Makna, fungsi, dan faktor berkaitan dengan vihara

vihara
Vihara adalah rumah pemujaan bagi dewa, dewi, atau arwah orang-orang suci, arwah pahlawan, arwah leluhur, bahkan barang-barang yang disucikan seperti pedang, jangkar, dan lain-lain. Kadang-kadang juga patung dari penguasa hutan, gunung, laut, juga binatang tertentu seperti macan, naga, dan lain-lain.

Dewa dan dewi yang dimaksud ada umumnya merupakan tokoh-tokoh yang diceritakan pada buku Si Yu Ci (Xi Youji), yaitu riwayat pendeta Tong Sam Cong (Tong Xuan Zang ) yang dikawal oleh Sun Go Kong (Sun Wu Kong), Cu Pat Ce (Zhu Bajie ), dan Sasen (Shaseng) ke arah barat mengambil kitab suci Buddha. Dewa dan dewi yang disembah antara lain Kwan Im (Guan Yin) sebagai Dewi Pengasihan, Toa Pek Kong (Da Bogong) sebagai Dewa Pengawal Kota. Delapan dewa yang mengajarkan kebaikan yaitu Han Tang Kung sebagai Dewa Obat/ Dewa Pengobatan yang dapat menyembuhkan penyakit, dan dewa-dewi lainnya.

Makna ornamen vihara
Ornamen tidak hanya dimanfaatkan untuk menghias suatu benda fungsional, tetapi juga sebagai elemen penting dalam karya seni. Dalam perkembangan selanjutnya, penciptaan karya seni ornamen tidak hanya dimaksudkan untuk mendukung keindahan suatu benda, tetapi lebih jauh disertai dengan semangat kreativitas seniman.

Ornamen pada bangunan vihara sering menggambarkan bunga, bambu yang dikombinasikan dengan binatang seperti kijang, kilin, dan kelelawar. Kelelawar bagi orang Tionghoa mempunyai makna rejeki atau berkah karena kelelawar dalam bahasa Tionghoa dialek Hokkian adalah Hok yang berarti rejeki. Gambar-gambar lambang Pat Sian juga terdapat diantara lukisan bunga dan kelelawar, kedelapan dewa ini adalah lambang keharmonisan, panjang usia dan kemakmuran. 

Ornamen naga juga sering kita jumpai pada bangunan vihara, biasanya sering terdapat pada atas atap dan tiang penyangga vihara. Naga adalah suatu makhluk mitos yang melambangkan kekuatan, keadilan, dan penjaga burung suci Selain itu hiasan naga terkadang digantikan oleh sepasang ikan naga. Ikan ini berkepala dengan bentuk Liong yang melambangkan keberhasilan setelah mengalami percobaan. Tidak hanya berupa ornamen hewan, ornamen berupa tumbuh-tumbuhan maupun ornamen panglima banyak kita lihat pada ornamen arsitektur bangunan vihara. Biasanya, jenis-jenis ornemen itu mempunyai makna rezeki, makhluk mitos, lambang supranatural, lambang keberhasilan hidup, dan lain-lain.

Fungsi ornamen vihara
Penciptaan suatu karya biasanya selalu terkait dengan fungsi tertentu. Demikian pula halnya dengan karya seni ornamen yang pencitaan selalu terkait dengan fungsi atau kegunaan tertentu pula. Fungsi adalah kegunaan suatu hal, dalam arti lain yaitu peran sebuah unsur dalam suatu objek. Fungsi ornamen pada vihara biasanya berupa simbol religi atau keagamaan, simbolik, ritual keagamaan, dan identitas budaya. Selain itu kebanyakan fungsi ornamen vihara sebagai ragam hias atau estetika yang menunjang keindahan bangunan vihara sehingga bangunan vihara tersebut terlihat indah dan menarik bagi siapapun yang melihat.

Faktor berhubungan dengan vihara
Ornamen merupakan salah satu bentuk ekspresi kreatif manusia zaman dahulu. Ornamen dipakai untuk mendekorasi badan, dipahat pada kayu,tembikar-tembikar, hiasan pada baju, alat-alat perang, bangunan, serta benda bangunan seni lainnya. Jenis maupun peletakan ornamen vihara ataupun klenteng pada umumnya sudah ditentukan sesuai dengan maknanya. Seperti bagian atas altar terkadang digantungkan panji-panji pujian bagi dewa yang bersangkutan, di sisi kanan kiri digantungkan papan/kain bertuliskan puji-pujian. Di depan altar biasanya ditutup oleh secarik kain sutra merah yang disulam aneka pola misalnya: naga, delapan Hyang Abadi, burung hong dan sebagainya.

Ornamen pada pintu bangunan vihara seringkali menggambarkan bunga, bambu yang dikombinasikan dengan binatang seperti kijang, kilin, dan kelelawar. Gambar-gambar lambang Pat Sian juga terdapat diantara lukisan bunga dan kelelawar, kedelapan dewa ini adalah lambang keharmonisan, panjang usia dan kemakmuran. Dewa-dewa dari Pat Sian juga dianggap pelindung berbagai profesi, misalnya: Han Siang Cu melambangkan pelindung tukang ramal, Co Kok Kiu melambangkan pelindung pemain sandiwara dan lain-lain. Pada dinding sering dijumpai lukisan dewa-dewa atau cerita bergambar pendek seperti: cerita Sam Kok, novel Hong Sin, pengadilan Siam Lo Ong di akhirat dan lain-lain.

