Tahapan pelamaran, persiapan, dan pernikahan adat jawa

pernikahan adat jawa

Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa mempunyai bermacam-macam upacara pernikahan, sehingga kesulitan untuk menentukan ciri rupa atau wajah orang Indonesia. Hal ini menunjukkan oleh berbagai macam alat perlengkapan yang menyertai dalam suatu upacara pernikahan adat. Adat pernikahan yang bermacam-macam menunjukkan latar belakang hukum pernikahan adat yang berbeda-beda dilaksanakan masyarakat bangsa Indonesia.

Kenyataan kehidupan serta alam Indonesia dengan sendirinya membuat bangsa Indonesia untuk saling berbeda selera, kebiasaan atau perselisian budaya, adat serta tradisi. Cara pandang umat Islam Indonesia antara satu daerah dengan daerah yang lain juga saling berbeda. Kondisi ini juga berbaur dengan norma-norma ajaran Islam dalam kehidupan mereka sehari-hari. Salah satu dari perbedaan implikasi tersebut adalah masalah pelaksanaan upacara pernikahan.

Keberagaman suku bangsa di Indonesia juga berpengaruh terhadap sistem perkawinan dalam masyarakat. Upacara pernikahan misalnya, merupakan suatu sistem nilai budaya yang memberi arah dan pandangan untuk mempertahankan nilai-nilai hidup, terutama dalam hal mempertahankan dan melestarikan keturunan. Dalam Islam, pernikahan merupakan sunnah Rasulullah Saw, yang bertujuan untuk melanjutkan keturunan dan menjaga manusia agar tidak terjerumus ke dalam perbuatan keji yang sama sekali tidak diinginkan oleh agama.

Pernikahan adalah peristiwa yang sangat penting dalam kehidupan seseorang dan upacara-upacara yang dilaksanakan di dalam pernikahan merupakan adat dan tradisi yang perlu dilestarikan, misalnya adat istiadat di pulau jawa.

Inilah tahapan-tahapan pelamaran, persiapan, sebelum dan saat pernikahan

Pelamaran

Secara adat pelamaran terdiri dari tiga bagian, yaitu:
1 Nontoni: Nontoni adalah langkah pertama untuk pernikahan, seseorang pria dengan orang tuanya pergj ke rumah gadis untuk melihat dan memutuskan kalau dia mau melamar gadis itu.
2 Nglamar: Saudara pria disuruh untuk menyampaikan pelamaran secara lisan atau tertulis.
3 Srah-srahan: Kalau gadis tersebut setuju untuk menikah, upacara srah-srahan diadakan. Peningset, bermacam-macam hadiah, diberikan oleh pria kepada gadis untuk menentukan tunangan. Hadiahnya biasanya termasuk pakaian, perhiasan, alat-alat rumah tangga, uang dan lain-lain, tergantung pada kemampuan keluarga pengantin pria.

Kini, karena orang tua makin jarang menjodohkan anaknya dan kebanyakan orang muda berpacaran terlebih dahulu, upacara nontoni tidak dilakukan lagi. Walaupun orang muda memutuskan untuk menikah sendiri, calon pengantin laki-laki biasanya masih melamar secara resmi dengan upacara nglamar.

Persiapan

Sesudah pelamaran seorang pria diterima oleh seorang wanita, perencanaan upacara pernikahan dimulai. Upacara pernikahan merupakan tanggung-jawab orangtua pengantin putri, dan upacara-upacara biasanya diselenggarakan di rumahnya. Hariyang paling baik untuk pernikahan ditentukan secara adat, bulan yang baik untuk pernikahan dipilih menurut bulan Jawa, kalau cocok, dan tanggal lahir kedua pengantin dihitung untuk menentukan hari upacara.

a. Tarub
Secara fungsi, tarub adalah bangunan sementara untuk tamu di depan rumah, tetapi kepentingannya lebih dari yang fisik saja. Tuwuhan, daun-daun dan buah-buahan yang digantung di kiri dan kanan gerbang, atau pintu masuk, mempunyai arti sendiri-sendiri. Upacara pernikahan dimulai dengan pemasangan bleketepe, anyaman janur kecil yang digantung di tengah gerbang, untuk mengusir roh-roh jahat.

