Laporan dan waspadai penyakit hewan berbahaya ini

Penyakit hewan dapat dikategorikan sebagai penyakit yang terjadi pada hewan baik yang disebabkan oleh agen patogen atau agen infeksius (seperti virus, bakteria dan parasiter) maupun disebabkan oleh penyebab lain selain agen infeksius (seperti senyawa beracun atau gangguan metabolisme). Penyakit hewan ada yang hanya dapat menular dari hewan ke hewan saja seperti penyakit Septichaemia epizootica (SE) yaitu penyakit ngorok yang disebabkan oleh bakteria Pasteurella multocida atau penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia atau yang dikenal sebagai penyakit zoonosis. 

Di Indonesia penyakit SE bersifat endemis, banyak menyerang ternak sapi dan kerbau di berbagai provinsi. Penyakit ini penularannya secara langsung dari hewan ke hewan lainnya melalui kontak langsung, dan tidak dapat menular ke manusia. Adakalanya penyakit yang hanya dapat menyerang hewan ini penularannya terjadi tidak secara langsung dari hewan tertular ke hewan lainnya, melainkan harus melalui hospes antara seperti lalat Tabanus sp. yang berperan sebagai vektor pada kejadian penyakit surra pada sapi, kerbau atau kuda. Penyakit surra juga merupakan penyakit endemis di Indonesia seperti yang dikemukakan oleh PARTOUTOMO (1993).

Penyakit hewan yang hanya menular diantara hewan contohnya penyakit SE sedangkan penyakit zoonosis misalnya penyakit rabies yang ditularkan anjing penderita rabies ke manusia melalui gigitan anjing. Penyakit zoonosis lain yang penularannya harus melalui vektor nyamuk diantaranya penyakit Japanese encephalitis (JE) pada babi atau penyakit West Nile (WN) yang umumnya terdapat pada burung atau spesies hewan mamalia lainnya (seperti kuda).

Inilah beberapa penyakit hewan yang berbahaya dan perlu diwaspadai munculnya di Indonesia:

1. Penyakit bluetongue (BT)
Penyakit bluetongue (BT) adalah penyakit hewan yang disebabkan oleh virus Arbo dari genus Orbivirus yang termasuk dalam famili Reoviridae. Berbeda dengan virus Arbo lainnya, penyakit BT ini tidak menular ke manusia. Virus ini patogenik untuk hewan ruminansia domestik maupun liar. Virus ini banyak menyerang domba asal Eropa yang dikembangkan secara komersial dan banyak didistribusikan ke Afrika, Asia dan Australia. Pada sapi dan kambing jarang menimbulkan penyakit secara klinis dan gejalanya jauh lebih ringan daripada di domba. Saat ini paling sedikit telah terdapat 24 serotipe virus BT yang diketahui di dunia.

Penyebaran virus ini dimulai dari Afrika menyebar ke negara beriklim sedang, biasanya penyakit virus BT ini muncul pada keadaan iklim yang sesuai. Introduksi serotipe virus BT-8 terbaru telah sampai ke Eropa bagian Utara termasuk Inggris pada tahun 2006, bahkan sudah mencapai Norwegia pada tahun 2009 (ARZT et al., 2010). Penyebaran penyakit virus BT di Eropa ini terkait erat dengan ekspansi dari vektornya berupa nyamuk Culicoides imicola, di mana pada saat itu telah terjadi perubahan iklim yang cukup panas dengan kelembaban yang meningkat. Di Amerika Serikat virus BT serotipe-1 (virus BT-1) pertama kali dideteksi di Lousiana pada tahun 2004 yang diduga berhubungan dengan sebaran vektor Culicoides spp. dimana penyebarannya terkait dengan perubahan iklim. Penyebaran penyakit BT juga didukung oleh faktor transportasi ternak yang diperdagangkan, terutama apabila terbawa ternak ruminansia yang terinfeksi virus BT tetapi belum memperlihatkan gejala sakit.

Di Indonesia kasus pertama penyakit virus BT terjadi pada domba impor Suffolk asal Australia pada tahun 1981 di Jawa Barat. Pada penelitian yang dilakukan SENDOW et al. (1993a; b) dapat diisolasi virus BT serotipe 1, 3, 6, 7, 9,12, 16, 21 dan 23 yang berasal dari sentinel sapi di Jabar dan Irian Jaya. Antibodi virus BT banyak ditemukan pada ruminansia besar maupun ruminansia kecil karena terdapat banyak vektor yang menularkan penyakit ini. Isolat virus BT lokal serotipe 1, 9, dan 21 yang diperoleh dari sentinel di Jawa Barat dan Irian Jaya ternyata tidak patogen setelah diuji pada domba merino impor dan domba lokal. SENDOW (2002) berhasil mengisolasi virus BT serotipe 1 dari Culicoides fulvus; virus BT serotipe 6 dari C. peregrinus, dan virus BT serotipe 21 dari C. shortii dan C. orientalis yang mana semua serangga nyamuk tersebut berasal dari wilayah Jawa Barat. Serotipe yang paling banyak diisolasi adalah serotipe 1 dan 21 (SENDOW dan BAHRI, 2005).

Melihat perkembangan penyakit virus BT akhirakhir ini di Eropa dan di Amerika Utara yang dikaitkan dengan perubahan iklim, maka perlu kehati-hatian terhadap kemungkinan timbulnya penyakit BT di Indonesia, terutama terhadap kebijakan impor domba dari Eropa, Australia atau negara lain. Hal ini dikarenakan agen penyakit dan vektor penyakitnya terdapat di Indonesia, sehingga apabila masuk domba impor yang peka apalagi membawa serotipe virus BT lain, bisa muncul wabah penyakit BT. Metode untuk mengontrol penyakit virus BT ini dimulai dengan upaya menekan terjadinya pemaparan hewan terhadap serangga (vektor) penular virus BT, penggunaan insektisida untuk memutus/mengontrol serangga/ siklus hidup serangga penular virus BT, namun metode ini sepertinya sulit dilakukan. Pemberian vaksin polivalen dari berbagai serotipe virus BT terhadap hewan yang akan diimpor lebih tepat dibandingkan dengan cara pertama.

2. Japanese encephalitis (JE)
Penyakit Japanese encephalitis (JE) adalah penyakit radang otak yang dapat menyerang hewan maupun manusia yang disebabkan oleh virus JE dapat berakibat fatal pada penderita. Penyakit JE pertama kali ditemukan di Jepang pada tahun 1871, oleh karena itu diberi nama Japanese encephalitis, sedangkan virusnya sendiri baru berhasil diisolasi pada tahun 1933. Virus JE ini termasuk dalam kelompok virus Arbo dari genus Flaviviridae, mempunyai 5 genotipe didasarkan atas analisis phylogenetic dari gen E virus. Penyakit ini bersifat zoonosis dan penularan kepada hewan maupun manusia tidak secara langsung tetapi melalui gigitan vektor berupa serangga nyamuk. Induk semang yang dapat terinfeksi adalah babi, ternak ruminansia, kuda, kelinci, unggas, kelelawar dan manusia. Aktivitas virus secara alami akan terpelihara melalui siklus hidup nyamuk dengan unggas dan babi adalah induk semang penting tempat perbanyakan dari virus tersebut. 

Pada saat ini virus JE telah tersebar hampir di banyak negara, terutama di Asia termasuk Indonesia. Hewan yang berperan sebagai reservoar dari virus JE adalah ternak babi, sedangkan manusia dan kuda merupakan target akhir dari siklus penularan atau dikenal juga dengan istilah dead-end karena viraemia terjadi sangat singkat sehingga sulit untuk ditularkan dari manusia ke manusia.

POERWOSOEDARMO et al. (1996) melaporkan bahwa kasus JE pada manusia di Indonesia hanya terjadi secara sporadis dan hanya terdapat di kota besar. Sedangkan BUHL et al. (1996) melaporkan bahwa penyakit JE memang terdapat di Indonesia yaitu pada turis asal Denmark yang menunjukkan gejala klinis, serologis, patologis anatomis dan histopatologis menunjukkan bahwa turis tersebut memang positif mengidap penyakit JE. Laporan di Indonesia bahwa kasus JE rendah karena belum dapat diungkapkan, SENDOW et al., (2000) melaporkan hasil penelitiannya bahwa reaktor JE (antibodi terhadap JE) tertinggi pada sapi baik di Sumatera Utara (86%), Kalimantan Barat (62%), Sulawesi Selatan (57%), Jawa Barat (23%) dan Irian Jaya (37%). Selain sapi, ternak lainnya seperti kambing, babi, ayam, itik, anjing dan kuda juga positif reaktor JE. Sedangkan sampel manusia dari Kalbar, NTT dan Irja juga positif reaktor JE masing-masing 30%, 29% dan 18%. 

