Perkembangbiakan dan cara pertahanan amfibi

kodok
Amfibi merupakan satwa yang menyukai dan tinggal di daerah berhutan yang lembab dan bahkan beberapa spesies seluruh hidupnya tidak bisa lepas dari air (Mistar, 2003, Iskandar, 1998). Amfibi sendiri merupakan salah satu komponen penyusun ekosistem yang memiliki peranan sangat penting bagi kelangsungan proses-proses ekologi. Secara ekologis, amfibi berperan sebagai pemangsa konsumen primer seperti serangga atau hewan invertebrate lainnya (Iskandar, 1998) serta dapat digunakan sebagai bioindikator kondisi lingkungan (Stebbins dan Cohen, 1997).

Hewan amfibi juga merupakan satwa yang sangat peka terhadap perubahan lingkungan. Hampir seluruh siklus hidup amfibi ordo Anura (kodok dan katak) bergantung pada konsistensi keragaman habitat mikro, seperti serasah daun untuk meloloskan diri dari pemangsa, bersarang, dan berlindung dari kekeringan (Vitt & Caldwell, 1994 dalam Meijard, et al., 2006). Selama perkembangan dan metamorfosisnya larva anura sangat peka terhadap perubahan kimia air dan karasteristik fisik habitat akuatik. Pembukaan tajuk secara drastis mempengaruhi lingkungan dasar hutan (seperti suhu, cahaya, kelembaban, dan akumulasi serasah). Hilangnya serasah atau perubahan serasah daun berpengaruh terhadap anura secara langsung maupun tidak langsung (Zou et al , 1995).

Perkembangbiakan amfibi
Kodok dan katak mengawali hidupnya sebagai telur yang diletakkan induknya di air, di sarang busa, atau di tempat-tempat basah lainnya. Beberapa jenis kodok pegunungan menyimpan telurnya di antara lumut-lumut yang basah di pepohonan. Sementara jenis kodok hutan yang lain menitipkan telurnya di punggung kodok jantan yang lembab, yang akan selalu menjaga dan membawanya hingga menetas bahkan hingga menjadi kodok kecil. Katak mampu menghasilkan 5000-20000 telur, tergantung dari kualitas induk dan berlangsung sebanyak tiga kali dalam setahun. Telur-telur kodok dan katak menetas menjadi berudu atau kecebong yang bertubuh mirip ikan gendut, bernafas dengan insang dan selama beberapa lama hidup di air. Perlahan-lahan akan tumbuh kaki belakang, yang kemudian diikuti dengan tumbuhnya kaki depan, menghilangnya ekor dan bergantinya insang dengan paru-paru.

Kodok dan katak kawin pada waktu-waktu tertentu, misalnya pada saat bulan mati atau pada ketika menjelang hujan. Pada saat itu kodok-kodok jantan akan berbunyi-bunyi untuk memanggil betinanya, dari tepian atau tengah perairan. Beberapa jenisnya, seperti kodok tegalan (Fejervarya limnocharis) dan kintel lekat alias belentuk (Kaloula baleata), kerap membentuk ‘grup nyanyi’, dimana beberapa hewan jantan berkumpul berdekatan dan berbunyi bersahut-sahutan. Suara keras kodok dihasilkan oleh kantung suara yang terletak di sekitar lehernya, yang akan menggembung besar manakala digunakan (Manurung, 1995). Pembuahan pada kodok dilakukan di luar tubuh. Kodok jantan akan melekat dipunggung betinanya dan memeluk erat ketiak betina dari belakang. Sambil berenang di air, kaki belakang kodok jantan akan memijat perut kodok betina dan merangsang pengeluaran telur. Pada saat yang bersamaan kodok jantan akan melepaskan spermanya ke air, sehingga bisa membuahi telur-telur yang dikeluarkan si betina.

Mekanisme cara pertahanan amfibi
Amfibi tidak mempunyai alat fisik untuk mempertahankan diri. Pada beberapa jenis katak mempunyai geligi seperti taring di bagian depan rahang atas sebagai alat pertahanan diri dengan cara menggigit musuhnya. Katak dan kodok juga mempunyai kaki belakang yang lebih panjang daripada kaki depan, yang berfungsi untuk melompat dan menghindar dari bahaya (Elib, 2011). Alat lain yang efektif sebagai pertahanan diri adalah kulit yang beracun.

Banyak jenis Bufonidae dan Ranidae mampunyai kelenjar racun yang tersebar di permukaan kulit dan tonjolan-tonjolan (Robertstyn, 2011), misalnya Dendrobates pumilio. Beberapa jenis dari suku Microhylidae mempunyai kulit yang sangat lengket sehingga predator menjauhinya (Hwulan, 2011). Karena amfibi hidup dalam berbagai habitat yang bervariasi, mereka telah mengembangkan cara-cara bervariasi membela diri. Cara yang paling umum pertahanan diri antara amfibi adalah produksi ekskresi mencicipi beracun atau jahat kulit. Ini ekskresi (yang berkisar dari kulit yang sederhana untuk melembabkan penyemprotan) membantu melumpuhkan atau menangkal predator (Hicow, 2011).

Sebagian besar katak, mekanisme pertahanan dirinya mengandalkan kaki belakangnya untuk melompat dan menghindar dari bahaya. Jenis-jenis dari suku Microhylidae dan Bufonidae mempunyai kaki yang menghindari bahaya. Untuk menghindari pemangsanya, jenis-jenis Megophrydae dan Rhachoporidae umumnya menyarukan dirinya sesuai habitatnya. Ada beberapa laporan yang menyebutkan bahwa jenis katak jantan tertentu saling bergulat dalam musim kawin unrtuk mendapatkan betina siap bertelur (Iskandar, 1998).

0 Response to "Perkembangbiakan dan cara pertahanan amfibi"

Posting Komentar