Asal, klarifikasi, dan habitat burung elang jawa

Burung elang jawa

Info elang jawa
Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) adalah satwa yang telah kritis terancam bahaya kepunahan dan merupakan satwa endemik di Jawa. Baru-baru ini jenis satwa ini ditetapkan oleh Presiden sebagai satwa nasional sehingga jenis satwa ini telah menarik perhatian dan kesadaran masyarakat. Apalagi jenis Elang Jawa ini adalah yang paling mirip dengan simbol negara Indonesia yaitu Garuda Pancasila. Pada awalnya populasi Elang Jawa tersebar di seluruh hutan tropika basah di Jawa tetapi saat ini populasinya telah jatuh ke tingkat yang mengkhawatirkan antara 80 - 108 pasang. Hal ini diduga kuat merupakan akibat dari luasnya konversi hutan di Jawa, perburuan liar, dan bencana alam. Populasinya saat ini terpecah-pecah ke dalam beberapa sub-populasi di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur dan kemungkinan untuk saling berhubungan atau berpindah dari satu populasi ke populasi lainnya sangat kecil. 

Elang Jawa dianggap kritis terancam punah karena penyebarannya yang terbatas, populasinya yang menurun, dan kemungkinan untuk dapat punah yang diakibatkan oleh beberapa faktor yang mengancam seperti hilangnya mangsa, hilangnya habitat, perburuan, dan bencana alam.

Saat ini keberadaan Elang Jawa di alam sudah jarang ditemukan, yang menjadikan satwa ini sebagai satwa yang tergolong langka dan dilindungi negara. Adanya aktifitas pengalihan fungsi hutan menjadi lahan permukiman dan pertanian mengakibatkan pengurangan lahan hutan dan fragmentasi habitat yang menyebabkan penyebaran Elang Jawa yang terbatas. Penyebaran yang terbatas mengakibatkan terkonsentrasinya populasi pada wilayah tertentu yang meningkatnya resiko perkawinan sedarah. Akibat terjadinya perkawinan sedarah memungkinkan keragaman genetik menjadi menurun menyebabkan penurunan daya adaptasi terhadap perubahan lingkungan. 

Ancaman lain yang menyebabkan populasi Elang Jawa menurun adalah perburuan dan perdagangan ilegal. Populasi Elang Jawa yang hilang di alam lebih dari 50% dikarenakan oleh perburuan dan penangkapan liar untuk perdagangan. Pengambilan Elang Jawa di alam untuk memenuhi permintaan pasaran, tidak sebanding dengan laju perkembangbiakanya, sehingga jika terus dibiarkan maka populasi Elang Jawa akan semakin menurun dan akan meningkatkan peluang menuju kepunahan.

Berikut ini adalah asal, klarifikasi, makanan, perkembangbiakan, dan habitat elang jawa

Asal
Elang Jawa dengan nama ilmiah Spizaetus Bartelsi Stesemann merupakan salah satu fauna khas di Indonesia khususnya di pulau Jawa. Mac Kinnon (seperti dikutip Andono, 2004) menciri-cirikan fisik burung Elang Jawa berwarna coklat kayu manis terang, Iris mata kuning atau kecoklatan, paruh kehitaman dengan pangkal paruh kekuningan, kaki kekuningan dan memiliki jambul panjang dibagian kepala.

Klarifikasi Ilmiah Elang Jawa :
Kingdom : Animalia
Phyllum : Chordata
Subphyllum
: Vertebrata
Class : Aves
Ordo : Falconiformes
Familly : Accipitridae
Genus : Spizaetus
Species : Spizaetus Bartelsi Stesemann

a. Makanan
Umumnya Elang Jawa memakan satwa yang mudah ditemukan seperti jenis-jenis tupai (Callosciurus sp dan Tupai sp) dan burung-burung kecil lainnya. Elang Jawa juga suka memakan anak kera ekor panjang (Macaca fascucularis) dan jalarang (Ratufa bicolor). Selama ini juga Elang Jawa tidak pernah terlihat mengejar mangsa di udara, hal ini di karenakan ruas kaki Elang Jawa yang terlalu pendek sehingga tidak mampu menangkap burung di udara.