Di atas atap bangunan vihara selalu ditempatkan sepasang naga yang dibentuk dari pecahan porselen dalam kedudukan saling berhadapan untuk berebut sebuah mutiara. Pada bagian atap bangunan vihara yang lain kadang dihiasi sepasang naga mengapit Houw Lo, yaitu buah labu yang telah kering sebagai tempat air/arak. Houw Lou tidak dapat dipisahkan dari bekal para dewa, sehingga dianggap mempunyai kekuatan gaib untuk menjaga keseimbangan Hong Shui dan menangkal hawa jahat.

Naga/Liong (bahasa Hokkian) adalah suatu makhluk mitos yang melambangkan kekuatan, keadilan, dan penjaga burung suci. Naga adalah hasil paduan khayalan dari berbagai hewan seperti: berkepala unta, bermata kelinci, berbadan ular, bertanduk rusa, berpaha harimau, bercakar rajawali, bersisik ikan. Selain itu hiasan naga kadang digantikan oleh sepasang ikan naga di atas atap tersebut. Ikan ini berkepala dengan bentuk naga/Liong yang melambangkan keberhasilan setelah mengalami berbagai masalah.

Ornamen pada tiang penyangga sering berupa dewa, panglima perang, tumbuh-tumbuhan, bunga, gajah, kilin, naga, dan lain-lain. Gajah biasanya digunakan untuk melambangkan roh para dewa binatang.

Makna yang terkandung pada ornamen-ornamen dalam sebuah vihara tidak akan terlepas hubungannya dengan faktor/segi kehidupan manusia sehari-hari. Bila dikaitkan dalam hubungannya dengan vihara, maka terdapat tiga faktor yang mempengaruhinya. 

1. Ornamen sebagai seni dalam kebudayaan
Ada tujuh unsur kebudayaan yang meliputi bahasa, sistem teknologi, sistem mata pencaharian, organisasi sosial, sistem pengetahuan, religi, dan kesenian. Dari ketujuh unsur tersebut bila dikaitkan hubungannya dengan ornamen maka ornamen termasuk dalam unsur kesenian. Ornamen sebagai seni dalam suatu kebudayaan merupakan segala ekspresi hasrat manusia akan keindahan, dan keindahan itu sendiri adalah suatu konsep abstrak yang dapat dinikmati melalui konteks tertentu.

2. Ornamen sebagai simbol-simbol religi suatu budaya
Memahami ornamen sebagai simbol-simbol budaya dan religi, sangat terkait dengan kontekstual masyarakat dan kebudayaan sendiri. Kebudayaan adalah sebuah pola dari makna-makna yang tertuang dalam simbol-simbol yang diwariskan melalui sejarah. Kebudayaan adalah sistem dari konsep-konsep yang diwariskan, dituangkan, dan diungkapkan dalam bentuk-bentuk simbolik melalui manusia berkomunikasi, mengekalkan dan mengembangkan pengetahuan tentang kehidupan ini. Simbol dianggap terbentuk melalui dinamisasi interaksi sosial yang diberikan turun-temurun secara historis dan berisikan nilai-nilai acuan, dan memberikan petunjuk bagaimana masyarakat tertentu berperilaku dalam menjalani hidup.

Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa satu sistem simbol merupakan segala sesuatu yang memberikan ide kepada seseorang, di mana seseorang berangkat dari sebuah ide, dan simbol-simbol menciptakan perasaan dan motivasi kuat, mudah menyebar dan tidak mudah hilang dalam diri seseorang. Agama sebagai motivasi yang menyebabkan orang merasakan dan melakukan sesuatu, motivasi ini dibimbing oleh seperangkat nilai-nilai. Inilah yang memberikan batasan yang baik atau buruk, apa yang penting, apa yang benar atau salah bagi dirinya.

3. Ornamen sebagai ideologi
Ornamen dalam hubungannya dengan ideologi biasanya berkaitan dengan hal-hal yang bersifat mitos. Mitos oleh manusia dipakai sebagai media komunikasi guna memenuhi kebutuhan non fisik. Mitos memberikan pemahaman sesuatu diluar kemampuan manusia untuk memahami suatu fakta yang terjadi, hal semacam ini sering dijumpai pada ornamen-ornamen yang menceritakan tentang asal mula kehidupan manusia. Mitos merupakan uraian naratif sesuatu yang sakral, yaitu kejadian-kejadian yang luar biasa di luar pikiran manusia dan mengatasi pengalaman sehari-hari manusia, dari hal ini bisa didapat makna sesungguhnya dari ornamen sendiri. Disamping itu ornamen juga dapat disebut sebagai alat komunikasi tradisional yang tak langsung sebagai salah satu cara dalam berhubungan dengan sesama maupun dengan penguasa alam semesta.

0 Response to "Makna, fungsi, dan faktor berkaitan dengan vihara"

Posting Komentar