Alam Semesta

Alam semesta ini sangat luas, banyak miliyaran bintang-bintang di luar angkasa. Ingin sekali menjelajah antar bintang dengan menggunakan pesawat pribadi. Untuk mengetahui ciptaan allah yang maha besar ini

Arsip Info

Jumat, 25 Mei 2018

4 Dampak poligami tanpa izin istri harus anda tahu

Efek poligami
Menurut Syari’at Islam, perkawinan dilakukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan tanpa mengabaikan hak-hak dan kewajiban suami dan istri dalam posisinya sebagai makhluk yang sama, baik di mata masyarakat atau pun di mata Allah Swt. Islam memandang bahwa segala bentuk perkawinan yang muncul pada zaman Jahiliyyah merupakan perkawinan yang tidak benar dan tidak di ridhoi oleh Allah Swt. Namun tidak semua bentuk perkawinan pada zaman tersebut dilarang oleh Islam hingga saat ini. Terdapat satu jenis perkawinan yang dibolehkan oleh Islam untuk dilakukan oleh umat Islam itu sendiri, yakni bentuk perkawinan tersebut adalah perkawinan poligami.

Perkawinan poligami tanpa izin istri pada hakekatnya merupakan pelecehan dan penghinaan terhadap martabat kaum perempuan, karena selain hak-hak perempuan itu terabaikan dan juga tidak ada perempuan yang bersedia untuk dimadu atau diduakan. Jika ada perempuan yang bersedia dipoligamikan atau diduakan, maka sebenarnya perempuan itu berada dalam tekanan keterpaksaan.

Adapun dampak poligami tanpa izin istri yang harus anda ketahui, diantaranya :

1. Istri akan merasa sakit hati bila mengetahui, mendengar dan melihat suaminya menikah dengan perempuan lain. Apa lagi para istri itu mengetahui bahwa suatu perkawinan itu berasaskan monogami bukan poligami. Berdasarkan wawancara penulis dengan salah seorang istri yang suaminya berpoligami bahwa ketika istri mengetahui suaminya menikah dengan perempuan lain, lalu istri langsung mengalami stres berkepanjangan, sedih, sakit hati, kecewa dan benci bercampur menjadi satu. Selain itu, istri pun merasa bingung hendak mengadu kepada siapa, karena istri berpikir ini merupakan aib keluarga, sedangkan membuka aib itu merupakan hal yang dilarang oleh Agama. Kemudian istri hanya bisa memendam apa yang di rasakannya sehingga dengan keadaan tertekan batin yang seperti itu, istri mengalami gangguan emosional yaitu mudah tersinggung, marah-marah melulu, mudah curiga, serta kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri.

Namun demikian, karena istri tidak mampu menanggung beban hidup di madu serta rasa ketidak-adilan suami terhadap hak-haknya, lalu istri melakukan cerai gugat. Sehingga poligami tersebut mendorong tingginya tingkat perceraian yang di ajukan oleh istri (cerai gugat) yang tentunya perceraian itu juga membawa dampak buruk pada anak-anak mereka. Seorang anak akan merasa malu bila ayahnya beristri lebih dari seorang (berpoligami), dan kadang-kadang anak tersebut mengira bapaknya tukang kawin.

Dengan perlakuan ayahnya yang seperti itu sehingga anak-anak tersebut merasa benci pada ayahnya dan tidak mau bergaul dengan teman-temannya bahkan ada juga yang sampai putus sekolah. Pada dasarnya tidak ada anak yang benci kepada orang tuanya. Perubahan itu mulai muncul ketika seorang anak merasa dirinya dan ibunya disakiti serta dinodai kecintaan kepada ayahnya dengan melakukan poligami secara diam-diam. Hal ini terjadi karena kekecewaan seorang anak dan tidak adanya keperhatian dari orang tuanya terutama dari ayahnya yang lebih banyak membagi waktu dengan istri mudanya.

2. Dalam pembahasan ini implikasi terhadap anak akibat dari perkawinan poligami tanpa izin istri menjadi topik utama dalam tulisan ini, karena penyiksaan terhadap anak tidak juga terbatas pada perilaku agresif seperti memukul, menendang, membentak-bentak, atau pun menghukumnya secara fisik lain sebagainya. Sikap orang tua yang mengabaikan anak-anaknya pun tergolong kepada bentuk penyiksaan secara tidak langsung. Pengabaian hak dapat juga di artikan sebagai ketidak perhatian dan ketidak-adilan, baik secara sosial, maupun emosional yang seharusnya tidak bisa diterima oleh seorang anak.

Pengabaian ini dapat muncul dalam berbagai bentuk misalnya, kurang memberi perhatian dan kasih sayang yang sangat di butuhkan oleh seorang anak, tidak memperhatikan kebutuhan anak, waktu bercanda dan bermain dengan anak, tidak memperhatikan tentang kesehatan anak, rasa aman terhadap anak, dan pendidikan anak. Bahkan bisa juga di katakan bentuk pengabaian terhadap anak dengan membeda-bedakan kasih sayang dan perhatian di antara anak-anak mereka, anak dengan istri, dan sejenis lainnya.

Seorang anak sangat membutuhkan kehadiran seorang ayah dan kenyamaan dari kedua orang tuanya, baik pada masa bayi, masa kanak-kanak, remaja, bahkan sekali pun setelah menginjak usia dewasa juga masih membutuhkan hal yang demikian itu. Seorang ayah yang baik seharusnya akan mempertimbangakan kepentingan anak-anaknya sebelum memutuskan untuk beristri lebih dari seorang (berpoligami). Hendaknya seorang ayah berpikir, sudahkah seorang ayah mendengar suara hati anaknya? Seberapa siapkah anak-anak mereka untuk berbagi perhatian dan waktu dengan seorang ayah? Dan seberapa siapkah anak-anak mereka mampu menerima kenyataan dengan kehadiran istri muda dari seorang ayah?.

Dari salah seorang istri yang sangat anti dengan poligami, menurutnya seharusnya anak menjadi salah satu faktor pertimbangan utama bagi seorang suami yang hendak melakukan perkawinan poligami, karena dalam kasus poligami itu berkemungkinan besar hak-hak anak juga akan terabaikan, sehingga akibatnya proses tumbuh kembang atau masa depan anak akan terombang-ambing akibat dari perkawinan poligami tersebut.

3. Kemudian dampak poligami tanpa izin istri juga muncul di tengah kehidupan sosial kemasyarakatan, yaitu suami yang melakukan poligami tanpa izin istri merasa malu dengan apa yang telah dilakukannya itu. Selain suami yang merasa malu anak dan istri pun juga ikut merasa malu, sehingga poligami tanpa izin istri itu menghambat pergaulan sosial kemasyarakatan.

4. Selain itu, dampak lain bahwa implikasi dari perkawinan poligami adalah nikah di bawah tangan. Nikah di bawah tangan adalah nikah yang tidak tercatat di kantor pencatat nikah (Kantor Urusan Agama), walaupun menurut hukum Agama perkawinan yang seperti itu dipandang sah, akan tetapi secara administratif tidak tercatat.

Persoalan yang muncul berikutnya adalah istri muda yang di nikahi oleh suami dengan sendirinya dan secara otomatis tidak akan dapat menuntut hak-haknya atas nafkah dan warisan bila suaminya tadi meninggal dunia, karena perkawinan mereka tidak mempunyai kekuatan hukum

Rabu, 23 Mei 2018

Inilah tips aman dan saran saat berbelanja online

belanja online
Masyarakat di zaman sekarang ini sudah terpengaruh dengan keberadaan online shop yang semakin menjamur di dunia nyata. dunia ini semakin terkalahkan dengan keberadaan virtual reality atau dunia maya, yang kian lama semakin memanjakan manusia untuk lebih menyukai dunia maya. 

Dalam belanja online memberikan citra ekslusifitas tersendiri bagai para pembelinya dia merasa dengan belanja online ada perasaan yang berbeda jika belanja di toko offline. Karena belanja online itu kan dengan harga yang di paket atau di kemas secara rapi sebelum di kirim kepada pembeli. 

Biasanya pertama-tama dia coba-coba belanja dengan harga yang murah dulu kalau tertipu tidak rugi banyak-banyak. Setelah merasakan pengalaman pertama belanja online ia merasakan asyiknya dalam menikmati belanja online dan sudah nyaman dengan pelayan yang diberikan oleh toko online, akhirnya tertarik melakukan online shopping.

Akhirnya dengan keseringan belanja online dan sudah mersakan puasnya dengan pelayanan online dia membiasakan belanja online, karena tidak perlu cape-capek kemana-mana, hemat waktu, tenaga dan ongkos.

Karena maraknya penipuan online di Indonesia, penulis membuat sebuah produksi iklan layanan masyarakat dengan tema Tips Aman Belanja Online dalam bentuk video infografis. Iklan layanan masyarakat ini bertujuan untuk memberikan panduan praktis kepada konsumen dan calon konsumen agar tidak tertipu lagi dalam berbelanja online.

Berdasarkan penelitian sebelumnya yang sudah ada, ternyata masih banyak penipuan online yang terjadi di Indonesia dikarenakan masih sedikit media yang menginformasikan tentang bagaimana belanja online yang aman.

Inilah tips-tips aman saat anda berbelanja online, antara lain:

1. Cek kredibilitas dari penjual online shop yang dituju. Karena jika penjual tersebut memiliki reputasi yang baik akan ada banyak testimoni dan komentar positif tentang lapak atau produk yang mereka jual.
2. Hindari berbelanja online menggunakan perangkat umum atau milik bersama untuk menghindari kebocoran akun pribadi.
3. Cek harga produk yang sedang dicari. Karena jika terlalu jauh perbandingan harga jual di toko online dengan toko konvensional resminya juga tidak wajar (kemungkinan barang palsu).
4. Pilih metode pembayaran yang paling aman menurut keperluan pribadi.
5. Pastikan kembali situs online shop yang dipilih sudah aman. Situs yang aman pada umumnya dimulai dengan ikon gembok baru setelah itu dilanjuti dengan alamat situs tersebut.
6. Simpan bukti transaksi dengan penjual jika sudah terjadi kesepakatan atau pembayaran.

Adapun saran yang harus dilakukan oleh penjual dan pembeli antara lain:
1. Bagi pihak penjual sebaiknya dalam bisnis online harus bijaksana dalam melakukan transaksi jual beli jangan sampai ada penipuan yang mengakibatkan merugikan banyak orang. Toko online harus aman nyaman bagi para pembelinya.
2. Bagi pihak pembeli harus pandai-pandai dalam memilih pembelian online agar tidak tertipu dan memilih situs online yang bisa dipercaya dan situs tersebut benar-benar resmi dan ada ketentuan aturan dan hukum yang ada.

Adapun saran lain yang harus dilakukan Misalkan, bagaimana mengecek kredibilitas dari penjual online shop yang dituju, bagaimana memilih metode pembayaran yang paling aman menurut keperluan pribadi, dan seterusnya.

Senin, 07 Mei 2018

Inilah cara upaya penanganan kasus KDRT

cara upaya penanganan kasus terjadinya KDRT

KDRT dengan alasan apa pun dari waktu ke waktu akan berdampak terhadap keutuhan keluarga, yang pada akhirnya bisa membuat keluarga berantakan. Jika kondisinya demikian, yang paling banyak mengalami kerugian adalah anak-anaknya terlebih bagi masa depannya. Karena itulah perlu terus diupayakan mencari jalan terbaik untuk menyelamatkan institusi keluarga dengan tetap memberikan perhatian yang memadai untuk penyelamatan terutama anggota keluarga, dan umumnya masyarakat sekitarnya.

Pada hakekatnya secara psikologis dan pedagogis ada dua pendekatan yang dapat dilakukan untuk menangani KDRT, yaitu pendekatan kuratif dan preventif.

1.Pendekatan kuratif:
a. Menyelenggarakan pendidikan orangtua untuk dapat menerapkan cara mendidik dan memperlakukan anak-anaknya secara humanis.
b. Memberikan keterampilan tertentu kepada anggota keluarga untuk secepatnya melaporkan ke pihak lain yang diyakini sanggup memberikan pertolongan, jika sewaktu-waktu terjadi KDRT.
c. Mendidik anggota keluarga untuk menjaga diri dari perbuatan yang mengundang terjadinya KDRT. d. Membangun kesadaran kepada semua anggota keluarga untuk takut kepada akibat yang ditimbulkan dari KDRT.
e. Membekali calon suami istri atau orangtua baru untuk menjamin kehidupan yang harmoni, damai, dan saling pengertian, sehingga dapat terhindar dari perilaku KDRT.
f. Melakukan filter terhadap media massa, baik cetak maupun elektronik, yang menampilkan informasi kekerasan.
g. Mendidik, mengasuh, dan memperlakukan anak sesuai dengan jenis kelamin, kondisi, dan potensinya.
h. Menunjukkan rasa empati dan rasa peduli terhadap siapapun yang terkena KDRT, tanpa sedikitpun melemparkan kesalahan terhadap korban KDRT.
i. Mendorong dan menfasilitasi pengembangan masyarakat untuk lebih peduli dan responsif terhadap kasus-kasus KDRT yang ada di lingkungannya.

2. Pendekatan kuratif: 
a. Memberikan sanksi secara edukatif kepada pelaku KDRT sesuai dengan jenis dan tingkat berat atau ringannya pelanggaran yang dilakukan, sehingga tidak hanya berarti bagi pelaku KDRT saja, tetapi juga bagi korban dan anggota masyarakat lainnya.
b. Memberikan incentive bagi setiap orang yang berjasa dalam mengurangi, mengeliminir, dan menghilangkan salah satu bentuk KDRT secara berarti, sehingga terjadi proses kehidupan yang tenang dan membahagiakan.
c. Menentukan pilihan model penanganan KDRT sesuai dengan kondisi korban KDRT dan nilai-nilai yang ditetapkan dalam keluarga, sehingga penyelesaiannya memiliki efektivitas yang tinggi.
d. Membawa korban KDRT ke dokter atau konselor untuk segera mendapatkan penanganan sejak dini, sehingga tidak terjadi luka dan trauma psikis sampai serius.
e. Menyelesaikan kasus-kasus KDRT yang dilandasi dengan kasih sayang dan keselamatan korban untuk masa depannya, sehingga tidak menimbulkan rasa dendam bagi pelakunya.
f. Mendorong pelaku KDRT untuk sesegera mungkin melakukan pertaubatan diri kepada Allah swt, akan kekeliruan dan kesalahan dalam berbuat kekerasan dalam rumah tangga, sehingga dapat menjamin rasa aman bagi semua anggota keluarga.
g. Pemerintah perlu terus bertindak cepat dan tegas terhadap setiap praktek KDRT dengan mengacu pada UU tentang PKDRT, sehingga tidak berdampak jelek bagi kehidupan masyarakat. Pilihan tindakan preventif dan kuratif yang tepat sangat tergantung pada kondisi riil KDRT, kemampuan dan kesanggupan anggota keluarga untuk keluar dari praketk KDRT, kepedulian masyarakat sekitarnya, serta ketegasan pemerintah menindak praktek KDRT yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.

Setiap keluarga pada awalnya selalu mendambakan kehidupan rumah tangga yang aman, nyaman, dan membahagiakan. Secara fitrah perbedaan individual dan lingkungan sosial budaya berpotensi untuk menimbulkan konflik. Bila konflik sekecil apapun tidak segera dapat diatasi, sangatlah mungkin berkembang menjadi KDRT. Kejadian KDRT dapat terwujud dalam bentuk yang ringan sampai berat, bahkan dapat menimbulkan korban kematian, sesuatu yang seharusnya dihindari.

Untuk dapat menyikapi KDRT secara efektif, perlu sekali setiap anggota keluarga memiliki kemampuan dan keterampilan mengatasi KDRT, sehingga tidak menimbulkan pengorbanan yang fatal. Tentu saja hal ini hanya bisa dilakukan bagi anggota keluarga yang sudah memiliki usia kematangan tertentu dan memiliki keberanian untuk bersikap dan bertindak. Sebaliknya jika anggota keluarga tidak memiliki daya dan kemampuan untuk menghadapi KDRT, secara proaktif masyarakat, para ahli, dan pemerintah perlu mengambil inisiatif untuk ikut serta dalam penanganan korban KDRT, sehingga dapat segera menyelamatkan dan menghindarkan anggota keluarga dari kejadian yang tidak diinginkan.

Sabtu, 05 Mei 2018

5 Dampak KDRT terhadap anak harus anda tahu

Pada dasarnya setiap keluarga ingin membangun keluarga bahagia dan penuh rasa saling mencintai baik secara lahir maupun batin, dengan kata lain bahwa setiap keluarga sungguh menghendaki dapat membangun keluarga harmoni dan bahagia yang sering disebut keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Pada kenyataannya bahwa tidak semua keluarga dapat berjalan mulus dalam mengarungi hidupnya, karena dalam keluarga tidak sepenuhnya dapat dirasakan kebahagiaan dan saling mencintai dan menyayangi, melainkan terdapat rasa ketidaknyamanan, tertekan, atau kesedihan dan saling takut dan benci di antara sesamanya. Hal ini diindikasikan dengan masih dijumpainya pada sejumlah rumah tangga yang bermasalah, bahkan terjadi berbagai ragam kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

KDRT memiliki dampak yang sangat berarti terhadap perilaku anak, baik berkenaan dengan kemampuan kognitif, kemampuan pemecahan masalah, maupun fungsi mengatasi masalah dan emosi. Adapun 5 dampak KDRT secara rinci akan dibahas berdasarkan tahapan perkembangannya sebagai berikut:

1. Dampak terhadap Anak berusia bayi 
Usia bayi seringkali menunjukkan keterbatasannya dalam kaitannya dengan kemampuan kognitif dan beradaptasi. Anak bayi yang menyaksikan terjadinya kekerasan antara pasangan bapak dan ibu sering dicirikan dengan anak yang memiliki kesehatan yang buruk, kebiasaan tidur yang jelek, dan teriakan yang berlebihan. Bahkan kemungkinan juga anak-anak itu menunjukkan penderitaan yang serius. Hal ini berkonsekuensi logis terhadap kebutuhan dasarnya yang diperoleh dari ibunya ketika mengalami gangguan yang sangat berarti. Kondisi ini pula berdampak lanjutan bagi ketidaknormalan dalam pertumbuhan dan perkembangannya yang sering kali diwujudkan dalam problem emosinya, bahkan sangat terkait dengan persoalan kelancaran dalam berkomunikasi.

2. Dampak terhadap anak kecil
Dalam tahun kedua fase perkembangan, anak-anak mengembangkan upaya dasarnya untuk mengaitkan penyebab perilaku dengan ekspresi emosinya. Expresi marah dan kasih sayang yang terjadi secara alamiah dan berpura-pura. Selanjutnya ditegaskan bahwa ekspresi marah dapat menyebabkan bahaya atau kesulitan pada anak kecil. Kesulitan ini semakin menjadi lebih nampak, ketika ekspresi verbal dibarengi dengan serangan fisik oleh anggota keluarga lainnya. Bahkan banyak peneliti berhipotesis bahwa penampilan emosi yang kasar dapat mengancam rasa aman anak dalam kaitannya dengan lingkungan sosialnya.

Pada tahun ketiga ditemukan bahwa anak-anak yang merespon dalam interaksinya dengan kemarahan, maka yang ditimbulkannya adalah adanya sikap agresif terhadap teman sebayanya. Yang menarik bahwa anak laki-laki cenderung lebih agresif daripada anak-anak perempuan selama simulasi, sebaliknya anak perempuan cenderung lebih distress daripada anak laki-laki. Selanjutnya dapat dikemukakan pula bahwa dampak KDRT terhadap anak usia muda (anak kecil) sering digambarkan dengan problem perilaku, seperti seringnya sakit, memiliki rasa malu yang serius, memiliki self-esteem yang rendah, dan memiliki masalah selama dalam pengasuhan, terutama masalah sosial, misalnya : memukul, menggigit, dan suka mendebat.

3. Dampak terhadap Anak usia pra sekolah
Cumming (1981) melakukan penelitian tentang KDRT terhadap anak-anak yang berusia TK, pra sekolah, sekitar 5 atau 6 tahun. Dilaporkannya bahwa Anak-anak yang memperoleh rasa distress pada usia sebelumnya dapat diidentifikasi tiga tipe reaksi perilaku. Pertama, 46%-nya menunjukkan emosi negatif yang diwujudkan dengan perilaku marah yang diikuti setelahnya dengan rasa sedih dan berkeinginan untuk menghalangi atau campur tangan. Kedua, 17%-nya tidak menunjukkan emosi, tetapi setelah itu mereka marah. Ketiga, lebih dari sepertiganya, menunjukkan perasaan emosional yang tinggi (baik positif maupun negatif) selama berargumentasi. Keempat, mereka bahagia, tetapi sebagian besar di antara mereka cenderung menunjukkan sikap agresif secara fisik dan verbal terhadap teman sebayanya.

Berdasarkan pemeriksaan terhadap 77 anak, Davis dan Carlson (1987) menemukan anak-anak TK yang menunjukkan perilaku reaksi agresif dan kesulitan makan pada pria lebih tinggi daripada wanita. Hughes (1988) melakukan penelitian terhadap ibu dan anak-anak yang usia TK dan non-TK, baik dari kelompok yang tidak menyaksikan KDRT maupun yang menyaksikan KDRT. Disimpulkan bahwa kelompok yang menyaksikan KDRT menunjukkan tingkat distress yang jauh lebih tinggi, dan kelompok anak-anak TK menunjukkan perilaku distres yang lebih tinggi daripada anak-anak non-TK. deLange (1986) melalui pengamatannya bahwa KDRT berdampak terhadap kompetensi perkembangan sosial-kognitif anak usia prasekolah. Ini dapat dijelaskan bahwa anak-anak prasekolah yang dipisahkan secara sosial dari teman sebayanya, bahkan tidak berkesempatan untuk berhubungan dengan kegiatan atau minat teman sebayanya juga, maka mereka cenderung memiliki beberapa masalah yang terkait dengan orang dewasa.

4. Dampak terhadap Anak usia SD
Jaffe dkk (1990) menyatakan bahwa pada usia SD, orangtua merupakan suatu model peran yang sangat berarti. Baik anak pria maupun wanita yang menyaksikan KDRT secara cepat belajar bahwa kekerasan adalah suatu cara yang paling tepat untuk menyelesaikan konflik dalam hubungan kemanusiaan. Mereka lebih mampu ,mengekspresikan ketakutan dan kecemasannya berkenaan dengan perilaku orangtuanya. Hughes (1986) menemukan bahwa anak-anak usia SD seringkali memiliki kesulitan tentang pekerjaan sekolahnya, yang diwujudkan dengan prestasi akademik yang jelek, tidak ingin pergi ke sekolah, dan kesulitan dalam konsentrasi. Wolfe et.al, 1986: Jaffe et.al, 1986, Christopoulus et al, 1987 menguatkan melalui studinya, bahwa anak-anak dari keluarga yang mengalami kekerasan domistik cenderung memiliki problem perilaku lebih banyak dan kompetensi sosialnya lebih rendah daripada keluarga yang tidak mengalami kekerasan dalam rumah tangga.

Sementara studi yang dilakukan terhadap anak-anak Australia, (Mathias et.al, 1995) sebanyak 22 anak dari usia 6 sd 11 tahun menunjukkan bahwa kelompok anak-anak yang secara historis mengalami kekerasan dalam rumah tangganya cenderung mengalami problem perilaku pada tinggi batas ambang sampai tingkat berat, memiliki kecakapan adaptif di bawah rata-rata, memiliki kemampuan membaca di bawah usia kronologisnya, dan memiliki kecemasan pada tingkat menengah sampai dengan tingkat tinggi.