Bila dikelompokkan berdasarkan spesimen asal hewan dan manusia, maka persentase reaktor positif JE adalah sebagai berikut: sapi (51%), kambing (27%), babi (11%), ayam (43%), itik (44%), kuda (14%), anjing (12%), dan manusia (24%). Penelitian terbaru memperlihatkan bahwa reaktor JE pada babi di Kalbar telah meningkat sangat pesat mencapai 84% pada kalong Pteropus vampyrus juga positif reaktor JE sebesar 12% (SENDOW et al., 2008b). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa berbagai spesies hewan dan juga manusia cukup banyak yang telah terinfeksi virus JE di Indonesia.

Pada perubahan iklim yang cenderung terjadinya peningkatan suhu dan kelembaban di Indonesia, dapat memicu ledakan populasi serangga nyamuk vektor JE. Bila hal ini terjadi maka peluang manusia dan hewan terinfeksi virus JE melalui gigitan nyamuk (vektor) yang telah terinfeksi virus JE akan semakin tinggi. Oleh karena itu, perlu diantisipasi untuk mencegah terjadinya wabah JE di Indonesia dengan cara mengontrol atau mengendalikan vektor tersebut dengan melakukan surveilans yang intensif. Sudah saatnya untuk dilakukan penelitian untuk mengungkapkan penyebab dari terjadinya kasus ensefalitis pada manusia. Keberadaan virus, vektor dan kondisi lingkungan yang kurang higienis pada masyarakat Indonesia di pedesaan yang juga kehidupan sosial ekonominya rendah menyebabkan daya tahan tubuhnya juga rendah.

3. Penyakit nipah
Penyakit Nipah adalah penyakit viral yang disebabkan oleh virus Nipah dari genus Morbilivirus, Famili Paramyxoviridae yang menyerang ternak babi dan bersifat zoonosis. Penyakit Nipah pertama kali dilaporkan di Malaysia pada tahun 1998 pada awalnya diduga penyakit Japanese encephalitis (JE) karena selain gejala klinisnya mirip dengan gejala JE terutama bentuk ensefalitis dan gejala syaraf lainnya, juga penyakit Nipah ini merupakan penyakit eksotik yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hasil pemeriksaan serologis juga bereaksi positif (reaksi silang) dengan virus Hendra, sehingga penyebabnya diduga virus Hendra seperti yang pernah terjadi di Australia, dari hasil penelitian lebih lanjut walaupun secara biomolekuler virus ini mirip dengan virus Hendra tetapi tidak identik. 

Pada akhirnya diberi nama virus Nipah sesuai dengan nama lokasi kejadian di desa Sungai Nipah Negeri Sembilan. Wabah penyakit ini mengejutkan bidang kesehatan manusia dan veteriner karena dalam waktu kurang dari satu tahun (September 1998 - April 1999), wabah penyakit ini telah menewaskan 105 orang dan sekitar 1,1 juta ekor babi dimusnahkan. Penyakit Nipah ini termasuk penyakit baru yang sebelumnya belum pernah dilaporkan di dunia, sehingga pada awal kejadiannya diduga sebagai penyakit JE karena adanya gejala ensefalitis dan kejadiannya juga banyak menyerang ternak babi.

Pada kejadian penyakit Nipah di Malaysia ini ternyata ternak babi dan kalong merupakan dua spesies hewan yang sangat berperanan penting, dimana kalong berperan sebagai reservoar dari virus Nipah, sedangkan ternak babi berperan sebagai pengganda virus yang mengamplifikasi virus Nipah sehingga siap untuk ditularkan ke babi atau hewan lain atau manusia. Penularan virus Nipah melalui udara dan pernafasan dimana partikel virus Nipah terbawa keluar tubuh babi terinfeksi melalui batuk yang sangat keras. Penularan dapat juga melalui kontak langsung dengan darah, cairan tubuh atau cairan ekskresi seperti urin atau saliva, busa cairan yang keluar melalui pernafasan (SENDOW dan ADJID, 2005). Penularan melalui udara merupakan yang paling efektif karena virus antara lain menyerang dan berkembang pada mukosa saluran pernafasan babi dan menyebabkan sel mukosa rusak dan virus keluar tersekresi dalam busa cairan pernafasan atau udara pernafasan pada waktu babi batuk keras, virus juga keluar bersama urin atau cairan darah dan menyebar serta menular kepada hewan lain atau manusia.

Kejadian wabah penyakit Nipah di Malaysia tersebut diduga karena dipicu oleh perubahan ekologi di mana telah terjadi peralihan fungsi penggunaan sebagian lahan perhutanan untuk peternakan babi dan perluasan perkebunan buah, sehingga banyak kalong di sekitar perkebunan buah dan peternakan babi tersebut. Sampai saat ini infeksi virus Nipah baru ditemukan di Malaysia dan Singapura di mana kejadian di Singapura merupakan bagian dari kasus yang berasal dari Malaysia dan Bangladesh. Indonesia sebagai negara tetangga dari Malaysia dan Singapura sudah selayaknya perlu waspada terhadap kemungkinan munculnya kejadian penyakit Nipah di Indonesia. Oleh karena itu berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengetahui keberadaan virus ini pada kalong maupun ternak babi yang berada di wilayah yang berdekatan dengan Malaysia.

WIDARSO et al. (2000) pernah melaporkan bahwa kasus penderita ensefalitis di Indonesia pada dua orang yang pernah bekerja di salah satu peternakan babi yang terkena wabah Nipah di Malaysia, positif mengandung antibodi terhadap virus Nipah secara serologi dimana kedua orang tersebut akhirnya meninggal di rumah sakit Batam pada tahun 1999. Namun saat ini di Indonesia masih dinyatakan bebas Nipah pada babi. Hal ini terlihat dari laporan SENDOW et al. (2004) bahwa hasil pengujian terhadap 1300 serum babi yang berasal dari beberapa daerah di Sumatra Utara, Riau, Sulawesi Utara dan Jawa tidak ditemukan adanya antibodi terhadap virus Nipah. Tetapi hasil surveilen secara serologi dengan uji ELISA terhadap sejumlah kalong spesies Pteropus vampyrus yang berasal dari Sumatra Utara, Jawa Barat dan Jawa Timur, ditemukan antibodi terhadap virus Nipah (23,7% dari 156 spesimen serum kalong P. vampyrus). Hasil uji ini telah dikonfirmasi dengan menggunakan uji SN (serum netralisasi) yang dilakukan di AAHL (Australian Animal Health Laboratory) Australia (SENDOW dan ADJID, 2005; SENDOW et al., 2008a). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kalong di beberapa wilayah Indonesia telah terinfeksi oleh virus Nipah yang berpotensi untuk menulari babi di wilayah tersebut.

Terkait dengan hasil penelitian SENDOW dan ADJID (2005) kemungkinan ada hubungan dengan yang dilaporkan SMITH et al. (2005) bahwa kalong P. vampyrus yang ada di peninsula Malaysia dapat bermigrasi ke pulau Sumatra untuk tinggal beberapa minggu dan kembali lagi ke Peninsula Malaysia. Keadaan ini memungkinkan terjadinya penularan virus Nipah dari kalong asal Malaysia dengan kalong yang terdapat di Indonesia atau kalong yang tertangkap merupakan kalong yang bermigrasi dari Malaysia. OLSON et al. (2002) melaporkan bahwa beberapa kalong Pteropus spp. di Indonesia terdeteksi mengandung antibodi terhadap virus Nipah, namun hasil serologis pada 2740 serum ternak babi belum ada yang positif mengandung antibodi terhadap virus Nipah. Hal ini menunjukkan bahwa virus Nipah belum sempat menginfeksi ternak babi di Indonesia. Oleh karena itu, keadaan demikian harus dipertahankan jangan sampai ada peluang ternak babi terinfeksi oleh virus Nipah. Keadaan ini hanya dapat dilakukan dengan cara menghindari lokasi peternakan babi dari kehadiran kalong P. vampyrus.

Untuk mencegah munculnya wabah penyakit Nipah di Indonesia, perlu dilakukan surveilans lebih lanjut terhadap kalong P. vampyrus terutama di sekitar lokasi peternakan babi, kebun buah kesukaan kalong tersebut dan rute perjalanan kalong dari habitatnya ke kebun buah tempat kalong mencari makan. Selain pada kalong, surveilans juga dilakukan pada ternak babi yang populasinya padat dan berdekatan dengan tanaman buah dimana kalong P. vampyrus mencari makan. Bila babi positif mengandung virus Nipah, segera lakukan pemusnahan pada kelompok ternak babi tersebut. Hendaknya lokasi peternakan babi tidak berdekatan dengan pemukiman penduduk dan juga tidak berdekatan dengan sarang/habitat kalong yang dapat bertindak sebagai reservoar. Lahan di sekitar peternakan babi sebaiknya tidak ditanami tanaman buah yang dapat mengundang kehadiran kalong P. vampyrus. Jadi penting untuk memutus mata rantai penularan virus Nipah dari kalong P. vampyrus ke ternak babi. Impor babi juga harus hati-hati jangan ada yang sudah tertular virus Nipah dan pengetatan sistem karantina perlu dilakukan untuk mengantisipasi masuknya Nipah ke Indonesia.

4. Penyakit west nile (WN)
Penyakit West Nile (WN) adalah penyakit viral yang dapat menyerang hewan seperti kuda dan unggas yang disebabkan oleh virus Arbo dari genus Flavivirus, famili Flaviviridae dimana penyakit ini bersifat zoonosis. Virus WN ini pertama kali diisolasi pada tahun 1937 dari darah seorang wanita yang menderita demam di daerah West Nile bagian utara Uganda yang kemudian diketahui juga sebagai virus penyebab demam WN pada anak-anak di Afrika Utara dan Timur Tengah pada tahun 1950. Penyakit ini kemudian menyebar ke arah Utara melalui burung yang bermigrasi sampai ke Eropa bagian Selatan, Rusia, India dan Australia yang dibuktikan dengan menganalisis rangkaian genom dan phylogenic tree dari virus WN yang berasal dari Amerika, Eropa, Israel, Afrika, Rusia, India dan Australia sehingga diketahui asal-usul silsilah pertama dari virus WN, sedangkan asal usul silsilah kedua merupakan virus WN yang hanya diisolasi dari subSahara dan Madagaskar. Bahwa penyebaran virus WN ini dibawa oleh burung yang bermigrasi telah dibuktikan serangkaian penelitian.

Virus WN ini diketahui terkait dengan nyamuk Culex spp. pada unggas (bersifat Ornithophilic), dimana virus ini memperbanyak diri pada nyamuk dan menularkannya kepada burung setempat atau burung/ unggas yang bermigrasi atau burung pendatang, sehingga dapat mempermudah menyebarkan virus WN dengan geographis yang lebih luas. Di bidang veteriner virus WN ini termasuk jenis patogen yang cukup penting, patogenitasnya pada kuda menyebabkan ensefalomyelitis nonsuppuratif. Wabah WN pada manusia di Amerika Serikat juga didahului banyaknya kematian burung di kota New York, juga telah menyebabkan ribuan ekor kuda mati karena terinfeksi virus. Bahkan virus WN juga telah memperlihatkan sangat patogenik pada sejumlah besar unggas liar dan domestik.

Penyakit WN semakin menjadi perhatian dunia setelah mewabah di Amerika Serikat yang dimulai pada Agustus 1999 di kota New York yang menewaskan 9 orang dari 62 orang yang menunjukkan gejala klinis positif WN dimana penyakit menyebar dengan cepat sehingga pada tahun 2002 telah menyebar di 39 negara bagian AS dan menewaskan 284 orang dari 4156 orang yang positif WN. Pada saat yang bersamaan juga terjadi banyak kematian burung pada akhir musim panas tahun 1999. Dari hasil penelitian dapat diungkapkan bahwa strain virus WN tersebut berasal dari Israel. Hal ini terkait dengan ditemukannya virus WN dari burung yang ada di kebun binatang di New York yang diperkirakan akibat dari adanya impor burung dari Israel atau Mesir pada tahun 1999. Pada saat itu cuaca di New York antara musim semi dan musim panas di tahun 1999 dimana keadaannya panas dan lembab yang sangat cocok untuk berkembangbiaknya nyamuk sehingga populasi nyamuk sangat tinggi dan berperan sebagai penular virus Arbo yang sangat efisien. Diduga munculnya wabah virus WN di Amerika Serikat pada tahun 1999 sangat terkait dengan adanya perubahan iklim disertai dengan importasi burung dari negara tertular yang membawa virus WN dalam tubuhnya.

