Fenomena fashion populer jepang di Indonesia

gaya berpakaian (fashion) jepang

Jumlah pelaku fashion Jepang di Indonesia semakin bertambah, begitu pula dengan pelaku pola hidup konsumerisme. Salah satu faktor pendorong melonjaknya tingkat konsumerisme adalah berkembangnya fashion, tidak terkecuali fashion Jepang. 

Merambahnya fashion Jepang di kalangan masyarakat Indonesia mencakup seluruh tingkatan usia. Mewabahnya fashion Jepang juga tidak lepas dari pop culture Jepang yang paling menonjol, yaitu anime, manga dan dorama. Melalui pakaian-pakaian yang digambar dan direfleksikan dalam tokoh-tokoh anime, manga, dan dorama, masyarakat mengetahui jenis-jenis pakaian dan dandanan yang populer di kalangan masyarakat Jepang. Selain melalui hal di atas, fashion Jepang juga terlihat dari video-video musik dan konser Jepang.

Pecinta fashion Jepang di Indonesia berbeda dengan yang ada di Jepang sendiri. Apabila para pecinta fashion Jepang yang ada di Jepang biasanya berkumpul di tempat-tempat umum milik publik dengan membawa peralatan pendukung fashion mereka sendiri; misalnya di jalanan Akihabara, Shibuya, dan Harajuku; maka pecinta fashion Jepang di Indonesia biasa berkumpul di acara-acara berunsur Jepang yang diselenggarakan di kota masing-masing. Bahkan ada di antara mereka yang rela pergi ke kota atau negara lain untuk memamerkan pakaian, aksesoris, dan dandanan mereka; yang tentunya memakan biaya yang tidak sedikit. 

Selain itu, ada juga yang membentuk komunitas khusus pecinta fashion Jepang dan sesekali mengadakan gathering atau kumpul-kumpul anggota dengan mengenakan pakaian kebangaan mereka masing-masing. Kemudian ada yang melakukan photo session amatir untuk berbagai keperluan (misalnya untuk kartu ucapan event Halloween, Natal, atau Tahun Baru yang akan dikirim secara cuma-cuma kepada orang lain) dengan membayar fotografer-fotografer dan menyewa tempat khusus untuk melakukan photo session. Dan selama tiga tahun terakhir ini stasiun-stasiun televisi Indonesia mulai menyorot dan menampilkan pecinta fashion Jepang di Indonesia di televisi, yang dulu belum pernah terjadi.

Para pecinta fashion Jepang di Indonesia memiliki banyak cara untuk memperoleh pakaian-pakaian atau kostum-kostum berbau fashion Jepang yang akan mereka kenakan, contohnya dengan menjahit pakaian mereka sendiri. Ada pula yang memesan melalui penjahit-penjahit khusus baju-baju fashion Jepang, dan juga yang sengaja memesan dari agen-agen baju fashion Jepang yang berada di luar negeri menggunakan kartu kredit yang notabene jauh lebih mahal dibanding membeli di dalam negeri. Meskipun dikatakan bahwa membeli jauh lebih mahal dibanding membuat sendiri, biaya yang dikeluarkan untuk membuat sendiri juga tidak sedikit.

Pecinta fashion Jepang yang membuat sendiri pakaian dan aksesorisnya juga harus mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli peralatan, bahan-bahan pakaian dan aksesoris yang akan dibuat, ongkos pembelian bahan; belum lagi soal skill yang harus dikeluarkan dalam proses pembuatannya. Karena itu, menganut aliran fashion Jepang ini juga dikatakan dapat mengasah kemampuan pelakunya dalam hal kreativitas dan ketrampilan tangan seperti menjahit, membuat aksesoris, make-up, dan sebagainya. Konsumerisme saat ini sedang menjadi gaya hidup yang menonjol di kalangan masyarakat modern. Gaya hidup ini ditandai dengan kegiatan konsumsi yang berlebihan, misalnya kecanduan membeli barang bermerek luar negeri, atau mengoleksi benda yang bahkan tidak digunakan dalam hidup sehari- hari seperti action figure. Gaya hidup konsumerisme ini sudah merebak di seluruh dunia, dan tak terkecuali di Indonesia.