5. Dampak terhadap Anak remaja
Pada usia ini biasanya kecakapan kognitif dan kemampuan beradaptasi telah mencapai suatu fase perkembangan yang meliputi dinamika keluarga dan jaringan sosial di luar rumah, seperti kelompok teman sebaya dan pengaruh sekolah. Dengan kata lain, anak-anak remaja sadar bahwa ada cara-cara yang berbeda dalam berpikir, merasa, dan berperilaku dalam kehidupan di dunia ini. Misalnya studi Davis dan Carlson (1987) menyimpulkan bahwa hidup dalam keluarga yang penuh kekerasan cenderung dapat meningkatkan kemungkinan menjadikan istri yang tersiksa, sementara itu Hughes dan Barad (1983) mengemukakan dari hasil studinya bahwa angka kejadian kekerasan yang tinggi dalam keluarga yang dilakukan oleh ayah cenderung dapat menimbulkan korban kekerasan, terutama anak-anaknya.

Tetapi ditekankan pula oleh Rosenbaum dan O’Leary (1981) bahwa tidak semua anak yang hidup kesehariannya dalam hubungan yang penuh kekerasan akan mengulangi pengalaman itu. Artinya bahwa seberat apa pun kekerasan yang ada dalam rumah tangga, tidak sepenuhnya kekerasan itu berdampak kepada semua anak remaja, tergantung ketahanan mental dan kekuatan pribadi anak remaja tersebut. Dari banyak penelitian menunjukkan bahwa konflik antar kedua orangtua yang disaksikan oleh anak-anaknya yang sudah remaja cenderung berdampak yang sangat berarti, terutama anak remaja pria cenderung lebih agresif, sebaliknya anak remaja wanita cenderung lebih dipresif.


referensi:
Cummings, E.M., Zahn-Waxler, C. and Radke-Yarrow, M. 1981, 'Young children's responses to expressions of anger and affection by others in the family', Child Development, vol.52, pp.1274-82.
Davis, L. and Carlson, B. (1987), 'Observation of spouse abuse: what happens to the children?', Journal of Interpersonal Violence vol.2, no.3, pp.278- 91.
Hughes, H. (1986), Research with children in shelters: implications for clinical services, Children Today, vol.15, no.2, pp.21-5.
deLange, C. (1986), 'The family place children's therapeutic program', Children's Today, pp.12-15.
Christopoulos, C., Cohn, D., Shaw, D., Joyce, S., Sullivan-Hanson, J., Kraft, S. and Emery, R. (1987), 'Children of abused women: adjustmenet at time of shelter residence', Journal of the Marriage and the Family, vol. 49, pp. 611-19.
Mathias, J., Mertin, P. and Murray, B. (1995), 'The psychological functioning of children from backgrounds of domestic violence', Australian Psychologist, vol.30, no.1 (March).

Selasa, 01 Mei 2018

2 Tempat persekutuan dengan setan

iblis/setan

Proses ritual yang dikatakan mampu memperkaya para pelakunya, awalnya saya menduga luasnya implikasi fenomena ini terkait dengan berbagai isu-isu sosial dan ekonomi. Tetapi, selama empat bulan di lapangan, tujuan saya berubah. Meskipun masih memperhatikan isu-isu sosial dan ekonomi, tetapi yang lebih penting ternyata pengertian peranan kegiatan ritual ini dalam kehidupan masyarakat Jawa.

Berikut ini adalah dua tempat persekutuan dengan setan/iblis

Di pemandian wendit
Pemandian Wendit adalah suatu tempat yang terletak di kota Malang. Cerita ritual yang ada di sana mengatakan siapa pun yang melakukan pemujaan di tempat tertentu di dalam lokasi pemandian, akan cepat kaya raya. Namun, tumbalnya yaitu mengorbankan nyawa anak atau orang yang amat disayangi, setiap tahun. Disamping pengorbanan itu, ketika pemuja meninggal dunia, dia menjadi pengikut siluman kera yang berada di Pemandian Wendit.

Tempat ini tidak lebih dari lokasi pemandian, terutama bagi anak SMA. Keramaian biasanya terjadi ketika Idul Fitri. Di tepi pemandian, ada beberapa warung kecil dan laki-laki yang menawarkan perjalanan naik perahu. Di lokasi pemandian terdapat banyak kera, yang juga suka mencopet. Juga ada seorang ibu yang menjual pisang. Mereka hanya berada di pintu gerbang masuk ke dalam taman.

