Senin, 13 November 2017

Ponsel dapat memicu sebagai gejala phonomania

Penggunaan ponsel/handphone

Dalam kehidupan kita, handphone, HP atau ponsel tidak hanya sebagai piranti komunikasi tanpa kabel tetapi juga menjadi simbol status hidup pemiliknya atau penggunanya. Dalam tataran semiotik handphone mempunyai kedudukan sebagai tataran semiotik tingkat kedua, second order semiotics system (meminjam istilah Saussure). Kedudukan handphone mirip dengan novel, puisi, teater, mitos, kartun, film, fashion, kuliner, dan lain-lain dalam pembicaraan semiotik karena handphone bisa menjadi simbol tertentu. Handphone sebagai media komunikasi kemudian menjadi sebuah gaya hidup yang memiliki simbol-simbol tersendiri.

Handphone sebagai gejala phonomania pada gaya hidup manusia
Barangkali kita masih ingat akan ilustrasi Fuad Hasan dalam Pentas Kota Raya tentang gejala phonomania pada awal 1990-an, yakni ketika orang-orang tertentu menjadi sangat gemar untuk menelepon atau ditelepon lewat HP-nya di tengah keramaian. Dalam cerita itu digambarkan betapa bangganya seseorang yang di tengah-tengah makan siangnya tiba-tiba dikejutkan dengan dering HP-nya. Dia dengan suara keras menjawab penelepon entah di seberang sana, sementara rekan atau koleganya yang dia ajak makan siang bersama tidak dipedulikan sama sekali. Dia asyik ngobrol dengan seseorang di sana yang dianggapnya lebih penting dari pada teman makannya yang nyata-nyata hadir di depannya. Dia sengaja atau malah berharap handphone-nya berdering ketika makan siang guna menunjukkan bahwa dirinya orang sibuk, orang penting. Suatu simbol status sosialnya.

Gejala semacam itu sering kali kita saksikan dengan berbagai macam varian yang serupa. Banyak orang yang mengalami sindrom phonomania, orang yang merasa penting dengan sibuk menelepon atau ditelepon lewat HP-nya dengan suara keras. Padahal menurut Goenawan Mohamad dalam salah satu Catatan Pinggir-nya, orang penting adalah orang yang tidak pernah menenteng telepon atau menjawab telepon secara langsung. Bukankah seorang bos direktur suatu perusahaan atau bos mafia sekalipun kalau sedang main golf tidak pernah menenteng HP? Kalau pun ada yang meneleponnya, sekretarisnya atau ajudannyalah yang akan menerimanya terlebih dahulu kemudian menyeleksinya untuk meneruskannya kepada bos ataukah menyatakan bosnya tidak bisa dihubungi karena sedang sibuk, padahal sedang “sibuk” dengan pacar gelapnya.

Para penderita sindrom phonomania memperlihatkan aksinya menerima deringan handphone-nya dengan segala kekenesan bunyi deringnya (tahun 2005-an ini pengguna HP dimanjakan dengan berbagai jenis suara/nada ringtone)di tengah keramaian. Baik itu ketika tengah makan siang bersama, di tengah hingar-bingar diskotik, di dalam mall, di tengah rapat, di tengah seminar, di dalam rapat RT, ketika salat Jumat, ketika tengah memegang kemudi mobil, atau bahkan ketika tengah naik sepeda motor. Sungguh suatu ironi ketika orang tengah mengemudi mobil atau malah tengah naik sepeda motor, dia menerima telepon yang dianggapnya sebagai suatu kabar penting. Mengapa handphone-nya tidak dimatikan saja atau menundanya untuk menjawab? Bukankah HP dilengkapi dengan data rekaman siapa-siapa saja yang telah mengontaknya?