Ragam budaya populer Jepang yang kini ’populer’ di Indonesia meliputi banyak bentuk mulai dari Film, Musik, anime, manga/komik, hingga fashion atau lebih tepatnya adalah gaya pakaian kaum muda Jepang. J-fashion yang merebak dikalangan kaum muda kelas menengah perkotaan Indonesia,, khususnya Bandung dan Jakarta, lebih mewujudkan dirinya dalam bentuk costum playing atau semacam permainan kostum yang dikenakan pada berbagai event cosplay atau penampilan busana bersama di suatu tempat berkumpul (dalam istilah mereka disebut tempat mejeng).

Para Costum Player ini umumnya bukan pelaku individual melainkan anggota komunitas cosplay tertentu. Oleh karena gaya pakaian mereka yang sangat unik, para costum player ini seringkali menjadi pusat perhatian sekaligus pusat pertanyaan masyarakat tentang apa, siapa dan bagaimana mereka sampai bergaya pakaian unik seperti itu.

Fenomena gaya berpakaian (fashion) populer jepang di indonesia

Budaya adalah konsep pokok dalam kajian antropologi. Konsep ini biasanya mencakup aspek-aspek seperti pengetahuan, teknologi, nilai, keyakinan, kebiasaan, dan perilaku yang umum bagi manusia. Menurut Marshall (1998) pada masyarakat yang sederhana biasanya hanya terdapat satu bentuk budaya utuh (integrated culture) yang diusung oleh semua anggota masyarakat. Sedangkan pada masyarakat yang kompleks entitas budaya ini memiliki lapisan yang banyak meliputi budaya dominan dan beragam sub-subbudaya.

Salah satu pembedaan terpenting dalam masyarakat yang kompleks adalah perbedaan antara budaya populer (popular Culture) dan budaya tinggi (High culture). Budaya tinggi biasanya meliputi musik klasik, syair, tarian, lukisan hingga novel-novel serius, dan berbagai produk budaya lainnya yang diapresiasi oleh sejumlah kecil orang terdidik atau berstatus sosial tinggi. Disisi lain budaya populer (seringkali disamakan dengan budaya massa) jauh lebih menyebar dan mudah diakses oleh semua orang. Kepentingan pokok dari budaya populer ini adalah untuk hiburan dan wujudnya didominasi oleh musik rekaman, komik, film, olah raga dan gaya berpakaian (fashion). Menurut Sullivan, dkk (1996) segala produk budaya yang secara sengaja dibuat sesuai selera orang kebanyakan dapat disebut sebagai budaya populer. Oleh karena itu secara sederhana Sullivan mengartikan budaya populer sebagai bentuk budaya yang disukai orang banyak.

Di Jepang istilah budaya populer sulit dicari padanannya. Menurut Hidetoshi Kato (Powers & Kato, 1989) istilah ini dapat disamakan dengan terminologi Taishu Bunka. Namun penyamaan ini juga bukannya tanpa masalah karena pengertian Taishu Bunka sendiri adalah budaya massa (Mass culture). Terlebih konsep Taishu bunka sendiri bersifat egaliter dan tidak membedakan antara entitas massa dan elite atau antara orang berstatus sosial tinggi dan rendah. Penulis tidak ingin memperpanjang perdebatan tentang kedua konsep tesebut, karena fokus makalah ini bukan pada persamaan kedua kata diatas melainkan pada konsep diri kaum muda indonesia yang menjadi pencinta budaya populer jepang.

Budaya populer Jepang atau selanjutnya disingkat J-pop umumnya meliputi pertunjukan televisi, Film, comic/manga, anime, musik, dan fashion2. Dari semua ini yang paling populer di indonesia adalah anime, manga, dan fashion atau gaya pakaian anak muda Jepang. Para pengguna gaya pakaian Jepang ini dalam istilah ekspresifnya sering disebut sebagai costum player (Cosplay). Penggunaan istilah ini mengindikasikan bahwa pemakaian kostum tersebut lebih cenderung bukan sebagai pakaian sehari-hari tapi lebih pada event pertunjukan atau penampilan bersama.

Costume Player di Jepang awalnya berasal dari gaya para tokoh-tokoh komik yang sepertinya tidak mungkin ditiru. Namun anak- anak muda Jepang berinisiatif untuk mencoba gaya-gaya di komik tersebut. Dari sanalah gaya anak muda Jepang berkembang dan mulai berbeda-beda sesuai keinginan masing-masing individu. Anak-anak muda yang menganut gaya ini dapat dijumpai di daerah Shibuya dan Harajuku.

