gunung Kunlun dan sekali lagi meminta ramuan abadi ini kepada Xiwangmu untuk suaminya agar bisa berkumpul bersamanya di ‘langit’

Saat Yi sedang pergi berburu, Chang’E melaksanakan rencana itu. Ia meminum ramuan abadi itu, lalu tiba-tiba merasa dirinya melayang dan pusing. Ia keluar rumah dan melihat langit sudah gelap namun bukanlah malam yang terang. Tubuhnya terbang ke langit dan ia terjebak di bulan. Di bumi, Yi berteriak memanggil nama istrinya saat melihat tubuh istrinya terbang ke bulan. Yi sangat sedih dan menyesal, tidak tahu harus berbuat apa untuk membawa istrinya kembali karena ramuan miliknya pun telah diminum oleh sang istri.

Oleh karena itu, sekali dalam setahun, para dewa membawa Yi terbang ke bulan untuk bertemu dengan istrinya. Saat itu bulan bersinar sangat terang seakan mencerminkan rasa cinta Yi kepada istrinya.

Saat kisah ini diceritakan dari generasi tua ke generasi yang lebih muda tentunya ada pesan yang ingin disampaikan. Jika tidak ada kelebihan yang bisa diambil dari kisah ini, bisa saja kisah Chang’E ini akan mati sejak ratusan tahun yang lalu. Masyarakat dapat meresapi nilai moral yang terkandung di dalamnya, yaitu pelanggaran terhadap peraturan dapat mengakibatkan hal yang buruk. Setiap keputusan yang diambil akan berdampak pada diri kita masing-masing. Oleh karena itu, sebaiknya kita hati-hati dalam bertindak dan memutuskan sesuatu, terlebih lagi jangan sampai melanggar aturan atau janji yang sudah ditetapkan.

Keberadaan mitos Chang’E ini menjadi lebih dekat di tengah masyarakat yaitu pada saat perayaan Festival Kue Bulan, atau dalam kebudayaan masyarakat Cina dikenal dengan Zhongqiu Jie. Perayaan ini dirayakan pada bulan ke-8 tanggal 15 penanggalan Cina. Pada masa Cina kuno, Zhongqiu Jie, Chunjie (Festival Musim Semi atau Hari Raya Imlek, dan Duanwu Jie (Festival Perahu Naga) merupakan perayaan terbesar dalam budaya masyarakat Cina. Salah satu tradisi dalam setiap perayaan ini adalah kebiasaan makan kue bulan (yue bing) yang berbentuk

bundar dan diibaratkan sebagai bentuk bulan. Kebiasaan ini telah ada sejak zaman dinasti Tang (618-907 M), dan pada masa dinasti Ming (1368-1644) dan dinasti Qing (1644-1911) kebiasaan ini telah meluas hingga seluruh wilayah Cina. Pada perayaan ini, anggota keluarga berkumpul untuk menikmati kue bulan sambil memandang indahnya bulan purnama di halaman rumah. Saat itu biasanya para orang tua akan menceritakan kisah Chang’E kepada anak-anak mereka dan juga berkata bahwa pada Zhongqiu Jie di malam hari, bila memandang bulan purnama yang bersinar terang maka akan terlihat bayangan Chang’E ditemani dengan seekor kelinci.


Referensi:
Yang Lihui, Handbook of Chinese Mythology, (California: ABC-CLIO, 2005), hal. 6.
Irene Dea Collier,Chinese Mythology, (New Jersey: Enslow Publishers, 2001), hal. 17-18.
C.K. Yang, Religion in Chinese Society, (California: Univesity of California Press, 1961), hal. 28.

Senin, 20 November 2017

Inilah cara perawatan anak pada saat demam

Anak demam

Demam adalah suatu keadaan peningkatan suhu tubuh diatas normal yaitu suhu tubuh diatas 38 derajat Celcius. Ibu berperan penting dalam merawat anak demam. Pengetahuan ibu diperlukan agar tindakan yang diberikan benar yaitu bagaimana ibu menentukan tindakan pada saat anak demam dan menurunkan suhu tubuh anak, serta kapan ibu membawa ke petugas kesehatan. Seorang ibu dalam menangani demam sangat dipengaruhi oleh budaya dan perilaku lingkungan sekitar di mana ibu berada. Perilaku ibu terhadap anak juga berbeda sesuai dengan perkembangan anak, struktur keluarga, harapan orang tua, pengawasan dan praktik pengasuhan anak.

Penanganan demam pada anak sangat tergantung pada peran orang tua, terutama ibu. Ibu adalah bagian integral dari penyelenggaraan rumah tangga yang dengan kelembutannya dibutuhkan untuk merawat anak secara terampil agar tumbuh dengan sehat. Ibu yang memiliki pengetahuan tentang demam dan mempunyai sikap yang baik dalam memberikan perawatan, dapat menumbuhkan penanganan demam yang terbaik bagi anaknya.

