Fenomena operasi plastik di jepang dan korea selatan

Operasi plastik
Bedah plastik pada awalnya digunakan sebagai sarana memperbaiki suatu kecacatan/ketidaknormalan suatu bagian tubuh agar dapat menjadi normal. Menurut Konsep Rancangan Peraturan Pemerintah mengenai Tindakan Medis, bedah plastik adalah tindakan medis yang berkaitan dengan bedah plastik rekonstruksi dengan tujuan memperoleh atau mengembalikan bentuk atau rekonstruksi dengan tujuan memperoleh atau mengembalikan bentuk agar yang bersangkutan dapat melaksanakan fungsinya dengan baik. Seiring berkembangnya kebutuhan masyarakat bedah plastik tidak hanya digunakan untuk merekonstruksi bagian tubuh yang cacat/tidak normal, tetapi hal tersebut telah menjadi gaya hidup di era modern ini.

Operasi plastik di jepang
Seiring berkembangnya zaman, dunia kecantikan juga berkembang cukup pesat. Kesadaran mengenai sebuah penampilan dirasa sangat penting dewasa ini, baik bagi kaum hawa maupun kaum adam. Kecantikan memiliki arti yang sangat luas, dapat berupa perawatan kulit, perawatan tubuh maupun wajah. Definisi dan pengertian kecantikan itu sangat beragam. Di berbagai belahan dunia terdapat kriteria yang berbeda-beda mengenai kecantikan. Di Jepang, kulit itu adalah kunci dari kecantikan. Wanita yang cantik di Jepang adalah wanita yang memiliki kulit halus dan rambut panjang. Di Iran wanita cantik adalah mereka yang memiliki hidung mancung dan mungil sedangkan di Burma wanita cantik adalah wanita yang memiliki leher panjang. Rahasia kecantikan di Indonesia sendiri adalah langsing. Walaupun di berbagai belahan dunia memiliki kriteria masing-masing mengenai kecantikan, tetapi terdapat beberapa kesamaan soal kecantikan itu sendiri yaitu bibir penuh, kulit putih bersih dan halus, mata jernih, rambut berkilau dan panjang, kulit kencang, hidung mancung, dan tubuh yang langsing.

Kecantikan itu relatif tergantung orang yang menilainya. Begitu juga dengan para ahli yang menyimpulkan tentang kecantikan. Definisi kecantikan seseorang bervariasi dan berbeda antara ras yang satu dengan yang lain, sehingga konsep kecantikan tidak dapat dibandingkan. Kecantikan itu sendiri di ibaratkan sebagai sebuah mitos dan legenda. Berbagai kisah tentang wanita yang cantik dan feminisme banyak diabadikan dalam berbagai bentuk di sekitar kita. Tidak ada definisi pasti mengenai makna kata cantik dan kecantikan.

Perempuan berlomba-lomba untuk mendapatkan kecantikan dengan mengubah penampilan dan tubuhnya. Kecantikan tersebut diciptakan untuk membelenggu pikiran perempuan. Mitos kecantikan merupakan upaya masyarakat mengendalikan perempuan melalui kecantikannya. Mitos kecantikan adalah anak emas yang dibanggakan bagi masyarakat patriarki. Mitos kecantikan ini dikonstruksikan ke dalam norma dan nilai sosial budaya sehingga apa yang dikatakan mitos kecantikan ini menjadi kebenaran yang absolut.

Bagaimana perempuan menilai tubuhnya akan sangat berkaitan dengan bagaimana lingkungan sosial dan budaya di luar dirinya menilai tubuh perempuan. Perempuan akan berusaha untuk menyesuaikan bentuk tubuh mereka dengan perkembangan dan budaya kecantikan yang ada di masyarakat. Namun kini media massa yang merambah berbagai budaya telah banyak mengubah citra kecantikan wanita dalam budaya-budaya tersebut. Salah satu ciri kecantikan modern adalah tubuh yang ramping.

Perempuan-perempuan di Jepang juga sangat mementingkan kecantikan, banyak dari mereka yang terpengaruh oleh perkembangan zaman. Tidak jarang yang terjadi saat ini adalah demi mengejar obsesinya terhadap kecantikan, perempuan tidak segan-segan untuk melakukan berbagai macam cara untuk mempercantik diri misalnya dengan cara mentato, mengkeriting dan meluruskan rambut, mengecat warna-warni rambutnya, mencabut bulu kaki, suntik putih, sedot lemak, hingga melakukan operasi plastik untuk mendapatkan kecantikan yang mereka inginkan. Hal yang paling ditakutkan oleh perempuan sendiri mengenai perkembangan tubuhnya adalah ketika kulitnya menghitam, menggemuk atau menua. Perempuan selalu menderita jika ingin menjadi sosok yang cantik, banyak orang yang mengatakan „beauty is pain‟ demi mendapatkan kecantikan kita harus rela untuk merasakan sakit dahulu.

