Inilah fakta ekosistem terjadi di laut dalam

Ikan grenadier
Ikan grenadier, oreo, dan armorhead adalah ikan-ikan lezat yang ditemukan
di banyak gunung bawah laut, tetapi terancam eksploitasi berlebihan yang
dilakukan oleh kegiatan penangkapan ikan industri berskala besar.

Kapal Riset Indonesia Baruna Jaya IV dan Kapal Okeanos Explorer dari National Oceanic and Atmospheric Administration, para penjelajah laut berharap dapat menemukan ekosistem laut dalam baru, fitur geologi yang belum ditemukan, dan organisme hidup yang belum pernah terlihat sebelumnya. Temuan baru selalu menarik bagi ilmuwan, tetapi informasi dari penjelajahan laut dalam amat penting untuk semua orang Indonesia karena:
  • Keragaman hidup dalam ekosistem laut-dalam mencakup berbagai spesies baru yang dapat menghasilkan obat-obatan penting dan produk berguna lainnya.
  • Sejumlah ekosistem laut-dalam meliputi sejumlah besar organisme yang dapat digunakan sebagai makanan manusia.
  • Informasi dari penjelajahan laut-dalam dapat membantu meramalkan gempa bumi dan tsunami.
  • Manfaat yang diperoleh manusia dari sistem laut-dalam dipengaruhi oleh perubahan iklim dan atmosfer Bumi.
Kondisi di lingkungan laut dalam meliputi tekanan sangat tinggi, kegelapan total, suhu ekstrem, dan zat kimia beracun. Lubang hidrotermal, misalnya, adalah suatu habitat laut-dalam tempat menyemburnya cairan panas dari habitat dasar laut. Semua ini ditemukan di pegunungan laut pertengahan tempat lempeng tektonik Bumi bercabang. 

Pegunungan-laut terbentuk akibat lava panas yang menyembur di antara lempengan-lempengan tektonik yang bercabang. Lubang hidrotermal terbentuk ketika air-laut dingin merembes memasuki kerak Bumi melalui retakan di dasar laut-pertengahan di dekat pegunungan-laut. Tatkala bergerak lebih dalam memasuki kerak, air laut dipanaskan oleh batuan yang mencair.

Dengan naiknya suhu, belerang dan logam seperti tembaga, seng, dan besi melarut dari batuan di sekitarnya masuk ke dalam cairan panas itu. Akhirnya, cairan kaya-mineral itu terdesak ke atas dan menyembur dari bukaan di dasar laut. Suhu semburan cairan dapat setinggi 400°C, dan mengandung hidrogen sulfida. Ketika cairan hidrotermal panas bertemu dengan air laut dingin (hampir beku), mineral di dalam cairan pun mengendap. Endapan partikel mineral itu menyebabkan cairan terlihat seperti asap, sehingga lubang-lubang ini sering disebut perokok hitam atau perokok putih, bergantung pada jenis mineral dalam cairan. Endapan mineral juga dapat membentuk cerobong asap yang bisa
beberapa meter tingginya.

Kondisi di sekitar lubang hidrotermal bisa mematikan bagi manusia dan banyak spesies lainnya, tetapi para penjelajah laut dalam menemukan organisme hidup yang beradaptasi khusus yang memungkinkan mereka hidup berkembang dalam lingkungan ekstrem ini. Cacing tabung yang ditemukan di lubang hidrotermal adalah contoh yang terkenal. Adaptasi pada organisme laut-dalam menghasilkan obat-obatan baru dan produk berguna lainnya.

Zat kimia dari mikroorganisme yang ditemukan di sekitar lubang hidrotermal memunculkan harapan untuk merawat cedera tulang dan penyakit kardiovaskuler. Spesies laut-dalam lainnya menghasilkan zat kimia kuat yang berfungsi sebagai obat antibiotika, antikanker, dan anti-inflamasi untuk manusia. Saat ini, hampir semua obat yang dihasilkan dari sumber alami berasal dari tanaman darat, padahal organisme laut menghasilkan bahan seperti-obat dalam jumlah lebih banyak daripada kelompok organisme yang hidup di darat. Contoh lain produk yang bermanfaat adalah organisme mikroskopis dari ekosistem lubang hidrotermal yang menghasilkan protein yang digunakan oleh para penyidik TKP untuk membuat miliaran salinan DNA. Protein dari organisme lain digunakan untuk membuat zat pemanis untuk zat aditif makanan.

