Gambaran, simbol, dan jenis-jenis wujud naga cina

Penggambaran, makna simbol dan berbagai jenis-jenis bentuk naga di cina

Ular naga

Ular naga yang selalu dihubungkan dengan air dan disebut pengatur air, karena ikan, buaya, dan semua hewan memerlukan air untuk hidup. Babi, kuda, sapi, dan segala hewan memerlukan air untuk hidup. Ular dan segala jenis hewan melata membutuhkan air untuk kelembaban. Hingga petir, pelangi, angin topan, dan fenomena alam lainnya berhubungan dengan air. Di dalam kepercayaan masyarakat Cina, dewa air adalah dewa para petani dan Cina merupakan negara pertanian yang besar, sehingga naga selalu digambarkan dengan air atau awan.

Naga dianggap makhluk langit memiliki dua alasan, yang pertama adalah segala yang berhubungan dengan air seperti ikan dan buaya kemudian dihubungkan dengan darat seperti babi, kuda, sapi, dan rusa serta langit seperti petir, pelangi, dan burung-burung yang digabungkan menjadi satu. Dan yang kedua adalah karena kerterbatasan manusia maka memerlukan sesuatu yang melebihi daya pemikiran sendiri seperti agama sehingga manusia dapat melepaskan penderitaan dan memohon atas segala keinginannya melalui bentuk naga untuk disampaikan kepada langit. Fungsinya yang berhubungan dengan langit membuat naga sering digunakan untuk acara-acara kekaisaran dan makhluk mistis. 

Penggambaran
Naga yang sering muncul saat ini kebanyakan merupakan peninggalan dinasti Ming dan Qing (MingQing). Bentuk naga yang sudah berubah bentuk sekian lama, memiliki bentuk seperti ular. Selain itu terdapat sungut atau janggut pada kanan dan kiri mulutnya, sisik yang mematikan di bawah leher dan sebuah mutiara putih dalam genggaman atau mulutnya sebagai sumber tenaga dan lambang kearifan. Sebagai petanda kaisar dan kepemimpinan aristokrat pada zaman dinasti Ming Qing, naga melegenda dalam peradaban Cina Klasik dan membentuk kebudayaannya hingga dewasa ini.

Pada dinasti Song, ada suatu peraturan yang harus diikuti ketika menggambar naga, yaitu sembilan karakter “jiushi”. Seorang pakar lukisan bernama Luo Yuan memberikan deskripsi tentang unsur-unsur pembentuk naga yang tertulis dalam kitabnya, seperti: bertanduk rusa, berkepala unta, memiliki mata kelinci, leher seperti ular, perut seperti kerang, sisik seperti ikan, cakar seperti elang, telapak seperti macan, kuping seperti sapi. Namun sebelum Luo Yuan menetapkan unsur pembentuk naga, sebenarnya ada seorang ahli lukis yaitu Zhon Gyu, pada awal dinasti Song yang sudah memberikan bentukan naga seperti: kepala seperti sapi, mulut seperti keledai, mata seperti udang, tanduk seperti rusa, kuping seperti gajah, sisik seperti ikan, bentuk seperti orang, perut seperti ular, dan kaki seperti burung phoenix jantan.

Sampai kepada Dinasti Ming, bentukan naga menurut Li Zhen, seorang pakar obat yang mengambil tulang naga longgu dari fosil-fosil pra-sejarah sebagai obat menjabarkan bentukan naga seperti: kepala seperti unta, tanduknya seperti rusa, mata seperti kelinci, kuping seperti sapi, leher seperti ular, perut seperti kerang, sisik seperti ikan, cakar seperti elang, dan telapak cakar seperti macan. Dua orang dari Dinasti Song dan seorang dari Dinasti Ming telah memberikan patokan dasar bagi pembentukan naga, namun bentukan ini juga merupakan bentukan yang dipengaruhi oleh suku bangsa dan sejarah yang terjadi pada saat itu. Selain dari tulang-tulang yang dibentuk dari fossil pra-sejarah, bentukan naga juga didapat dari hasil dari puisi-puisi untuk memberikan keindahan, kekuatan pada sesuatu atau alam yang mereka lihat.

Dalam bukunya, Liu Yu Jing mengatakan bahwa bentukan naga tidak memiliki patokan yang sama di setiap dinasti dan di setiap suku yang ada di Cina karena setiap suku memiliki kebudayaan yang berbeda-beda, sehingga menurut Liu Yu Jing bentukan naga memiliki unsur-unsur seperti kepala sapi, mulut babi, badan ular, sisik ikan, leher kura-kura, bentuk bulu tengkuk kuda, cakar burung, janggut kambing, tanduk rusa, bentuk posisi badan seperti anjing. Penggambaran bentuk naga sejak Dinasti Xia hingga kini sudah melebihi dari 40 macam. Hal ini terpengaruh oleh kebudayaan setempat dan kebudayaan luar yang masuk pada zaman itu, seperti masuknya Buddhisme yang merupakan kebudayaan India menjadikan bentukan naga menjadi lebih bervariasi.

Makna simbol
Naga merupakan hewan mitologi Cina yang memiliki perlambangan yang sangat rumit. Naga dalam kebudayaan Cina merupakan simbol dari unsur kebaikan dan keberuntungan (berbeda dengan persepsi masyarakat Eropa dan agama Kristen terhadap naga yang menganggap naga merupakan mahkluk yang buruk dan jahat). Naga Cina merupakan perlambangan dari ras bangsa Cina itu sendiri. Masyarakat Cina yang ada di seluruh dunia dengan bangga mengakui bahwa mereka adalah keturunan naga long de chuan ren. Sebagai lambang dari kaisar, kuil-kuil dan tempat-tempat keramat dibangun untuk menghormati mereka atas jasa-jasa dalam mengatur alam untuk kebaikan manusia. Simbol naga dianggap religius pada dasarnya berfungsi menjembatani antara dunia manusiawi dan Ilahi. Maka dari itu perlambangan seperti ini memberikan suatu rasa hormat, takut tetapi dengan bentuk dan makna yang menarik. Simbol-simbol itu bukan saja memberikan imajinasi terhadap setiap penganutnya namun memberikan gambaran hubungan komunikasi antara manusia dan Ilahi.

Mengikuti prinsip ‘suatu bentuk akan selalu memiliki makna’, maka bentuk naga memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Cina. Naga merupakan simbol perwakilan dari diri mereka. Simbol merupakan manifestasi dari keadaan kesadaran dan muncul di dalam kebatinan masyarakat Cina yang dapat memberikan makna pada kehidupan bersosialisasi. Sehingga ketika masyarakat Cina melihat naga, maka naga adalah sumber dari nasihat, gambaran, sejarah leluhur yang ingin disampaikan kepada generasi penerusnya. Menurut kepercayaan masyarakat Cina, bentuk naga merupakan gabungan dari sembilan macam hewan, seperti kepala unta atau sapi, tanduk rusa, mata kelinci, cakar elang, telapak harimau, hidung babi, sisik ikan, bentuk badan ular, janggut kambing. Namun melihat dari sejarah kebudayaan yang berubah pada setiap dinasti yang menyempurnakan bentuk naga, bentuk naga seperti ini bukan sesuatu yang baku. Untuk saat ini, bentuk naga yang menjadi patokan akhir adalah peninggalan Dinasti Ming Qing.

Simbol naga saat ini sudah memasuki seluruh aspek dari kehidupan masyarakat Cina dari agama hingga politik dan dari sastra sampai seni. Setiap bangunan bahkan lukisan atau karya sastra untuk mengagungkan sesuatu maka naga akan muncul di tengah-tengahnya. Naga merupakan mitos yang hidup di dalam jiwa masyarakat Cina turun temurun dan sebagai pedoman serta pandangan hidup dalam bersosialisasi. Kepercayaan terhadap simbol naga menjadi landasan filosofi cara berfikir masyarakat Cina. Kaitan antara agama, kebudayaan, dan kesenian tercermin dalam desain yang mengandung makna simbolis spiritual dalam karya seni. Perwujudan kesenian diwujudkan atas ide, bentuk, gaya, jiwa, dan dasar kepercayaan serta mitologi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan simbol dan makna bentuk naga pada ornamen bangunan Vihara Satya Budhi Bandung menurut kepercayaan Masyarakat Cina. Kedua menjelaskan kedudukan simbol naga pada Vihara Satya Budhi dan terhadap ornamen-ornamen lainnya.

Keunikan arsitektur Vihara Satya Budhi yang memiliki ciri khas Dinasti Qing dan ornamen-ornamen yang masih kental dengan budaya Cina klasik khususnya naga menjadi menarik untuk diteliti karena pada bangunan klenteng dapat dijumpai banyak sekali ornamen-ornamen kebudayaan Cina. Ornamen-ornamen tersebut memiliki makna keberuntungan dan kebaikan bagi masyarakat yang mempercayainya. Pada awalnya, ornamen-ornamen yang ada pada bangunan klenteng merupakan ornamen yang lebih mengkhususkan kepada sisi peribadatan, tanpa melihat adanya sisi seni. Namun sisi seni ini, dengan sejalannya waktu dan berkembangnya kebudayaan menyerap sisi peribadatan, sehingga ornamen-ornamen yang ada pada bangunan klenteng memiliki nafas kehidupan dan warna tersendiri (Zhu, 2008). Konsep keberuntungan yang selalu digunakan oleh masyarakat Cina pada setiap ornamen-ornamen seni, merupakan salah satu kunci mengapa pada bangunan-bangunan arsitektur Cina banyak sekali ornamen-ornamen yang manjadi landasan kepercayaan masyarakat Cina agar memberikan keberuntungan. Konsep ini dilandasi cara berpikir masyarakat Cina yang takut akan kekosongan dan roh-roh jahat yang ada di sekitar mereka. Salah satu ornamen yang banyak pada klenteng adalah bentuk naga.