Misalnya dalam drama TV Cleopatra na Onnatachi, perempuan berlomba-lomba untuk mendapatkan tubuh ideal ataupun wajah ideal yang mereka inginkan. Banyak dari mereka yang rela mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk memenuhi hasratnya agar dapat terlihat cantik. Kebanyakan wanita Jepang memiliki mata yang sipit dan tidak memiliki lipatan mata, mereka rela menabung untuk melakukan operasi plastik agar dapat mendapatkan mata yang besar dan cantik. Tidak hanya orang yang sudah berumur, para remaja pun berlomba-lomba untuk melakukan operasi plastik agar dapat terlihat cantik, faktor yang menyebabkan para perempuan di Jepang melakukan operasi plastik (seikei shujuutsu) adalah karena adanya konsep kecantikan di Jepang yang menurut mereka perempuan yang cantik adalah yang memiliki mata yang besar, hidung mancung dan tubuh yang ramping.

Dalam drama Cleopatra na Onnatachi digambarkan bahwa kebanyakan dari wanita Jepang juga memiliki dada yang terbilang cukup kecil, sehingga mereka rela menanam implant agar payudaranya terlihat lebih besar. Tidak hanya itu, dalam drama ini juga banyak diceritakan ketidakpuasan wanita terhadap tubuh mereka sendiri. Bahkan seorang anak kecil yang tidak memiliki lipatan mata, rela mengelem matanya agar dapat memiliki lipatan mata. Perempuan yang tidak memiliki kecantikan yang diinginkan seperti pada konsep tersebut menyebabkan mereka tidak percaya diri. Oleh karena itu mereka melakukan seikei shujuutsu sebagai usaha untuk meningkatkan percaya dirinya agar mereka diakui oleh masyarakat yang mayoritasnya mementingkan penampilan. Dengan begitu mereka bisa dengan mudah mendapatkan pekerjaan atau suatu penerimaan terhadap kelompok masyarakat.

Peranan media masa menjadi pengaruh yang paling besar dalam perkembangan kecantikan. Hal ini juga berpengaruh pada masyarakat Jepang. Jepang merupakan negara yang memiliki teknologi yang sangat maju sehingga memungkinkan bagi masyarakatnya untuk mengikuti berita yang ada. Para artis di Jepang juga banyak yang melakukan operasi plastik demi menunjang karir mereka. Remaja merupakan frase dimana seorang manusia mencari jati diri dan sangat mudah untuk terpengaruh.

Di Jepang masyarakat belum terbiasa dengan adanya operasi plastik berbeda halnya dengan negara Korea. Artis-artis Korea secara gamblang mengumumkan jika mereka melakukan perubahan dengan cara melakukan operasi plastik pada bagian tubuh tertentu. Berbeda dengan Jepang, artis di Jepang banyak yang melakukan operasi plastik namun tidak ada yang mengakui kalau mereka melakukan ataupun merubah bagian tubuh mereka. Tidak sedikit artis Jepang yang melakukan operasi plastik, dan bukan hanya artis wanita yang melakukannya, tapi artis pria juga melakukan operasi plastik. Walaupun begitu, hasil operasi tersebut dapat dilihat langsung melalui perubahan yang ada, baik di daerah wajah ataupun di daerah yang lain.

Artis Jepang yang melakukan operasi plastik diantaranya adalah penyanyi Jepang yang bernama Koda Kumi yang dikenal dari foto seksinya dan sering disebut sebagai “Gadis terseksi Jepang” yang memiliki lipatan kelopak mata hasil operasi, tidak hanya itu dia juga melakukan operasi hidung dan beberapa operasi kecil pemahatan wajah. Rockstar Jepang Gackt yang dikenal karena ketampanannya juga memiliki lipatan kelopak mata hasil operasi, dia juga melakukan operasi hidung dan operasi garis wajah secara drastis. Masih banyak lagi artis Jepang yang melakukan operasi plastik yang tidak akan habis jika dibahas satu persatu. Mereka semua memiliki satu kesamaan, melakukan operasi lipatan kelopak mata yang dapat membuat mata terlihat lebih besar.

Drama TV Cleopatra na Onnatachi juga memperlihatkan bagaimana para wanita di Jepang baik remaja maupun yang sudah tua ingin melakukan operasi plastik agar terlihat lebih cantik. Tidak hanya wanita tapi ada juga pria yang melakukan penarikan kulit atau biasa disebut sebagai ‘Face Lifting’ agar terlihat lebih muda dari umur yang sebenarnya. Manusia adalah makhluk yang tidak pernah memiliki kepuasan, selalu ada saja yang membuat manusia tidak puas terhadap diri maupun hidupnya. Sehingga menyebabkan orang-orang melakukan segala sesuatu agar mendapatkan kepuasan bagi dirinya sendiri. Dalam drama ini kita juga dapat melihat bagaimana pandangan masyarakat Jepang sendiri terhadap operasi plastik.

Ada yang pro dan kontra terhadap operasi plastik ini sendiri. Karena tidak semua orang setuju mengenai operasi plastik maka dalam Drama ini juga ditampilkan konflik bagi mereka yang melakukan operasi plastik. Misalnya dokter Pria yang ada di dalam drama ini, pada awalnya tidak setuju dengan kegiatan bedah kecantikan, menurutnya operasi plastik dilakukan hanya untuk memperbaiki bagian tubuh yang rusak akibat kecelakaan. Menurutnya wanita itu cantik tanpa harus merubah apa yang sudah ada sehingga ia mengalami konflik batin ketika bekerja di dalam klinik tersebut. Pro dan kontra yang digambarkan di dalam drama serta fakta-fakta sosial tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat itu sendiri menilai kegiatan operasi plastik yang tercermin di dalam tokoh.

Operasi plastik di korea selatan
Hal-hal yang melatarbelakangi maraknya tindakan tersebut bermacam-macam. Keadaan sosial adanya standarisasi kecantikan di Korea Selatan, tayangan-tayangan di media sosial yang menyuguhkan kesempurnaan fisik serta penilaian fisik yang menentukan keberhasilan dalam memperoleh pekerjaan menjadi alasan sebagian besar masyarakat Korea Selatan menjalani bedah plastik ini. Semakin meningkatnya minat masyarakat terhadap bedah plastik ini didukung dengan teknologi yang maju sehingga membuat klinik bedah plastik di Korea Selatan mengalami perkembangan yang sangat pesat. Menurut survei di tahun 2009 oleh Majalah Economist, Korea Selatan adalah negara dengan jumlah pasien operasi plastik terbanyak di dunia.

Selain 3 hal di atas yang melatarbelakangi maraknya operasi plastik di Korea Selatan, Hallyu (gelombang Korea) juga berperan besar dalam hal ini. Keberhasilan Hallyu menembus pasar internasional tentulah meningkatkan minat masyarakat Korea Selatan bahkan internasional terhadap operasi plastik. Saking tingginya minat operasi plastik di Korea Selatan menjadikan operasi plastik adalah hal wajar dan membudaya. Oleh karena itu masyarakat Korea Selatan berlomba-lomba untuk mendapatkan wajah cantik impian mereka. Bahkan mereka rela jatuh miskin asal memiliki wajah cantik daripada berwajah jelek. Karakter masyarakat Korea Selatan yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan wajah impian mereka ini didukung perkembangan budaya yang kuat dan agama. Sebagian besar penduduk Korea Selatan adalah atheis dan sebagian kecil lainnya Budha, Kristen dan Katholik. Budaya barat yang semakin menguat menjadikan masyarakatnya berpikiran terbuka dan cenderung bebas terhadap apapun khususnya operasi plastik. Bagi mereka operasi plastik bukanlah hal yang tabu dan hal yang dilarang agama.

Awal Abad ke-21 menjadi momentum penting meledaknya serial drama Asia Timur di pertelevisian Indonesia. Anak muda Indonesia mengandrungi serial-serial drama baru yang tidak lagi berasal dari Negeri Sakura, Jepang, tetapi juga dari Taiwan dan Korea Selatan. Ulasan berita tentang para aktor dan aktris pemain serial drama tersebut pun menjadi topik berita yang digemari. Tabloid dan majalah juga laris manis bak kacang goreng. Pada tahun 2004, penulis membaca salah satu tabloid yang mengulas berita tentang aktor pemain dari serial drama Asia Timur yang saat itu sedang booming. Artikel tersebut menceritakan tentang aktor Taiwan, Vic Zhou, yang diboikot oleh penggemarnya di Korea Selatan. Pemboikotan terjadi karena aktor muda yang terkenal sebagai anggota F41 Taiwan itu mengatakan bahwa, ia sulit membedakan wajah wanita Korea yang mempunyai kegemaran bedah plastik. Peristiwa pemboikotan Vic Zhou di Korea Selatan akibat pernyataannya tentang bedah plastik tersebut menjadi awal dari ketertarikan penulis untuk mengkaji lebih dalam fenomena bedah plastik di Korea Selatan.

