Inilah mitos makna aturan pada suku dayak bidayuh

Mitos pantang larang masyarakat suku dayak bidayuh

suku dayak

Pantang larang dalam masyarakat dayak bidayuh memiliki makna terdalam. Selain memiliki makna terdalam, pantang larang dalam masyarakat Dayak bidayuh juga berfungsi sebagai ajaran sosial budaya, teguran, dan nasihat. Pantang larang dalam masyarakat dayak bidayuh dapat diklasifikasikan berdasarkan keselamatan jiwa, waktu, tempat, jenis kelamin, pekerjaan, dan aktivitas. Sebagai satu di antara tradisi lisan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat membuat pantang larang memiliki kedudukan yang cukup istimewa dalam masyarakat dayak bidayuh, yaitu sebagai penuntun hidup dan pedoman dalam melakukan sesuatu. 

Pantang larang merupakan khazanah kebudayaan yang memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri. Hal inilah yang membuat pantang larang di satu daerah dengan daerah lain atau antara satu suku dengan suku lain memiliki perbedaan atau keunikan tersendiri. Sebagai satu di antara produk kebudayaan, pantang larang menjadi satu di antara unsur yang melekat dengan masyarakat. Hampir di semua daerah atau suku memiliki pantang larang (pantangan dan larangan).

Demikian halnya dengan pantang larang yang ada dalam masyarakat Dayak bidayuh yang berdomisili di Desa Sungkung Kompleks. Sebagai satu di antara desa atau daerah terpencil dan pedalaman di Kabupaten Bengkayang, Desa Sungkung menyimpan kekayaan alam dan budaya yang berlimpah serta unik jika dibandingkan dengan daerah lainnya.

Dalam sebuah teks pantang larang yang biasanya diutarakan oleh orang tua kepada anak-anaknya atau kepada generasi mudanya sebenarnya mengandung empat unsur utama jika dipahami dan dikaji secara lebih mendalam. Unsur-unsur yang dimaksud ialah makna, fungsi, klasifikasi, dan kedudukannya dalam masyarakat. Keempat unsur ini perlu diketahui dan dipahami oleh masyarakat, sehingga pantang larang yang disampaikan tidak hanya dimaknai sekadar larangan semata, tetapi jauh daripada itu sebenarnya pantang larang memiliki beberapa isi atau muatan tertentu yang terkandung di dalamnya.

Pantang larang merupakan suatu kebiasaan masyarakat dalam hal menghindari masalah dan memberikan nasihat kepada anaknya atau masyarakat lain. Degan kata lain, pantang larang juga dapat diartikan sebagai suatu tradisi atau budaya lisan yang diungkapkan atau disampaikan oleh orang tua terhadap anak-anaknya atau terhadap sesama anggota masyarakat dengan maksud memberi peringatan, teguran, ajaran, dan nasihat.

Berbicara masalah pantang larang, maka tidak bisa terlepas dari makna pantang larang tersebut. Semua pantang larang yang ada dalam masyarakat pasti memiliki makna atau pesan yang hendak disampaikan. Memang agak sulit jika dikaitkan antara teks pantang larang dengan ancaman atau akibat jika melanggar pantang larang tersebut. Oleh karena itu, sebagian orang berpendapat bahwa teks pantang larang tersebut hanya untuk menakut-nakuti atau mengancam saja, bukanlah makna yang sesungguhnya.

Makna mitos aturan larang pantang
Makna pantang larang dideskripsikan berdasarkan makna terdalam (makna tersirat) bukan makna tekstul (makna tersurat). Makna terdalam ialah makna yang diperoleh dari pemaknaan secara mendalam terhadap teks pantang larang, yaitu pemaknaan atau pemahaman yang mengatakan bahwa pantang larang yang disampaikan oleh para pengguna tidak hanya sekadar menakut-nakuti, tetapi di balik kata yang cenderung ‘menakuti’ tersebut ada maksud dan tujuan yang ingin disampaikan. Sedangkan makna tekstual adalah makna yang terkandung dalam pantang larang yang dimaknai oleh masyarakat sebagai sebuah larangan yang hanya menakut-nakuti (akibat dari larangan).