Jenis-jenis wujud naga
Bentuk naga terbuat dari gabungan berbagai hewan. Seorang sarjana dari Dinasti Song Guo Ruo Hu menyimpulkan bahwa naga terbentuk dari sembilan hewan, seperti tanduk rusa, kepala seperti unta, mata seperti kelinci, leher seperti ular, perut seperti kerang, sisik seperti ikan, cakar seperti elang, telapak seperti macan, telinga seperti sapi. Namun dalam cerita rakyat tercatat bahwa bentukan naga kepala seperti sapi, tubuh seperti rusa, mata seperti udang, mulut seperti keledai, jenggot seperti orang, telinga seperti kucing hutan, perut seperti ular, kaki seperti phoenix, sisik seperti ikan. Bila naga diteliti lebih dalam lagi menurut suku bangsa yang ada akan banyak muncul bentukan-bentukan lain seperti buaya, kadal, babi, kuda, beruang, salamander, gajah, anjing, monyet, domba, ulat sutera, ngengat, siput, udang, kura-kura, cacing, trenggiling, awan, petir, pelangi, tornado, laut yang pasang surut, tanah longsor, fosil binatang purba, pepohonan, bunga, sungai, dan gunung. Semua yang terdapat di dalam dunia dapat memenuhi kapasitas untuk menjadi bentuk naga.
 
Pada bukunya tentang kebudayaan naga Cina, Pang Jin (2007) membagi jenis naga menjadi:


1. Menurut 5 unsur : naga emas, naga kayu, naga air, naga api, naga tanah.
2. Menurut tempat : naga selatan, naga utara, naga timur, naga barat, naga tengah, naga gunung, naga padang rumput, naga sungai, naga sumur, naga danau, naga laut, naga atas, naga bawah, naga kiri, naga kanan.
3. Menurut warna : naga hijau, naga hitam, naga kuning, naga putih, naga merah, naga ungu, naga berbintik, naga dengan campuran warna pada tubuhnya.
4. Menurut silsilah keluarga: raja naga, ibu naga, anak naga, naga perempuan, anak naga. Anak naga masih bisa dibagi lagi menjadi:
Pulao, bixi, bi’an, suan ni, taotie.
5. Menurut relasinya: qi (Qilin dan Pixiu). 

Kirin (Qilin) merupakan perwujudan makhluk mistis dari rusa, kuda, sapi, kambing, serigala. Makhluk ini memiliki bentuk, kepala kambing, badan rusa, kaki kuda, menerjang seperti serigala, berekor sapi, dan di kepalanya memiliki tanduk. Namun ketika ketika kita melihat gambar kirin itu sendiri akan terlihat jelas bahwa bentuk badan lebih seperti sapi, sedangkan kepala dan ekor seperti naga. Makhluk ini sering disebut memiliki hubungan erat dengan naga, kura-kura, dan burung phoenix. Kirin adalah kejujuran, phoenix adalah kestabilan, kura-kura adalah kebaikan dan keburukan, serta naga merupakan perubahan. Pada kepercayaan masyarakat Cina di Hongkong, Macau, dan Asai Tenggara, Kirin sering digunakan sebagai benda dan ornamen hongshui untuk mendatangkan kemakmuran, penangkal kejahatan, dan tidak pernah digunakan untuk melukai orang lain.


Referensi:
Liu Yu Qing, Zhao Rui Suo. 2000 : Penjelasan Kebudayaan tentang Naga. Beijing : People Publishing Group
Pang Jin. 2007 : Kebudayaan Naga Cina).Chong Qing: Chong Qing Publishing Group
Sun, Ruth Q. 1974 : The Asian Animal Zodiac. Tokyo: Charles E. Tuttle Publishing Co., Inc
Tian Bing E. 2008 : Dragon Totem (The origin of the Chinese dragon culture), Beijing: Social Science Publishing Group.
Zhu li li. 2008 : Kajian Unsur-unsur Dekorasi Tradisional Arsitektur Cina Kuno dengan Dekorasi Kuil dan Hubungannya dengan Psikologi ).Nan Chang, Nan Chang University.

0 Response to "Gambaran, simbol, dan jenis-jenis wujud naga cina"

Posting Komentar