Fenomena batas dua lautan dan hikmahnya

Pertemuan dua lautan

Air laut memiliki karakteristik seperti halnya manusia, hewan, tumbuhan atau pun ciptaan Allah yang lain. Karakteristik air laut tersebut meliputi salinitas (kadar garam), suhu, densitas dan sebagainya. Karakteristik air laut antara lautan yang satu dengan yang lain tidaklah sama. Pengaruh geografis maupun iklim dari banyaknya lautan yang ada menyebabkan ketika ada dua lautan yang bertemu dari pengaruh yang berbeda, maka otomatis kedua lautan tersebut memiliki karakteristik yang berbeda pula sehingga, kedua lautan tersebut tidak bisa bercampur secara total dan seakan-akan terdapat pemisah di antara keduanya.

Penelitian: Pemisah Dua Lautan
Dalam konteks fenomena pertemuan dua lautan, barzakh ini dapat dipahami dengan berbagai macam makna. Untuk bisa memahami makna dari barzakh, hal pertama yang perlu diketahui adalah bahwa pertemuan dua laut tersebut bisa terjadi secara berdampingan atau pun tumpang tindih. Sehingga barzakh atau pemisah dua laut ini bisa terjadi secara vertikal atau horisontal.

Barzakh bisa berarti muara sungai. Pada abad ke-19, ilmuwan Amerika Serikat melakukan sebuah penelitian di daerah muara sungai akibat adanya pencemaran besar-besaran yang terjadi di sungai. Kesimpulan awal ilmuwan tersebut yaitu bahwa di daerah muara sungai terjadi percampuran berkesinambungan antara air tawar dengan air asin. Mereka juga menemukan adanya perbedaan suhu yang cukup besar serta perbedaan kadar garam di muara sungai. Selain itu pula diketahui bahwa arus air yang tidak statis membuat aliran air tawar masuk ke dalam air asin yang merupakan aliran tidak stabil. Namun walaupun demikian, air tawar yang bercampur dengan air asin tersebut tidak bisa saling mendominasi, melainkan percampuran tersebut hanya terjadi beberapa jarak saja yaitu tepatnya di muara sungai.

Dari sisi sains, barzakh merupakan sebuah temuan baru oleh para ilmuwan untuk membuktikan bahwa al-Qur’an benar-benar mukjizat. Penelitian Muhammad Ibrahim al-Sumayh seperti yang telah disebutkan pada bab sebelumnya, menemukan adanya daerah di antara kedua teluk tersebut yang dinamai dengan Mixed Water Area atau daerah barzakh (dalam istilah al-Qur’an). Sehingga dari sini barzakh juga bisa dipahami dengan istilah Mixed Water Area yaitu suatu area dimana kedua lautan yang bertemu tersebut benar-benar bercampur tetapi tidak saling mendominasi yang mana dalam al-Qur’an disebutkan dengan istilah layabghiyan yaitu, antara masing-masing tidak saling melampaui satu sama lain. Jadi Mixed Water Area tersebut hanya beberapa jarak saja, dalam tafsir al-Mishbah disebutkan sekitar pada kedalaman 10-50 meter jika pertemuannya terjadi secara tumpang tindah dan pemisahnya membujur horisontal. Adapun di luar jarak tersebut air laut seragam adanya sesuai karakteristik masing-masing.

Mengenai Mixed Water Area, banyak sekali teori yang mencoba mengungkapkan mengapa kedua lautan tersebut tidak bisa bercampur. Salah satunya adalah teori tegangan permukaan. Perbedaan kadar garam menunjukkan perbedaan kerapatan banyaknya ion-ion positif dan negatif dalam air laut. Ion-ion positif dan negatif ini yang menyebabkan larutan garam bersifat sebagai elektrolit, yaitu mampu menghantarkan listrik. Sehingga, jika kedua lautan yang berbeda kadar garam tersebut bertemu, maka akan terjadi interaksi tolak menolak. Hal ini yang kemudian mengakibatkan antara kedua lautan tersebut tidak bisa bercampur.

Ada pula yang menyebutkan bahwa sebab tidak bercampurnya kedua lautan tersebut adalah karena hukum gravitasi. Seperti pendapat Sayyid Qutub bahwa posisi aliran sungai yang pada umumnya lebih tinggi dari laut, dapat diilustrasikan seperti volume air yang sangat besar bergerak dari gunung dengan kemiringan yang cukup tinggi dan menyebabkan air mengalir deras melalui sungai menuju lautan. Air sungai akan tetap tawar sepanjang perjalanannya menuju muara sungai. Air asin di laut pun tidak bisa menolak hukum gravitasi yang mencegah terjadinya luapan dari sisi bawah laut ke sisi atas sungai. Dengan demikian, air sungai akan tetap tawar dan air laut akan tetap asin dan di antara keduanya terdapat pembatas yang ditimbulkan oleh hukum gravitasi.

Hikmah Fenomena Pertemuan Dua Lautan
Setiap isyarat ilmiah yang tertuang dalam al-Qur’an, pasti terdapat hikmah yang dapat diambil, baik sebagai pelajaran maupun anjuran. Di dalam surat yang lain, masih dalam tema terkait hikmah atas fenomena pertemuan dua lautan, disebutkan beberapa karunia atau nikmat dari perbedaan jenis dua laut tersebut. Allah berfirman dalam surat Fatir ayat 12:

"dan tiada sama (antara) dua laut; yang ini tawar, segar, sedap diminum dan yang lain asin lagi pahit. Dan dari masing-masing laut itu kamu dapat memakan daging yang segar dan kamu dapat mengeluarkan perhiasan yang dapat kamu memakainya, dan pada masing-masingnya kamu lihat kapal-kapal berlayar membelah laut supaya kamu dapat mencari karunia-Nya dan supaya kamu bersyukur".

Ia juga menambahkan bahwa dari masing-masing laut itu manusia dapat mengambil manfaat berupa ikan-ikan yang segar dengan berbagai macam bentuk, rasa dan jenisnya. Pada kedua jenis laut yang memiliki karakteristik berbeda tadi, terdapat jenis-jenis ikan maupun tumbuhannya sendiri-sendiri. Tiap-tiap jenis ikan dan tumbuhan tersebut juga mempunyai keistimewaan masing-masing.

Terkait fenomena pertemuan dua lautan, dapat diperinci bahwa akibat pertemuan dua lautan yang tidak saling melampaui satu sama lain, terdapat beberapa hikmah yang dapat diambil sebagai berikut:

1. Sumber perhiasan
Lu’lu’ adalah mutiara, yakni permata berbentuk bulat dan keras yang berasal dari kulit kerang yang terbentuk karena adanya benda atau pasir yang masuk ke dalam tubuh kerang itu lalu diselubungi oleh kulit ari. Marjan pada mulanya adalah hewan laut yang mempunyai jari-jari yang kecil, tumbuh secara perlahan lalu membatu dan ia berubah menjadi warna merah serta mengkristal. Ketika sekian lama didasaran laut maka munculah indung mutiara yang diambil sebagai perhiasan. Sementara ulama yang lain cukup membedakan antara lu’lu’ dan marjan dari segi warna atau besar kecilnya saja. Jika berwarna putih atau berukuran besar, ia adalah lu’lu’ dan jika berwarna merah atau berukuran kecil, ia adalah marjan.

Dalam konteks ayat surat Fatir ayat 12 memberikan penjelasan bahwa perhiasan yang dimaksud tidak terbatas pada dua hal itu saja, akan tetapi perhiasan dalam pemahaman lebih luas lagi. Batu-batu mulia yang dihasilkan oleh air tawar seperti berlian yang terendap dalam lumpur; Yakut, sejenis safir berwarna hijau juga ditemukan di beberapa sungai di Thailand dan Srilangka; Circom, batu mulia yang mirip berlian dengan berbagai jenisnya, diperoleh dari sungai-sungai air tawar. Dari jenis batu-batu mulia tersebut, kesemuanya dapat digunakan sebagai perhiasan. Sehingga dalam pemahaman yang lebih luas, lu’lu’ dan marjan merupakan indikator bahwa baik di lautan yang asin maupun tawar kaya akan sumber perhiasan.

2. Perbedaan Jenis Flora dan Fauna
Hikmah yang terdapat pada kedua lautan yang berbeda karakteristiknya, memberikan perbedaan pula pada jenis flora dan fauna yang hidup dan berkembang biak pada masing-masing laut tersebut. Karakteristik laut seperti salinitas, densitas, suhu dan sebagainya merupakan unsur yang mempengaruhi suatu hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya, atau yang dikenal dalam istilah ilmu biologi dengan ekosistem.

Keanekaragaman jenis makhluk hidup sangat banyak ditinjau dari beberapa aspek. Berdasarkan lokasi, pada daerah tropis misalnya, keanekaragamannya sangat tinggi untuk jenis cumi-cumi, kerang, kepiting dan ikan. Oleh karena itu, khususnya perairan di daerah Asia Tenggara dikenal kaya akan sumber daya laut berupa ikan-ikan segar paling tinggi di dunia. Sedangkan di perairan dingin sangat sedikit ditemukan ekosistem lautnya, kebanyakan jenis makhluk hidup yang ada pada perairan dingin adalah alga coklat dan bintang laut.

Dari segi manfaat yang dapat diperoleh, seperti halnya ikan air tawar, ikan yang hidup di laut air asin pun juga menghasilkan daging yang segar untuk dimakan. Ikan yang hidup di bagian laut sebelah dalam yang bersuhu rendah dan bertekanan tinggi terbatasi habitat hidupnya di situ dan tidak akan melampaui batas ke kawasan laut dangkal yang bersuhu hangat dan bertekanan rendah. Ikan tersebut mempunyai pertumbuhan organ tubuh yang khas untuk mendukung hidupnya. Organ tubuh ikan dan segala kandungan komposisinya yang khas tersebut menjadikan manusia dapat memperoleh manfaat yang banyak dari mereka.

Budi daya ikan air tawar pada umumnya jarang dilakukan hanya untuk memelihara satu jenis ikan saja. Hal ini dikarenakan banyak sekali ikan air tawar yang dagingnya sangat lezat untuk dimakan dan juga banyak menghasilkan keuntungan bagi pemiliknya. Tentu saja dalam proses budi dayanya, jenis makanan dan kandungan air tawar sebagai habitat ikan agar bisa terus berkembang biak sangat penting untuk diperhatikan. Di antara jenis ikan air tawar yang banyak dijumpai adalah seperti ikan gurame, ikan bandeng, ikan mujaer, ikan lele dan lain-lain.

Ada beberapa jenis ikan tertentu yang memiliki perjalanan unik dalam hidupnya. Seperti ikan salmon, ia lahir di sungai atau danau berair tawar tetapi ketika besar ia hidup di lautan, lalu setelah memperoleh pasangan ia kembali lagi ke tempat lahirnya untuk bereproduksi dan mati. Karena sifat kehidupannya tersebut, ikan salmon dapat hidup pada air tawar maupun air asin sekaligus. Ikan salmon memiliki zat gizi yang sangat penting bagi kesehatan manusia. Di dalamnya terkandung asam lemak tak jenuh seperti omega-3 yang berperan dalam mengoptimalkan kerja jantung dan pembuluh darah serta pengembangan otak dan kecerdasan.

Selain ikan salmon, hiu botol juga memiliki manfaat dengan kandungan yang khas dalam tubuhnya. Ia memiliki ukuran hati yang sangat besar dan sangat bagus diekstraksi menjadi minyak squalene yang sangat bermanfaat untuk meningkatkan imunitas tubuh manusia atau dapat pula digunakan sebagai campuran minyak pelumas. Selain dua contoh di atas, masih banyak jenis fauna laut lain yang memiliki karakter dan manfaatnya sendiri-sendiri sesuai dengan ekosistemnya.

Sementara dari tumbuh-tumbuhan (flora), jenisnya lebih sedikit daripada yang ada di daratan. Tumbuhan tingkat tinggi di lautan didominasi oleh jenis ganggang laut atau yang lebih dikenal dengan rumput laut. Ada empat jenis ganggang laut yang bisa dijumpai, yaitu ganggang biru-hijau, ganggang hijau, ganggang coklat dan ganggang merah. Pengelompokan menurut perbedaan warna tersebut didasarkan atas perbedaan kandungan pigmennya. Habitatnya pun tidak seragam, alga merah kebanyakan di perairan tropis sedangkan alga cokelat kebanyakan di perairan dingin.

Banyak sekali manfaat yang dapat diambil dari ganggang laut. Di Indonesia misalnya, dari ratusan jenis rumput laut di antaranya dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam kebutuhan, antara lain makanan dan sayuran. Pemanfaatan lain adalah sebagai bahan mentah industri yang digunakan sebagai bahan tambahan dalam pengolahan makanan, minuman, farmasi, kosmetik dan tekstil.

Sedangkan di perairan tawar juga ditemukan beberapa jenis tumbuhan yang memiliki keistimewaan sendiri. Namun, pada dasarnya jenis tanaman air tawar kebanyakan dimanfaatkan sebagai tanaman penghias. Seperti eceng gondok atau yang dikenal sebagai gulma (tanaman pengganggu), disamping sebagai tanaman penghias, ia juga bermanfaat sebagai makanan ikan lele. Ada juga bambu air, merupakan tanaman air yang mirip dengan bambu yang biasa digunakan oleh masyarakat pada umumnya untuk pembuatan pagar, kerajinan dan lain-lain. Namun bedanya tumbuhan ini berukuran kecil, tingginya sekitar 25-100 cm dengan diameter yang tidak lebih dari 3 cm. Selain itu masih banyak yang lain seperti bunga seroja (teratai), apu-apu, seledri air dan lain-lain.

3. Sumber Pembangkit Listrik
Hikmah pertemuan dua lautan selanjutnya adalah sebagai sumber pembangkit listrik paling ideal dengan memanfaatkan kedua temperatur yang berbeda dari dua laut tersebut. Hal ini merupakan suatu fenomena baru yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia.

Penelitian yang dilakukan oleh Steven R. Ramp dan Ching Sang Chiu pada tahun 2001 yang mengamati kondisi lautan di sebelah timur Jepang, mencatat suatu keadaan yang sangat menarik. Dalam penelitiannya, yaitu pada tempat bertemunya dua macam arus laut; East Korean Warm Current (EKWC) yang hangat dan mengalir ke utara dengan Nort Korean Cold Current (NKCC) yang dingin dan mengalir ke selatan. NKCC mempunyai temperatur kurang dari 4 derajar C, sedangkan EKWC bershu lebih dari 16 derajat C. Perbatasan dua macam laut ini, mengakibatkan terjadinya salah satu pertemuan paling kuat.

Telah disebutkan sebelumnya bahwa perbedaan temperatur antara kedua lautan, tentunya akan mempengaruhi perbedaan salinitas (kadar garam) dan kerapatan banyaknya ion-ion positif dan negatif yang pada akhirnya berfungsi sebagai elektrolit (penghantar listrik yang baik). Pada lanjutan penelitian di atas, NKCC pada lokasi tersebut menghujam masuk ke bawah EKWC di selatan titik pertemuan. Akibatnya, pada bagian ini terjadi thermocline atau perbedaan temperatur yang mencolok pada kedalaman yang sangat dangkal, yaitu suhu permukaan air laut yang lebih besar dari 20 derajat C. Dan suhu yang kurang dari 4 derajat C pada kedalaman hanya 40 meter. Padahal thermocline umumnya terjadi di laut pada kedalaman sekitar 200-500 meter. Pada tempat yang mempunyai perbedaan suhu air laut sekitar 20 derajar C dan sangat dangkal seperti ini, sangat ideal dibuat pembangkit listrik tenaga konversi panas laut atau OTEC (Ocan Thermal Energy Conversion) yang juga menghasilkan air tawar.

Para ilmuwan Israel juga telah melakukan penelitian yang sangat menarik di laut Mati. Mereka membuat membran antara air sungai Jordan yang tawar dengan air laut Mati yang berkadar garam tinggi. Percobaan ini dapat menghasilkan tenaga listrik yang abadi. Jadi, dengan memberi batas berupa membran atau selaput pembatas antara air tawar dan air laut, energi listrik bisa dihasilkan terus menerus. Di daerah batas (barzakh) tersebut terdapat kandungan arus listrik berupa prinsip katoda (ion positif) dan prinsip anoda (ion negatif).


Referensi:

Abdullah M. Rehaili, Bukti Kebenaran Quran, ter. Purna Sofia Istianati (Yogyakarta: Padma, 2003), 103.
Muhammad Yusuf bin Abdurrahman, Keajaiban Sains: Para Ilmuwan Dunia yang Menemukan Kebenaran Islam melalui Penelitiannya (Yogyakarta: Diva Press, 2013), 146.
Jurnal Sains, Teknologi dan Agama Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Malang, No. 3 Tahun 2 (September-Desember, 2004), 15
Susilo Soekardi dan Tauhid Nur Azhar, Air dan Samudra: Mengurai Tanda-tanda Kebesaran Allah di Lautan (Solo: Tinta Medina, 2012), 123.
Kasijan Romimohtarto dan Sri Juwana, Biota Laut: Ilmu Pengetahuan tentang Biota Laut (Jakarta: Djambatan, 2005), 431.
Agus Haryo Sudarmojo, Menyibak Rahasia Sains Bumi dalam Al-Qur’an (Bandung: Mizania, 2009), 82-83.

0 Response to "Fenomena batas dua lautan dan hikmahnya"

Posting Komentar