Berikut disajikan contoh teks pantang larang untuk membedakan makna terdalam dan tekstual. Anak-anak tidak boleh memanjat pohon pisang, karena dapat menyebabkan impotensi di kemudian hari. Makna tekstual dari contoh tersebut ialah dapat menyebabkan impotensi di kemudian hari, sedangkan makna terdalamnya ialah Pantang larang ini biasanya disampaikan oleh orang tua kepada anak-anak.

Orang tua melarang anak-anak memanjat pohon pisang ketika bermain sebenarnya mau memberitahukan atau menasihati anak-anak bahwa jika ia memanjat pohon pisang dikhawatirkan baju anak tersebut bisa kotor terkena getah dari pohon pisang. Alasan lain ialah bisa jadi bahwa di sekitar pohon pisang terdapat sarang semut, ulat bulu, atau bahkan ular. Hal yang dikhawatirkan ialah suatu saat hewan atau binatang tersebut akan membahayakan orang mendekatinya atau menginjak sarangnya.

Berikut ini adalah aturan pantang larang kepada masyarakat suku dayak bidayuh yang berdasarkan makna:

1. Makna pantang larang berdasarkan keselamatan jiwa
Tidak boleh menolak tawaran berupa makanan atau minuman dari orang lain, dapat menyebabkan kecelakaan. Orang tua melarang orang supaya jangan menolak tawaran berupa makanan atau minuman dari orang lain sebenarnya mau mengajarkan kepada orang tersebut supaya menghargai tawaran atau pemberian orang. Bentuk dari menghargai ini biasanya orang tersebut diminta untuk menjamah atau mencicipi makanan atau minuman tersebut.

Anak-anak tidak boleh tidur di tikar pandan yang sedang dianyam oleh orang tuanya, dapat menyebabkan kematian di usia mudanya. Pantang larang ini biasanya disampaikan oleh orang tua yang sedang membuat tikar kepada anaknya. Makna dari pantang larang ini sebenarnya mau menasihati anak tersebut supaya jangan tidur di tikar yang sedang dibuat karena tentu saja mengganggu orang yang lagi membuat tikar tersebut.

2. Makna pantang larang berdasarkan waktu
Anak-anak tidak boleh bermain petak umpet menjelang malam, nanti disembunyikan hantu. Pantang larang ini biasanya disampaikan oleh orang tua kepada anak-anak. Orang tua melarang anak-anak bermain petak umpet menjelang malam karena menjelang malam adalah waktunya untuk berhenti beraktivitas di luar rumah. Alasan lain kalau anak-anak main petak umpet menjelang malam tentu akan menganggu orang lain yang sedang istirahat. Waktu menjelang malam sampai pagi adalah waktu tenang dan istirahat malam.

Tidak boleh membakar terasi pada malam hari, dapat mengundang hantu datang. Pantang larang ini biasanya disampaikan oleh orang tua kepada orang yang bakar terasi pada malam hari atau menjelang malam. Membakar terasi pada malam hari tentu saja menganggu orang atau anggota keluarga yang sedang istirahat. Aroma terasi ketika dibakar sangat menyengat, sehingga akan mengganggu orang lain.

3. Makna pantang larang berdasarkan tempat
Pantang larang ini biasanya disampaikan oleh orang tua kepada anak gadisnya. Orang tua melarang perempuan (gadis) duduk di depan pintu alasannya kalau duduk tentu saja menghalangi orang yang keluar masuk rumah. Alasan lain adalah tidaklah elok dipandang mata kalau anak gadis duduk di depan pintu.

Tidak boleh kencing di tumpukan sarang semut, dapat menyebabkan kemaluan bengkak. Pantang larang ini biasanya disampaikan oleh orang tua kepada anaknya atau kepada orang yang suka kencing sembarangan. Larangan tidak boleh kencing di tumpukan sarang semut sebenarnya orang tua mau mengajarkan kepada anaknya supaya saling menghargai sesama ciptaan Tuhan. Secara akal sehat, tentu semut juga akan marah kalau ada yang kencing atau merusak sarang mereka.

4. Makna pantang larang berdasarkan jenis kelamin
Perempuan tidak boleh lambat mengambil pemberian orang, dapat menyebabkan bayinya lama keluar ketika melahirkan. Pantang larang ini biasanya disampaikan oleh orang tua kepada anak gadisnya. Pantang larang ini sebenarnya mau mengajarkan kepada anak gadisnya supaya harus tanggap atau cekatan terhadap pemberian orang. Orang sudah dengan ikhlas memberi sesuatu tetapi kalau lama-lama mengambilnya tentu saja tindakan tersebut tidak sopan serta tidak menghargai pemberian orang.

Laki-laki tidak boleh menarik atau memikul bambu dengan arah pucuknya di depan dan pangkalnya di belakang, dapat menyebabkan istrinya melahirkan dengan posisi bayinya sumsang. Pantang larang ini biasanya disampaikan oleh orang tua kepada pemuda. Orang tua melarang laki-laki menarik bambu dengan posisi terbalik sebenarnya mau mengatakan bahwa jika ia menarik bambu dengan posisi berlawanan arah (terbalik) tentu saja akan mempersulit kita karena akan nyangkut. Alasan lain ialah kalau memikul bambu dengan posisi terbalik tentu saja tidak akan seimbang ketika dipikul karena bebannya cenderung lebih berat di belakang.

5. Makna pantang larang berdasarkan aktivitas atau pekerjaan
Tidak boleh menggeser mangkok, piring, atau alat makan lainnya dengan menggunakan kaki, dapat mendatangkan kesialan. Pantang larang ini biasanya disampaikan oleh orang tua kepada anaknya yang malas-malasan ketika melakukan sesuatu. Larangan tersebut sebenarnya mau memberi nasihat atau ajaran kepada orang yang dilarang karena tentu saja tidak sopan dan tidak elok dipandang mata jika menggeser tempat/alat makan menggunakan kaki. Tuhan menciptakan tangan dengan lengkap supaya dapat difungsikan dengan baik untuk mengangkat, mengeser, dan membuat makanan.

Tidak boleh makan buah timun pada saat panen padi di ladang, dapat menyebabkan hama tikus makan padi. Pantang larang ini biasanya disampaikan oleh orang tua terhadap orang yang bekerja sambil malas-malasan. Dengan kata lain, pantang larang ini ditujukan kepada orang yang lebih banyak santainya dari pada bekerja ketika panen padi. Larangan tersebut, sebenarnya penutur pantang larang mau memberi nasihat kepada orang yang lagi panen padi bahwa waktu bekerja ya bekerja, bukan sambil makan-makan. Tentu saja jika orang yang sedang panen padi sambil makan timun, akan mengganggu dia dalam bekerja sehingga ia tidak fokus dengan apa yang sedang dikerjakan. Dengan kata lain bahwa orang tua mau mengajarkan atau menyampaikan bahwa waktu bekerja ya bekerja dan waktu makan ya makan, bukan dicampur-campur.


Referensi:

Mohtar.1977. Kepercayaan dan Pantang Larang. Selangor: Koon Wah Lithographers.
MS, Ibrahim, dkk. 2012. Pantang Larang Melayu Kalimantan Barat. Pontianak: STAIN Press.
AR, Syamsuddin dan Vismaia S. Damaianti.2011.Metode Penelitian Pendidikan Bahasa. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

0 Response to "Inilah mitos makna aturan pada suku dayak bidayuh"

Posting Komentar