Inilah 4 fakta ekosistem yang terjadi di laut dalam:

1. Ekosistem laut-dalam mencakup berbagai spesies baru yang dapat menghasilkan obat-obatan penting dan produk berguna lainnya
Indonesia mencakup hanya 1,3 persen permukaan daratan Bumi, namun cakupan itu meliputi: 10 persen dari spesies tanaman berbunga di dunia;
  • 12 persen dari spesies mamalia di dunia;
  • 16 persen dari semua spesies reptil dan amfibi;
  • 17 persen dari spesies burung di dunia;
  • 15 persen dari spesies terumbu karang di dunia;
  • jumlah spesies karang terbanyak di dunia (lebih dari 600 spesies yang sudah teridentifikasi); 
  • lebih dari 2000 spesies ikan dekat pantai.
Indonesia dikenal sebagai salah satu pusat utama keanekaragaman hayati Bumi (yang berarti keragaman semua bentuk kehidupan). Meskipun baru sangat sedikit yang diketahui tentang laut-dalam Indonesia, para ilmuwan berharap dapat menemukan keanekaragaman hayati yang tinggi, berbagai ekosistem baru, dan banyak spesies yang belum pernah terlihat sebelumnya.

2. Makanan dari ekosistem laut dalam
Gunung-laut adalah gunung bawah laut yang biasanya merupakan sisa-sisa gunung api bawah laut. Gunung ini menyeruak setinggi lebih dari 1.000 m dari dasar laut yang dalam dan seluruhnya di bawah air. Lereng gunung bawah laut sangat terjal, dan menghasilkan pola arus yang membawa nutrisi dari laut yang lebih dalam. Nutrisi ini dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman laut yang mendukung jaring makanan kompleks di sekitar gunung laut.

Kebanyakan ikan laut-dalam tidak dianggap penting dari segi komersial sebagai makanan manusia karena dagingnya miskin protein dan berair sehingga tidak menarik sebagai makanan manusia. Namun, pada tahun 1980-an, nelayan menemukan populasi besar ikan laut-dalam yang hidup di sekitar gunung api.

Ikan-ikan ini dagingnya kenyal dan lezat serta kaya protein dan lemak. Selain itu, ikan-ikan ini sepuluh kali lebih banyak daripada ikan laut-dalam lainnya di daerah lain di dekatnya. Sayang sekali, banyak spesies gunung bawah laut ditangkap secara berlebihan. Populasi ikan gunung bawah laut dapat dikelola untuk skala-kecil perikanan rakyat yang berkelanjutan dan masih bisa menyediakan makanan dan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat. Jenis pengelolaan ini bergantung pada informasi tentang ekosistem laut-dalam yang dapat berasal dari penjelajahan laut-dalam.

3. Penjelajahan laut-dalam dapat membantu meramalkan gempa bumi dan tsunami
Geologi dasar laut di seluruh Indonesia sangat kompleks dan aktif. Geologi aktif berarti bahwa tanah dan dasar laut di Indonesia sering mengalami letusan gunung api, gempa bumi, dan tsunami. Gunung api di Indonesia menelan lebih banyak korban manusia dan lebih sering menimbulkan tsunami daripada daerah vulkanik lainnya di Bumi. Kegiatan geologi ini terjadi karena Indonesia terletak di persimpangan beberapa lempeng tektonik yang membentuk kerak Bumi. Tabrakan antara lempeng-lempeng ini menyebabkan terjadinya letusan gunung api dan gempa bumi, dan juga dapat menimbulkan tsunami.

Pada skala global, kerak Bumi tampaknya terbagi menjadi 14 lempeng besar. Indonesia terletak di persimpangan Lempeng Eurasia, Pasifik, India, dan Australia. Di banyak tempat, termasuk Indonesia, banyak lempeng kecil-kecil sehingga geologinya jauh lebih kompleks. Lempeng India dan Australia mendorong di bawah Lempeng Burma dan Sunda, membentuk busur gunung api di Indonesia barat. Ke arah timur, beberapa lempeng kecil bertabrakan dengan berbagai cara yang juga menghasilkan gempa bumi dan gunung api.

Gerakan antar lempeng tidak konstan, karena gesekan antar lempeng cenderung menjaga mereka sehingga tidak bergerak. Tetapi, ketika lempeng-lempeng ini tidak bergerak, kekuatan tektonik menyebabkan tekanan terakumulasi pada lempeng atas dan secara bertahap menjadi berubah bentuk. Tekanan dapat terakumulasi selama berabad-abad, sampai deformasi itu tiba-tiba terlepas dan menyebabkan lempeng-lempeng bergerak lagi. Pergerakan lempeng menimbukan gempa bumi, serta “tendangan” air raksasa yang menghasilkan tsunami. Gempa dan tsunami di Banda Aceh pada tanggal 26 Desember 2004 disebabkan oleh peluncuran mendadak ketika Lempeng India
meluncur ke bawah Lempeng Burma.

Penjelajahan laut dalam di daerah lain memetakan pola perubahan bentuk lempeng-lempeng tektonik, dan menggunakan berbagai pola tersebut untuk meramalkan bahaya gempa dan tsunami. Informasi serupa dari laut-dalam Indonesia dapat digunakan untuk membantu mempersiapkan diri menghadapi bahaya ini.

4. Perubahan Iklim Bumi Mempengaruhi Sistem Laut-Dalam
Rata-rata suhu Bumi sekarang lebih hangat daripada sebelumnya, setidaknya sejak 1400 M. Penting diingat bahwa angka rata-rata termasuk angka yang lebih tinggi dan lebih rendah dari nilai “rata-rata.” Jadi, pemanasan di beberapa daerah dapat jauh lebih tinggi daripada rata-rata, sementara daerah lain mungkin sebenarnya lebih dingin. Perdebatan terus berlangsung tentang penyebab perubahan iklim, tetapi jelas bahwa
  • Gletser gunung mencair;
  • Es kutub berkurang;
  • Selimut salju musim semi sudah musnah;
  • Suhu tanah meninggi di banyak daerah;
  • Permukaan laut naik beberapa cm dalam 100 tahun terakhir.
Kenaikan permukaan laut membuat masyarakat pesisir lebih rentan terhadap badai dan banjir. Hal lain yang memprihatinkan bagi Indonesia adalah pengaruh suhu yang lebih tinggi pada terumbu karang. Banyak ilmuwan berpendapat bahwa kesehatan terumbu karang di seluruh dunia menurun karena beberapa tekanan, salah satunya adalah suhu air yang memanas. Sementara laut-dalam mungkin tampaknya jauh dari atmosfer, arus laut dalam mengalirkan panas di antara semua lautan di dunia. Sirkulasi laut-dalam ini kadang-kadang disebut “ban berjalan global,” dan sangat nyata mempengaruhi iklim Bumi. Sejumlah ilmuwan prihatin bahwa suhu hangat di permukaan laut dan meningkatnya aliran air tawar dari es-cair dapat melemahkan ban berjalan global. Penjelajahan laut dapat memberikan beberapa pengetahuan penting tentang interaksi atmosfer laut yang dibutuhkan untuk memahami, meramalkan, dan menyikapi dampak tersebut.

Interaksi antara laut dan atmosfer Bumi menghasilkan tekanan lain yang mempengaruhi banyak organisme laut. Karbon dioksida di atmosfer Bumi telah meningkat selama bertahun-tahun, dan ini menyebabkan semakin banyak karbon dioksida terlarut di laut. Peningkatan karbon dioksida terlarut menyebabkan air laut menjadi lebih asam. Peningkatan keasaman mengganggu pembentukan cangkang dan struktur kerangka lainnya pada bunga karang, kerang, echinodermata, plankton, serta fauna dan fauna laut lainnya.


Referensi:
Deep Sea Exploration Index 2010 Sangihe Talaud Indonesia-USA

0 Response to "Inilah fakta ekosistem terjadi di laut dalam"

Posting Komentar