Keselamatannya di jalan raya, terlebih lagi keselamatan orang lain yang bisa saja bertabrakan akibat ulahnya, tidak digubris karena ada telepon “penting” dari seseorang nun entah di mana. Bisa jadi isi pembicaraannya hanya seputar acara TV yang bakal ditayangkan nanti malam atau hanya sekedar kalimat-kalimat rayuan gombal atau malah sekedar rencana makan malam bersama di suatu warung lesehan. Sementara di negara-negara maju, pengemudi dilarang keras menerima telepon secara langsung, bahkan meski telah memakai alat/set penerima handphone saat mengemudi. Di Indonesia hal itu menjadi semacam pretise tersendiri.

Penderita phonomania mirip dengan exibisionis, penderita kelainan kejiwaan yang suka memamerkan kelaminnya kepada orang lain, khususnya kepada lawan jenisnya. Jika suatu saat dalam sebuah obrolan, teman bicara Anda tiba-tiba membicarakan polah tingkah laku anaknya, kemudian dia mengeluarkan HP-nya sambil mempertunjukkan rekaman foto/videonya lalu memperdengarkan suara tangisannya atau celotehannya; janganlah Anda baca reaksi tersebut secara denotatif. Bacalah hal ini secara second order semiotic system, dia sebetulnya mau menunjukkan HP-nya yang keluaran terbaru dari sebuah merk tertentu. Dia ingin pamer. Kalau Anda memberikan apresiasi, dia akan mendapatkan “orgasme” mirip seperti penderita exibisionis yang akan mendapatkan kepuasan kalau lawannya memberikan ekspresi keterkejutan.

Budaya kita memang seringkali menunjukkan gejala semacam itu. Dalam tata ruang, mentalitas pamer itu diwakili apa yang dalam rumah kita disebut dengan ruang tamu, ruang pamer untuk para tamu. Ruang inilah yang menjadi bagian terpenting dalam tata griya orang Indonesia, bukan kamar tidur, apalagi WC. Akan tetapi, kalau Anda mau tahu kondisi yang sebenarnya dari kehidupan suatu keluarga, lihatlah kamar mandinya. Ruang tamu adalah citraan dambaan keluarga, sebuah makna konotatif, sementara kamar mandi merupakan makna denotatif keluarga Indonesia. Ruang tamu merupakan representamen keluarga dalam istilah Umberto Eco.

Sering kita temui banyak hal dipamerkan dalam ruang tamu. Kalau pemiliknya suka/mendambakan olah raga, di ruang ini akan dipajang sejumlah piala dan tropi dari berbagai kejuaraan olah raga yang diraihnya, meski sebetulnya hanya hasil memesan atau beli. Kalau pemiliknya telah naik haji, yang dipajang di ruang ini adalah sajadah atau permadani bikinan Turki yang dibelinya di Makah sebagai pengganti lukisan. Kalau pemiliknya suka/mendambakan melancong, dipajanglah berbagai jenis souvenir (seperti kristal atau keramik) yang mereka koleksi hasil jalan-jalannya dari sejumlah negara. Kalau pemiliknya menyukai/mendambakan formalitas pendidikan, mereka akan memfigura sejumlah ijazah maupun sertifikat dan memajangnya di ruang tamu. Kalau ingin menunjukkan keharmonisan keluarganya, foto keluarga lengkap dengan posisi ayah-ibu diapit anak-anaknya dalam ukuran besar akan memenuhi ruangan ini. Apakah mereka betul-betul keluarga harmonis? Seringkali kenyataannya malah berkebalikan dengan foto itu. Sebaliknya, kalau orang ingin menunjukkan tingkat intelektualitasnya, yang dipajang di ruang ini adalah Ensiklopedi “Pamericana” yang berjumlah 30 jilid itu.

Begitu juga halnya dengan HP. Seringkali benda semacam itu harus dipertunjukkan kepada teman atau kerabatnya untuk memperlihatkan status seseorang. Kalau lawan bicaranya tak punya HP, dia pun akan langsung cuap-cuap tak habis mengerti, “Haree geenee gak punya HP?!” Akan tetapi, pernahkah Anda mendengar perbedaan penderita phonomania dengan exibisionis? Penderita phonomania akan semakin bangga kalau HP-nya semakin mini, sementara penderita exibisionis akan semakin bangga kalau “miliknya” semakin gede.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar