Rabu, 05 September 2018

Cerita mitos kucing bagi masyarakat jepang

Kucing Maneki Neko

Kucing sejak dahulu dipelihara manusia sebagai hewan kesayangan menemani hidup atau memang dipelihara untuk suatu tujuan tertentu , misalnya untuk pendidikan di laboratorium atau dipelihara secara individual untuk memberantas tikus sebagai salah satu binatang hama bagi manusia, karena kucing lebih populer sebagai pemangsa tikus.

Kucing adalah peliharaan yang menarik, hal ini dikarenakan masing-masing dari mereka memiliki kepribadian yang khas, meskipun ada dari mereka yang terkait perikatan persaudaraan dan tinggal di rumah yang sama seumur hidupnya, kepribadian satu sama lainnya tidaklah sama. Jika belajar satu hal dengan mengamati mereka, masing-masing kucing memliki kepribadian satu sama lain, sama halnya seperti manusia.

Masyarakat Jepang merupakan masyarakat yang percaya akan adanya mitos. Salah satunya adalah mitos tentang kucing yang dipercaya sebagai pembawa keberuntungan. Kucing tersebut dikenal dengan nama maneki neko. Biasanya maneki neko berbentuk patung kucing yang duduk dan seolah-olah melambaikan salah satu kaki depannya. Maneki neko terdiri atas kata maneki dan neko. Maneki memiliki arti mengajak atau memanggil, sedangkan neko memiliki arti seekor kucing. Dengan kata lain, maneki neko memiliki arti, kucing yang membawa keberuntungan dengan mengajak atau memanggil menggunakan tangannya yang bergerak-gerak yang menandakan bahwa setiap orang yang lewat akan tertarik mampir ke toko atau tempat usaha setidaknya untuk melihat lihat saja walaupun tidak membeli.

Maneki neko pertama kali muncul di Jepang pada zaman Edo (1603-1867). Pada saat itu masyarakat Jepang mempercayai bahwa kucing adalah hewan yang sangat istimewa. Pada zaman tersebut terdapat mitos yang menyatakan bahwa kucing merupakan hewan kesayangan dewa. Oleh para dewa, kucing kerap kali ditugaskan ke bumi untuk mengamati kehidupan dan tingkah laku manusia dan para kucing harus melaporkan apa saja yang terjadi dengan manusia di bumi. Jika kucing tersebut menemukan seorang manusia yang sangat baik hatinya namun keadaannya sangat memprihatinkan, maka kucing tersebut akan melaporkan hal tersebut kepada dewa, agar orang yang sangat baik hati tersebut diberi rahmat berupa rezeki yang berkelimpahan. Maka dari mitos tersebut munculah patung kucing yang bernama “maneki neko”.

Pada awal zaman Edo (abad ke-17) terdapat kuil di Setagaya bagian barat Tokyo. Pendeta di kuil tersebut memelihara seekor kucing bernama Tama. Pendeta tersebut sering berkomunikasi dan kadang-kadang sedikit mengeluh kepada Tama mengenai kondisi kuilnya yang miskin.

Suatu ketika, seorang penguasa dari daerah Hikone (bagian barat Tokyo), bernama Naotaka Li pulang berburu. Ia berteduh menghindari hujan di bawah pohon besar yang terdapat di depan gerbang kuil. Seekor kucing memberi isyarat dan mengundang Naotaka untuk berteduh di gerbang kuil. Tidak berapa lama setelah Naotaka berteduh di gerbang kuil, pohon besar tersebut disambar petir. Nyawa Naotaka terselamatkan berkat Tama. Setelah kejadian tersebut Naotaka Li dan keluarganya menunjuk kuil tersebut menjadi kuil keluarga dan merubah namanya menjadi Goutokuji. Seiring berjalannya waktu, kuil Goutokuji menjadi makmur setelah didukung oleh keluarga Li. Tidak berapa lama, Tama pun mati. Dan dikuburkan di pemakaman kucing di kuil tersebut. Kemudian dibuatlah patung kucing (maneki neko) untuk mengingat Tama.

Mitos yang kedua adalah mitos Usugumo dari Yoshiwara. Pada zaman Edo banyak kota-kota kecil yang penuh dengan berbagai macam hiburan gaya Jepang yang disebut Yuukaku. Salah satu yang terkenal adalah kota tua Yoshiwara yang terdapat di bagian timur Tokyo. Di kota tua Yoshiwara, terdapat 2 profesi pekerja wanita. Pada pertengahan zaman Edo (abad ke-18) ada seorang Tayuu yang bernama Usugumo. Ia terkenal juga sebagai penyayang kucing. Kucing seorang Tayuu tersebut selalu berada di sampingnya kemanapun ia pergi. Suatu malam, ketika Usugumo hendak memasuki toilet, kucingnya menarik-narik bajunya dengan kasar. Meskipun di usir dengan susah payah, kucingnya tidak mau berhenti mengganggunya. Karena ketakutan Usugumo meminta bantuan pemilik rumah. Pemilik rumah tersebut datang dan menebas leher kucing tersebut dengan samurai, karena ditakutkan kucing tersebut adalah kucing setan. Kepala kucing tersebut terbang ke langit-langit toilet, menggigit dan membunuh seekor ular besar yang sedang mengincar Usugumo. Usugumo sangat menyesal karena telah salah membunuh kucingnya, untuk mengingatkan jasa-jasa kucingnya, salah seorang tamu menghadiahinya patung kucing yang terbuat dari kayu yang harum. Patung kucing inilah yang kemudian berkembang menjadi maneki neko.

Mitos yang ketiga adalah Mitos Wanita Imado. Pada akhir zaman Edo (abad ke-19), ada seorang wanita tua yang hidup di Imado, Tokyo bagian Timur. Karena keadaannya yang sangat miskin, wanita tua itu tidak mampu lagi merawat kucingnya. Malamnya kucing tersebut hadir dalam mimpinya dan berkata bahwa buatlah patung kucing dari tanah liat dan patung tersebut akan membawa keberuntungan. Setelah terbangun dari tidurnya, wanita tersebut kemudian membuat patung tersebut, dan kemudian menjualnya. Semakin banyak wanita tersebut membuat patung kucing, semakin banyak orang yang membelinya. Berkat patung kucing yang ia buat ia tidak menjadi miskin lagi.

Beberapa atribusi (upaya untuk memahami penyebab di balik perilaku orang lain, dan dalam beberapa kasus juga penyebab di balik perilaku kita sendiri) tentang tokoh penguasa di Jepang yang berhubungan dengan maneki neko seperti Oda Nobunaga dan Samurai Li Naotaka (Domain Hikane). Semenjak itu, kucing telah dijadikan atau dianggap sebagai roh kebijakan dan roh keberuntungan. Banyak kuil-kuil dan toko-toko (tempat usaha) di Jepang menaruh patung berbentuk kucing dengan satu tangan mengangkat seperti sedang melambai. Maka maneki neko, sering juga disebut sebagai Kami Neko yang artinya dewa kucing atau roh kucing. Beberapa ada yang mencatat kesamaan antara gerakan maneki neko dengan kucing yang sedang memandikan wajahnya. Ada kepercayaan Jepang bahwa jika seekor kucing memandikan atau membasuh wajahnya maka pengunjung akan segera datang.

Menurut keyakinan Cina jika ada kucing membasuh atau memandikan mukanya maka akan turun hujan. Dan hujan artinya hoki menurut orang Cina (pada saat Imlek orang berdoa agar hujan deras supaya tahun ini diberi rezeki yang melimpah). Jadi intinya kucing yang sedang membasuh atau memandikan wajahnya maka akan membawa keberuntungannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar