3 Faktor sebab praktik perdukunan sering terjadi

kemenyan dukun
Manusia dalam kehidupannya tidak terlepas dari masa krisis yang meliputi sakit dan maut. Manusia dalam mengobati penyakitnya mencari kesembuhan dengan banyak metode pengobatan, salah satunya melalui praktek perdukunan yang merupakan pengobatan tradisional atau humoral medicine. Pengobatan melalui praktek perdukunan merupakan suatu kegiatan yang sampai saat ini dijadikan persoalan dalam kehidupan manusia, ada yang setuju dan ada yang tidak setuju, ada yang menganggapnya wajar dan ada yang menganggapnya menyimpang dan tidak rasional. Tapi tidak sedikit masyarakat yang mengangggap bahwa praktek pengobatan dengan perdukunan adalah masih bisa digunakan dalam mengobati penyakit dan menjadi sebuah alternative dalam rangka membantu manusia dalam menghadapi persoalan kehidupan.

Perdukunan merupakan sebuah alternative dalam membantu dan menolong sesamanya, mengatasi kesulitan serta kebutuhan yang dihadapinya serta yang di inginkannya. Biasanya dalam prakteknya disertai alat-alat yang digunakan yang telah di beri jampi-jampi atau mantra dan menggunakan media seperti sesajen dan sebagainya.

Sebenarnya fenomena munculnya orang-orang yang mengaku memiliki kemampuan lebih di Indonesia bukan suatu hal yang baru. Kita bisa lihat di desa-desa masih banyak dukun-dukun atau orang-orang yang dianggap sakti dan banyak masyarakat yang mendatanginya. Di kota-kota pun sama, praktik paranormal juga menjadi hal biasa. Praktik penyembahan terhadap tempat-tempat keramat pun masih sering dilakukan walaupun pelakunya muslim padahal di dalam agama Islam hal tersebut termasuk kemusrikan yang haram untuk dilakukan.

Setidaknya ada tiga faktor yang menyebabkan praktik perdukunan atau paranormal terus berlangsung di tengah masyarakat. 

Pertama faktor individu
Banyak masyarakat di lndonesia yang banyak tidak mengetahui terkait dengan ketidakbolehan adanya khurofat dan takhayul tersebut. Ada yang mengetahui tetapi juga masih mendatangi dukun atau peramal untuk mendapatkan apa yang diinginkan dengan jalan pintas. Hal tersebut di sebabkan dari akidah individu tersebut yang lemah. Keyakinan akan jaminan kehidupan di tangan sang pencipta lemah, sehingga lebih percaya pada duku atau paranormal.

Selain akidahnya yang lemah, dari pengetahuan yang dimiliki pun juga rendah berkaitan dengan kebolehan hal di dalam agama. Sehingga masyarakat menganggap biasa praktik tersebut bahkan termasuk yang memanfaatkannya.

Kedua faktor masyarakat.
Masyarakat berperan aktif dalam penjagaan individu. Jika masyarakat memiliki kepedulian tinggi, maka hal yang tidak diinginkan bisa jadi tidak terjadi. Masyarakat yang mendiamkan berdirinya padepokan atau praktik perdukunan semakin menjadikan praktik-praktik semacam ini berlangsung. Bahkan bisa jadi masyarakatnya sendiri memanfaat praktik-praktik tersebut karena rendahnya pengetahuan dan keimanan. Sehingga praktik tersebut malah meluas dan tumbuh subur di Indonesia.

Ketiga faktor pemerintah
Praktik perdukunan atau paranormal di Indonesia memang tidak ada perundang-undangnya. Sehingga praktik semacam ini dibiarkan asalkan tidak mengganggu atau melanggar hal orang lain. Maka dari itu berdirinya padepokan sesat dan praktik perdukunan terus menerus berlangsung. Selain itu, dari pendidikan agama yang diberikan oleh sistem pendidikan, belum cukup memberikan konstribusi besar untuk penguatan akidah masyarakat. Hal tersebut terbukti dengan banyaknya masyarakat yang masih mempercayai praktik perdukunan termasuk kasus Dimas Kanjeng. Akibatnya adalah kemaksiatan merajalela dan akidah umat terancam. 

Sistem ekonomi yang saat ini mencekik masyarakat juga menjadikan masyarakat berfikir cara singkat untuk bisa menghasilkan uang banyak termasuk salah satunya mendatangi padepokan dimas kanjeng tersebut. Pemikiran masyarakat yang saat ini lebih cenderung kearah pemikiran kapitalis, mendorong mereka untuk mampu melakukan apa saja demi meraih keuntungan sebanyak-banyaknya.

0 Response to "3 Faktor sebab praktik perdukunan sering terjadi"

Posting Komentar