Fakta tentang penciptaan semut dalam islam

Fakta semut
Gambaran tentang semut
Semut memiliki tempat hidup dimana-mana di segala daratan dunia, kecuali di perairan. Semut sangat mempunyai banyak jenisnya, semut ini termasuk serangga sosial, perilaku semut yang dijadikan contoh kerukunan hidup bagi serangga-serangga lainnya, pada setiap koloni semut tidak pernah ada perkelahian baik di dalam sarang maupun di luar sarang ataupun ketika mendapatkan makanan. Semut juga mempunyai sistem kasta, seperti halnya rayap dan lebah.

Koloni semut dimulai dengan terbangnya semut jantan dan semut betina dari sarangnya baik itu dari sarang yang terbuat dari daun atau yang berada di dalam tanah atau sarang-sarang lainnya. Terbangnya semut ini diikuti karena adanya perkawinan antara semut jantan dan betina, kemudian semut betina akan melepaskan sayapnya setelah melakukan perkawinan dan semut jantan akan mati pada beberapa saat setelah melakukan perkawinan.

Semut disebut dengan serangga sosial karena kehidupannya yang sangat suka bergotong royong, hidup bersama-sama seperti halnya dalam bermasyarakat dan saling membantu satu sama lain. Koloni semut akan membantu semut yang lainnya jika diserang oleh para musuh dengan beramai-ramai untuk menyerang lawan.


Fakta semut
Kota modern terbentuk ketika jutaan manusia berkumpul bersama. Manusia membutuhkan hukum dan aturan untuk menjamin keamanan mereka. Kebanyakan dari mereka bersifat memikirkan diri sendiri sehingga mengakibatkan bencana kemiskinan, kesengsaraan, kelaparan dan tunawisma.

Namun ada sebuah kelompok besar yang mampu hidup bersama dan menjunjung tinggi makna gotong royong. Mereka tidak memikirkan diri sendiri melainkan memikirkan kepentingan bersama. Mereka itu adalah semut. Semut hidup dalam koloni yang beranggotakan lebih dari seribu anggota. Mereka tak mempermasalahkan jabatan ataupun tugasnya dalam koloni. Hal yang paling utama bagi mereka adalah kelangsungan hidup koloni dimana mereka tinggal.  Mereka rela mengorbankan nyawa sekalipun demi kelangsungan koloni. Kebiasaan yang terdapat dalam koloni semut adalah terdapat kerja sama, keakraban dan rasa berbagi pada semut.

Tatanan masyarakat dan kehidupan semut yang jauh lebih baik dari manusia adalah bukti kesempurnaan ciptaan Allah SWT. Dalam info fakta ini, ditunjukkan jenis-jenis semut dan menunjukkan keajaiban penciptaan yang tampak nyata pada makhluk mungil bernama semut.

1. Semut Penganyam
Rumah semut penganyam dapat ditemukan di hutan hujan Australia. Semut penganyam memiliki panjang 6 mm. Mereka membangun rumahnya dengan kerjasama yang menakjubkan. Bahan baku utama pembuatan sarang adalah dedaunan.

Tahapan pembuatan rumah semut:


1. Mengumpulkan semua dedaunan yang akan disatukan
2. Semut penganyam bergandengan satu sama lain membentuk
rantai hidup
3. Menarik ujung daun lain ke arah mereka
4. Mengelem daun dengan benang perekat yang dihasilkan larva.

Merekatkan dedaunan membutuhkan kerjasama yang luar biasa. Oleh karena itu sejumlah semut bekerja dari dalam dan luar calon rumah. Hal ini memungkinkan dedaunan dapat direkatkan serekat mungkin. Bangunan yang akhirnya terbentuk merupakan keajaiban teknik ditilik dari teknik bangunan, kekuatan dan kemudahgunaannya.

Semut tidak belajar mengenai teknik-teknik bangunan, namun anehnya mereka tahu pada bagian mana daun harus disatukan dan dimana mereka harus merekatkan perekatnya. Inilah mengapa para ilmuwan menjelaskan cara kerja makhluk mungil ini yang kerjanya seolah dikendalikan oleh kecerdasan tunggal sebagai sebuah keajaiban. Hal ini menunjukkan adanya suatu kehendak yang mengarahkan dan berkuasa mengatur mereka. Yaitu kekuasaan Allah SWT. atas makhluk hidup ciptaan-Nya. Allah SWT. telah berfirman dalam Al-Qur‟an surat at-Thalaq: 12.


"Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu." 

Penelitian terhadap kerjasama semut mengungkap tentang fakta yang menakjubkan. Mereka menyaksikan perilaku mengagumkan yang diperlihatkan semut di laboratorium. Misalnya ketika sarangnya perlu penguatan mereka mulai mendirikan sebuah dinding penyokong dalam teknik konstruksi pada pintu masuk sarang. Setiap semut mengangkat butiran pasir yang setara dengan batu raksasa jika dibandingkan dengan ukuran tubuhnya ke tempat pembuatan dinding tersebut. Ajaibnya, masing-masing bekerja layaknya pekerja konstruksi sekaligus insinyur yang mengetahui rancangan dinding tersebut dan meletakkan bebatuan di tempat yang tepat hingga dinding berdiri.

2. Semut Petani
Manusia telah bertani selama ribuan tahun dan sebanyak itu pulalah kebutuhan pangan dapat terpenuhi. Manusia menggunakan beragam teknik agar pertaniannya berhasil. Ilmuwan telah berhasil mengembangkan teknik semacam penyemprotan dan pupuk kimia untuk meningkatkan hasil pertanian. Mereka juga telah berhasil bercocok tanam sepanjang tahun menggunakan rumah kaca. Namun, ada makhluk lain yang telah bertani dan menggunakan teknik-teknik tersebut jauh lebih lama. Makhluk itu adalah semut.

Mereka telah menjadi pakar pertanian selama jutaan tahun. Mereka juga melakukan pekerjaan sulit ini dengan rangkaian tahapan melalui pembagian kerja dan perencanaan yang tak tertandingi. Rantai produksi dimulai dari semut-semut pekerja yang ada di luar sarang. Mereka memotong daun-daun yang dibutuhkan. Selanjutnya kelompok semut kedua membawa potongan daun ke dalam sarang. Para semut bekerja dengan perencanaan dan penataan yang mengagumkan. Mereka harus mengangkut potongan daun ke dalam sarang untuk bercocok tanam. Karenanya pekerjaan ini harus berlangsung tanpa hambatan.

Semut membangun jalan besar dengan beberapa jalur untuk memudahkan pengangkutan. Lebih menarik lagi ada yang bertugas memelihara dan memperbaiki system jalan ini seperti yang kita punya. Ada juga semut yang membuat jembatan dengan bergandengan satu sama lain. Sungguh ini menunjukkan adanya kerjasama dan pengorbanan diri di antara mereka. Semua ini terjadi dengan sekitar lima ratus ribu semut yang berperilaku seolah dikendalikan suatu kecerdasan tunggal. Organisasi raksasa ini mampu menggunduli semua daun dari pohon besar dalam waktu sehari saja.

Allah SWT. telah memberi semut seperangkat alat potong yang merupakan keajaiban desain. Perangkat pemotongnya terdiri atas dua bilah pisau. Pisau tersebut terbalut lapisan seng yang menjadikannya sangat tajam. Cara pemotongannya sungguh mengagumkan. Organ khusus di bawah kepala semut membantu membangkitkan gelombang suara berfrekuensi tinggi. Gelombang ini diteruskan ke daun melalui pisau tersebut sehingga menjadikan daun lebih rapuh dan mudah dipotong.

Desain pada perangkat ini sangat canggih. Struktur perangkat tersebut melapisi logam dengan logam campuran agar lebih tajam adalah teknik yang dipakai manusia. tapi manusia yang melakukan menggunakan akal dan kecerdasan dan perangkat teknik yang dikembangkannya adalah hasil penelitian khusus di laboratorium. Namun semut tak pernah tahu jika ada bahan baku bernama seng. Tidak juga mereka tahu bahwa pisaunya terbalut lapisan seng.

Sel-sel perangkat pemotong pada semut dengan ajaib membungkus pisau-pisau tersebut dengan lapisan seng. Terdapat perancangan Maha Cerdas pada tubuh makhluk mungil ini. Hal yang sama berlaku pula pada perangkat yang menjadikan daun lebih mudah dipotong dengan menggunakan gelombang suara, semut sama sekali tidak tahu bahwa frekuensi tinggi akan menjadikan benda lebih rapuh. Tak ada keraguan bahwa perangkat rumit secanggih ini tidaklah mungkin ada dengan sendirinya secara kebetulan. Hanya ada satu penjelasan bagi keberadaan perangkat yang sempurna ini. Perangkat ini sengaja diciptakan. Semut telah diciptakan oleh Allah dan teknik pemotongan daun serta segala keahlian mereka yang lain adalah pemberian-Nya. Hal ini dinyatakan dalam ayat al-Qur‟an :

“Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)?” (Q.S. Al-An’am: 80).

Sarang semut pemotong daun dapat mencapai 7 meter. Mereka membangun ratusan lorong dengan beberapa bilik di dalamnya dan mengeruk serta mengangkut sekitar 40 ton tanah, arsitektur tanah mereka merupakan keajaiban tersendiri. Semut tidak memakan dedaunan yang mereka potong karena mereka hanya memakan sejenis jamur tertentu.

Mereka menggunakan dedaunan tersebut sebagai bahan baku utama untuk bercocok tanam. Merek menumbuhkan jamur dengan bahan baku tersebut. Untuk itu mereka menyiapkan ratusan lahan pertanian jamur di dalam sarang. Untuk menumbuhkan jamur semut mengatur suhu, kelembaban dan ukuran lahan secara cermat. Ini layaknya rumah kaca yang digunakan manusia untuk bercocok tanam sepanjang tahun.

Para semut pekerja menyerahkan dedaunan yang dipotongnya kepada semut lain yang bekerja di ladang jamur. Semut yang menerimanya lalu membersihkan dedaunan dari kuman penyakit sebelum digunakan. Ada alasan penting mengapa ini dilakukan. Masuknya jamur tidak dikenal atau bakteri ke dalam sarang dapat berakibat mematikan. Hal ini dapat menyebarkan penyakit dalam koloni beranggotakan lima ratus ribu semut.

Tapi Allah telah menciptakan perangkat istimewa yang melindungi mereka. Bahan bersifat anti kuman dihasilkan dari tubuh semut. Dengan demikian tak ada bakteri yang tertinggal di daun. Seperti halnya manusia juga membuat obat antibiotic di dalam laboratorium. Namun zat antibiotic semut lebih ampuh dan semut telah menggunakannya selama jutaan tahun. Tentu saja makhluk kecil ini tidak tahu menahu tentang bakteri dan zat antibiotic penghambat perkembangbiakan bakteri. Allahlah pencipta perangkat sempurna ini. Dengannya tak satu bakteripun dapat hidup dalam tubuh semut maupun di dalam sarangnya.

Setelah tahap pembersihan kuman lalu dipotong-potong beramai-ramai. Setelah pemotongan daun hingga ukuran yang lebih kecil ini giliran semut paling mungil untuk melakukan pekerjaannya. Semut ini hanya berukuran 2 mm layaknya sebutir pasir. Mereka menghabiskan seluruh hidupnya di bilik kecil bawah tanah ini. Mereka mengunyah dedaunan hingga menjadi bubur dan meratakannya ke lantai lahan pertanian sebagai media subur tempat menumbuhkannya jamur. Lalu mereka menyemai jamur di atasnya. 

Dalam 24 jam semua dedaunan tersebut kehilangan warna hijaunya. Hingga keesokan hari seluruh permukaannya telah tertutupi jamur putih. Panen langsung dimulai. Para semut yang memanen mengutamakan rekan mereka bukan diri sendiri. Mereka memberikan jamur yang mereka panen kepada semut pekerja. Dengan cara ini kebutuhan pangan seluruh semut dapat terpenuhi, dari semut pemotong daun di luar sarang hingga mereka yang membuat bubur daun.

Lima ratus ribu semut bekerja tanpa henti dengan keteraturan dan kerja sama sempurna. Setelah semua jamur habis dipanen yang tertinggal hanyalah sisa dedaunan dan ini perlu dibersihkan. Para pekerja membuang setiap serpihan kecil daun sehingga tak tersisa lagi kotoran di bilik pertanian. Sisa-sisa daun dibuang cukup jauh dari sarang. Para pekerja keras ini tak mengenal istirahat ataupun keluh kesah.

Koloni ini juga beranggotakan semut dengan tugas yang lain. Pertahanan sarang diserahkan kepada prajurit-prajurit gagah perkasa berani dan setia. Semut prajurit segera bergegas keluar bahkan saat mendengar langkah kaki manusia yang mendekat. Beberapa prajurit raksasa 300 kali lebih besar dari semua jenis lain di dalam koloni. Mereka menyerang setiap pengganggu yang mendekati sarang. Mereka rela mati demi mempertahankan koloni mereka. Sungguh ini adalah pengorbanan diri yang sangat besar. Musuh terbesar semut pemotong daun ialah tawon. Tapi berkat rahangnya yang kuat, semut mampu melawan seekor tawon.

3. Kekeliruan Teori Evolusi
Semut mengatur koloni mereka sendiri dengan sempurna. Anehnya tak ada jenjang kepangkatan diantara mereka dan tak ada semut yang mengatur koloni tersebut. Ajaibnya setiap semut paham apa yang harus ia lakukan. Pembagian tugas ini telah ditentukan sebelum mereka lahir, dan semut melakukannya dengan sempurna.

Kemampuan yang dimiliki semut ini sekali lagi membuktikan kekeliruan teori evolusi Charles Darwin. Sebagaimana diketahui teori evolusi Darwin menyatakan bahwa semua makhluk hidup muncul menjadi ada dengan sendirinya secara kebetulan. Namun kejadian biasa atau kebetulan mustahil dapat memberikan semut, keahlian bekerja sama, sifat pengorbanan diri, berdisiplin, dan berencana. Tak ada peristiwa kebetulan yang mampu menjadikan lima ratus ribu semut bekerja untuk satu tujuan yang sama.

Teori evolusi menyatakan bahwa makhluk hidup harus senantiasa berjuang tanpa henti sampai mati agar dapat bertahan hidup dan ini dianggap sebagai mekanisme utama terjadinya evolusi. Namun teori evolusi tak pernah bisa menjelaskan bagaimana masyarakat semut yang dibangun atas dasar pengorbanan dan kerjasama dapat terbentuk. Teori evolusi juga menyatakan bahwa makhluk hidup mendapatkan segala sifat yang dimilikinya secara bertahap sebagai hasil perubahan yang diakibatkan oleh mutasi. Jadi ini berarti bahwa tatanan sosial yang diperlihatkan semut terjadi secara bertahap ini sungguh mustahil sebab sebagaimana kita saksikan dalam film ini, koloni semut terbentuk dari semut-semut dengan tugas yang berbeda-beda. Dan jika satu saja dari tugas ini gagal dilakukan maka koloni pun akan musnah.

Perencanaan hebat yang membangun keseluruhan system ini akan lebih mudah dipahami bila kita amati lebih dekat lagi. Misalnya jika tidak ada lapisan seng yang membalut pisau pada semut yang memotong daun. Jika mereka tidak mampu mengeluarkan cairan anti kuman untuk melindungi koloni dari bakteri, jika suhu dan kelembaban dalam sarang tidak diatur dengan hati-hati dan jika semua semut tidak bekerja dengan disiplin tinggi maka segala keahlian lain yang dimiliki semut tak akan ada artinya. Karena mereka semua akan segera mati. Ini karena semua koloni semut hanya dapat bertahan hidup jika semua hal itu ada secara bersamaan. Ini menunjukkan bahwa semua semut tak mungkin mendapatkan semua keahliannya secara bertahap. Dengan kata lain mereka tidak berevolusi. Sebaliknya semut telah diciptakan seketika beserta bentuk tubuh dan beraneka ragam keahlian sempurna mereka. Singkatnya semut muncul menjadi ada tanpa adanya proses evolusi.

Allah lah yang telah menciptakan tubuh semut yang sempurna beserta tatanan masyarakat yang mereka miliki. Allah berfirman dalam al-Qur‟an surat ar-Ruum ayat 26.


"Dan kepunyaan-Nya-lah siapa saja yang ada di langit dan di bumi. Semuanya hanya kepada-Nya tunduk."


Referensi:

Qardhawi, Yusuf, 2003, Ilmu Pengetahuan dalam Perspektif Islam, Yogyakarta:‘Izzan Pustaka.
Effendy, Onong Uchjana, 2000, Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi, Bandung:Citra Aditya Bakti.
Al-Zindani, Abdul M, dkk., 1997, Mukjizat Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang IPTEK, Jakarta: Gema Insani.

0 Response to "Fakta tentang penciptaan semut dalam islam"

Posting Komentar