b. Reproduksi perkembangbiakan
Rata-rata burung pemangsa jarang beranak dan jumlah anaknya pun sangat sedikit, demikian juga dengan Elang Jawa yang berbiak setiap 2 tahun sekali dengan jumlah anak umumnya 1 ekor. Elang Jawa dapat berbiak pada umur 3-4 tahun dengan masa mengerami 44-48 hari. Musim kawin pada Elang Jawa terjadi antara akhir bulan Januari hingga Mei. Pada anak Elang Jawa umur 27-30 minggu atau 7 bulan telah dapat terbang dan mulai belajar mematikan mangsa. Pada saat tersebut telah dapat membuat 8 variasi suara sehingga dalam komunikasi telah dapat dilakukan dengan baik. Bunyi kicaunya nyaring tinggi, berulang-ulang, kli-iiw atau ii-iiiiw, bervariasi antara satu hingga tiga suku kata. Atau bunyi bernada tinggi dan cepat kli-kli-kli-kli-kli.

Habitat
Elang Jawa paling sering dijumpai di ketinggian antara 500 m - 1500 m di atas permukaan laut (Dpl) dan di hutan alam (48%) dari pada di hutan tanaman. Elang Jawa menyukai pohon yang tinggi menjulang yang dapat digunakan untuk mengincar mangsa ataupun sebagai sarang. Tercatat bahwa Elang Jawa membangun sarang di pohon Rasamala (Altingia excelsa), pasang (Lithocarpus dan Quercus), tusam (Pinus merkusii) Puspa (Schima wallichii), Kitambaga (Eugenia cuprea), Ki Sireum (Eugenia clavimyrtus). Jenis-jenis dominan antara lain Puspa (Schima wallichii), Saninten (Castanopsis argentea), Hantap (Sterculia sp), Jamuju (Podocarpus imbricatus), Manglid (Magnolia blumei). Umumnya sarang ditemukan di pohon yang tumbuh di lereng dengan kemiringan sedang sampai curam pada ketinggian tempat di atas 800 meter dpl, dengan dasar lembah memiliki anak sungai. Hal ini berhubungan dengan kesempatan memperoleh mangsa dan memelihara keselamatan anak.

Sebaran Elang Jawa ini terbatas di Pulau Jawa, dari ujung barat (Taman Nasional Ujung Kulon) hingga ujung timur di semenanjung Blambangan Purwo. Namun demikian penyebarannya kini terbatas di wilayah-wilayah dengan hutan primer dan di daerah perbukitan berhutan pada peralihan dataran rendah dengan pegunungan. Sebagian besar ditemukan di separuh belahan selatan Pulau Jawa. Elang Jawa masih ditemukan di Tangkuban Perahu, Gunung Sawal, dan Panaruban Jawa Barat, dan beberapa daerah lain di Jawa seperti di Jawa Tengah (Gunung Segara / Pegunungan Pembarisan, Gunung Slamet, Pegunungan Dieng (termasuk Gunung Prahu, Gunung Besar dan Dataran Tinggi Dieng), Gunung Ungaran, Gunung Merapi, dan Gunung Muria, Yogyakarta (sekitar lereng merapi) dan Jawa Timur (Pulau Sempu Kabupaten Malang). Elang Jawa ini hidup berspesialisasi pada wilayah berlereng.


Referensi:
Frankham, R. 1999. Quantitative Genetic In Conservation Biology. Genetics Research Committe, 74: 237-244.
Rahman, Z. 2012. Garuda Mitos dan Faktnya Indonesia. Bogor: Raptor Indonesia.
Hamilton, M.B. 2009. Population Genetics. A John Wiley & Sons, Ltd Publication.

0 Response to "Asal, klarifikasi, dan habitat burung elang jawa"

Posting Komentar