Saat ini, demam dianggap sebagai suatu kondisi sakit yang umum. Demam juga merupakan keadaan yang sering diderita oleh anak-anak. Hampir setiap anak pasti pernah merasakan demam. Pada dasarnya terdapat dua kondisi demam yang memerlukan pengelolaan yang berbeda. Pertama, demam yang tidak boleh terlalu cepat diturunkan karena merupakan respon terhadap infeksi ringan yang bersifat self limited. Kedua, demam yang membutuhkan pengelolaan segera karena merupakan tanda infeksi serius yang mengancam jiwa seperti pneumonia, meningitis dan sepsis. Oleh karena itu pemahaman mengenai penanganan demam pada anak yang baik menjadi sesuatu yang penting untuk dipahami.

Demam pada anak sering membuat orang tua khususnya ibu stres, cemas, panik dan ketakutan yang membuat ibu membawa anak ke dokter. Kepanikan ibu karena kejadian demam pada anak dapat membuat langkah ibu untuk melakukan tindakan yang tepat pada saat mengatasi demam pada anak.

Apa yang menyebabkan anak demam 
Penyebab demam berasal dari berbagai faktor infeksi dan non-infeksi, dan pada anak kebanyakan disebabkan infeksi virus pada saluran pernapasan dan saluran pencernaan.
  • Infeksi (demam berdarah, tetanus typus abdominalis, malaria dan infeksi lainnya).
  • Ketidakseimbangan produksi panas dan pengeluarannya.
Bagaimana perawatan anak saat terkena demam
  • Istirahatkan anak.
  • Beri banyak minum seperti air putih, susu, air teh atau sirup.
  • Beri anak pakaian yang tipis dan menyerap keringat dan jangan diselimuti.
  • Berikan kompres dengan air hangat dna jangan menggunakan air es atau alkohol.
  • Berikan obat penurun panas, seperti : Parasetamol, Panadol dan lain-lain sesuai dengan dosis pada label obat.
Cara memberi kompres
Persiapan
  • Waskom kecil berisi air hangat.
  • Waslap 4 buah.
Cara kerja
Buka semua pakaian anak, lalu usap seluruh tubuh dengan waslap/handuk kecil yang telah dibasahi dengan air hangat. Ambil beberapa buah waslap yang telah dibasahi air hangat dan diperas lalu letakkan pada kedua lipatan ketiak dan lipatan paha. Ganti waslap tiap 3 menit atau waslap sudah mulai kering. Hentikan kompres bila anak tidak panas lagi saat diraba atau bila suhu telah mencapai keadaan normal.

Sebaiknya tiap keluarga memiliki satu buah termometer pengukur suhu tubuh yang dapat diperoleh di Apotik atau toko obat.

Minggu, 19 November 2017

Bahasa dan sejarah nasionalisme di indonesia

Sejarah nasionalisme bangsa indonesia

Perkembangan bahasa indonesia
Dalam UUD 1945, dinyatakan dengan jelas bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan, sekaligus memperteguh ikrar Sumpah Pemuda 1928. Ketika istilah bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan lahir, terdapat sebuah realitas fungsi yang melekat pada referensi konsep tersebut, yaitu bahasa Indonesia sebagai wahana pemersatu yang mampu menciptakan semangat persatuan antarelemen kebangsaan di seluruh wilayah nusantara. Artinya, pada masa -masa yang lalu, peran bahasa Indonesia sebagai pemersatu perbedaan–perbedaan unsur kebangsaan di Indonesia memang sudah teruji. Sekarang pun konsep bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan masih tetap dipertahankan dan selalu menjadi simbol dari kejayaan yang pernah dicapai bahasa Indonesia. Sementara itu, dalam kapasitas fungsinya sebagai sarana komunikasi masyarakat, secara kuantitatif bahasa Indonesia pun masih berada pada posisi sebagai major language.

Usaha pemerintah pun tidak sedikit untuk mempertahankan keberadaan bahasa Indonesia sejak jaman orde lama sampai sekarang. Misalnya pada jaman orde lama pemerintah melakukan penerjemahan buku-buku berbahasa Belanda, diterbitkannya ejaan R. Soewandi yang dilanjutkan dengan sistem Ejaan yang disempurnakan pada masa orde baru. Perkembangan berikutnya justru membuat bahasa Indonesia menjadi sebuah sistem dengan aturan-aturan rumit, tidak alamiah dan penuh rekayasa. sehingga dalam prakteknya berbahasa hampir tidak ada seorang pun yang dapat menerapkan kaidah-kaidahnya dengan benar dan rapi.

