7 Cerita rakyat berkaitan dengan mitos ibu

Mitos Ibu dalam Cerita Rakyat Indonesia

Mitos Ibu dalam Cerita Rakyat Indonesia

Di indonesia, mitologi tentang keberadaan sosok ibu bahkan tersebar di seluruh daerah dengan versi yang berbeda-beda. Misalnya, masyarakat Suku Dayak Iban Sui Utik di Kalimantan, Indonesia, yang menganggap ibu sebagai perempuan dengan kekuatan yang besar dalam hubungannya dengan tanah tempat manusia hidup. Tanah to indai kitai, demikian mereka biasa mengenal istilahnya, yang artinya “tanah adalah ibu kita”.

Duli uhe, pali ara, demikian ungkapannya dalam bahasa Ende di Nusa Tenggara Timur. Artinya, “tanah itu ibu, emas adalah penopangnya“. Masyarakat Ende percaya bahwa tak seorang pun boleh merusak tanah, seperti menggali untuk mengambil kandungan tanah berupa tambang, karena dipercaya akan merusak kehidupan. Demikian pula halnya berlaku pada kepercayaan masyarakat Papua, tanah dianggap seperti ibu yang memberi kehidupan dan tidak boleh disakiti atau dirusak.

Versi lain mengenai gambaran hubungan antara ibu dengan alam ditemukan di Jawa Barat, tepatnya pada sungai yang bernama Cikapundung, dieja ci-ka-pun-indung. Dari sudut kebahasaan, kata cikapundung terbangun dari akar kata indung, yang dalam bahasa Indonesia sepadan dengan kata “ibu”. Bagi masyarakat Sunda, kata cikapundung memiliki arti “kepada ibu cahaya yang terhormat”. Pengertian lebih luasnya, orang Sunda mengungkapkan sosok ibu dalam bentuk cahaya dan menjadi sumber kekuatan yang harus dihormati.

Dari beberapa versi cerita mitologi sosok ibu yang tersebar di beberapa etnik di Indonesia, dapat dilihat bahwa pola matrilineal merupakan kunci pada masa lalu masyarakat tradisi. Untuk lebih memperkaya fakta, berikut ini peneliti cantumkan beberapa cuplikan singkat dari cerita-cerita rakyat dahulu yang tersebar di Indonesia:

1. Malin Kundang
Cerita rakyat dari masyarakat etnik Padang ini isinya menceritakan tentang perjalanan hidup seorang anak laki-laki yang berasal dari keluarga miskin, lalu membulatkan tekad hendak merantau demi satu tujuan: untuk memperbaiki nasib. Takdir membawa anak laki-laki itu pada kesuksesan di tanah rantau. Berubahlah perangainya, yang paling buruk adalah anak laki-laki itu dihinggapi rasa malu untuk mengakui ibunya yang sudah tua renta dan masih melarat. Karena terlewat sakit hati, jatuhlah sumpah serapah dari mulut ibu untuk anaknya itu, yaitu kutukan menjadi batu.

Mengenai sosok ibu, cerita rakyat Malin Kundang ini menggambarkannya sebagai manusia yang penuh kasih sayang, terutama dalam merawat dan membesarkan anaknya. Pada bagian akhir cerita, tampak betapa sosok ibu memiliki dominasi yang besar atas kehidupan anaknya. Hal tersebut ditunjukkan melalui kekuatan doanya (koneksitasnya dengan kekuatan Pencipta) yang mampu mengutuk anaknya dan mengubahnya menjadi batu. Dengan demikian, pola matrilineal tampak dominan dalam cerita legenda ini.

1. Sangkuriang
Cerita rakyat dari masyarakat etnik Sunda ini, alkisah menceritakan tentang nilai moral dan sosial. Nilai moral dapat dinukil dari adegan dimana Dayang Sumbi, sebagai seorang perempuan, begitu keras sikapnya dalam memegang teguh janji, betapa pun ia mengetahui akan pahitnya akibat yang mesti ditanggung. Sementara nilai sosial ditunjukkan melalui gambaran Dayang Sumbi sebagai seorang ibu. Ia menegaskan bahwa incest (percintaan atau pernikahan antara ibu dengan anak, dalam konteks ini dengan Sangkuriang) adalah perbuatan yang terlarang.

Pada cerita Sangkuriang ini, sisi dominan dari pola matrilineal adalah ketika sosok ibu ditampilkan sebagai makhluk yang cantik, menarik, teguh memegang janji, dan berupaya untuk menjaga kehormatan. Sementara menganai gambarang Sangkuriang, ia cenderung pemarah dan bermental rapuh.

