Inilah jenis-jenis hantu di tanah sunda

Hantu di indonesia

Hantu didefinisikan dengan ‘roh jahat (yang dianggap terdapat di tempat-tempat tertentu)’. Hantu juga dapat didefinisikan dengan ‘sesuatu yang menakutkan, menyeramkan, dan berbahaya’. Tiap jenis dari hantu-hantu yang ada memiliki bentuk dan karakteristik yang berbeda, sesuai dengan modus kemunculannya. Hantu atau sejenisnya merupakan makhluk yang keberadaannya diakui oleh sebagian besar masyarakat dunia.Banyak nama yang muncul berkaitan dengan makhluk tersebut. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki banyak nama untuk berbagai jenis hantu. Nama-nama seperti kuntilanak, wewe gombel, pocong, genderuwo, tuyul, dan babingepet, merupakan nama-nama yang muncul untuk jenis hantu yang dipercaya keberadaannya oleh sebagian besar masyarakat.

Di tanah Sunda, khususnya daerah Majalengka, ditemukan beberapa leksikon untuk nama hantu, baik yang dipercaya berjenis kelamin perempuan maupun yang berjenis kelamin laki-laki. Jenis hantu tersebut terbagi dalam tiga pengklasifikasian, yaitu jelmaan jejaden, jurig, dan setan, dengan ciri dan bentuk yang berbeda.

1. Jelmaan Jajaden
Jenis hantu ini dipercaya sebagai jelmaan manusia yang berwujud makhluk lain. Ia menyembah atau mengabdikan dirinya pada jin atau makhluk halus lainnya untuk memperoleh kebahagiaan duniawi, seperti kekayaan, kecantikan, dan kesejahteraan hidup. Para penyembah jin tersebut rela melakukan apapun demi mencapai keinginannya. Persembahan tumbal, membunuh, bahkan meminum darah manusia menjadi syarat-syarat yang harus dijalani untuk memperoleh keinginannya tersebut. Jenis jelmaan jejaden ini dapat berupa monyet dan babi jadi-jadian, iprit,peri, dan kuntilanak.

a. Monyet dan babi jadi-jadian
Jenis hantu ini merupakan jenis hantu jelmaan manusia yang berwujud binatang. Ia bekerja sama dengan jin atau setan untuk memperoleh kekayaan. Konsep ini hampir sama dengan konsep makhluk jejadian yang ada di Jawa, yaitu babi ngepet. Perbedaan antara monyet jadi-jadian dan babi jadi-jadian terletak pada tingkat keganasannya. Babi jadi-jadian dipercaya lebih ganas dibandingkan dengan monyet jadi-jadian. Hampir setiap malam bulan purnama ia harus menyerahkan seorang anak usia 10 tahun sebagai tumbal.

b. Iprit
Hampir serupa dengan jenis jelmaan sebelumnya, iprit juga merupakan jelmaan manusia, khususnya wanita, yang berwujud binatang. Dipercaya bahwa ia menjelma menjadi seekor ular sebagai bentuk pengabdian pada jin. Ketahanan duduk dan suara yang bagus menjadi satu impian yang didambakannya. Pada umumnya, hal ini dilakukan oleh para sinden yang ingin tampil sebaik mungkin di setiap penampilan. Kemunculannya tidak terbatas pada satu waktu tertentu. Kapan pun ia ingin tampil dengan paras cantik dan suara bagus, serta dapat duduk dalam waktu yang lama, ia akan mencari seorang gadis yang masih perawan sebagai tumbal untuk dipersembahkan pada jin sesembahannya.

c. Peri
Hampir sama dengan iprit,peri juga merupakan bentuk jelmaan manusia yang berwujud ular. Perbedaannya adalah bahwa manusia yang menjelma menjadi peri tidak terbatas pada wanita, tetapi juga laki-laki. Selain itu, tujuan dari penjelamaan ini juga bukanlah untuk memperoleh suara merdu dan ketahan duduk, tetapi berupa keinginan duniawi seperti kekayaan yang melimpah, serupa dengan babi dan monyet jadi-jadian.

d. Setan Maung
Jelmaan jejaden yang selanjutnya adalah setan maung. Hantu jenis ini merupakan jelmaan seorang laki-laki berwujud seekor macan. Kemunculannya tidak terbatas pada satu waktu tertentu. Penjelmaan ini dilakukan dengan tujuan untuk mempertahankan kekuatan ilmu sihir yang dimilikinya dan kekebalan terhadap senjatan tajam. Pada umumnya, laki-laki tersebut akan mencuri tali pocong orang mati setelah sebelumnya berubah manjadi seekor macan.

e. Kuntilanak
Tidak jauh berbeda dengan monyet dan babi jadi-jadian, serta peri, kuntilanak juga merupakan hantu jelmaan manusia. Serupa juga dengan iprit, kuntilanak merupakan jelmaan seorang wanita. Perbedaannya adalah bahwa kuntilanak tidak menjelma menjadi binatang, tetapi menjadi sosok hantu wanita yang menyeramkan dan gemar meminum darah perawan atau perjaka sebagai tumbalnya. Menurut kepercayaan, ia akan berparas cantik, awet muda, dan ilmu sihir yang ia miliki akan bertambah dengan meminum darah perawan atau perjaka. Jika ia ingin menjadi kaya, ia juga harus menyerahkan seorang anak berusia 10 tahun. Biasanya, ia bersembunyi di sekitar makam, pohon-pohon yang berdaun rindang, dan tempat-tempat lembab, seperti sungai. Selain perawan dan perjaka, ia juga meminum darah bayi di bawah satu tahun pada waktu sarepna, yaitu mulai menjelang maghrib sampai hilangnya mega merah.

2. Jurig
Jurig berbeda dengan jelmaan jajaden. Jenis ini dipercaya berwujud hantu yang sangat menyeramkan dan kemunculannya tidak terbatas pada waktu tertentu. Hanya orang-orang yang dapat merasakan hal-hal magis atau ghaib, yang dapat melihatnya. Namun, menurut kepercayaan masyarakat, jika seseorang ingin melihat wujud hantu tersebut, ia harus membaca Qur’an Surat Yassin sebanyak 33 kali. Salah satu penampakan dari jenis jurig ini adalah sekelebat bayangan hitam dan tinggi besar.

3. Setan
Dibandingkan dengan hantu lain, bentuk-bentuk setan ini paling banyak ditemui. Sebagian besar dari jenis ini sering muncul untuk mendapatkan tumbal, baik berupa perawan, perjaka, maupun anak-anak berusia 10 tahun ke bawah, untuk dibunuh, dimakan, dijadikan mainan,atau dijadikan gundik. Nama-nama hantu yang termasuk dalam jenis ini adalah sandekala,kalong,sigururung, genderuwo, gerandong, dan aden-aden.

a. Sandekala
Jenis hantu ini dipercaya muncul pada waktu sarepna dan orang-orang yang keluar pada saat itu dapat dirasukinya. Mengenai wujudnya, masyarakat tidak dapat menjelaskan dengan pasti. Mereka hanya tahu bahwa sandekala dapat berwujud laki-laki atau wanita.Diciptakannya penamaan hantu tersebut dan kepercayaan masyarakat terhadapnya disebabkan oleh adanya larangan orang tua pada anak-anaknya untuk tidak keluar rumah di malam hari. Kepercayaan masyarakat mengenai kegemarannya menculik anak-anak,menjadikannya sebagai bentuk peringatan yang efektif untuk lebih dipatuhi.

b. Kalong
Kalong merupakan satu jenis hantu yang pada umumnya keluar pada waktu tengah poe atau tengah hari. Konsep kalong ini hampir sama dengan wewe gombel di tanah Jawa. Ia dipercaya gemar menculik anak usia 10 tahun yang keluar rumah pada waktu tersebut untuk dijadikan ‘mainan’ di dunianya. Itulah sebabnya anak-anak pada usia tersebut dilarang bermain di luar rumah pada tengah hari. 

c. Sigururung
Kemunculan jenis hantu ini tidak hanya pada waktu sarepna, tetapi juga pada waktu tengah poe yang terik. Menurut kepercayaan, sigururung merupakan anak dari kalong. Penampakannya berwujud anak kecil yang gemar menggoda bayi dan anak-anak yang berada di luar rumah untuk dijadikan teman bermain. Menurut kepercayaan masyarakat, jika ada anak yang tergoda olehnya, anak-anak tersebut akan menghilang dan dijadikan gundik oleh ibunya, yaitu wewe gombel. Oleh karena itu, orang tua hendaknya menjaga anak-anaknya agar terhindar dari godaan hantu tersebut, terutama pada siang hari dan ketika sarepna tiba.

d. Genderuwo
Jenis genderuwo ini sering menampakkan diri dalam wujud bayangan hitam dan tinggi besar. Dengan menggunakan kabut, ia akan menggulung tumbal yang ia dapatkan dan dibawa pergi. Meskipun hanya berupa bayangan, wujudnya sangat menyeramkan. Menurut kepercayaan masyarakat, genderuwo ini merupakan ayah dari sigururung. Ia sering muncul di pohon-pohon besar seperti pohon beringin dan pohon kiara yang pada umumnya tumbuh di atas sumber air.

e. Gerandong
Gerandong merupakan jenis hantu berwujud wanita penyembah ilmu pelet yang gemar minum darah perawan dan perjaka. Selain untuk memperoleh paras yang cantik, hal ini dilakukannya untuk memperoleh ilmu hitam yang luar biasa. Sebutan lain untuk hantu ini adalah drakula wanita. Serupa dengan sandekaladan sigururung,gerandong ini juga muncul pada waktu sarepna. Jika suatu ketika ia tidak memperoleh perawan atau perjaka sebagai tumbal yang ia hisap darahnya, ia akan berubah menjadi sosok wanita tua yang menyeramkan, dengan wajah keriput dan pucat menyerupai mayat, yang pada akhirnya mati.

f. Aden-aden
Jenis hantu aden-aden ini merupakan jenis setan berwujud wanita tua dan membawa ceting atau sejenis tempat nasi dari anyaman bambu. Ia sering muncul di waktu tengah poe dan hanya dapat dilihat oleh orang-orang tertentu. Menurut kepercayaan masyarakat,hantu ini gemar menculik anak-anak berumur 10 tahun ke bawah untuk dijadikan budak atau gundik.

Dari beberapa paparan tersebut, tampak bahwa hampir semua tumbal yang dicari oleh hantu-hantu tersebut merupakan manusia-manusia yang dipandang masih terjaga kesuciannya.

Perawan dan perjaka dipandang sebagai manusia yang masih segar, suci, dan belum ‘ternoda’. Demikian pula dengan bayi dan anak-anak usia 10 tahun ke bawah, yang dipandang sebagai manusia yang masih bersih dari dosa. Kesucian manusia-manusia tersebut merupakan syarat mutlak dari tumbal yang diperoleh,yang sangat berkhasiat bagi para penyembah setan untuk mendapatkan impian dan permintaan mereka.

0 Response to "Inilah jenis-jenis hantu di tanah sunda"

Posting Komentar