Bagaimana pun sebagai bahasa persatuan, bahasa Indonesia sudah cukup efektif untuk mempersatukan masyarakat Indonesia yang majemuk. Bahasa Indonesia berhasil membangkitkan imajinasi masyarakat sebagai komunitas yang bersatu di bawah naungan negara Indonesia walaupun berbeda bahasa daerah dan tidak saling mengenal. Namun melalui bahasa Indonesia, semua masyarakat dari berbagai suku dapat berkomunikasi dan bangga menggunakan bahasa Indonesia.

Pendahuluan
Nasionalisme Indonesia tidak terlepas dari sejarah panjang terbentuknya Nusantara di jaman kejayaan kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Dalam pidato-pidatonya maupun tulisannya, Bung Karno selalu mengagung-agungkan peranan kerajaan-kerajaan Sriwijaya dan Majapahit sebagai pembangkit semangat dan solidaritas kebangsaan. Walaupun belum tentu kebenarannya, apakah mitos atau fakta, namun Soekarno berhasil menjadikan kejayaan Sriwijaya dan Majapahit sebagai peneguh nasionalisme yang bersifat integratif.

Cerita mengenai Sriwijaya dan Majapahit ini adalah hasil rekonstruksi sejarawan berdasarkan sumber yang tidak sahih dan amat tidak memadai. Rekonstruksi itu segera dianggap sebagai kebenaran oleh kaum nasionalis Indonesia untuk mendukung mitos yang sedang mereka rangkai, yaitu mitos yang berbunyi bahwa Indonesia (yang ketika itu bernama Hindia Belanda) itu dari dulu sudah satu dan yang mereka lakukan hanya melanjutkan sejarah lama. Tujuan Soekarno adalah melihat bahwa bangsa ini punya sejarah, punya visi yang perlu diperjuangkan bukan hanya karena sudah takdirnya atau nasibnya harus ada. Misalnya dalam kajian tentang Sriwijaya, ternyata muncul dan runtuhnya kerajaan Sriwijaya tidak semua ahli sejarah atau peneliti tentang kerajaan Sriwijaya sepakat (Wendra, 2003, hal. 370-403). Indonesia tidak muncul begitu saja tetapi merupakan hasil perjuangan akibat dari pergolakan sejarah sehingga kehadiran bangsa Indonesia dapat dijelaskan.

Kekhawatiran akan memudarnya nasionalisme dirasakan pada saat muncul perasaan ketimpangan pembangunan daerah dan pusat, aloksi dana yang tidak seimbang, dan merasa adanya perasaan dieksploitasi oleh pemerintah pusat di Jakarta. Bahkan ada pula yang mendikotomikan antara pembangunan yang lebih berorientasi Jawa dibandingkan luar Jawa, ketidakadilan dan ketidakseimbangan birokrasi pemerintahan antara Jawa dan luar Jawa. Jika nasionalisme pada masa pergerakan nasional lebih bersifat perekat untuk mempertahankan keutuhan bangsa (bersifat integratif) sedangkan nasionalisme sekarang ini lebih bersifat mengancam keutuhan dan persatuan bangsa (bersifat disintegrasi).

Untungnya Indonesia mempunya pemersatu bangsa yang dirasa semakin menguatkan rasa persatuan dan kebersamaan yaitu bahasa Indonesia. Kedudukan bahasa Indonesia dalam NKRI sebagai bahasa pemersatu diikrarkan secara tegas pada saat Sumpah Pemuda tahun 1928 yang menyatakan bahwa putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan yaitu Bahasa Indonesia. Pasal 36 UUD Negara Kesatuan Republik Indonesia 1945 menyebutkan bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi negara, sehingga bahasa Indonesia mempunyai fungsi yang berbeda-beda namun fungsi-fungsi itu saling menguatkan dan memperkokoh persatuan bangsa Indonesia.

Melihat kenyataan tersebut, maka diperlukan kajian historis dan empiris untuk melihat perkembangan nasionalisme di Indonesia mulai dari masa kolonial sampai ke masa sekarang. Selain itu juga peranan bahasa Indonesia sebagai benang merah nasionalisme dari masa ke masa dapat terlihat seiring dengan perkembangan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.

Perkembangan Nasionalisme
Sebelum melihat bagaimana proses perkembangan dan perubahan nasionalisme di Indonesia, maka sangat penting juga melihat dan menjelaskan bagaimana nasionalisme di beberapa negara lain, terutama di Negara Eropa dan Amerika. Hal ini sangat penting sebab, konsep nasionalisme itu sendiri adalah suatu konsep yang bersifat universal atau global. Bahkan dapat dianggap sebagai suatu konsep yang bergulir secara psikologis dari Negara Eropa dan Amerika hingga ke negara-negara Asia, termasuk Indonesia, atau suatu konsep yang lahir dari adanya suatu peristiwa yang mendahuluinya yang bermula di negara-negara tersebut. Hal penting yang lain mengapa perlu menelusuri dan menjelaskan bagaimana nasionalisme di Eropa dan Amerika adalah, setidaknya dapat menjawab pertanyaan yang muncul mengenai “kapan konsep nasionalisme itu lahir?”