Mereka tak hanya bergaya ala tokoh kartun seperti Hello Kitty, tapi juga Marlyn Manson, Hip Hopers, dan gaya-gaya lain yang tidak kalah unik untuk dilihat. Tidak jarang mereka memodifikasi baju seragam; berlengan pendek seperti mini skirt, rok yang mini, dan kaos kaki gombrong dari pangkal betis sampai kemata kaki. Mereka biasanya mangkal di Shibuya sehingga disebut Kogal. Ada lagi yang lebih ekstrim yang disebut Gals atau Gyaru. Gals adalah komunitas yang sadar fesyen, selalu mengikuti perkembangan, sering pergi ke salon untuk mengubah penampilan mulai dari mengecat rambut, tindik anting, bahkan tanning (proses penghitaman kulit).

Terdapat berbagai macam aliran cosplay di antaranya Cosplay Japanese Star atau Cosplay J-Star yang terbagi menjadi dua aliran, yaitu J-pop dan J-rock. Cosplay Anime yang pakaiannya terinspirasi dari tokoh animasi. Cross Play dimana perempuan berdandan seperti lelaki dan lelaki berdandan seperti perempuan. Cosplay Original, yaitu pengguna kostum ala Jepang yang desainnya sudah dimodifikasi dengan imajinasi sendiri, tetapi tetap membawa ciri utama dari gaya aliran tertentu misalnya, membuat kostum samurai digabungkan dengan obi atau sabuk kimono, gothic, dan Harajuku style. Ada juga aliran Tokusatsu yang menggunakan kostum superhero Jepang seperti Power Ranger, dan aliran Ganguro yang mengadopsi rias wajah tokoh pop Jepang, biasanya mereka mencoklati wajah mereka yang pias (tanning) dan menggunakan riasan dengan warna-warna yang kontras dengan kulit mereka seperti lipstik dan perona mata putih.

J-fashion dalam wujud Cosplay muncul di Indonesia pada awal tahun 2004. mula-mula di Jakarta, lalu menyebar ke berbagai kota besar di Indoensia. Sebelum Cosplay populer, Anime dan Manga telah terlebih dahulu menjadi trend Budaya populer Jepang yang diminati kaum muda perkotaan Indonesia sepanjang mulai paruh kedua tahun 1990-an hingga tahun 2000.

Popularitas J-fashion di Indonesia dikembangkan lewat berbagai saluran komunikasi yang ada, mulai saluran personal yang melibatkan tokoh-tokoh selebriti seperti Agnes Monica, Indra Bekti, Duo Ratu (Maia Ahmad dan Mulan Kwok), dan personil Band J-Rock, hingga saluran elektronik (terutama televisi) dan pertemuan publik seperti yang digalang oleh The Japan Foundation lewat festival Ikiteru Harajuku pada bulan september 2006 yang lalu. Lewat saluran ini pengaruh J-style merembes ke dalam kehidupan kaum muda kelas menengah perkotaan Indonesia.

Menurut laporan Kompas (24/9/06) dan H.U. Pikiran Rakyat (16/3/04), pada saat ini komunitas pencinta J-fashion telah muncul diberbagai kota besar Indonesia khususnya Bandung dan Jakarta. Di Kota Bandung sendiri jumlah komunitas yang muncul diperkirakan lebih dari dua puluh dengan jumlah anggota yang mencapai ratusan orang6. Diantara komunitas tersebut adalah Cosplay party, Ulets, dan Kansai. Cosplay party merupakan komunitas yang paling dikenal diantara berbagai komuitas yang ada. Hal ini karena seringnya anggota komunitas ini tampil di media cetak sebagai reperesentasi cosplay di Bandung. Di luar itu, aktivitas komunitas ini juga tergolong padat karena partisipasi anggota-anggotanya yang tinggi dalam berbagai event cosplay yang diselenggarakan di Bandung dan Jakarta.


Referensi:
Alfitri. 2007. Budaya Konsumerisme Masyarakat Perkotaan. Empirika, Volume XI, No : 01, 1-9. Palembang : Universitas Sriwijaya
Marshall, Gordon. 1998. Dictionary of Sociology. Oxford: Oxford University Press.
Abdullah, Irwan. 2006. Konstruksi dan Reprosukdi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Barker, Chris. 2004. Cultural Studies Teori dan Praktek. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

0 Response to "Fenomena fashion populer jepang di Indonesia"

Posting Komentar