b. Sesaii
Tentu saja ada banyak hal yang harus diurus sebelum upacara dimulai, salah satunya adalah sesaji atau sajen. Kehendak orang yang menyajikan sajen adalah agar upacara-upacara selamat dan sejahtera, sehingga upacara lancar dan selamat, dan tidak ada kekurangan. Sesaji terdiri dari berbagai jenis makanan, buah-buahan, minuman, bunga-bunga dan bahan-bahan lain. Ada beberapa sesaji yang disediakan khusus untuk upacara-upacara pernikahan, dan campuran bahan-bahan untuk setiap sesaji tergantung pada maksud dan maknanya.

c. Tata Rias Pengantin
Untuk setiap upacara pengantin putri harus kelihatan cantik, seharusnya kulitnya kelihatan halus, kekuning-kuningan dan bercahaya. Tata rias pernikahan bermaksud supaya pengantin putri kelihatan seperti putri raja, yang mandi memakai lulur dan jarang keluar dicahaya matahari sehingga kulitnya halus dan kuning. Pengantin pria juga memakai sedikit rias untuk upacara panggih.

d. Paes
Di Jawa Tengah rambut di dahi pengantin putri dipotong dan dicukur membuat bentuk/wes sesudah upacara siraman supaya siap untuk dirias dengan warna hitam pada pagi sebelum akad nikah. Bentuk pares mi terdiri dari beberapa bagian yang harus diukur dan digambar dengan hati-hati supaya mengikuti bentuk yang benar. Simbolisme paes mi adalah untuk mempercantik pengantin putri, atau lebih spesifik, untuk membuang pikiran atau perilaku yang tidak baik supaya dia bisa menjadi orang yang baik dan matang.

e. Rambut Pengantin
Sesudah muka dan dahi dirias rambut dibuat dalam bentuk sanggul. Bagian depan rambut disasak dan dibentuk menjadi sunggar, sedikit rambut di atas teriepas untuk digelung menjadi lungsen. Cemara, atau rambut bagian belakang, diikat dan digelung menjadi sanggul. Sesudah sanggul dirapikan selanjutnya perhiasan dipasang.

f. Busana
Ada beberapa gaya busana yang bisa dipakai untuk upacara pernikahan Jawa tetapi ada dua gaya busana yang utama, yaitu busana basahan dan busana putri. Busana gaya putri pada dasarnya adalah baju panjang bludiran, kain padan dan selop bludiran. Ada beberapa macam busana basahan tetapi pada dasarnya semuanya sama. Busana basahan terdiri dari beberapa jenis kain saja, gaya dodotan, yaitu tidak memakai baju atasan, dan selop bludiran. Pengantin putra memakai topi kuluk yang berwarna biru muda.

g. Perhiasan
Perhiasan kebanyakan mengikuti gaya raja di kraton, maksudnya pengantin sebagai raja sehari. Banyak perhiasan dipakai supaya pengantin kelihatan cantik dan mewah. Bermacam-macam kalung, gelang, cincin dan anting keemas-emasan dipakai oleh calon pasangan suami-isteri, dengan makna sendiri-sendiri.

Upacara Sebelum Pernikahan

a. Siraman
Upacara pertama, yang dilaksanakan pada siang hari sebelum pernikahan, adalah siraman. Upacara ini adalah acara memandikan pengantin supaya dia bersih dan suci untuk malam midodareni dan untuk pernikahan pada hari berikutnya. Kedua pengantin dimandikan dirumah sendiri dalam upacara berbeda, biasanya dilakukan di kamar mandi atau di kebun. Sebagian air dari mangkuk siraman putri dioleskan kepada kendhi untuk dibawa ke rumah pengantin putra untuk upacara siraman dia.