Untuk menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut, memang membutuhkan suatu studi tertentu dalam bentuk penelusuran informasi dan fakta secara historis. Akan tetapi jika kita melihat tulisan Erik Hobsbawm yang berjudul “Nations and Nationalisme since 1788” yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Nasionalisme Menjelang Abad XXI (1990) menunjukkan bahwa sejak tahun 1780 konsep “nasionalisme” sudah ada di belahan benua Amerika dan Eropa, atau mungkin telah ada sejak tahun-tahun sebelumnya. Bahkan menurut Kohn, bahwa nasionalisme modern terjadi pada abad ke 17 di Inggris, yaitu munculnya kesadaran bangsa Inggris sebagai sebagai bangsa yang memiliki tanggung jawab dan beban atau kedudukan memimpin negara Eropa. Dengan kata lain, nasionalisme di Inggris merupakan penjelmaan semangat abad tersebut dalam hal mengutamakan perseorangan dan hak-haknya. Gagasan ini terlihat dalam filsafat John Locke, yang menekankan bahwa individu berserta kemerdekaannya, kemuliaan dan kebahagiaannya tetap merupakan unsur-unsur asasi dari semua kehidupan nasional, dan bahwa pemerintah suatu bangsa adalah suatu kepercayaan moral yang tergantung kepada izin bebas dari yang diperintah. Semangat nasionalisme di Inggris saat itu memasuki semua lembaga dan menciptakan ikatan hidup antar golongan yang memerintah rakyat.

Selanjutnya, atas pengaruh nasionalisme liberal Inggris, Perancis pada abad 18 berjuang melawan kekuasaan pemerintah yang lebih besar, melawan intoleransi, dan pengawasan dari pihak gereja dan negaranya, yang dikenal sebagai era “Renaisance” (abad pencerahan). Gagasan tentang rasa nasionalisme di Perancis terlihat dalam gagasan J.J. Rousseau yang mengatakan bahwa masyarakat politik yang sejati hanya bisa didasarkan atas sifat-sifat luhur warganya dan cinta mesranya kepada tanah air. Kemudian, munculnya kemerdekaan dalam dimensi agama, Politik, dan sosial di Perancis, merupakan faktor kuat yang menyebabkan lahirnya nasionalisme Amerika pada tahun 1775. Adapun puncak nasionalisme di dunia yaitu sekitar tahun 1918-1950, sedangkan berakhirnya gelombang nasionalisme menurut Anderson (1999, hal. 192) kebanyakan menerpa wilayah-wilayah jajahan di benua Asia dan Afrika. Dan di Indonesia yaitu pada Zaman pergerakan nasionalisme Syahrir dalam menentang kolonialisme Belanda.

Nasionalisme di Indonesia
Nasionalisme di Indonesia muncul sebagai salah satu respons terhadap kolonialisme. Pengaruh kolonialisme di Indonesia sudah dirasakan semenjak tahun 1511, yaitu ketika portugis menundukkan Malaka. Kemudian sekitar tahun 1940-an ketika VOC berhasil merebut Malaka dari tangan Portugis dan menguasai perdagangan interinsuler di hampir seluruh Nusantara menunjukkan proses awal masuknya kolonialisme Belanda, terutama di Jawa ketika Raja Mataram menyerahkan kekuasaan atas daerah pantai utara Pulau Jawa kepada VOC pada tahun 1749.Adapun eksploitasi kolonial di Indonesia, terutama di Jawa mulai dirasakan saat memasuki tahun-tahun pembubaran VOC pada tahun 1795, dan awal pembentukan Cultuurstelsel, terutama rencana Daendels membangun sarana dan prasarana yang membutuhkan pengerahan tenaga kerja paksa dan rencana Raffles menerapkan sistem pajak tanah. Puncaknya ketika Jenderal Van den Bosch pada tahun 1830 mengeluarkan kebijakan tentang eksploitasi negara tanah jajahan menjadi pedoman kerja pemerintah kolonial.

kebijakan ini adalah dimaksudkan untuk mencapai “peningkatan semaksimal mungkin produksi pertanian untuk pasar Eropa”. Kebijakan dan alasan kolonialisme pada tahun ini lebih bersifat ekonomi. Akan tetapi setelah permulaan abad ke 20 yang ditandai oleh perkembangan ekonomi yang sangat pesat, dibarengi pula kebijakan-kebijakan yang bersifat politis, yaitu adanya perluasan jabatan pemerintahan kolonial secara besar-besaran di Indonesia mulai dari keresidenan hingga ke distrik. Sistem pemerintahan kolonial pada fase ini lebih bersifat sentralistik yang ekstrim, birokrasinya yang kaku, dan otokrasinya yang mutlak. Tidak ada badan politik satupun yang menjadi alat penyalur suara rakyat1. Berangkat dari fenomena tersebut, bangsa Indonesia sebagai bangsa yang tertindas, jelas memunculkan suatu bentuk kesadaran tersendiri untuk melepaskan diri dari kungkungan dan ketertindasan kolonialisme. Bentuk kesadaran ini pada akhirnya mengarahkan pada suatu bentuk ikatan sentimen dan solidarits sosial berupa rasa “nasionalisme”.

Nasionalisme sebagai gejala historis telah berkembang sebagai jawaban terhadap kondisi politik, ekonomi dan sosial yang khusus yang ditimbulkan oleh situasi kolonialisme (Kartodirdjo, 1972, p. 44). Antara nasionalisme dan kolonialisme tidak dapat dipisahkan satu sama lain, sebab terdapat hubungan timbal balik antatara nasionalisme yang sedang berkembang dan berproses dengan politik dan ideologi kolonial. Pada situasi kolonial, nasionalisme dianggap sebagai kekuatan yang sosial yang mempunyai orientasi terhadap masa depan, sedangkan ideologi dan politik kolonial melihat masa lampau. Berikut cuplikan pidato Soekarno:
Nationalism! To be a nation! It was no later than the year 1882 that Ernest Renan published his idea of concept of ’nationhood’". "Nationhood", according to this author is a spirit of life, an intellectual principle arising from two things: firstly, the people in former times had to be together to face what came, secondly, the people now must have the will, the wish to live and be one. Not race, nor language, nor religion, nor similarity of needs, nor the borders of the land make that nation.

Perkembangan nasionalisme dipengaruhi faktor internal dan eksternal. Perkembangan nasionalisme secara internal berawal dari adanya rasa kesadaran yang terus berkembang, yaitu kesadaran terhadap situasi yang tertindas, terbelakang, dan diskriminasi yang melahirkan suatu keinginan untuk bebas, merdeka dan maju. Sedangkan secara eksternal, dipengaruhi oleh kemenangan Jepang terhadap Rusia tahun 1905, kemudian Gerakan Turki Merdeka, Revolusi Cina, dan gerakan-gerakan nasional di negara-negara tetangga, seperti India dan Philipina. Peristiwa-peristiwa tersebut memperbesar kesadaran nasional dan menyebabkan bangsa Indonesia memiliki rasa harga dirinya kembali. Artinya, setelah kemenangan Jepang atas Rusia, muncul kesadaran dari kalangan pemuda dan mahasiswa Indonesia bahwa ternyata orang Asiapun mampu mengalahkan orang Eropa. Meskipun dimensi eksternal ini juga berpengaruh, akan tetapi pengaruh internal inilah yang paling dominan, sebab sangat dirasakan langsung oleh bangsa Indonesia.

Adapun bentuk gerakan dari proses awal perkembangan nasionalisme Indonesia adalah munculnya “Gerakan Emansipasi Wanita” yang dipelopori oleh R.A. Kartini pada tahun 1912, Kongres Pemuda pertama dan berdirinya Boedi Oetomo tahun 1908, Gerakan Jawa Muda (Jong Java) tahun 1911, Gerakan Pribumi(Inlandsche Beweging) tahun 1914, Kongres Kebudayaan tahun 1916, dan Hari Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928, berdirinya organisasi mahasiswa Indonesia di Belanda, yaitu Indische Vereeniging tahun 1908, kemudian berkembang dan berubah menjadi organisasi identitas nasional yang baru pada tahun 1925 dengan nama baru Perhimpunan Indonesia dan berubah lagi menjadi "Indonesia Merdeka”, berdirinya Sarikat Islam (SI) pada tahun 1912 yang dipelopori oleh Tjokroaminoto, dan berdirinya PNI tahun 1927, dan berbagai bentuk organisasi kepemudaan, dan organisasi lainnya yang lebih bersifat kesukuan, seperti Jong Sumatra, Jong Celebes dan lain-lainnya.

