7 Faktor pertimbangan memilih perguruan tinggi

Mahasiswa
Seseorang lulusan SMA berkeinginan untuk melanjutkan studi, jelaslah siswa tersebut mempunyai tujuan. Dalam benaknya terdapat gambaran masa depan yang dipandang terbaik, misalnya menjadi dokter, manajer, gusu, dan sebagainya. Tujuan dapat terwujud bila telah menyelesaikan studi. Oleh karena itu, lulusan SMA mempunyai tujuan yang ingin dicapai, yaitu kuliah di perguruan tinggi. Keputusan untuk memilih perguruan tinggi mana yang akan dimasuki, merupakan realisasi dari pencapaian tujuan.

Setelah tujuan ditetapkan, segala daya dan upaya dicurahkan guna mencapai tujuan. Namun, tak setiap orang bisa meraihnya. Seringkali terjadi kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Bagi lulusan SMA yang bertujuan untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi, akan timbul masalah bila belum mendapat perguruan tinggi yang diharapkan, misalnya perguruan tinggi negeri. Karena terbatasnya daya tampung PTN, maka lulusan SMA perlu bersikap realistis dengan melakukan pembatasan masalah pada tujuan utama yang ingin dicapai yaitu melanjutkan studi. Dengan menganalisis masalah secara mendalam, maka dapat dilakukan pemecahan masalah dengan mencari
jalan keluarnya.

Pada kenyataannya, menentukan pilihan memiliki banyak dimensi dan dampak. Memilih merupakan bagian dari suatu upaya pemecahan masalah sekaligus sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan. Dampak penetapan pilihan akan membawa pengaruh jangka pendek/panjang, baik berupa keuntungan yang diperoleh maupun risiko yang ditanggung. Demikian juga, memilih perguruan tinggi merupakan keputusan yang akan berdampak pada masa depan seseroang.

Sebelum calon mahasiswa memilih perguruan tinggi untuk dimasuki, biasanya mereka memiliki beberapa faktor yang dijadikan dasar pertimbangan dalam mengambil keputusan. Pada umumnya kriteria yang dipilih meliputi status akreditasi, citra, fasilitas fisik, biaya, mutu dosen, mutu lulusan, prospek, dan sebagainya.

1. Minat
Faktor utama yang harus anda pertimbangkan adalah minat. Hampir boleh dipastikan, tidak ada mahasiswa yang berhasil dalam studinya jika itu bertentangan dengan minatnya. Orang lain, termasuk orang tua, boleh memberikan saran atau masukan apapun, tetapi andalah yang akan menjalani sekian tahun proses belajar di perguruan tinggi. Sudah terlalu sering kita mendengar kegagalan mahasiswa karena ketidakcocokan dengan bidang studi yang diminatinya. Jangan sampai hal ini terjadi pada anda.

2. Biaya
Kemampuan keuangan sangat menentukan pilihan anda. Ini adalah faktor terpenting berikutnya yang harus anda perhitungkan. Kuliah di perguruan tinggi melibatkan banyak komponen biaya, mulai dari pendaftaran, biaya praktikum, biaya KKN, dan sebagainya. Selain itu masih perlu dipikirkan biaya-biaya tidak langsung, seperti biaya kos, biaya hidup, biaya transportasi, biaya buku, biaya foto copy, dan lain-lain. Sebelum mendaftar ke perguruan tinggi, perlu ditanyakan semua komponen biaya yang harus anda bayarkan di perguruan tinggi yang bersangkutan. Tanyakan juga waktu pembayarannya. Hal yang demikian perlu diperhitungkan jika tidak ingin gagal.

3. Status akreditasi
Status akreditasi sering digunakan sebuah perguruan tinggi, negeri maupun swasta, untuk mengiklankan dirinya. Status akreditasi menunjukkan mutu atau kinerja suatu perguruan tinggi dalam menyelenggarakan suatu program studi. Status ini diberikan oleh Badan Akreditas Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) setelah diadakan penilaian tentang semua unsur yang diperlukan, seperti fasilitas pendidikan, perbandingan dosen tetap dan mahasiswa, kurikulum pendidikan, dan sebagainya. Namun demikian, tidak semua orang memahami dengan jelas tentang status ini dan tampaknya banyak perguruan tinggi yang memanfaatkan ketidaktahuan tersebut.

Perlu diketahui bahwa status akreditasi diberikan kepada suatu program studi di suatu perguruan tinggi dan bukan kepada perguruan tinggi yang bersangkutan. Jadi perlu dipahami bahwa sebenarnya tidak dikenal istilah perguruan tinggi yang terakreditasi, melainkan terdapat satu atau lebih program studi di suatu perguruan tinggi yang terakreditasi. Dimungkinkan, suatu perguruan tinggi memiliki 3 program studi, satu di antaranya terakreditasi A, sedangkan dua lainnya belum atau memperoleh akreditasi C. Tidak benar jika perguruan tinggi tersebut menyebut atau mengiklankan dirinya sebagai perguruan tinggi yang terakreditasi A.

4. Jalur dan jenjang pendidikan
Berapa lama seorang mahasiswa menghabiskan waktu di bangku kuliah? Selain ditentukan oleh kemampuan mahasiswa tersebut, hal ini juga tergantung dari jalur/jenjang pendidikan yang diambil. Pendidikan tinggi di Indonesia mengenal dua jalur pendidikan, yaitu jalur akademik (jenjang sarjana) dan jalur profesional (jenjang diploma). Jalur akademik menekankan pada penguasaan ilmu pengetahuan, sedangkan jalur profesional menekankan pada penerapan keahlian tertentu.

Dalam kaitannya dengan waktu, jenjang sarjana membutuhkan waktu lebih lama (minimal 8 semester) dibandingkan dengan jenjang diploma (2 semester untuk D1 dan 6 semester untuk D3). Hal ini tentu sangat berpengaruh pada biaya yang harus anda sediakan. Banyak orang, yang karena keterbatasannya, lebih memilih jenjang diploma dengan harapan cepat lulus dan mendapat pekerjaan.

Perlu diketahui bahwa jenjang diploma dirancang sebagai jenjang terminal. Artinya, lulusannya dipersiapkan untuk langsung memasuki dunia kerja, bukan untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, meskipun sekarang ada program lintas jalur, dari diploma ke sarjana). Hal ini berbeda dengan jenjang sarjana, yang membuka kesempatan lulusannya untuk terus mengembangkan ilmunya ke jenjang yang lebih tinggi.

5. Gelar dan sebutan
Setelah lulus dari perguruan tinggi, seseorang akan mendapat ijazah dan gelar akademis, seperti Sarjana Sains (S.Si), Sarjana Pendidikan Sains (S.Pd.Si.), Sarjana Hukum (S.H.), Sarjana Ekonomi (SE), dan lainnya. Gelar akademis ini diberikan kepada mereka yang menyelesaikan pendidikan melalui jalur akademik (jenjang sarjana). Sedangkan bagi yang menempuh jenjang atau jalur profesional (jenjang diploma) tidak memperoleh gelar akademis melainkan sebutan profesional, seperti Ahli Madya Komputer (AMd Komp). Sebutan ini mungkin belum terlalu memasyarakat dan kadang-kadang dianggap kurang bergengsi.

6. Fasilitas pendidikan
Gedung megah dan ber-AC saja tidak cukup untuk menjamin berlangsungnya proses pembelajaran yang baik. Fasilitas pendidikan pada suatu perguruan tinggi lebih pada ketersidiaan dan kelengkapan laboratorium (komputer, akuntansi, bahasa, dan lain-lain), bengkel, studio, dan perpustakaan sangat diperlukan untuk menunjang keberhasilan mahasiswa. Mahasiswa tidak hanya dituntut untuk menguasai wawasan keilmuannya, tetapi juga diharapkan dapat menerapkannya di lapangan. Terlebih untuk jalur pendidikan profesional yang lebih bersifat aplikatif dan menekankan pada keterampilan. Sekali lagi, jangan hanya tampilan fisik yang perlu perhatikan. Boleh saja suatu perguruan tinggi memasang foto-foto gedungnya yang megah atau laboratorium komputernya yang canggih. Tidak ada salahnya untuk mencoba menanyakan kapan mahasiswa berkesempatan untuk menggunakan fasilitas-fasilitas tersebut. Jangan-jangan hanya satu-dua kali per semester, atau hanya untuk mahasiswa tingkat akhir saja. Perhitungkan juga jumlah mahasiswa yang harus menggunakan fasilitas tersebut.

7. Kualitas dan kuantitas dosen
Perkembangan suatu perguruan tinggi, khususnya perguruan tinggi swasta, dapat dilihat dari banyaknya mahasiswa perguruan tinggi tersebut. Bagi PTS, banyaknya mahasiswa sering menjadi indikator utama berkembangnya PTS tersebut karena mahasiswa sebagai sumber utama, bahkan mungkin satu-satunya sumber pendapatan. Dari mahasiswalah, suatu PTS mencukupi kebutuhannya untuk membiayai operasional pendidikan, membangun gedung, menambah fasilitas pendidikan, termasuk membayar gaji dosen dan karyawannya. Oleh karena itulah ada kecenderungan PTS untuk menggali sebanyak mungkin potensi ini, baik secara kualitas, seperti memperbesar uang gedung dan uang kuliah, maupun kuantitas, seperti dengan menerima sebanyak mungkin mahasiswa.

Pada sisi lain, bertambahnya mahasiswa menuntut ditambahnya jumlah dosen. Bukan hal yang mudah mendapatkan dosen dengan jumlah yang memadai, apalagi yang memenuhi kualitas yang dibutuhkan. Padahal Undang-Undang Pendidikan Tinggi mensyaratkan tercapainya perbandingan antara dosen tetap dan mahasiswa adalah 1 : 30 untuk bidang sosial dan 1 : 25 untuk bidang ilmu alam. Sering, faktor ketercukupan dosen tetap merupakan masalah utama suatu PTS. Mereka mungkin membebani dosen yang terbatas jumlahnya dengan beban mengajar yang besar, sehingga waktu dan tenaga dosen-dosen tersebut betul-betul tersita untuk itu. Seringkali hal ini dilakukan dengan mengabaikan aspek kualitas pengajarannya. Hampir tidak tersisa lagi waktu untuk melakukan penelitian atau pengabdian masyarakat yang merupakan pilar-pilar Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Sebelum mendaftar, seorang calon mahasiswa perlu mengetahui banyaknya dosen tetap di suatu perguruan tinggi. Perhatikan juga berapa dosen yang bergelar S2, S3, atau yang sudah bergelar profesor. Bagaimanapun juga kualitas mahasiswa sangat ditentukan oleh kualitas keilmuan mereka.

0 Response to "7 Faktor pertimbangan memilih perguruan tinggi"

Posting Komentar