Tindakan bedah plastik di Korea Selatan menunjukkan bahwa 77, 5% responden wanita yang berusia 18 tahunan menginginkan bedah plastik. Pernyataan tersebut merupakan hasil penelitian tesis Um Hyun-shin, mahasiswa dari Universitas Kyung Hee Departemen Tekstil dan Pakaian, Korea Selatan. Tidak hanya itu saja pemberitaan tentang tindakan bedah plastik wanita Korea, salah satu diantaranya adalah:

Jika pergi ke Seoul di tengah musim dingin, mungkin Anda akan melihat pemandangan yang sedikit tidak matching: gadis mengenakan rok pendek. Dinginnya udara yang kadang diselingi salju tidak mencegah perempuan Seoul ngotot tampil menawan dengan rok pendek. Di saat lain, sebuah majalah perempuan di sana membujuk pembacanya menghabiskan 30 persen penghasilannya agar tampil keren. Alasannya sederhana, semakin cantik, semakin mudah mendapatkan calon suami kaya. Jika cantik begitu diburu, hasilnya sederhana: perkiraan konservatif memperlihatkan 50 persen perempuan berusia 20-an tahun di Korea Selatan pernah menjalani operasi plastik.

Tindakan bedah plastik di Korea Selatan tampak sebagai tindakan wajar dan tidak bertentangan dengan norma yang ada di negeri yang terkenal dengan ginsengnya tersebut. Kondisi perekonomian yang telah mengalami pertumbuhan yang pesat dan kemajuan pengetahuan teknologi mendukung bisnis medis tersebut. Bahkan, pemerintahan Korea Selatan gencar untuk mempromosikan Medical Beauty Tourism sebagai bentuk usaha menarik wisatawan.

Selain itu, fenomena bedah plastik di kalangan wanita Korea Selatan tersebut juga dapat dikaji lebih dalam dengan dua landasan pertanyaan sebagai berikut, yakni: pertama, tindakan bedah plastik tidak dapat dilepaskan dari Westernisasi kehidupan masyarakat di suatu negara karena terkait dengan mass phenomenon. Kedua, tindakan bedah plastik di Korea Selatan tampak sebagai tindakan wajar yang terjadi pada hampir setengah populasi wanita di negeri tersebut. Mengapa tindakan bedah plastik di Negeri Ginseng tampak sebagai suatu tindakan yang wajar? Apa yang membuat wanita Korea Selatan setuju untuk melakukan tindakan bedah plastik? Adakah hal ini juga terkait dengan mass phenomenon karena Korea Selatan juga tidak luput dari pengaruh budaya Barat? Adakah faktor lain yang membentuk fenomena bedah plastik di negeri tersebut?

Melihat karakter orang Korea yang sangat terbuka dan agama bukan merupakan prinsip utama itu sangat berbeda dengan karakter orang Indonesia. Negara Indonesia merupakan negara di bawah angin, karena pentingnya posisi Indonesia di mata dunia. Keadaan geografis tersebut merupakan salah satu faktor yang membuat Indonesia dilalui banyak negara yang membawa beragam budayanya. Pendapat lain mengatakan, “Pemikiran timur lebih menekankan unsur terdalam dalam jiwa. Macam-macam kebudayaan yang memiliki nilai timur lebih menekankan disiplin, mengendalikan diri, sederhana, tidak mementingkan dunia”. Karakter orang Indonesia yang cenderung terbuka terhadap budaya asing ini menyebabkan mudahnya budaya asing masuk ke Indonesia tak terkecuali budaya Korea.

Selain faktor-faktor di atas, perbedaan budaya, kepercayaan dan agama menjadi landasan mendasar di masyarakat dalam menanggapi suatu budaya asing, khususnya tentang maraknya operasi plastik di Korea Selatan. Masalah ini telah menimbulkan banyak komentar positif dan negatif bermunculan di kalangan masyarakat Indonesia. Selain itu masyarakat yang memberikan komentar positif dan negatif seringkali mempunyai pemikiran yang bertolak belakang, begitupun sebaliknya.


(Dilansir dari berbagai sumber)

0 Response to "Fenomena operasi plastik di jepang dan korea selatan"

Posting Komentar