Inilah faktor mempengaruhi perkembangan manusia

perkembangan manusia

Dalam kehidupan pada setiap orang-orang memiliki perbedaan individual. Perbedaan-perbedaan tersebut akan mempengaruhi perkembangan dan hasil perkembangan. Sebagai contoh, manusia bisa berbeda dalam jenis kelamin, tinggi dan berat badan, kesehatan dan tingkat energi, inteligensi, kepribadian, temperamen, dan reaksi emosional. Konteks di mana seseorang tinggal juga berbeda, seperti rumah, masyarakat tempat kita tinggal, hubungan yang kita punya, jenis sekolah yang dimasuki, serta cara seseorang menggunakan waktu luang.

Mengapa satu orang dapat berbeda dari orang yang lain? Jawabannya adalah karena perkembangan bersifat kompleks dan faktor-faktor yang mempengaruhi tidak dapat selalu diukur secara tepat atau bahkan ditemukan. Ilmuwan sekalipun tidak dapat menjawab pertanyaan itu sepenuhnya. Bagaimanapun, para ilmuwan belajar banyak tentang apa yang orang butuhkan untuk berkembang secara normal, bagaimana mereka bereaksi terhadap berbagai pengaruh yang ada di luar dan di dalam dirinya, serta bagaimana mereka dapat mencapai potensi mereka sebaik-baiknya. 

Berikut ini akan dipaparkan sejumlah faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan seseorang.

1. Herediter, Lingkungan, dan Kematangan
Salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan seorang anak adalah faktor herediter. Tentu Anda masih ingat apa yang dimaksud dengan faktor tersebut pada saat kita membicarakan kontroversi nature dan nurture. Selanjutnya, pengaruh yang lain datang dari lingkungan dalam (inner) dan lingkungan luar (outer), yaitu dunia di luar diri seseorang mulai dalam rahim hingga pembelajaran yang berasal dari pengalaman.

Perbedaan individual meningkat sejalan dengan bertambahnya usia. Banyak perubahan yang khas pada bayi dan kanak-kanak awal, seperti kemampuan berjalan dan bicara, yang umumnya berhubungan dengan kematangan tubuh dan otak. Sejalan anak tumbuh menjadi remaja dan dewasa, perbedaan individual dalam karakteristik bawaan dan pengalaman hidup memainkan peran yang lebih besar.

Proses-proses yang akan dilalui oleh setiap orang bervariasi dalam tempo dan waktu. Meskipun dalam modul-modul selanjutnya kita akan berbicara tentang milestones atau tanda-tanda perkembangan yang terkait pada usia tertentu, usia tersebut semata-mata merupakan rata-rata untuk terjadinya peristiwa tertentu. Misalnya, anak rata-rata mampu berjalan pada usia 12 bulan dan berbicara pada usia 14 bulan. Namun, apabila terjadi penyimpangan yang sangat ekstrim dari rata-rata yang ada, kita harus mulai mempertimbangkan bahwa “ada sesuatu” yang terjadi pada perkembangan anak tersebut.

Dalam upaya untuk memahami perkembangan manusia, kita perlu mempertimbangkan bagaimana faktor herediter dan lingkungan berinteraksi. Kita perlu memahami perkembangan mana yang sangat dipengaruhi oleh kematangan dan mana yang tidak. Kita perlu mengetahui hal-hal yang mempengaruhi sebagian besar orang pada usia atau waktu tertentu berdasarkan sejarah. Juga hal-hal yang mempengaruhi orang secara individual. Selanjutnya, kita juga perlu melihat bagaimana faktor waktu dapat mempengaruhi perkembangan dalam kehidupan seseorang.

2. Konteks Perkembangan
Manusia adalah makhluk sosial. Sejak awal, mereka berkembang dalam konteks sosial. Secara umum, konteks yang langsung berhubungan dengan seorang bayi adalah keluarga. Pada gilirannya, keluarga adalah bagian dari pengaruh perubahan yang lebih besar, yang meliputi lingkungan tempat tinggal dan masyarakat luas.

a. Keluarga
Ada dua bentuk susunan keluarga yang umum ditemukan, yaitu nuclear-family dan extended-family. Nuclear-family atau keluarga inti/keluarga batih dapat diartikan sebagai unit rumah tangga yang terdiri dari satu atau dua orang tua dan anak-anak mereka, baik anak biologis, anak adopsi, atau anak tiri. Bentuk keluarga seperti ini dominan di dalam masyarakat Barat. Extended-family atau keluarga besar merupakan jaringan hubungan multigenerasi yang terdiri dari kakek-nenek, paman-bibi, sepupu, dan saudara-saudara yang lebih jauh hubungannya. Bentuk keluarga seperti ini merupakan bentuk keluarga tradisional dan banyak ditemukan dalam masyarakat.

Dengan makin banyaknya orang tua yang bekerja di luar rumah, anak-anak menerima lebih banyak pengasuhan dari sanak keluarga, bahkan dari orang yang tidak ada hubungan keluarga sama sekali, misalnya pembantu atau pengasuh anak. Jika orang tua bercerai, anak mungkin akan tinggal dengan salah satu dari orang tua atau mungkin berpindah mondar-mandir antara rumah kedua orang tuanya. Rumah tangga mungkin pula akan meliputi orang tua tiri dan saudara tiri. Kesemuanya itu tentu akan berpengaruh pada perkembangan seseorang.

b. Status sosial-ekonomi dan lingkungan tempat tinggal
Status sosialekonomi keluarga didasarkan pada pendapatan dan pendidikan keluarga, serta tingkat pekerjaan orang dewasa dalam rumah tangga. Sekalipun banyak penelitian menunjukkan bahwa status sosial ekonomi mempengaruhi proses perkembangan (seperti interaksi verbal ibu dengan anak-anaknya) dan hasil-hasil perkembangan (seperti kesehatan dan performa kognitif), pengaruh tersebut terhadap proses-proses ini bersifat tidak langsung. Status sosial ekonomi yang rendah biasanya dihubungkan dengan lingkungan tempat keluarga tinggal serta kualitas dari nutrisi, perawatan kesehatan, dan sekolah yang tersedia untuk mereka.

Kemiskinan, khususnya untuk jangka waktu yang lama, berpengaruh buruk terhadap kesejahteraan fisik, kognitif, dan psikososial anak dan keluarga. Anak dari keluarga miskin lebih rentan untuk memiliki masalah emosi dan tingkah laku. Perkembangan kognitif serta performa sekolah mereka juga lebih buruk. Sekali lagi, pengaruh buruk yang ditimbulkan oleh kemiskinan bersifat tidak langsung. Pengaruh buruk timbul akibat keadaan emosi orang tua serta praktek pengasuhan yang dilakukan orang tua terhadap anak. Bagaimanapun, perkembangan yang positif tetap dapat berlangsung pada anak-anak yang tumbuh dalam kemiskinan.

Tidak hanya kemiskinan, anak-anak yang berasal dari keluarga berada juga memiliki risiko terhadap pengaruh negatif dari status sosial ekonomi orang tuanya. Adanya tekanan untuk berprestasi dan seringnya mereka ditinggal oleh orang tua dengan kesibukan orang tua meningkatkan angka penyalahgunaan obat-obatan, kecemasan, dan depresi pada anak-anak.

Status sosial-ekonomi membatasi pilihan tempat tinggal keluarga. Para peneliti mempelajari bagaimana komposisi lingkungan tempat tinggal dapat mempengaruhi perkembangan seorang anak. Tinggal dalam lingkungan yang miskin dengan sejumlah besar pengangguran dapat membuat anak kurang memiliki dukungan sosial yang efektif.

c. Budaya dan ras/kelompok etnik
Budaya mengacu pada keseluruhan cara hidup dari masyarakat atau kelompok meliputi adat, tradisi, belief (keyakinan), nilai, bahasa, dan produk-produk fisik dari alat hingga karya seni. Semua tingkah laku tersebut dipelajari dan diwariskan pada anggota-anggota kelompok masyarakat di budaya tersebut. Dalam keluarga, nilai-nilai biasanya diwariskan oleh orang tua kepada anak-anaknya.

Budaya secara konstan berubah. Perubahan ini sering terjadi karena adanya kontak dengan budaya lain. Sebagai contoh, ketika orang Eropa sampai ke tanah Amerika, mereka segera belajar dari orang asli Indian tentang bagaimana caranya menanam jagung. Perkembangan komputer dan telekomunikasi semakin makin meningkatkan kontak budaya. Di Indonesia, kita juga dapat melihat pengaruh budaya Tionghoa pada budaya Betawi dalam hal kosakata, pakaian, kesenian, dan arsitektur.

Kelompok etnik terdiri dari orang-orang yang dipersatukan oleh keturunan/nenek moyang, agama, bahasa, dan atau oleh daerah asal, yang menyumbang pada perasaan berbagi identitas serta berbagi sikap, belief, dan nilai-nilai di antara mereka. Kebanyakan kelompok etnik memiliki akar yang sama, di mana mereka atau nenek moyang mereka berbagi budaya dan hal ini berlanjut mempengaruhi cara hidup mereka selanjutnya. Pola etnik dan budaya mempengaruhi perkembangan dalam hal komposisi rumah tangga, sumber-sumber sosial dan ekonomi, cara anggota-anggotanya bertindak satu sama lain, makanan yang dimakan, permainan yang anak mainkan, cara anak belajar, seberapa baik anak melakukan hal-hal yang berhubungan dengan sekolah, pekerjaan yang dipilih orang dewasa, serta cara anggota keluarga berpikir dan memandang dunia.

d. Konteks historis
Konteks historis merupakan bagian penting dari studi perkembangan. Konteks ini berkaitan dengan rentang waktu di mana seseorang hidup, dan penelitian saat ini mulai difokuskan pada pengaruh pengalaman tertentu, yang terikat pada waktu dan tempat, terhadap perjalanan hidup seseorang.

3. Pengaruh Normatif dan Nonnormatif
Masih ingatkah Anda apa yang terjadi saat Anda berusia antara 11 dan 13 tahun? Apakah pada saat itu mulai ada tanda-tanda pubertas? Bagi Anda yang perempuan, apakah Anda saat itu sudah mengalami menstruasi pertama? Bagi Anda yang laki-laki, apakah sudah mengalami mimpi basah? Pada usia berapa Anda masuk sekolah dasar? Pernahkah Anda mendapat undian berhadiah jutaan rupiah?

Untuk memahami kemiripan dan perbedaan dalam perkembangan, kita perlu melihat pengaruh normatif, yaitu kejadian-kejadian biologis atau yang berhubungan dengan lingkungan yang mempengaruhi sebagian besar orang di dalam masyarakat dalam cara yang serupa.

Pengaruh normatif terbagi dua, yaitu normative age-graded influences dan normative history-graded influences. Pengaruh normative age-graded sangat mirip untuk orang-orang pada kelompok usia tertentu. Mencakup di dalamnya adalah waktu dari kejadian biologis yang dapat diramalkan dalam rentang yang normal, misalnya usia saat menstruasi pertama atau usia dicapainya menopause. Untuk waktu dari kejadian yang berhubungan dengan lingkungan dapat dicontohkan dengan usia masuk sekolah yang kurang lebih sama, yaitu antara usia 6 - 7 tahun atau usia pensiun seseorang yang umumnya merentang dari usia 55 hingga 65 tahun.

Normative history-graded influences merupakan kejadian lingkungan yang signifikan yang membentuk tingkah laku dan sikap dari sebuah kohort usia atau tingkah laku dan sikap dari generasi historikal. Kohort adalah sekelompok orang yang lahir pada waktu yang sama, misalnya orang-orang yang lahir pada tahun 60-an merupakan orang-orang yang berada dalam satu kohort. Sementara generasi historikal adalah kelompok orang-orang yang mengalami perubahan hidup yang sama pada waktu tertentu dalam kehidupan mereka, misalnya demam gaya tari breakdance populer untuk anak-anak muda pada tahun 80-an.

Selain pengaruh yang sifatnya normatif, ada pula pengaruh yang sifatnya nonnormatif (nonnormative influences). Pengaruh-pengaruh tersebut berupa kejadian-kejadian yang tidak biasa, yang mempunyai pengaruh besar pada kehidupan seseorang karena kejadian tersebut mengganggu urutan siklus hidup yang „normal‟. Di dalamnya meliputi kejadian khusus yang terjadi pada waktu yang tidak tepat, misalnya mengalami menstruasi pertama di usia 8 tahun atau menikah di usia belasan, maupun kejadian-kejadian yang tidak biasa, seperti bencana alam ataupun memenangkan undian.

4. Pengaruh Waktu: Periode Sensitif atau Kritis
Periode kritis adalah waktu tertentu ketika munculnya suatu kejadian ataupun ketidakhadiran suatu kejadian mempunyai pengaruh khusus pada perkembangan seseorang. Sebagai contoh, kejadian yang berlangsung pada saat kehamilan. Jika ibu yang hamil terkena sinar X, memakan obat-obatan tanpa konsultasi dengan dokter kandungan, atau mengalami penyakit tertentu pada waktu-waktu tertentu selama kehamilan, bayinya dapat berisiko mengalami masalah tertentu kelak. Periode kritis juga terjadi di awal masa kanak-kanak. Seorang anak yang kurang mendapatkan pengalaman tertentu selama periode kritis dapat menunjukkan hambatan dalam perkembangannya.

Konsep periode kritis sebenarnya mendatangkan kontroversi. Mengapa? Karena banyak aspek perkembangan manusia, bahkan dalam domain fisik, menunjukkan plasticity, atau kemampuan untuk memodifikasi performa. Sebagai contoh, anak yang selama usia kanak-kanak awal tidak distimulasi oleh orang tua dalam kegiatan-kegiatan yang mengarah pada kemampuan menulis dan membaca (misalnya kegiatan mewarnai, menarik garis, mengenal bangun-bangun geometri yang berbeda), mungkin akan mengalami hambatan dalam kemampuan-kemampuan menulis dan membaca ketika ia mulai bersekolah di sekolah formal, namun hal ini dapat diperbaiki dengan mengikutsertakan anak dalam terapi remedial.


Referensi:

Papalia, D.E., Olds, S.W., & Feldman, R.D. (2009). Human Development. 11th Ed. New York: McGraw-Hill Companies, Inc.
Parke, R.D. & Gauvain, M. (2009). Child Psychology: A Contemporary Viewpoint. 7th ed. Singapore: McGraw-Hill.

0 Response to "Inilah faktor mempengaruhi perkembangan manusia"

Posting Komentar