Ibu pengantin putri memulai upacara dengan mengoleskan bubuk sabun kepada tangan dan kaki putrinya. Kemudian tujuh orang, atau lebih asalkan ganjil, menuangkan tiga gayung air bunga kepada kepala dan badan pengantin. Selain dari Ibu dan Bapak pengantin, Ibu-Ibu yang terhormat dan dianggap berakhlak tinggi diminta untuk ikut upacara ini. Tetapi tidak boleh Ibu yang sudah bercerai, janda, yang belum mempunyai anak atau yang tidak bisa mempunyai anak. Maksudnya supaya pengantin diberi berkat seperti Ibu-Ibu ini, agar mudah dan cepat punya anak.

b. Pemecahan Kendhi
Sesudah acara siraman diselesaikan Ibu pengantin menjatuhkan dan memecahkan kendhi. Pemecahan ini adalah simbol pengantin sudah dewasa dan siap untuk meninggalkan keluarga untuk mulai keluarga sendiri, orang tuanya tidak mempunyai tanggung-jawab lagi.

c. Memotong Rambut
Upacara berikutnya juga melambangkan akhir dari masa kecil dan permulaan masa dewasa untuk pengantin. Sedikit dari ujung rambutnya dipotong, maksudnya untuk membuang sangkal atau kotoran dari masa kecil. Kotoran ini dianggap sebagai halangan dan harus dibuang supaya tidak ada halangan lagi untuk kehidupan baru. Rambut pengantin putra juga dipotong dan dibawa ke rumah putri untuk ditanam bersama-sama di kebun. Kemudian pengantin putri digendong masuk kamar oleh Bapak untuk kasih sayang yang terakhir kali sebagai anak dan sebagai lambang ayah membawa anaknya kepada hidup mandiri untuk mulai keluarga sendiri.

d. Peniualan Dawet
Sesudah pengantin putri masuk kamar untuk dirias upacara menjual dawet, sejenis minuman cendol, dilaksanakan. Pecahan dari kendhi diberikan kepada tamu untuk 'membeli1 dawet dari Ibu pengantin putri yang memakai barang-barang penjual dawet. Pecahan kendhi diberikan kepada Ayah yang membawa payung dan dia memberi kembalian. Pendapatan (pecahan kendhi) dari penjualan dawet dimasukkan ke dalam kantong dan disimpan. Upacara penjualan dawet ini bermaksud untuk membuat upacara ramai, seperti minuman ini,dan supaya nanti pendapatan pengantin banyak.

e. Meratus Rambut
Sambil upacara penjualan dawet dijalankan di luar, di dalam kamar pengantin perias sedang menjemur dan meratus rambut pengantin putri. Dalam acara meratus, bubuk ratus dan gula pasir dipanaskan dengan api dan asapnya diarahkan kepada rambut pengantin putri supaya baunya wangi. Lalu rambutnya digelung, muka dan lehernya dicuci, dan dirias dengan hati-hati.

f. Upacara Ngerik
Sesudah upacara meratus rambut, upacara ngerik dilangsungkan. Upacara ngerik merupakan persiapan untuk tata rias yang akan dipakai untuk upacara pernikahan pada hari berikutnya. Anak rambut di dahi gadis dihilangkan dan bagian-bagian dicukur dalam bentuk paes. Sekarang pengantin putri sudah siap untuk malam midodareni.

g. Malam Midodareni
Malam sebelum hari pernikahan merupakan malam terakhir pengantin putri sebagai remaja atau gadis, malam ini dianggap suci dan diberi nama malam midodareni. Dari jam enam sampai jam 12 malam pengantin putri tidak boleh keluar dari kamar, waktu ini dimaksudkan untuk berkenalan dengan keluarga pengantin putra dan untuk menerima nasihat tentang kehidupan sesudah menikah. Selama waktu ini pengantin putri diberi makanan oleh orang tuanya untuk terakhir kali.

