Jumat, 07 September 2018

Tahukah kamu, makna ular di negara jepang

  Makna Ular Dalam Kehidupan Masyarakat Jepang

Ular

Menurut Robert N. Bellah (1992: 81) sistem kepercayaan dalam masyarakat Jepang mempunyai dua konsep dasar dalam pandangannya mengenai ketuhanan. Yang pertama adalah Tuhan sebagai suatu jenis identitas yang lebih tinggi dari segala yang ada yang berfungsi memelihara, memberikan perlindungan, berkat dan cinta kepada para pemeluknya. kehidupan beragama di Jepang kaya dan beragam, dengan sejarah panjang interaksi antara sejumlah tradisi keagamaan. Sebagian besar fitur individual agama Jepang tidak unik; kekhasan agama Jepang terletak pada total pola berinteraksi tradisi.

Agama di Jepang adalah untuk meninggikan dan melestarikan alam. Alam adalah peninggalan leluhur dan pemberi kehidupan bagi anak cucu, dan merupakan tempat tinggal roh-roh. Pohon di jaga oleh dewa gunung, sehingga air dapat mengalir ke desa untuk kehidupan anak cucu manusia di desa. Binatang buruan juga di jaga oleh dewa gunung, juga untuk kehidupan manusia. Oleh karena itu, alam adalah sesuatu yang sangat penting dilestarikan oleh manusia dan dewa. Keselamatan alam dan harmoni untuk kehidupan adalah sesuatu yang paling penting dalam pandangan beragama Jepang.

1. Makna Ular Dalam Agama Shinto
Ular dipandang sebagai dewa gunung, kadang-kadang objek yang dijadikan objek pemujaan dalam kepercayaan Shinto sebuah kuil shinto adalah gunung yang berbentuk ular, yang juga dipercaya muncul dalam wujud seekor ular. Hal ini menjelaskan kenapa ular biru Karena ular dipercaya dapat mengontrol air, yang mana bermanfaat untuk menghasilkan panen yang bagus, ular pun dipuja oleh para petani sebagai dewa air sebaik dewa pertanian. Selain itu, ular dianggap sebagai penjaga rumah karena memakan tikus dan hewan-hewan kecil pengganggu lainnya. Setelah pengenalan kalender Cina pada abad ke-6, ular menempati salah satu simbol hewan di urutan keenam dari dua belas shio. Orang-orang menghitung hari dan tahun dengan menggunakan nama dari hewan-hewan ini. Tradisi ini masih hidup hingga sekarang.

Bukti awal dari kepercayaan ular di Jepang dapat ditelusuri kembali pada pertengahan zaman jomon. Yoshino (2000-2001) berpendapat bahwa ular pada masa itu memiliki kekuatan, dianggap pula sebagai dewa leluhur, bukan dewa tingkat rendah seperti dewa air. Dalam dokumen sejarah yang tertulis pada tahun 700an disebutkan bahwa dewa sering digambarkan dalam wujud ular. Sebuah mitologi dari pulau Miyako, prefektur Okinawa menggambarkan ular besar sebagai pembuat pulau. 

Ular adalah salah satu dari hewan yang dianggap sebagai dewa, pembawa pesan dewa, atau mushi ( makhluk kuat yang berumur panjang dan mempunyai kendali untuk seluruh wilayah). Jika berani menyerang atau menyakiti ular, dipercaya hewan itu akan mendatangkan malapetaka atau kerugian bagi orang tersebut, keluarga ataupun penduduk desa. Lewat kepercayaan ini lah masyarakat Jepang umumnya tidak mengganggu ular dengan menjaga habitat mereka. 

Secara khusus ular dipercaya untuk berhubungan dengan gunung, hutan, sungai dan badan air lainnya. Hebi jinja (kuil ular) di prefektur Tochigi menunjukkan ular sebagai seorang dewi air. Di distrik Yunosawa, kota Murayama, prefektur Yamagata, ular ditemukan di tanah pertanian atau area perumahan di percaya berhubungan dengan dewa hujan/ angin dan dikatakan bahwa tabu membunuh ular.

2. Makna Ular Dalam Agama Budha 
Di sisi lain ular-ular dianggap sebagai renkarnasi dari orang-orang yang telah mati. Ular dipercaya sebagai simbol kekuatan dari orang-orang yang mati, dan simbol dari ketakutan dan pemujaan. Kadang-kadang seorang hantu yang mempunyai dendam dipercaya muncul sebagai bentuk dari ular.

Dikatakan bahwa jika seseorang membunuh mamushi jepang, maka semua mamushi yang tinggal di gunung akan datang membunuh orang tersebut. Oleh karena itu, orang tidak membunuh mamushi di gunung. Menurut Yanagita dalam Sasaki (2009: 477) mengatakan seseorang membunuh yamakagashi dan anaknya menjadi sakit. Menurut cenayang, ular yang ia bunuh adalah reinkarnasi dari nenek moyang keluarganya dan telah mengamati keluarganya.

Ular Budha yang dapat kita identifikasikan berbeda kaitannya dari tradisi yang telah didiskusikan, alih-alih didasari oleh reinkarnasi. Cerita di dalam tradisi cendrung terfokus pada biksu, tetapi wanita dari waktu ke waktu juga diasumsikan sebagai tokoh protagonis.

Ular sering menjadi utusan Benten (dewi ular). Benten adalah dewi cinta, kecantikan, kefasihan, kebijaksanaan, seni dan musik, pengetahuan, nasib baik, dan air. Benten menganggap ular adalah suci. Benten sering digambarkan dalam karya seni di kelilingi oleh ular putih atau menggunakan mahkota ular putih. Bahkan ular hampir selalu dikaitkan dengan Benten. Pada hari-hari penting untuk ular di Jepang, dapat ditemukan banyak festival di berbagai kuil didedikasikan untuk Benten.

3. Makna ular dalam mitos
Banyak mitos-mitos atau cerita rakyat tentang ular di Jepang. Mitos tentang ular di Jepang biasanya berisi cerita tentang ular berubah menjadi wanita yang jatuh cinta kepada manusia, seorang manusia yang telah menolong seekor ular kemudian ular membalas budi, manusia yang berubah menjadi ular akibat kesalahannya, dan sebagainya.

Masyarakat Jepang percaya bahwa setiap mitos atau cerita rakyat mempunyai makna tersendiri. Sebagian besar mitos ular di Jepang bermakna negatif, seperti berbahaya dan pendendam.

4. Makna Ular Dalam Karya Seni Tato
Ular adalah salah satu hewan yang dianggap memiliki karakter negatif. Meskipun tradisi Jepang selalu kosong dari representasi Alkitab ular sebagai dosa asal itu masih memiliki konotasi negatif yang terkait dengan itu. Ular dapat dilihat dalam desain tato tubuh sepenuh baju dalam budaya Jepang. Meskipun ular ini dimaksudkan untuk menggambarkan karakter negatif namun sekarang dipandang sebagai sesuatu yang "cool" oleh pemuda masa kini.

Master tato Jepang dikenal oleh seluruh dunia untuk keterampilan mereka yang tinggi. Namun ironisnya , irezumi  tato sering dicerminkan memiliki citra negatif karena digunakan sebagai hukuman bagi penjahat di masa lampau. Selama periode Meiji (1868-1912), pemerintah Jepang ingin memberikan kesan yang baik bagi dunia Barat maka tato pun dilarang. Pada tahun 1948, pemakaian tato diperbolehkan namun citra buruk dari irezumi tidak bisa dihapuskan karena ada kaitannya dengan yakuza. Bahkan sekarang, banyak pemandian umum, kolam renang atau jangan onsen memungkinkan orang dengan tato untuk masuk.

Menurut Asosiasi Tato Jepang, sekarang hanya tinggal 300 seniman irezumi saja yang ada di Jepang.Salah satu penyebabnya, pada tahun 2012, walikota Osaka memulai kampanye untuk memecat pejabat yang memiliki tato. Hal ini dinilai sebagai tindakan diskriminasi yang mencegah seniman tato melanjutkan tradisi irezumi di Jepang. Ular seperti yang kita ketahui menyimbolkan banyak hal. Pertama adalah wali dan pelindung dari bencana, kemalangan dan penyakit. Kedua, simbol dari kebijaksanaan dan pelingdung manusia dari hasil keputusan yang buruk.Mengingat ular dapat berganti kulit, hal tersebut menyimbolkan untuk kesembuhan dan kebangkitan. Pergantian kulit juga merupakan simbol dari kekuatan pria dan kesucian wanita.

Secara tradisional, tato Jepang awalnya digunakan sebagai penanda dari status sosial serta simbol spiritual yang sering digunakan dalam rangka perlindungan serta melambangkan pengabdian. Seiring waktu, tato dalam budaya Jepang dikembangkan sebagai bentuk hukuman yang sama dengan apa yang diberlakukan di Roma, yang mana tato ini digunakan untuk para tahanan perang, penjahat, dan budak sebagai penanda status mereka dalam masyarakat supaya langsung dikenali. Akhirnya praktek pentatoan seperti itu berangsur pudar dan tato kembali sebagai simbol status di antara kelas pedagang yang dinilai cukup menarik.

Setelah Perang Dunia II, keberadaan tato dilarang oleh Kaisar Jepang dalam upaya meningkatkan citra positif Jepang di mata Barat. Tato di Jepang dinyatakan sebagai bentuk pelanggaran hukum kala itu, tapi hal ini tidak menurunkan minat orang asing yang begitu tertarik akan keterampilan seniman-tato Jepang dan ikut melestarikan praktek irezumi yang dikenal sudah memiliki sejarah panjang. Adanya hubungan antara tato tradisional Jepang dan penggunanya yang kebanyakan pelaku kriminal pada masa lampau menyebabkan tradisi pemakaian tato ini banyai diadopsi oleh Yakuza, alias mafia Jepang. Hal ini juga sebagai upaya memperomosikan estetika tato tradisional Jepang yang bagi kaum Yakuza sangatlah keren.

Saat ini banyak orang yang bangga mengenakan tato gaya Jepang atas dasar keindahan, nilai artistik, dan juga sekaitan makna yang terkandung dalam desain tato itu sendiri. Sebagai desain tato tradisional Jepang, ular mempunyai makna yang mewakili fungsi penting dalam kehidupan. Selain bermakna perlindungan dari penyakit, bencana, dan nasib buruk. tato ular juga meepresentasikan kebijaksanaan dan perlindungan, terutama agar terhindar dari hasil keputusan yang buruk. Ular juga melambangkan regenerasi, penyembuhan, dan obat-obatan seperti yang dihormati dalam budaya Jepang serta berhubungan dengan ritual dan pengobatan. Kemudian sebagai simbol keberuntungan. 

Tato ular Jepang mempresentasikan kefeminiman yang bersifat ilahi atau atribut suci wanita. Hal ini dulu dianggap sama dengan cara ular berganti kulit, seorang wanita dapat mangambil atribut positif milik lelaki. Kelihatannya ada sedikit diskriminasi gender, tetapi ya seperti itulah jepang kuno.


Referensi:
Kelsey, W Michael. 1891. Salvation of the Snake; The Snake of Salvation :Buddhist-Shinto Conflict and Resolution. Japanese Journal of Religious Studies.8, 86-111.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar