Info, latar belakang, dan faktor penyebab homoseksual

Info seseorang gay
Pada April 2001 Negara Belanda menjadi Negara pertama yang mengesahkan pernikahan untuk semua orang termasuk gay dan lesbian.Pergerakan kaum gay di luar negeri yang sangat di akui, memberikan harapan untuk kaum gay di Indonesia agar dapat diakui pula oleh masyarakat.Perkembangan kaum gay semakin berkembang pesat.Hal ini dapat dilihat dari munculnya film-film layar lebar yang mengangkat tema homoseksualitas.Seperti hal nya di Bandar Lampung, sadar atau tidak banyak sekali kaum gay yang berkeliaran di kalangan masyarakat.Kaum gay tersebut beragam, ada yang berpenampilan macho seperti pria pada umumnya, ada juga yang berpenampilan layaknya wanita atau banci.

Tidak semua gay berpenampilan seperti wanita atau banci, dan tidak semua banci itu termasuk gay.Komunitas gay dilihat dari fisik dan penampilan seperti pria normal pada umumnya yang cool dan macho.Kaum gay biasanya mengelompok dan hanya bergabung dengan komunitas sesama gay.Seperti, di daerah sekitaran enggal terdapat suatu perkumpulan yang di dalamnya terdapat sekelompok wanita dan pria tetapi semua pria nya tergolong gay. Tidak sedikit dari mereka yang sudah tidak lagi berusia remaja bahkan sudah mencapai taraf dewasa. Mereka mengaku ingin menikah dengan seorang wanita tetapi hanya untuk menutupi saja, sedangkan di lain kesempatan mereka akan tetap menjadi gay.

Sedangkan remaja dalam komunitas tersebut tetap menjalani hidup normal dengan mempunyai pasangan seorang wanita tetapi tetap mencari kesenangan terhadap pria gay.Mereka mencari pasangan gay hanya untuk kesenangan mereka saja, tapi ada sebagian yang benar-benar mempunyai komitmen yang serius dalam berhubungan sesama gay. Disaat mereka tidak sedang bersama kekasihnya, mereka melakukan kegiatan seperti orang lain pada umumnya misalnya bekerja.

Kaum gay atau homoseksual biasanya menjalin percintaan bahkan menjalin komitmen dengan pasangan gay mereka.Banyak pasangan gay yang berhasil dalam berhubungan dan memiliki komitmen serta bertahan lama dengan pasangannya.Kebanyakan kaum gay lebih protektif terhadap pasangannya dalam berhubungan.Para pakar kejiwaan dan peneliti telah lama mengakui bahwa menjadi homoseksual tidak menimbulkan hambatan untuk menjalani hidup yang bahagia, sehat, dan produktif, dan bahwa sebagian besar kalangan gay dan lesbian bekerja dengan baik di berbagai lembaga sosial dan hubungan interpersonal.Remaja gay menanggung risiko bunuh diri, penyalahgunaan obat, masalah sekolah, dan isolasi yang lebih besar, karena lingkungan yang tidak bersahabat dan penuh cela, adanya pelecehan verbal dan fisik, penolakan dan isolasi dari keluarga dan teman sebaya.

Latar belakang
Pada tahun 1973 homoseksualitas dihilangkan sebagai suatu kategori diagnostik oleh American Psychiatric Association dan dikeluarkan dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders. Hal ini disebabkan karena pandangan bahwa homoseksualitas adalah suatu gaya hidup alternatif, bukannya suatu gangguan patologis dan homoseksualitas terjadi dengan keteraturan sebagai suatu variasi seksualitas manusia.

Homoseksual merupakan istilah yang diciptakan pada tahun 1869 oleh bidang ilmu psikiatri di Eropa, untuk mengacu pada suatu fenomena yang berkonotasi klinis. Pengertian homoseks tersebut pada awalnya dapat dikategorikan sebagai perilaku menyimpang. Pengertian homoseks kemudian terbagi dalam dua istilah yaitu Gay dan Lesbi. Hawkin pada tahun 1997 menuliskan bahwa istilah Gay atau Lesbi dimaksudkan sebagai kombinasi antara identitas diri sendiri dan identitas sosial yang mencerminkan kenyataan bahwa orang memiliki perasaan menjadi dari kelompok sosial yang memiliki label yang sama. Istilah gay biasanya mengacu pada jenis kelamin laki-laki dan istilah lesbian mengacu pada jenis kelamin perempuan.

Penelitian dilakukan oleh Alfred C. Kinsey pada tahun 1948 menemukan bahwa 10 % laki-laki adalah homoseksual, sedangkan wanita sebesar 5 %. Kinsey juga menemukan bahwa 37 % dari semua orang yang melaporkan suatu pengalaman homoseksual pada suatu saat dalam kehidupannya, termasuk aktivitas seksual remaja.

Penelitian menunjukkan bahwa hubungan anak laki-laki dan laki-laki lain di negara Peru dengan angka 10-60%, di Brazil 5-13%, di Amerika 10-14%, di Botzwana 15%, dan di Thailand 6-16%. Beberapa laki-laki menyadari bahwa dirinya Homoseksual atau Gay. Mereka melakukan hubungan seksual jangka panjang dengan wanita dan kadang-kadang melakukan hubungan seks dengan pria dan sering tanpa diketahui pasangan wanitanya. Dalam kasus ini, hubungan seks mungkin dilakukan antara pria, karena memang hanya pria saja yang tersedia sebagai pasangan seks.

Homoseksual merupakan salah satu masalah yang terjadi pada remaja saat ini. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa perilaku homoseksual dilakukan mulai umur remaja. Jumlah homoseksual di Kanada sekitar 1% dari keseluruhan penduduknya, dengan usia 18-59 tahun. Berdasarkan hasil penelitian dari National Center for Health Research, di Amerika tahun 2002 sekitar 4,4% masyarakat melakukan hubungan homoseksual, dengan usia 15- 44 tahun. Berdasarkan hasil statistik di Indonesia, menunjukkan bahwa sekitar 8-10 juta pria pernah terlibat dalam hubungan homoseksual.

Pendidikan kesehatan pada masa lampau hanya memfokuskan pada perilaku seksual terutama anal seks yang tidak terlindung. Perilaku seks tersebut sangat berisiko terhadap penularan PMS. Hal ini dilihat dari sebuah penelitian sebanyak 356 orang gay yang diwawancarai dan 40% diantaranya berperilaku beresiko terhadap penularan PMS.

Munculnya persoalan kesehatan reproduksi yang menimpa kelompok marjial (remaja jalanan, gay, waria dan PSK), yang sangat beresiko terhadap PMS. Bagi gay yang mengalami masalah kesehatan reproduksi harus mendapatkan informasi kesehatan reproduksi yang benar.

Kesehatan reproduksi yang baik, termasuk kesehatan seksual dan reproduksi remaja harus mendapat perhatian khusus, karena saat ini sudah terjadi pergeseran norma dalam masyarakat. Pergaulan remaja menjadi lebih longgar dan bebas yang ditunjang oleh perkembangan media massa yang semakin maju baik media cetak maupun media elektronik.

Kesehatan reproduksi merupakan keadaan seksualitas yang sehat yang berhubungan dengan fungsi dan proses sistem reproduksi. Seksualitas dalam dalam hal ini berkaitan erat dengan anatomi dan fungsional alat reproduksi atau alat kelamin manusia dan dampaknya bagi kehidupan fisik dan biologis manusia. Termasuk di dalamnya bagaimana menjaga kesehatannya dari gangguan seperti PMS dan HIV/AIDS.

PMS menjadi sangat serius, karena dapat menyerang dalam cakupan luas ke seluruh penjuru dunia. PMS juga dapat dengan mudah menyebar dari satu orang kepada orang lain. PMS yang dapat menularkan pada komunitas homoseksual adalah Gonorhoe, Sipilis, dan Harpes kelamin. Tetapi yang paling besar diantaranya adalah HIV/AIDS, karena mengakibatkan kematian pada penderitanya, karena AIDS tidak bisa diobati dengan antibiotik.

Komunitas gay dipandang rentan terhadap penularan PMS dan HIV/AIDS. Mengingat perilaku seksual komunitas gay yang cenderung bebas dan bergantiganti pasangan serta rendahnya informasi tentang kesehatan reproduksi. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa umur 18-29 tahun sebanyak 45% telah menjadi mitra seksual dan ditemukan 9% diantaranya positif HIV/AIDS.

Seseorang dapat menjadi gay diawali pada masa kanak-kanak tetapi pada umur 15 tahun baru mulai melakukan hubungan seksual. Berdasarkan laporan Klinik Griya Lentera Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Yogyakarta pada bulan April - Agustus 2009 terdapat 11 orang dari komunitas gay yang terdiagnosis PMS dan tergolong pada kelompok umur 15-49 tahun.

Hasil studi awal yang telah dilakukan di Yogyakarta terdapat setidaknya 200 orang yang menjadi mitra PKBI Yogyakarta pada tahun 2008 dan dikhawatirkan terjadinya penularan PMS pada komunitas gay sehingga perlu di lakukan penelitian mengenai faktor risiko tentang kejadian PMS pada komunitas gay meliputi karakteristik (umur, pendidikan, pekerjaan), pengetahuan kesehatan reproduksi, perilaku pemeliharaan organ reproduksi, dan perilaku seksual.

Faktor penyebab seseorang menjadi gay, yaitu:

1. Pola asuh atau pentransferan model ke anak
Misalnya anak perempuan, dia akan lebih banyak mencontoh perilaku ibunya dari berpakaian bahkan make up. Sebaliknya anak laki-laki akan meniru ayahnya.

2. Masalah trauma
Misalnya seorang anak yang melihat kekejaman atau mengalami tindakan asusila yang membuatnya trauma maka sang anak akan mengalami rendah diri dan ketakutan dalam menjalankan hubungan yang normal sehingga ia memilih melakukan hubungan abnormal atau gay . Atau seorang remaja laki-laki yang seringnya mengalami patah hati pada wanita sehingga memutuskan untuk berhubungan dengan sesama jenis.

3. Faktor sosial atau pergaulan
Merupakan faktor terbesar yang menjadi penyebab homoseksual, misalnya seringnya kita menyaksikan komunitas gay dalam berhubungan atau seringnya bergaul dengan kaum gay akan membuat penyakit gay trsebut menular. Pengalaman homoseksual dini juga mempunyai pengaruh terhadap pembentukan identitas pada gay, adanya pengalaman seksual terhadap sesama jenis memberikan kenikmatan pada subjek yang ingin diulanginya kembali. Pengalaman homoseksual usia dini yang terjadi berulang-ulang dapat membuat subjek pada akhirnya menikmati hubungan sesama jenis.


Referensi:

Permata PS. 2003. Pengetahuan Dan Sikap Remaja Terhadap Kesehatan Reproduksi, Kehamilan Dan Keluarga Berencana. Jurnal Penelitian UNIB. Vol. 9. No.2.Juli 2003. 109-114.
PKBI DIY. 2009. Laporan Kasus IMS Bulan April-Agustus Tahun 2009 Klinik Griya Lentera. Yogyakarta : PKBI Yogyakarta.
Ratnawati R. 2002. Perilaku Waria Pekerja Seks Komersial (PSK) Dalam Upaya Penanggulangan Penyakit Menular Seksual (PMS) Dan AIDS Di Kota Madiun Tahun 2002. [Skripsi] Surabaya: Fakultas Kesehatan Masyarakat Unair.
Triningsih AH. 2006. Analisis Jaringan Komunikasi Mengenai Kesehatan Seksual Kaum Gay di Yogyakarta. [Skripsi] Yogyakarta: Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UPN.
Somantri A dan Muhidin S. 2006. Aplikasi Statistika Dalam Penelitian. Bandung : Pustaka Setia.
Supraptiknya A. 1995. Mengenal Perilaku Abnormal. Yogyakarta : Kanisius.
Suswardana. et,al. 2007. Infeksi Menular Seksual Pada Komunitas Waria di Yogyakarta: Kajian Terhadap Berbagai Faktor Risiko Tingginya Prevalensi HIV. Medica jurnal. Vol 33. No 7.Juli 2007. 443-444.
Zohra dan Raharjo.1999. Kesehatan Reproduksi Panduan bagi Perempuan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

0 Response to "Info, latar belakang, dan faktor penyebab homoseksual"

Posting Komentar