Sabtu, 06 Januari 2018

5 Dampak poligami ayah terhadap anak

Poligami

Untuk mengembangkan potensi anak, peranan orang tua sangatlah penting, karena berhasil atau tidaknya pendidikan anak tergantung dari bagaimana perhatian orang tua terhadap anaknya dan pendidikan dalam keluarga merupakan tanggungjawab orang tua, karena itu orang tua hendaknya selalu menanamkan nilai-nilai yang baik sejak dini terhadap anak-anaknya sehingga anak-anak itu nantinya akan menjadi anak yang berguna bagi masyarakat, nusa dan bangsa serta agama sesuai dengan tujuan perkawinan dan pendidikan. 

Kenyataan yang masih terlihat dalam dunia poligami adalah ketika sang ayah melakukan poligami, sang ayah cenderung tidak menghiraukan pendapat anak, maka bisa saja akan berdampak negatif pada proses tumbuh kembangnya dan akan mengganggu emosi anak. Poligami tidak hanya berdampak pada psikologis anak akan tetapi bisa juga berpengaruh pada fisik dan minat belajarnya.

Dampak pada anak-anak tergantung pada tingkat usia anak apakah masih anak-anak remaja atau sudah dewasa dan cara orang tua menangani anaknya. Penting juga pengetahuan yang dimiliki anak tentang peristiwa tersebut. Anak-anak perlu informasi jujur sesuai umur dari orangtuanya. Bila anak melihat ayah mencaci ibunya dengan kata-kata keji, perlahan-lahan ia terbiasa dengan kebencian dan rasa kasih sayangnya akan hilang. Krisis dalam keluarga akan menimbulkan sikap ketidakpedulian terhadap lingkungan dan kurang belas kasih pada sesama.

Komunikasi yang negatif juga mempengaruhi perkembangan otaknya. Anak yang selalu dalam keadaan terancam sulit bisa berpikir panjang. Ia tidak bisa memecahkan masalah yang dihadapinya. Ini berkaitan dengan bagian otak yang bernama korteks, pusat logika. Bagian ini hanya bisa dijalankan kalau emosi anak dalam keadaan tenang. Bila anak tertekan karena terus-menerus terperangkap dalam situasi yang kacau, penganiayaan, pengabaian, maka input hanya sampai ke batang otak. Sehingga sikap yang timbul hanya berdasarkan insting tanpa dipertimbangkan lebih dulu.

Pengaruh yang paling besar adalah pengaruh terhadap perkembangan anak dan masa depannya. Dalam suasana yang tidak harmonis akan sulit terjadi proses pendidikan yang baik dan efektif, anak yang dibesarkan dalam suasana seperti itu tidak akan memperoleh pendidikan yang baik sehingga perkembangan kepribadian anak mengarah kepada wujud pribadi yang kurang baik. Akibat negatifnya sudah dapat diperkirakan yaitu anak tidak betah dirumah, hilangnya tokoh idola, kehilangan kepercayaan diri, berkembangnya sikap agresif dan permusuhan serta bentuk-bentuk kelainan lainnya. Keadaan itu akan makin diperparah apabila anak masuk dalam lingkungan yang kurang menunjang. Besar kemungkinan pada gilirannya akan merembes ke dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas lagi.

Anak bisa berperilaku agresif, melukai diri atau bunuh diri. Perilaku ini dapat muncul tiba-tiba tanpa berfikir. Bisa juga karena anak putus asa terhadap situasi krisis yang memuncak. 

Dampak negatif dari kehidupan keluarga di atas tidak akan hilang walaupun anak sudah hidup berumah tangga. Karena pengalaman psikis dan persepsi tentang keluarga menjadi buruk, maka dapat berpengaruh kepada kecemasannya ketika menikah di kemudian hari.

Berdasarkan uraian di atas, dampak poligami ayah terhadap anak sebagai berikut:

1. Perkembangan psikis anak dapat terhambat, dia akan menjadi anak yang bermasalah.
2. Memungkinkan terjadinya konflik loyalitas, anak-anak sering bereaksi dengan mencoba melindungi secara berlebihan salah satu orang tua dengan mengabaikan kebutuhan sendiri untuk menyenangkan mereka.
3. Anak yang selalu dalam keadaan terancam sulit bisa berpikir panjang. Ia tidak bisa memecahkan masalah yang dihadapinya. Sehingga sikap yang timbul hanya berdasarkan insting tanpa dipertimbangkan lebih dulu. Seperti tindakan bermusuhan.
4. Perhatian seorang ayah terhadap anak-anaknya menjadi terbelah. Sehingga anak merasa diabaikan dan tidak dihargai lagi sebagai anak.
5. Anak akan menjadi rendah diri, pendiam, dan tidak dapat bergaul dengan teman-temannya.

Apabila dapat memilih, maka setiap anak di dunia ini akan memilih dilahirkan di keluarga yang harmonis, hangat, dan penuh kasih sayang. Keluarga yang demikian adalah dambaan dari setiap anak di dunia. Tapi sayangnya, anak tidak dapat memilih siapa yang akan menjadi orangtuanya. Saat mereka lahir, mereka harus menerima siapapun yang menjadi orangtua mereka. Termasuk saat mereka memiliki orangtua yang melakukan praktek poligami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar