Klasifikasi, morfologi, ciri, dan habitat amfibi

kodok
Amfibi seperti kata harfiahnya yaitu: amphi ganda, bios hidup artinya adalah hewan yang hidup di dua alam yaitu di air dan darat. Amphibia adalah salah satu hewan bertulang belakang (vertebrata) yang suhu tubuhnya tergantung pada suhu lingkungan atau ectoterm (Mistar, 2008). Sebagaimana jenis hewan lainnya, amfibi pada umumnya sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim, tanah, topografi dan vegetasi, baik dalam areal sempit maupun luas, akan saling berhubungan dan membentuk komunitas biotik (Kurniawan, 2005).

Amfibi dikenal sebagai hewan bertulang belakang yang suhu tubuhnya tergantung pada lingkungan, mempunyai kulit licin dan berkelenjar serta tidak bersisik. Sebagian besar mempunyai anggota gerak dengan jari (Liswanto, 1998). Amfibi terdiri dari tiga bangsa yaitu: Pertama, Caudata atau salamander merupakan satu-satunya amfibi yang tidak terdapat di Indonesia. Daerah terdekat yang di huni salamander adalah Vietnam, Laos dan Thailand Utara. Kedua, Gymnophiona atau sesilia, adalah amfibi seperti cacing, kepala dan mata yang tanpak jelas. Ketiga, Anura yang paling umum dijumpai dan dikenal dengan nama katak atau kodok (Mistar, 2008).

Klasifikasi
Menurut Goin dan Goin (1971), klasifikasi dan sistematika amfibi adalah sebagai berikut: Kingdom Animalia, Filum Chordata, Sub-filum Vertebrata, Kelas Amphibia, serta Ordo Gymnophiona, Caudata dan Anura (Fauna dan flora, 2011). Amfibi adalah satwa bertulang belakang yang memiliki jumlah jenis terkecil, yaitu sekitar 4,000 jenis. Walaupun sedikit, amfibi merupakan satwa bertulang belakang yang pertama berevolusi untuk kehidupan di darat dan merupakan nenek moyang reptile (Halliday dan Adler, 2000). Amfibi meliputi katak, toad, caecilian, newt, dan salamander. Amfibi adalah keturunan vertebrata pertama untuk membuat perpindahan dari kehidupan di air menuju kehidupan di tanah. Kolonisasi awal habitat daratan, garis zaman amphibian tidak pernah secara penuh mengikatkan hubungan mereka dengan habitat air (Budhaya, 2011).

Amfibi merupakan salah satu kelas dari vertebrata yang terdiri dari tiga Ordo, yaitu Ordo Caudata, Ordo Gymnophiona, dan Ordo Anura (Simon dan Schuster’s, 1989). Dari ketiga Ordo tersebut yang dijumpai di Indonesia adalah Ordo Gymnophiona dan Ordo Anura. Klasifikasi amfibi sebagai berikut: 

Ordo Urodela (Caudata), terdiri dari:
a. Famili Hynobiidae (meliputi salamander yang hidup di dataran Asia)
b. Famili Cryptobranchidae (meliputi salamander yang hidup di sungai)
c. Famili Ambystomidae
d. Famili Salamdridaee. Famili Amphiumidae
f. Famili Plethodonthidae
g. Famili Proteidae (selalu dalam stadium larva)
h. Famili Serenidae (selalu dalam stadium larva tanpa ektremitas posterior)

Ordo Anura (Salientia) terdiri dari:
a. Famili Liopelmidae (meliputi katak yang primitif, aquatik dan teresterial)
b. Famili Pipidae (meliputi katak yang bertubuh pipih, merupakan katak yang melakukan penyesuaian terhadap lingkungan perairan)
c. Famili Discoglossidae
d. Famili Pelobatidae
e. Famili Brevicivitadae
f. Famili Ranidae (katak sejati)
g. Famili Rachoporidae
h. Famili Mycrohylidae
i. Famili Pseudidae (meliputi katak-katak aquatik dari Amerika Selatan)
j. Famili Bufonidae
k. Famili Hylidae
l. Famili Leptodactylidae
Ordo Apoda (Gymnophiona) hanya terdiri dari 1 famili, yaitu famili Caecilidae.

Morfologi
Kodok dalam bahasa inggrisnya frog dan katak/bangkong toad termasuk dalam bangsa Anura dan merupakan hewan amfibi yang paling dikenal orang di Indonesia. Meski mirip, katak dan kodok berbeda dari ciri katak yang memiliki kulit tipis dan halus, tubuh ramping, dan kaki yang lebih kurus dan panjang. Kodok memiliki tubuh yang lebih pendek dan gemuk dengan kulit kasar dan tertutup bintil-bintil. Warna katak bervariasi, dari hijau, coklat, hitam, merah, oranye, kuning dan putih. Ukuran SVL (Snout Vent Length) Anura berkisar dari 1-35 cm, tetapi kebanyakan berkisar antara 2-12 cm (Taufik, 2010). Pada beberapa jenis katak, sisi tubuhnya terdapat lipatan kulit berkelenjar mulai dari belakang mata sampai di atas pangkal paha, yang disebut lipatan dorsolateral.

Katak mempunyai mata berukuran besar, dengan pupil mata horisontal dan vertikal. Pada beberapa jenis katak, pupil matanya berbentuk berlian atau segi empat, yang khas bagi masing-masing kelompok (Kerinci, 2011). Pada kebanyakan jenis, binatang betina lebih besar daripada yang jantan. Ukuran katak dan kodok di Indonesia bervariasi dari yang terkecil hanya 10 mm, dengan berat hanya satu atau dua gram sampai jenis yang mencapai 280 mm dengan berat lebih dari 1500 gram (Iskandar, 1998).

Ciri-ciri
Menurut Verma dan Srivastava (1979) amfibi mempunyai ciri-ciri umum sebagai berikut:

a. Berdarah dingin (poikiloterm)
b. Kulit halus dan kasar serta banyak mengandung kelenjar
c. Sisik-sisik bila ada tersembunyi di dalam kulit
d. Tengkorak berartikulasi dengan tulang atlas melalui dua condylus occipitalis
e. Tungkai bila ada bertipe fentadactyla
f. Eritrosit bikonveks, oval, dan bernukleus
g. Jantung terdiri atas dua atrium, satu ventrikel dan satu konus
h. Arcus artat simetris
i. Pada stadium awal, pernafasan melalui insang
j. Telur-telur amfibi dibungkus oleh bahan gelatin

Ciri-ciri lain pada amfibi yaitu mempunyai dua pasang kaki dan pada setiap kakinya terdapat selaput renang yang terdapat diantara jari-jari kakinya, berfungsi untuk melompat dan berenang, matanya mempunyai selaput tambahan yang disebut membrana niktitans yang sangat berfungsi waktu menyelam. Alat pernafasan pada saat dewasa berupa paru-paru dan kulit. Hidung amfibi mempunyai katup yang mencegah air masuk ke dalam rongga mulut ketika menyelam, dan berkembang biak dengan cara melepaskan telurnya dan dibuahi oleh yang jantan di luar tubuh induknya (Inger dan Stuebing, 2005).

Habitat
Amfibi hidup diberbagai lingkungan. Namun, sebagian besar spesies amfibi membutuhkan habitat air tawar seperti rawa, kolam, sungai atau lingkungan basah untuk pembibitan. Beberapa spesies katak mengandalkan kolam air yang dikumpulkan sesuai dengan dasar cangkir berbentuk tanaman atau pohon hollow (Infobebas, 2011).

Menurut Alikodra (2002), habitat satwaliar yaitu suatu kesatuan dari faktor fisik maupun biotik yang digunakan untuk untuk memenuhi semua kebutuhan hidupnya. Sedangkan Odum (1971) mengartikan habitat suatu individu sebagai tempat dimana individu tersebut hidup. Definisi lain dinyatakan oleh Goin dan Goin (1971) bahwa habitat tidak hanya menyediakan kebutuhan hidup suatu organisme melainkan tentang dimana dan bagaimana satwa tersebut dapat hidup.

Berdasarkan habitatnya, katak hidup pada daerah pemukiman manusia, pepohonan, habitat yang terganggu, daerah sepanjang aliran sungai atau air yang mengalir, serta pada hutan primer dan sekunder (Iskandar, 1998). Habitat utama amfibi adalah hutan primer, hutan rawa, sungai besar, sungai sedang, anak sungai, kolam dan danau (Mistar, 2003). Kebanyakan dari amfibi hanya bisa hidup di air tawar, namun jenis seperti Fejervarya cancrivora diketahui mampu hidup di air payau (Iskandar, 1998). Sebagian katak beradaptasi agar dapat hidup di pohon.

Walaupun sangat tergantung pada air, katak pohon seringkali tidak turun ke air untuk bertelur. Katak pohon melakukan kawin dan menyimpan telurnya di vegetasi/pohon di atas air. Saat menetas berudu katak akan jatuh ke dalam air (Duellman dan Heatwole, 1998). Selain itu, juga terdapat katak yang menyimpan telurnya di lubang berair pada kayu dan tanah, di punggung betina atau membawa ke daerah dekat air (Duellman dan Trueb, 1994). Amfibi juga bisa hidup di dalam gua-gua yang lembab dan para aktivis pelestarian lingkungan tadinya memperkirakan hutan yang kering karena penebangan besar-besaran, membuat spesies amfibi banyak yang punah (Bbc, 2011).

0 Response to "Klasifikasi, morfologi, ciri, dan habitat amfibi"

Posting Komentar