Penyebaran virus WN di Amerika Serikat ini terus bergerak ke arah Selatan sehingga pada tahun 2001 sudah terdeteksi di negara bagian Florida, kemudian di akhir tahun 2003 virus WN sudah mulai terdeteksi di Meksiko dan Karibia bahkan juga telah mencapai Argentina. Hal yang menarik adalah bahwa virus ini sering dapat diisolasi dari burung yang sakit maupun sehat, sehingga burung yang bermigrasi dianggap sebagai sumber penularan yang pola penyebarannya mengikuti rute migrasi burung tersebut. Dapat dikatakan bahwa burung yang bermigrasi tersebut berperan sebagai kendaraan dari penyebaran virus WN. Penyebaran ke Meksiko pada Juli - Oktober 2002 juga dipastikan melalui burung yang bermigrasi dari bagian Utara karena antibodi virus WN dari burung yang bermigrasi tersebut juga positif. Di Indonesia diduga banyak kedatangan burung migran yang berasal dari negara Asia bagian Utara, Barat Daya dan Asia Barat dan juga dari Australia, oleh karena itu perlu diwaspadai kemungkinan munculnya wabah penyakit WN. Apalagi vektor dan induk semang utama penyakit ini terdapat di Indonesia, sehingga apabila virus WN sempat masuk di Indonesia diduga akan dengan cepat menyebar.

Hasil penelitian yang juga cukup menarik adalah bahwa vektor berupa Cx. pipiens dan Cx. tarsalis di California dapat mengalihkan pola makannya dari burung/unggas ke mamalia, hal ini terjadi apabila burung tersebut bermigrasi pada akhir musim panas. Oleh karena itu, kejadian epidemik penyakit WN pada spesies burung banyak terjadi pada awal musim panas dimana banyak nyamuk telah mengandung virus WN dari menggigit unggas/burung, sedangkan epidemik pada manusia banyak terjadi pada akhir musim panas.

5. Penyakit Rift Valley Fever (RVF)
Penyakit Rift Valley Fever (RVF) adalah penyakit viral yang menyerang hewan maupun manusia yang disebabkan oleh virus dari genus Phlebovirus dari famili Bunyaviridae. Virus ini pertama kali diidentifikasi pada tahun 1931 pada kejadian epidemik di suatu peternakan di Rift Valley di Kenya. Penyakit ini utamanya ditularkan kepada hewan dan manusia oleh nyamuk Aedes spp., dan dapat menyebabkan penyakit yang serius yang ditandai dengan tingginya kejadian keguguran dan bisa mengakibatkan kematian. Manusia bisa tertular apabila berada pada lokasi tersebut dan terkena gigitan nyamuk yang mengandung virus RVF. Biasanya kasus pada manusia umumnya ringan tetapi pada beberapa individu peka dapat menimbulkan gejala penyakit yang berat.

Penyakit RVF terus menyebar di Afrika Utara sehingga terjadi di Mesir pada ahir tahun 1977 dimana terjadi epizootik yang dramatis yang menyebabkan 600 orang meninggal dan lebih dari 60.000 orang memperlihatkan gejala klinis yang berat. Kemudian pada tahun 2000 kasus penyakit RVF terjadi di Saudi Arabia dan Yaman. Selanjutnya pada tahun 1997 terjadi lagi epizootik penyakit RVF di Mesir pada sapi dan domba dengan gejala demam tinggi, ikterus, diare berdarah dan abortus. Sumber infeksi wabah penyakit RVF ini berasal dari unta dan ternak ruminansia yang diimpor dari Sudan, dimana kejadian penyakit ini diperparah dengan meningkatnya populasi nyamuk sebagai vektor penyakit RVF pada musim panas di Mesir. Dari kejadian ini timbul pertanyaan apakah tidak mungkin penyakit RVF ini akan sampai ke Eropa dan Asia.

Dari berbagai kejadian wabah penyakit RVF ternyata munculnya mengikuti tingginya curah hujan dan biasanya ada hubungan dengan terjadinya genangan air di daratan yang cukup lama yang terkait erat dengan perkembangbiakan vektor (nyamuk). Proyek irigasi selama abad ke-20 di Afrika memicu terjadinya wabah penyakit RVF karena bermunculannya nyamuk dalam jumlah yang sangat banyak. Hal ini juga telah dibuktikan melalui suatu pembentukan genangan air buatan di daerah epizootik di Kenya, ternyata jutaan larva Ae.mcintoshi menetas dan virus RVF dapat diisolasi dari nyamuk dewasa termasuk nyamuk jantan. Dengan demikian penularan transovarial virus memberikan suatu penjelasan yang dapat diterima akal (GOULD dan HIGGS, 2009).

GOULD dan HIGGS (2009) juga dalam tulisannya mengemukakan bahwa wabah RVF di Afrika Timur berkaitan erat dengan tingginya curah hujan yang terjadi selama fase musim panas dari fenomena ENSO (El Nino/Southern Oscillation). Umumnya RVF terjadi di pedesaan dan semi-rural, bukan diperkotaan, dan kejadian epizootik pada ternak terutama pada beberapa bangsa ternak yang di impor. Kejadian pada manusia biasanya terjadi pada manusia yang karena pekerjaannya mempunyai hubungan dengan ternak tersebut, seperti penggembala ternak, pekerja kandang, pekerja rumah potong hewan (RPH), atau tinggal bersama ternak tersebut sehingga terjadi infeksi melalui kontak dengan ekskreta atau darah atau jaringan dari hewan yang terinfeksi. Penularan kepada manusia bisa juga karena terpapar terhadap gigitan dari nyamuk yang telah terinfeksi dengan virus RVF.

Karena penyakit RVF ini ditularkan oleh nyamuk Aedes spp. sebagai vektor, maka kondisi iklim merupakan pemicu timbulnya penyakit RVF. Oleh karena itu, secara teori penyakit RVF ini memungkinkan untuk tersebar sampai negara di Eropa dan Asia termasuk Indonesia. Disamping itu, selain faktor perubahan iklim, faktor lain seperti perpindahan hewan yang terinfeksi melalui perdagangan (ekspor/impor) atau melalui terbawanya vektor nyamuk yang kompeten ke daerah yang bukan epidemik RVF dan menyebar di luar batas geografisnya. Oleh karena itu, dapat diantisipasi pencegahannya melalui kontrol terhadap vektornya disertai dengan melakukan surveilans pada iklim tertentu atau pada keadaan terjadinya perubahan iklim sebelum terjadinya penyakit sehingga penyebaran penyakit dapat dihambat.

Penyakit-penyakit lainnya
Selain kelima penyakit yang telah disebutkan di atas, juga ada beberapa penyakit hewan yang kemungkinan akan sering muncul di Indonesia terkait dengan meningkatnya curah hujan yaitu penyakit leptospirosis, anthrax dan avian influenza H5N1. Penyakit leptospirosis yang bersifat zoonosis dapat menyebar melalui pergerakan hewan tikus yang berperan sebagai reservoar. Pada keadaan banjir karena curah hujan yang tinggi, maka tikus akan keluar karena sarangnya tergenang air, dan perpindahan tikus ini akan ikut menyebarkan Leptospira spp. melalui urin ke lingkungan sekitar, sehingga dapat menginfeksi hewan lain maupun manusia di sekitarnya. 

Fenomena ini sering terjadi pada peristiwa banjir di daerah Jakarta dan beberapa kota lainnya dimana kasus leptospirosis pada manusia meningkat. Untuk mengantisipasi penyakit ini perlu dilakukan surveilans pada hewan penular saat terjadinya banjir dan melakukan diagnosis dini pada manusia agar penderita bisa segera diberi pertolongan. Vaksin leptospirosis juga perlu dikembangkan dan disiapkan. Teknik diagnosis dan pengembangan vaksin leptospirosis telah dikembangkan oleh BBALITVET (KUSMIYATI et al., 2005).

Pada kejadian banjir juga dapat menghanyutkan spora kuman anthrax yang terdapat di lapisan tanah terutama di daerah endemik anthrax sehingga sporanya dapat berpindah tempat ke daerah yang lebih rendah atau spora anthrax tersebut yang sebelumnya berada di bagian dalam tanah akan muncul dan berada pada lapisan permukaan tanah sehingga spora anthrax ini mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk menginfeksi hewan ternak maupun manusia. POERWADIKARTA et al. (1996) telah melaporkan bahwa petani di NTB terkena anthrax melalui aktivitas bertani di lokasi dimana terdapat spora anthrax sehingga menginfeksi bagian terluka dari tangan petani tersebut. Pada keadaan kekeringan (musim kemarau yang berkepanjangan) spora anthrax di dalam tanah juga bisa menginfeksi hewan ternak, karena ternak akan memakan rumput kering sampai ke akarnya sehingga tanah di sekitarnya juga ikut termakan, sehingga spora anthrax yang ada di lapisan tanah sekitar bisa masuk ke dalam tubuh ternak.

Pada keadaan curah hujan atau musim hujan yang berkepanjangan akan meningkatkan kelembaban termasuk di lokasi peternakan unggas terutama ayam kampung maupun itik yang dipelihara masyarakat secara tradisional sehingga keadaan lingkungan di sekitar kandang unggas tersebut menjadi lembab dan virus AI H5N1 yang masih terdapat di Indonesia akan bertahan hidup lebih lama, sementara itu kondisi ayam tersebut menjadi lemah. Keadaan demikian akan memicu munculnya wabah penyakit flu burung. Selain itu migrasi burung/unggas pada keadaan pemanasan global dan perubahan iklim global juga akan terus terjadi, dan migrasi burung/unggas liar dari China dan negara Asia bagian Barat dan Utara yang masih belum bebas AI akan memicu munculnya penyakit AI strain baru (hasil mutasi dari virus H5N1 yang ada). Oleh karena itu, hal demikian perlu diantisipasi dengan mengembangkan vaksin AI yang sesuai dan biosekuriti yang ketat.


Referensi:
CHUA, K.B., S.K. LAM, C.L. KOH, P.S. HOOI, K.F. WEE, J.H. KONG, B.H. CHUA, Y.P. CHAN and M.C. LIM. 2000a.
OWEN, J., F. MOORE, N. PANELLA, E. EDWARD, R. BRU and M. HUGHES. 2006. Migrating birds as dispersal vehicles for West Nile virus. Ecohealth 3: 79 – 85.
KOMAR, N. 2003. West Nile virus: epidemiology and ecology in North America. Adv. Virus Res. 61: 185 – 234.
Reservoar of Nipah virus identified. Proceedings of the International conference on emerging infectious disease, Atlanta. USA. Session 78.
CHUA, K.B., S.K. LAM, D.J. GUBBLER and T.G. KSIAZEK. 1999. Nipah encephalitis: tracking a killer virus. Proc.
of International Union of Microbiological Society. 9- 13 Agustus 1999. Sydney. Australia. p. 37.
CHUA, K.B., W.J. BELLINI, P.A. ROTA, B.H. HARCOURT, A.  TAMIN, S.K. LAM, T.G. KSIAZEK, P.E. ROLLIN, S.R.
ZAKI, W.J. SHIEH, C.S. GOLDSMITH, D.J. GUBLER, J.T. ROECHRIG, B. EATON, A.R. GOULD, J. OLSON, H.
FIELD, P. DANIELS, A.E. LING, C.J. PETERS, L.J. ANDERSON and B.J. MAHY. 2000b. Nipah virus: A recently emerging deadly Paramyxovirus. Sci. 288: 1432 – 1435.
GOULD, E.A. and S. HIGGS. 2009. Impact of climate change and other factors on emerging arbovirus diseases.Transactions of The Royal Society of Trop. Med. Hygiene 103: 109 – 121
GOULD, E.A., X. DE LAMBALLERIE, P.M. ZANOTTO and E.C. HOLMES. 2003. Origins, evolution, and vector/host coadaptations within the genus Flavivirus. Adv. Virus Res. 59: 277 – 314.
MEEGAN, J.M. 1979. Rift Valley fever epizootic in Egypt: Description of the epizootic and virological studies. Trans. R. Soc. Trop. Med. Hyg. 73: 618 – 623.
MEEGAN, J.M., H. HOOGSTRAAL and M.I. MOUSSA. 1979. An epizootic of Rift valley fever in Egypt in 1977. Vet. Rec. 105: 124 – 125
SENDOW, I., H.E. FIELD, R.M.A. ADJID, A. RATNAWATI, A.C. BREED, DARMINTO, C. MORRISSY and P. DANIELS. 2009. Screening for Nipah Virus Infection in West Kalimantan Province, Indonesia. Zoonoses Public Health. 20 October 2009. pp. 1 – 5.
SENDOW, I., R.M.A. ADJID, T. SYAFRIATI, DARMINTO, H. FIELD, HUME, C. MORRISSY and P. DANIELS. 2008a.
Seroepidemiologi Nipah virus pada kalong dan ternak babi di beberapa wilayah di Indonesia. J. Biologi
Indonesia 5(1): 35 – 44. SENDOW, I. 2005. Studi patogenitas isolat lokal virus bluetongue pada domba lokal dan impor. JITV 10(1): 51 – 62.
SENDOW, I. dan R.M.A. ADJID. 2005. Penyakit Nipah dan situasinya di Indonesia. Wartazoa 15(2): 66 – 71.

0 Response to "Laporan dan waspadai penyakit hewan berbahaya ini"

Posting Komentar