Waspada, efek serius perubahan iklim bagi perikanan

perubahan iklim

Akhir-akhir ini, perubahan iklim global (Global Climate Change) merupakan issue yang cukup menyita perhatian masyarakat dunia. Hal ini terutama dampak yang ditimbulkannya pada kehidupan manusia. Dampak terhadap perikanan merupakan salah satu contoh dari sumber daya hayati yang berkaitan dengan konsumsi makanan dan aktivitas manusia.

Dampak perubahan iklim terhadap perikanan merupakan salah satu dari sekian banyak dampak yang berhubungan dengan kehidupan dan penghidupan manusia. Perubahan iklim dengan kenaikan suhu yang berlangsung terus menerus akan mengakibatkan naiknya paras laut yang secara langsung akan mengurangi luas kawasan pesisir.

Dampak perubahan iklim yang diakibatkan meningkatnya suhu udara di bumi tentu cukup menguatirkan bagi kehidupan manusia. Selama 50 tahun terakhir, suhu atmosfir bumi dan konsentrasi CO2 terus meningkat, yang secara langsung kondisi ini juga menaikkan suhu bumi termasuk komponen akuatik, yaitu sungai, danau dan laut.

Dampak naiknya suhu air laut memberikan pengaruh yang sangat kompleks terhadap berbagai aspek kelautan termasuk perikanan. Dampak tersebut dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung, yang efeknya muncul dalam variasi waktu yang berbeda. Kadang-kadang dampaknya tidak terdeteksi pada awal perubahan, dan baru disadari setelah ada pihak-pihak yang merasa dirugikan. Terkait permasalahan perikanan, riset menjadi ujung tombak untuk mengungkap semua gejala perubahan iklim dan dampak yang ditimbulkan.

Industri perikanan merupakan salah satu komponen penting yang terkait dengan perubahan iklim global. Secara umum, perikanan dapat dikategorikan dalam perikanan rakyat, perikanan komersil dan perikanan rekreasi. Ketiga jenis kategori ini dapat berdampak negatif atau positif ditinjau dari aspek stok perikanan akibat perubahan iklim. Pada akhirnya kondisi ini akan sangat merubah kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Apabila perubahan terjadi pada stok perikanan (ikan, udang, dll.), maka dikuatirkan sumber protein dari laut akan semakin berkurang, dan ini akan sangat berpengaruhi pada situasi ketahanan pangan nasional, terutama untuk pemenuhan gizi masyarakat. Begitu kompleksnya keterkaitan antara perubahan iklim dan kehidupan biota akuatik, termasuk fauna ikan dan perikanan.

Kondisi global pada sektor perikanan
Kecenderungan global dari perikanan memberikan harapan yang kurang menggembirakan. Sampai tahun 2004, total hasil tangkapan perikanan mencapai 95 juta ton dengan perkiraan nilai jual sebesar US$ 84,9 milyar. Cina, Peru dan Amerika Serikat merupakan negara utama produsen perikanan. Selama 1 dekade terakhir, produksi perikanan relatif stabil, kecuali ada sedikit fluktuasi pada perikanan teri di Peru akibat dari El-Nino. Variasi dalam produksi perikanan menurut jenis ikan juga menunjukkan kondisi relatif tidak bervariasi selama 10 tahun terakhir.

Untuk periode yang panjang, kecenderungan meningkatnya produksi perikanan tangkap terdeteksi di Samudera Hindia bagian timur dan Samudera Pasifik bagian tengah, juga di daerah barat laut dari Atlantik dan Pasifik mengalami peningkatan produksi perikanan tangkap dalam beberapa tahun terakhir. Sebaliknya, pada lokasi penangkapan ikan di Samudera Atlantik bagian timur laut, hasil tangkapan menurun, bahkan kurang dari 10 juta ton. Kejadian ini terjadi pertama kali sejak tahun 1991. Demikian juga, di bagian tenggara Samudera Atlantik, produksi Illex argentinus (Argentine shortfin squid) mengalami penurunan menyolok lebih rendah dari 200.000 ton pada tahun 2004, namun meningkat kembali menjadi 300.000 ton pada tahun 2005. 

Di Laut Mediterania dan Laut Hitam, produksi perikanan relatif stabil. Perikanan tangkap di perairan umum, terutama 90% aktifitasnya dilakukan di Afrika dan Asia, produksinya cenderung meningkat secara perlahan sejak tahun 1950, dan melalui program pemacuan sumber daya ikan, maka pada tahun 2004 produksi perikanan perairan umum di dunia telah mencapai 9,2 juta ton. Dengan demikian, perikanan tangkap secara global mengalami kecenderungan peningkatan, namun pada beberapa lokasi terjadi penurunan produksi yang cukup ekstrim.

Fenomena perubahan iklim pada perikanan
Belum banyak riset tentang dampak perikanan kaitannya dengan perubahan iklim global, namun lebih banyak terkait dengan kondisi tangkap lebih (overfishing). Padahal kemungkinan kondisi perikanan yang menurun bisa saja terjadi karena migrasi jenis ikan target (bernilai ekonomis) akibat perubahan iklim. Diperkirakan beberapa lokasi di daerah beriklim sedang (sub-tropis) akan menjadi lokasi ruaya tetap dari ikan-ikan yang biasanya hidup di wilayah tropis. Akibat dari kejadian ini, maka stok perikanan akan menurun, namun di lain pihak pola migrasi tetap ini sekaligus juga akan memindahkan tingkat keanekaragaman biota laut dari tropis ke subtropis. Keanekaragaman hayati laut Indonesia dapat saja terancam dampak perubahan iklim global, karena posisi Indonesia di wilayah tropis, sehingga dikuatirkan Indonesia dapat kehilangan status sebagai negara maritim dengan mega-biodiversitas laut. Perubahan iklim akan sangat berpengaruh terhadap fisiologi dan tingkah laku individu, populasi maupun komunitas.

Kondisi ekstrim dengan menaiknya suhu air, rendahnya konsentrasi oksigen terlarut dan pH air dapat mengakibatkan kematian pada ikan. Lingkungan dengan kondisi yang tidak optimal dapat menurunkan laju metabolisme, pertumbuhan dan kemampuan bertelur dari ikan, juga merubah metamorphosis, dan mempengaruhi sistem endokrin dan pola ruaya. Semua perubahan ini secara langsung berpengaruh pada populasi dan struktur komunitas ikan, yang pada akhirnya berpengaruh pada stok perikanan.

Beberapa dampak perubahan ikim pada perikanan telah terdeteksi pada perikanan seperti mackerel (Trachurus trachurus), dan ikan teri (Famili Engraulidae). Telah dilaporkan bahwa mackerel meningkat produksinya selama tahun 1946-1987 terkait dengan meningkatnya konsentrasi fitoplankton and zooplankton. Namun sejak tahun 1988 terjadi penyimpangan pada kondisi North Atlantic Oscillation (NAO) yaitu ditandai dengan kenaikan suhu udara di wilayah Eropa barat. Kondisi anomali ini mempengaruhi tingkatan tropik di laut, kondisi hidrografi dan atmosfir pada skala 10 tahunan. Akibatnya mackerel mengalami migrasi, sehingga populasinya berkurang. Kejadian ini juga dialami oleh ikan teri di lepas pantai Peru. Pada tahun 1970-an, perikanan teri sangat produktif, pernah terjadi dalam satu hari di tahun 1972, produksinya mencapai 180.000 ton. Namun beberapa minggu kemudian terjadi El-Nino yang membawa masa air panas, sehingga proses upwelling terhenti dan produksi teri menurun. Peristiwa ini memberikan indikasi bahwa kondisi ekologi sangat berpengaruh.

Peristiwa El-Nino juga berpengaruh pada produksi cakalang. Hampir 70% produksi ikan cakalang di dunia berasal hasil tangkapan dari Samudera Pasifik. Cakalang sangat banyak hidup di perairan hangat wilayah ekuator Pasifik bagian barat. Namun akibat dari peristiwa El-Nino, maka terjadi pergeseran masa air yang hangat ini, sehingga penyebaran cakalang juga mengalami perubahan. Dengan demikian prediksi ENSO menjadi penting untuk menentukan wilayah penangkapan cakalang yang potensial bagi usaha tuna komersial.

Estuaria dan kawasan pesisir merupakan wilayah dengan produktifitas yang sangat tinggi, karena menerima pasokan dari beberapa sumber produktiftas primer dan detritus. Bahkan, pada sistem ini hidup biota yang tidak sensitif, turut mempengaruhi fisiologi dan adaptasi tingkah laku organisme lain untuk menyesuaikan dengan kisaran yang luas variasi fisik dan kimia. Akibat dari sirkulasi air dan perubahan volume air laut, estuaria dan wilayah pesisir diperkirakan akan kehilangan habitat intertidal, instrusi yang besar air laut ke air tanah dan meningkatnya utrofikasi, hipoksia dan anoksia.

Sistem pelagis di laut, sangat rentan terhadap perubahan cuaca, sebagai contoh adalah perubahan suhu laut yang diakibatkan variasi the North Atlantic Oscillation (NAO) dikaitkan dengan fluktuasi rekruitmen ikan cod (Gadus morhua) dan pergantian habitat di lepas pantai Labrador dan Newfoundland.

Di pantai barat Kanada dan Alaska, terutama di Teluk Alaska memperlihatkan suhu yang meningkat dan salinitas yang menurun. Hasilnya lapisan mixed yang dangkal mengakibatkan menurun pasokan unsur hara, sehingga mempengaruhi tingkat produksi primer dan perubahan jaringan makanan.

Australia dalam skenario tentang perubahan iklim global terhadap kelautan, telah memperkirakan bahwa akan ada perluasan wilayah perairan tropis yang dapat memberikan dampak pada distribusi dari karang, ikan dan hutan kelp. Ikan-ikan yang biasanya mendiami wilayah perairan tropis akan bermigrasi ke arah kutub karena perluasan wilayah perairan tropis, naiknya paras laut mengakibatkan menghilangnya beberapa terumbu karang dan luasan hutan kelp menurun, karena suhu air yang meningkat.

Selain observasi secara makro, untuk melihat kecenderungan perubahan iklim terhadap perikanan, beberapa observasi mikro juga dilaksanakan untuk mendeteksi perubahan iklim terhadap fauna ikan. Ada dua penelitian komunitas ikan terumbu karang yang dikerjakan, yaitu di wilayah North Carolina (Amerika) dan Seychelles (Samudera Hindia) dan satu penelitian bagi ikan-ikan laut dalam.

Di North Carolina, komunitas ikan karang diamati setelah 15 tahun mengalami penangkapan yang intensif. Perubahan lain yang dialami, yaitu lebih banyak jenis-jenis ikan karang tropis yang ditemukan (2 famili baru dan 29 jenis baru), juga sponge yang umumnya di wilayah tropis, kini dapat ditemukan. Kelimpahan jenis ikan-ikan temperate berkurang, dan jenis tropis bertambah.

Peristiwa pemutihan karang, tidak berdampak pada penurunan komposisi jenis ikan karang. Suatu studi yang ditunjukkan pada ikan-ikan laut dalam yang memiliki peluang hidup yang panjang (lebih dari 100 tahun), telah menyimpulkan bahwa biota-biota tersebut memiliki respons yang sangat lambat terhadap perubahan lingkungan.

Beberapa tahun yang lalu terjadi peristiwa pemutihan karang (Coral bleaching) yang dikaitkan dengan peristiwa El-Nino/ENSO. Disamping itu, produksi perikanan kita juga menjadi berkurang karena cuaca buruk, sehingga nelayan tidak melaut. Semua kejadian ini sudah dapat memberikan indikasi bahwa Indonesia menghadapi ancaman perubahan iklim global terhadap ekosistem laut dan
perikanannya.

Sebagai negara kepulauan dengan luas wilayah laut yang luas, maka Indonesia diperkirakan akan menghadapi dampak perubahan iklim tidak saja di daratan, tetapi juga di laut. Mengingat sumber daya laut, khususnya perikanan (ikan, udang, rumput laut, teripang, dll.) merupakan salah satu sumber daya penting, maka perlu dilakukan riset untuk dapat memberikan informasi tentang efek perubahan iklim terhadap perikanan.


Referensi:

FAO FISHERIES and AQUACULTURE DEPARTMENT 2007. The state of world fishery and aquaculture. Food and Agriculture Organization, United Nations: 162 pp.
HOBDAY, A.J.; T.A. OKEY; E.S.
POLOCZANSKA; T.J. KUNZ and A.J. RICHARDSON, A.J (eds) 2006. Impact of Climate Change on Australian Marine Life, Part A: Executive Summary. Report to the Australian Greenhouse Office, Canberra, Australia: 36 pp.
LEHODEY, P.; M. BERTIGNAC; J. HAMPTON; A. LEWIS and J. PICAUT 1997. El Nino Southern Oscillation and tuna in the western Pacific. Nature 389: 715–718.
PARKER, R.O. and R.L. DIXON 1998. Changes in a North Carolina reef fish community after 15 years of intense fishing-global warming implications. Trans.
Am. Fish. Soc. 127: 908-920.
REID, P.H.; M.F. BORGES and E. SVENDSEN 2001. A regime shift in the North Sea
circa 1988 linked to changes in the North Sea horse mackerel fishery. Fishery Research 50: 163-171.
ROESSIG, J.M.; C.M. WOODLEY; J.J. CECH JR and L.J. HANSEN 2004. Effects of global climate change on marine and estuarine fishes and fisheries. Reviews in Fish Biology and Fisheries 14:
251-275.
SPALDING, M.D. and G.E. JARVIS 2002. The impact of the 1998 coral mortality on reef fish communities in the Seychelles. Marine Pollution Bulletin 44: 309-321.
STENSETH, N.H.; A. MYSTERUD; G. OTTERSEN; J.W. HURRELL; K.S. CHAN and M. LIMA 2002. 
Ecological Effects of Climate Fluctuations. Science 5585: 1292.
THRESHER, R.; J.A. KOSLOW; A.K. MORISON and D.C. SMITH 2007. Depth-mediated reversal of the effects of climate change on long-term growth rates of exploited marine fish. PNAS 104(18): 7461-7465.
TRENBERTH, K.E. 1997. The use and abuse of climate models. Nature 386: 131- 133.

0 Response to "Waspada, efek serius perubahan iklim bagi perikanan"

Posting Komentar