Meskipun muncul berbagai gerakan yang lebih bersifat kesukuan, seperti Boedi Oetomo, Jong Java, Jong Sumatera dan Jong Celebes, akan tetapi pada akhirnya dapat dipersatukan oleh berbagai gerakan atau organisasi lainnya yang lebih bersifat integratif karena merangkul berbagai gerakan kesukuan antara lain Gerakan Pribumi, Perhimpunan Indonesia, dan puncaknya saat Sumpah Pemuda tangal 28 Oktober 1928. Perhimpunan Indonesia (PI) dikatakan sebagai suatu bentuk gerakan yang lebih bersifat integratif dan nasionalis karena memiliki berbagai fikiran pokok yang lebih mengarah pada “Ideologi Nasionalis”, antara lain: 

(1) Kesatuan Nasional: perlunya mengesampingkan perbedaan-perbedaan sempit dan perbedaan berdasarkan daerah dan perlu dibentuk suatu kesatuan aksi melawan Belanda untuk menciptakan negara kebangsaan Indonesia yang merdeka dan bersatu; 
(2) Solidaritas: tanpa melihat perbedaan yang ada antara sesama orang Indonesia, maka perlu disadari adanya pertentangan kepentingan yang mendasar antara penjajah dan yang dijajah, dan kaum nasionalis haruslah mempertajam konflik antara orang kulit putih dengan kulit sawo matang; 
(3) Non-Kooperatif: keharusan untuk menyadari bahwa kemerdekaan bukan hadiah sukarela dari Belanda, akan tetapi harus direbut oleh bangsa Indonesia dengan mengandalkan kekuatan dan kemampuan sendiri dan oleh karena itu tidak perlu mengindahkan dewan perwakilan kolonial seperti Volksraad; 
(4) Swadaya: dengan mengandalkan kekuatan sendiri perlu dikembangkan suatu struktur alternatif dalam kehidupan nasional, politik, sosial, ekonomi dan hukum yang kuat berakar dalam masyarakat pribumi dan sejajar dengan administrasi kolonial. Dari keempat bentuk ideologi nasionalis dari oraganisasi Perhimpunan Indonesia (PI) seperti di atas, menunjukkan pada kita, dan menjadi suatu bukti nyata bagaimana ideologi itu muncul sebagai suatu bentuk reaksi terhadap kolonialisme Belanda. Bahkan ideologi tersebut dianggap sebagai suatu manifestasi dari kesadaran dan rasa nasionalisme yang tinggi. Fenomena di atas menunjukkan bahwa kesadaran akan ketertinggalan dan kungkungan kolonialisme, serta munculnya gerakan-gerakan yang bersifat nasionalisme, umumnya dipelopori oleh para pemuda, terutama para mahasiswa dan kaum terpelajar lainnya.

Umumnya diakui bahwa kaum terpelajar merupakan pemain-pemain inti dalam kebangkitan nasionalisme di wilayah-wilayah jajahan, bukan hanya karena kolonialisme menjamin kelangkaan relatif tuan-tuan tanah, pedagang besar, wirausahawan swasta, bahkan juga kelas profesional besar pribumi. Lebih lanjut Anderson mengatakan bahwa umum pula diakui bahwa peran “perintis garis depan” yang dipangku kaum terpelajar pribumi berasal dari kemelek-hurufan dan dwibahasa mereka, atau mungkin lebih tepat lagi kemelek-hurufan dan kemampuan dwibahasa.

Nampaknya, kemampuan kemelek-hurufan dan kemampuan dwibahasa untuk kasus di Indonesia lebih disebabkan oleh adanya perubahan ideologi kolonialisme karena adanya tantangan dan kritik dari kaum sosialis dari orang Belanda sendiri. Dengan demikian terjadi perubahan dari politik kolonial ke politik ethis atau politik “Hutang Budi”. Muncul dan lahirnya politik Ethis ini disebabkan oleh munculnya kesadaran sebagian pihak bangsa kolonial akan ketertinggalan dan kemerosotan kesejahteraan bangsa jajahan. Implikasi lebih lanjut dari kebijakan politik tersebut adalah adanya peluang bagi sebagian kalangan bangsa Indonesia untuk melanjutkan pendidikan, terutama di negeri Belanda. Dengan demikian, tak pelak lagi sebagian pemuda Indonesia menerima pedidikan gaya modern (gaya eropa), yang bukan saja dilakukan oleh pemerintah negara penjajah, namun juga oleh sebagian lembaga keagamaan.

Kekalahan Belanda dari Jepang pada tahun 1942 membuat mayoritas kaum terpelajar Indonesia menerima kedatangan Jepang dengan penuh semangat. Jepang mengetahui secara psikologis beberapa hal yang diinginkan oleh rakyat Indonesia seperti:

1. Diperbolehkannya mengibarkan Bendera Merah Putih dan mengumandangkan lagu Indonesia Raya.
2. Diyakini dapat meningkatkan status sosial ekonomi tanpa kekerasan dengan memberikan kesempatan kepada orang Indonesia untuk mengisi jabatan yang kosong yang dulu diduduki oleh Belanda atau Indo-Belanda.
3. Memenjarakan semua penduduk Belanda, Indo-Belanda dan Kristen yang dicurigai sebagai pro Belanda.