Upacara Pernikahan

a. Akad Nikah
Kira-kira jam sembilan pagi pada hari berikutnya upacara Akad Nikah diselenggarakan. Akad Nikah merupakan pernikahan secara agama dan secara resmi. Menurut pemerintah cuma acara akad nikah yang perlu dilaksanakan untuk menikah secara hukum. Upacara ini bisa dilakukan di gereja untuk orang Kristen, di masjid untuk orang Islam atau di rumah saja. Pertama Bapak Penghulu dari Kantor Urusan Agama (KUA) atau kyai membaca syarat-syarat pernikahan. Pengantin putra harus menyetujui untuk memenuhi semua syarat-syarat ini dan bersumpah untuk menjaga dan melindungi isterinya. Lalu Bapak pengantin putri menyerahkan putrinya kepada pengantin putra. Sesudah kedua pihak setuju untuk menikah kedua pengantin dan kedua saksi menandatangani surat nikah. Ke dua saksi ini dihadirkan untuk menentukan bahwa ke dua pengantin menikah atas keinginan sendiri, tidak ada yang memaksa.

b. Upacara Panggih
Pada siang hari sesudah akad nikah, upacara pernikahan adat dilaksanakan, yaitu upacara panggih.

Upacara Panggih terdiri-dari beberapa bagian, sebagai berikut:

1. Temu pengantin.
Pengantin putra masuk pintu depan dipayungi dua pendamping dan kedua pengantin menukar kembar mayang yang dilempar ke atas tarub.
2. Sawat-sawatan atau galangan gantal sirih.
Pengantin putra-putri saling melempar daun sirih. Artinya bertemunya dua perasaan, untuk melempar hari, dan dianggap sebagai waktu yang menyenangkan.
3. Wiji dadi.
Pengantin putra menempelkan telur ayam kampung kepada dahi sendiri dan dahi pengantin putri dan lalu melempar telur ini supaya pecah. Kaki mempelai pria dibasuh dengan air bunga setaman dan dibersihkan oleh pengantin putri yang duduk di depannya.
4. Sindur Binqyang.
Kedua mempelai bersalaman, berpegangan tangan dengan jari kelingking, dan Ibu putri menutup bahu keduanya dengan kain selendang yang berwarna merah dan putih dan pengantin diantar oleh Bapak ke kursi pelaminan.
5. Timbang.
Di pelaminan kedua pengantin duduk di pangkuan Bapak putri, putri di kaki kiri, dan putra di kaki kanan. Ibu putri bertanya kepada Bapak siapa yang lebih berat dan dia menjawab bahwa mereka sama saja.
6. Kacar-kucur.
Pengantin pria memberi beras, kacang, dan uang receh dibungkus dalam kain berwarna merah dan putih kepada wanita dan dia memberikannya kepada orangtuanya.
7. Saling menyuap.
Pengantin putra memberi makanan kepada isterinya dan lalu pengantin putri memberi makanan kepada suaminya, dan terus menyuap bersama.
8. Minta doa restu.

c. Resepsi
Pada sore atau malam sesudah upacara pernikahan, resepsi diselenggarakan untuk merayakan pernikahan. Pasangan suami-isteri masuk ruangan yang disediakan untuk resepsi dengan upacara kirab. Para tamu yang diundang memberi salam dan selamat kepada pasangan suami-isteri baru. Akhirnya upacara pernikahan selesai dan pasangan suami-isteri pulang untuk mulai kehidupan baru bersama.

Upacara pernikahan adat di pulau Jawa begitu rumit; persiapan, upacara-upacara dan bahan-bahan semua bermakna khusus untuk keselamatan dan kesejahteraan pasangan pengantin dan keluarganya. Dan makna ini yang membuat upacara pernikahan penting, kalau tidak ada makna pasti tidak akan ada maksud. Semoga upacara pernikahan adat tidak hilang seiring perkembangan zaman. Jadi ini merupakan tugas untuk semua orang untuk menjaga dan melestarikannya.


Referensi:
Bratawidjadja, Thomas Wiyasa. 1985. Upacara Perkawinan Adat Jawa. Jakarta: PT Midas Surya Grafindo.
Departmen Pendidikan dan Kebudayaan, Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah. 1978/1979. Adatdan Upacara Perkawinan Jawa Barat.
Departmen Pendidikan dan Kebudayaan, Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah. 1978/1979. Adat dan Upacara Perkawinan Jawa Tengah.

0 Response to "Tahapan pelamaran, persiapan, dan pernikahan adat jawa"

Posting Komentar