3. Asal-Muasal Danau Toba
Cerita rakyat dari masyarakat etnik Batak ini juga mencerminkan nilai moral, baik untuk laki-laki sebagai suami dan ayah, maupun mengenai kekuatan perempuan sebagai istri dan ibu. Bagi laki-laki, cerita ini menonjolkan nilai moral bahwa suami jangan pernah melanggar sumpah terhadap istri, karena akan berakibat sangat fatal bagi kehidupannya. Sedangkan bagi perempuan, sebagi ibu, cerita ini menggambarkan betapa protektifnya sosok ibu dalam melindungi anak, bahkan melebihi sikapnya terhadap suami. Bagian yang terakhir ini sekaligus menunjukan titik tekan adanya pola matrilineal yang sangat dominan dalam cerita rakyat bagi etnik Batak.

4. Legenda Gunung Batu Bangkai
Cerita rakyat dari masyarakat etnik Dayak di Kalimantan Selatan ini memiliki sisi kesamaan dengan cerita Malin Kundang dari etnik Padang, yaitu tentang anak yang durhaka kepada ibunya. Konon, setelah si anak meraih keberhasilan material, lantas lupa terhadap seluruh kasih sayang ibunya. Lebih parahnya lagi, si anak sampai berani menghina ibunya di hadapan banyak orang. Seperti ibunya Malin Kundang, ibu dalam cerita ini juga kemudian mengeluarkan kata-kata kutukan. Si anak pun berubah wujud menjadi batu berbentuk bangkai manusia.

Pada cerita ini, di satu sisi ibu tampil sebagai sosok yang penyayang dan lemah lembut. Namun, di sisi lain, ibu juga memiliki kekuatan sangat besar (dalam kesatuannya dengan alam), terlebih apabila hatinya tersakiti oleh anaknya (laki-laki), terbukti dari kemampuannya dalam menghancurkan hidup anaknya. Pada cerita ini, pola matrilineal tampak begitu dominan, sebab osok ayah bahkan tidak dimunculkan sama sekali dan sosok anak (laki-laki) tampil sebagai manusia yang berhati lemah, mudah terlena oleh kesenangan duniawi, dan lupa pada jati dirinya.

5. Asal-Usul Ikan Patin
Cerita rakyat dari masyarakat etnik Dayak di Kalimantan Tengah ini, sebagaimana yang tersebar di tengah-tengah masyarakat lokal di sana, mengisahkan tentang seorang suami yang mengingkari janji dan menyakiti hati istrinya. Tak tahan menahan derita, sang istri kemudian minggat, meninggalkan suami dan anaknya. Beberapa saat kemudian, sang istri kembali dengan wujud yang berbeda, yakni menyerupai ikan patin, yang sekarang orang-orang sering lihat.

Paling tidak, beberapa nilai moral yang pantas untuk diresapi oleh pembaca, atau pendengar, bahwa dari cerita rakyat tersebut adalah jangan sekali-kali seorang suami melanggar sumpahnya terhadap istri. Sebab, selain tidak ada maafnya, juga dapat menimbulkan akibat buruk di kemudian hari. Sementara nilai moral bagi perempuan yang telah berperan sebagi ibu, sumpah terhadap harga dirinya sendiri lebih utama daripada perannya sebagai ibu yang harus melindungi anaknya. Dalam kata lain, pola matrilineal pada kisah ini bahkan mengalahkan nilai keibuannya sendiri.

6. Nyai Balau Kehilangan Anak
Cerita rakyat dari masyarakat etnik Dayak di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah ini, didalam keutuhan ceritanya tergambar kebesaran hati seorang ibu yang mampu memaafkan pembunuh anaknya sendiri. Tentang sosok Nyai Balau sendiri digambarkan sebagai perempuan yang sakti mandraguna dan bijaksana dalam memimpin serta menjaga rakyatnya.

Dengan demikian, nilai keibuan Nyai Balau yang masuk hingga ke ruang publik menunjukkan bahwa pada masyarakat Dayak di Kabupaten Kapuas, pola matrilineal tampak sedemikian dominan. Dalam redaksi lain, masyarakat Dayak telah memiliki tradisi yang membagi proporsi hak dan kewajiban perempuan dengan laki-laki di ruang publik. Demikianlah, pola genealogis parental (kesetaraan garis keturunan ayah dan ibu) dalam aspek sosial (domestik dan publik), religious, dan kedudukannya dalam adat masyarakat Dayak di Kalimantan.

7. Batu Belah
Cerita rakyat dari masyarakat etnik Manado di Sulawesi Utara ini mengisahkan tentang kehidupan seorang istri, yang hanya mengharapkan materi dari suaminya. Sedangkan sebagai ibu, ia hanya memberi printah kepada anaknya, tanpa memperhatikan kondisi kedua anaknya. Lama-kelamaan, sang anak tak lagi mau patuh pada perintah ibunya, karena itulah kemudian sang ibu memilih untuk meninggalkan keluarganya. Secara sekilas pun gambaran tentang sosok ibu dalam cerita tersebut sudah tampak, yakni sebagi tokoh yang egonya lebih besar daripada rasa keibuannya. Faktor itulah yang menunjukan bahwa pola matrilineal terlihat sangat dominan.

Pendapat Bachofen, sebagaimana dikutip oleh Abdul Aziz Rasjid (2008), dalam penemuannya atas hak ibu (mother right) serta analisisnya terhadap mitos-mitos dan simbol-simbol bangsa Romawi, Yunani, dan Mesir, berkesimpulan bahwa struktur patriarkal dalam masyarakat yang kita kenal melalui sejarah peradaban dunia didahului sebelumnya oleh status kultural yang menempatkan sosok ibu dalam peran yang sangat penting, misalnya sebagai kepala keluarga, kepala pemerintahan, dan Dewi Agung (cf Rasjid, 2008; Daly, 2009; dan Watts, 2013).

Karena ibu lebih mungkin untuk memainkan peran utama didalam kegiatan keterikatan, berbagi, dan berpartisipasi harmonis dengan alam, yang kesemuanya berorienatasi kepada kelangsungan hidup. Alam adalah teman; dan sebagai penjaga kelangsungan hidup alam dan pemangku reproduksi kehidupan, perempuan juga adalah teman.

French, sebagaimana dikutip oleh R. Putnam Tong (2004), juga berspekulasi bahwa dengan bertambahnya populasi manusia, makanan menjadi langka dan manusia merasakan alam bukan sebagai ibu yang baik hati, sehingga mengatasinya dengan mengembangkan berbagai teknik (membuat sumur, menggali tanah) untuk membebaskan diri dari keinginan dan mememperoleh kekayaan yang disembunyikan oleh alam, yang mana “alam” adalah representasi dari perempuan.

Konseptualisasi identitas sebagai proses sosial memungkinkan kita untuk memahami pentingnya rasa dihargai bagi perempuan dalam hubungan interpersonal tertentu, dan memungkinkan kita untuk melihat ini sebagai karakteristik dalam memelihara, peduli, dan tanggung jawab, yang terkait dengan perempuan secara sosial. Konseptualisasi identitas diri yang “merawat” dan “peduli”.

Cinta ibu kepada anaknya sering dianggap sebagai bentuk kemurnian cinta di alam semesta, yang dianggap memiliki kekuatan untuk mempertahankan tantanan moral dan keberlangsungan alam semesta yang mampu melindungi. Ada beberapa tipe penggambaran ibu dalam mitos: menjadi simbol kehidupan (sumber abadi) dengan perannya sebagai pemelihara kehidupan, kelahiran, kesuburan, siklus pertumbuhan, bumi; simbol kekuatan dengan perannya sebagai pelindung dan pembela; serta juga menjadi individu sebagai bagian dari sebuah siklus dalam hubungan dengan pasangannya (dewi Yunani dan Romawi).

Akhirnya, ibu yang pada awalnya memiliki peran yang sangat penting, kemudian menjadi relatif kurang penting. Walau bagaimanapun, representasi ibu dari berbagai cerita rakyat di daerah-daerah Indonesia tersebut menjelaskan tentang kebesaran, sekaligus kompleksitas, mengenai ibu dari masa ke masa.


Referensi:
Susanto, Budi [ed]. (2003): Politik dan Postkolonialitas di Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Thurer, Shari L. (1994). The Myths of Motherhood: How Culture Reinvents the Good Mother. USA [United Sates of America]: Houfghton Mifflin.

Junus, Umar. (2001). “Malin Kundang dan Dunia Kini” dalam Journal Sari. Bangi: UKM [Universiti Kebangsaan Malaysia], hlm.69-83.

0 Response to "7 Cerita rakyat berkaitan dengan mitos ibu"

Posting Komentar