Ketiga hal diatas sedikitnya telah memenangkan dukungan dari kaum pelajar sekaligus menetralisir antipati sebagian dari kaum pelajar tersebut. Penerimaan dari kaum pelajar tersebut membuat rasa percaya diri Jepang tumbuh begitu kuat sehingga Jepang mengabaikan rasa nasionalisme Indonesia dan mempropagandakan Tiga A3 namun hal tersebut gagal dilakukan. Jepang menguras habis kekayaan Nusantara, mulai dari bahan makanan sampai dengan produk perkebunannya, tidak masuknya bahan sandang dan onderdil mesin, pengawasan kurikulum sekolah dengan tangan besi, pemaksaan bahasa Jepang sebagai bahasa resmi. Kekerasan dan kekurangajaran ditunjukkan oleh orang Jepang dalam bergaul dengan orang Indonesia.

Hanya dalam waktu beberapa bulan saja, Jepang tidak mendapat dukungan dari rakyat dan kaum terpelajar Indonesia. Rasa tidak senang terhadap Jepang tumbuh terus, bahkan rakyat mulai melakukan pemberontakan. Ini dilakukan sebelum tahun 1942 berakhir. Jepang baru menyadari bahwa gerakan kebangsaan Indonesia adalah suatu kekuatan yang nyata dan kuat sehingga akan melawan bentuk penjajahan sekecil apa pun. Gerakan-gerakan bawah tanah yang muncul didominasi oleh mahasiswa dan pemimpin politik yang matang memaksa Jepang secara radikal merubah haluan politiknya secara radikal dengan memberikan perhatian kepada pemimpin nasionalis yang benar-benar disukai oleh rakyat Indonesia.

Dibebaskannya Soekarno, pembentukan Poetra (Poesat Tenaga Rakyat) yang dipimpin langsung oleh Soekarno malahan menjadi bumerang bagi Jepang sendiri. Tujuan awal pembentukan Poetra beserta turunannya ( Hei ho, Peta, Romusha) adalah untuk mendapatkan bala tentara yang akan membantu Jepang melawan sekutu tidak terlaksana, bahkan Poetra lebih memenuhi pergerakan kebangsaan Indonesia. Kaum pelajar lebih menunjukkan anti-Jepang dari pada anti-sekutu hingga akhirnya Poetra dibubarkan dan digantikan oleh Perhimpoenan Kebaktian Rakyat (Djawa Hokokai) dan mencari dukungan dari para kiai dengan memberikan kedudukan yang terhormat dan penting. Alasan yang diberikan oleh Jepang adalah melawan orang kafir yang memperbudak penduduk muslim di Indonesia. Namun hal ini pun tidak membuahkan hasil karena banyak kyai yang tidak sudi menjadi alat tujuan Jepang.

Gerakan bawah tanah yang semakin marak memaksa Jepang untuk membentuk Angkatan Muda yang terdiri dari kaum terpelajar5 yang dipaksa untuk memgang jabatan kepemimpinan yang bertanggungjawab terhadap gerakan-gerakan yang dilakukan di Indonesia. Inipun gagal dilakukan, hingga pada tahun 1944 PM Koiso mengumumkan bahwa Indonesia akan diberi kemerdekaan dalam waktu dekat dan memberikan peluang kepada pemimpin gerakan bawah tanah untuk bebas berbicara tentang kemerdekaan sampai dibentuknya pemerintahan Indonesia merdeka dan pembentukan BPUPKI (Dr. Radjiman diangkat sebagai ketua) semua dengan tujuan sama yaitu meminta dukungan untuk melawan sekutu.

Penolakan pemimpin Indonesia untuk melawan sekutu menemukan puncaknya pada saat Soekarno dihadapan PPUKI menunjukkan secara terang-terangan rasa anti-Jepang lewat pidatonya yang menggariskan lima prinsip dasar, Pantja Sila yang dianggap dapat membimbing dan memenuhi syarat sebagai dasar filsafat suatu Indonesia yang merdeka. Lima prinsip itu adalah:

1. Nasionalisme
Makna Nasionalisme secara politis merupakan manifestasi kesadaran nasional yang mengandung cita-cita dan pendorong bagi suatu bangsa, baik untuk merebut kemerdekaan atau mengenyahkan penjajahan maupun sebagai pendorong untuk membangun dirinya maupun lingkungan masyarakat, bangsa dan negaranya. Kita sebagai warga negara Indonesia, sudah tentu merasa bangga dan mencintai bangsa dan negara Indonesia. Kebanggaan dan kecintaan kita terhadap bangsa dan negara tidak berarti kita merasa lebih hebat dan lebih unggul daripada bangsa dan negara lain. Kita tidak boleh memiliki semangat nasionalisme yang berlebihan (chauvinisme) tetapi kita harus mengembangkan sikap saling menghormati, menghargai dan bekerja sama dengan bangsa-bangsa lain.
2. Internasionalisme/Perikemanusiaan.
Nasionalisme tidak dapat berjalan tanpa internasionalisme (kekeluargaan bangsa-bangsa). Demikian pula sebaliknya, internasionalisme tidak akan hidup subur bila tidak berakar pada nasionalisme.
3. Perwakilan/Permusyawaratan.
4. Keadilan sosial dan kesejahteraan.
5. Kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa.

Prinsip satu dan dua dapat digabungkan menjadi sosio-nasionalisme sementara prinsip empat dan lima menjadi sosio-demokrasi, sehingga tinggal tiga prinsip yang masih bisa diperas menjadi satu prinsip yaitu ”Gotong Royong”. Gotong royong adalah faham yang dinamis, lebih dinamis dari kekeluargaan yang menggambarkan satu usaha, satu amal dan satu pekerjaan. Gotong royong adalah membanting tulang bersama, memeras keringat bersama, perjuangan bantu membantu bersama.7 Tuntutan yang sangat berat dari Jepang dengan melakukan kerja paksa, meruntuhkan sendi-sendi di desa, penculikan orang desa untuk dijadikan romusha, penyerahan hasil bumi secara paksa dengan tiada batas meningkatkan kesadaran nasional secara luar biasa dibantu oleh keinginan untuk merdeka secara politik. Kaum tani menjadi sadar secara politik dengan melakukan pemberontakan-pemberontakan dibanyak tempat. Kepiawaian Soekarno yang di beri kebebasan oleh Jepang untuk berkomunikasi dengan petani membangkitkan kesadaran politik dan keinginan untuk memperoleh kemerdekaan nasional.

Pada masa pendudukan Jepang, Jepang mampu menggunakan pendekatan kultural sebagai saudara tua yang mempunyai nasib yang sama sebagai negara yang pernah dikuasai oleh bangsa lain. Jepang menunjukkan bahwa Indonesia termasuk besar, sehingga harusnya mampu keluar dari penjajahan bangsa Eropa. Sebelumnya memang Jepang sudah mengirimkan orang-orangnya untuk melakukan observasi di Indonesia mulai dari kultur budaya, kondisi geografis, karakteristik masyarakat dan karakter tokoh-tokoh bangsa Indonesia. Orang-orang tersebut mau tidak mau harus menguasai bahasa Indonesia, sehingga mampu melakukan komunikasi serta pendekatan sebagai saudara tua sehingga pada akhirnya diterima oleh bangsa Indonesia secara terbuka. Jepang mempunyai kemampuan menggunakan bahasa Indonesia sebagai jargon perlawanan terhadap bangsa Asing seperti “Inggris kita Linggis, Amerika kita Setrika”.


Referensi:
Abdullah, T. (2001). Nasionalisme dan Sejarah. Bandung: Satya Historika.
Anderson, B. (1999). Komunitas-Komunitas Imajiner: Renungan tentang Asal Usul dan Penyebaran Nasionalisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar dan Insist.
Hobsbawn, E. (1994). Nasionalisme Menjelang Abad XXI. Yogyakarta: Tiara Kencana.
Husken, F. (1998). Masyarakat Desa dalam Perubahan Zaman: Sejarah Diferensiasi Sosial di Jawa 1830-1980. Jakarta: Grasindo.
Jalal, M. (2001, Januari). Nasionalisme Bahasa Indonesia dan Kompleksitas Persoalan Sosial dan Politik. Masyarakat, Kebudayaan dan Politik, Tahun XIV(Nomor 1), 81-92.
Kahin, G. M. (1995). Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia: Refleksi Pergumulan Lahirnya Indonesia. Solo: UNS Press dan Pustaka SInar Harapan.
Kartodirdjo, S. (1972). Kolonialisme dan Nasionalisme di Indonesia pada Abad 19 dan Abad 20. Lembaran Sedjarah No.8, 29-33.
Kohn, H. (1984). Nasionalisme: Arti dan Sejarahnya. Jakarta: Erlangga.
Wendra, I. N. (2003). Kontroversi Kerajaan Sriwijaya: Sebuah Tinjauan menurut Buku Teks Sejarah. Dalam H. Sjamsuddin, & A. Suwirta, Historia Magistra Vitae (Menyambut 70 Tahun Prof.Dr.Hj.Rochiati Wiriaatmadja, MA (hal. 370-403). Bandung: Historia Utama Press.