Ningsih "kadung (terlanjur) tergiur dengan limpahan kekayaan" dan mempersiapkan sesaji yang diperlukan. Dipandu oleh Juru Kunci Pemandian Wendit, Ningsih masuk ke dunia persekutuan dengan setan. Sebulan kemudian, pesugihan mulai mengalir. Akan tetapi, setiap tahun, sejak melakukan persekutuan itu, salah seorang anak Ningsih mati akibat kecelakaan tragis, tanpa sebab yang jelas. Kematian ini terus menerus terjadi menimpa ketiga anaknya. Waktu terus berlalu dan terakhir kalinya terjadi di malam Jumat Kliwon. Rumah Ningsih didatangi ratusan kera. Kera itu mulai merusak rumahnya bahkan membakarnya. Kini, kehidupan Ningsih kembali seperti semula, penuh penderitaan. Hartanya habis dan semua anaknya mati.

Peziarahan ke pesarean gunung kawi
Gunung Kawi sangat terkenal sebagai salah satu tempat ritual yang dapat mengabulkan permohonan. Kesohorannya itu membuat banyak sekali pengunjung yang datang, bahkan dari seluruh dunia. Salah satu lokasi yang sangat terkenal di sana adalah Pesarean. Di Pesarean ini ada dua makam tokoh penyebar agama Islam, yang dipercayai memiliki kekuatan penyembuhkan penyakit. Mereka hidup sekitar abad ke-18. Kedua tokoh ini bernama Eyang Djoego dan Raden Mas Imam Soedjono, dipercaya memiliki sifat-sifat luhur dan jiwa kepahlawan. 

Eyang Djoego adalah keturunan Kerajaan Surakarta yang berkuasa pada abad ke-18 dan Imam Soedjono adalah keturunan Kerajaan Yogyakarta yang berkuasa di era yang sama. Dua tokoh ini memiliki wasiat agar jika meninggal, jenazahnya dimakamkan di Gunung Kawi. Jadi, sesudah kemangkatannya, mereka dimakamkan tepat di titik di Gunung Kawi, yang dianggap keramat. Eyang Djoego dan Imam Soedjono dipercaya memiliki wasilah Tuhan. Dengan demikian, setiap permohonan yang diajukan di makamnya sangat mungkin terwujud atau terkabul. Ada tiga permohonan utama yang diajukan peziarah saat mengujungi makam tersebut. Permohonan ini adalah keselamatan, sehat dan sembuh dari penyakit serta banyak rezeki.

Selain pemakaman itu, di Pesarean Gunung Kawi ada lokasi yang juga menarik perhatian, yaitu bangunan Cina, Dewa Ciam Si dan Dewi Kwan Im. Tempat ini dipergunakan bagi mereka yang ingin meramalkan atau menentukan nasib dengan bersembahyang.Kemudian, ada sebuah pohon keberuntungan yang disebutkan pohon Dewa Dam (Dewandaru, dalam Bahasa Jawa). Buah pohon ini dipercaya membawa banyak rezeki. Dan yang terakhir adalah Pemandian Sumber Urip, yang dijadikan tempat mandi.

Dampak globalisasi dan modernisasi, masyarakat Jawa mengalami moneterisasi dan sekarang lebih menujukkan ciri-ciri konsumerisme dan materialisme. Yang merupakan dampak krisis moneter, mencari uang menjadi lebih sulit dan tentu saja menimbulkan perasaan ketidakpastian.

Jadi, apa arti semua ini? Sebagian budaya Jawa, kegiatan mistis turut berubah. Menurut budaya Jawa, lingkungan kegiatan mistis juga bergerak menjadi lebih modern dan dalam keadaan tertentu, perubahan itu mulai muncul dengan banyaknya pelayanan ritual mistis yang dilakukan dengan tujuan menghasilkan uang. 

Saya menduga bahwa kemiskinan, yang diciptakan oleh kesulitan ekonomi dan kekacauan politik, ditambah dengan perhatian terus-menerus terhadap Kejawen dan agama, akan mendatangkan kepopuleran kegiatan ritual ini. Bahkan kondisi ini akan berlangsung lama.