Asal usul sejarah keris dan daya magisnya

Keris pusaka
Keris merupakan warisan budaya Nusantara dan Melayu sehingga keris bukan hanya identik dengan budaya Jawa. Keris lazim pula dipakai oleh orang di Riau, Bugis dan Bali sebagai pelengkap busana mereka, lebih jauh keris juga ditemukan dalam kebudayaan di negara-negara Asia Tenggara lain seperti di Malaysia, Brunai, Philipina Selatan, Singapura dan Thailand. Keris digunakan untuk mempertahankan diri (misalnya sewaktu bersilat) dan sebagai alat kebesaran diraja. Senjata ini juga merupakan lambang kedaulatan orang Melayu. Keris yang paling masyhur ialah keris Taming Sari yang merupakan senjata Hang Tuah, seorang pahlawan Melayu yang terkenal. 

UNESCO, sebuah badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menangani kebudayaan, dalam sidangnya di Paris, 25 November 2005 telah menetapkan keris sebagai warisan budaya dunia yang berasal dari Indonesia. Hal ini memberi predikat sangat istimewa bagi keris Indonesia (keris Jawa dan Bali). Dana internasional pun mengalir masuk untuk kepentingan pelestarian keris. Bangsa Indonesia memiliki tanggung jawab untuk melestarikan keris. Apabila di kemudian hari hasil pengawasan UNESCO menunjukkan bahwa bangsa kita tidak mampu melestarikan artefak budaya ini, bukan tak mungkin bahwa klaim Indonesia akan keris bisa dibatalkan. Negara-negara lain bisa saja memenangkan klaim tersebut.

Sejarah senjata keris
Banyak pendapat dan teori mengenai sejarah keris. Teori pertama seperti yang dikemukakan G.B. Gardner dalam bukunya “Keris and Other Malay Weapons” (1936). Gardner menganggap keris sebagai perkembangan lanjut dari jenis senjata tikam zaman prasejarah yang terbuat dari tulang ikan pari. Mengingat bahwa keris kuno zaman purba memang berwujud sederhana menyerupai duri ikan pari (ekor pari) yang lazim disebut keris Bethok. Namun pendapat ini belum sepenuhnya bisa diterima mengingat perkembangan keris beserta pembuatannya berkembang di kawasan yang jauh dari kawasan pesisir sehingga relasi dengan ikan pari sedikit diragukan.

Pendapat berikutnya berasal dari Griffith Wilkens, yakni keris merupakan penyederhanaan dari senjata tombak dan baru muncul pada sekitar abad XIV-XV. Tombak lebih sulit dibawa sehingga mata tombak dilepas dan diberi alat pegang yang lebih pendek (handle) supaya mudah dibawa-bawa .

Terlepas dari banyaknya pandangan dan teori tentang asal usul keris, penelitian arkeologi menunjukkan bahwa keris telah dikenal oleh orang Jawa sejak abad 5 Masehi. Hal ini dibuktikan dari adanya relief-relief pada candi dan prasasti-prasasti yang ditemukan dan diperkirakan berasal dari abad tersebut. Dalam relief candi Borobudur, tepat di bawah bagian Tenggara, tergambar beberapa prajurit membawa senjata tajam yang meyerupai keris. Hal ini menunjukkan bahwa keris Jawa telah ada sejak masa dimana candi-candi tersebut didirikan. Keris yang berasal dari Kepulauan Jawa dan keris purba telah digunakan antara abad ke-9 dan abad ke-14. Senjata ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu bilahan, deder (pegangan) dan warangka (sarung). Keris sering dikaitkan dengan kuasa mistik oleh orang Jawa pada zaman dahulu.

Seiring berpindahnya kekuasaan kerajaan ke Jawa Timur, tradisi pembuatan keris mengalami perkembangan yang signifikan. Pada zaman kerajaan-kerajaan seperti Kahuripan, Jenggala, Daha dan Singosari (abad X-XIII), keris-keris yang dihasilkan jauh lebih berkualitas daripada masa Mataram kuno. Keris yang dibuat pada zaman Jenggala terkenal dengan kualitas besinya yang bagus dan penempaan pamornya yang prima. Saat ini keris tangguh Jenggala-Singosari menjadi buruan para kolektor karena nilai artistiknya yang sangat tinggi. Ketika kerajaan terbesar muncul, yaitu Majapahit, kebudayaan keris pun tersebar ke seluruh wilayah Nusantara dan Asia Tenggara. Pada masa inilah diduga kebudayaan keris tersebar luas hingga ke kawasan yang sekarang ini disebut Negri Jiran, seperti Malaysia, Brunei, Thailand, Philipina dan Kamboja.

Pada tahap berikutnya pembuatan keris mengalami masa keemasan yaitu pada masa pecahnya Mataram menjadi Surakarta dan Yogyakarta. Pada masa ini terjadi eksplorasi-eksplorasi baru, beragam dapur dan pamor serta pernak pernik keris menjadi sangat dominan. Di samping bentuknya yang lebih besar dari keris-keris masa sebelumnya, pemilihan kualitas bahan juga semakin selektif baik bahan pamor maupun bahan untuk bilahannya. Sekalipun pada zaman ini keris mengalami puncak prestasinya, namun ada hal yang mulai hilang yaitu peranan keris sebagai “piandel” sebagai senjata baik lahiriah maupun bathiniah. 

Pada masa ini keris lebih diperuntukkan sebagai alat pelengkap seremonial, lambang jabatan maupun status sosial. Di kalangan masyarakat Jawa Tengah pada umumnya untuk suatu perhelatan tertentu, misalnya pada upacara perkawinan, para kaum prianya harus mengenakan busana Jawi jangkep (busana Jawa lengkap). Kewajiban itu harus ditaati terutama oleh mempelai pria, yaitu harus menggunakan/memakai busana pengantin gaya Jawa yaitu berkain batik, baju pengantin, tutup kepala (kuluk) dan juga sebilah keris diselipkan di pinggang. Mengapa harus keris? Karena keris itu oleh kalangan masyarakat di Jawa dilambangkan sebagai simbol kejantanan. Terkadang apabila karena suatu sebab pengantin prianya berhalangan hadir dalam upacara temu pengantin, maka ia diwakili sebilah keris.

Daya magis keris pusaka
Keberadaan daya magis keris pusaka atau sering diistilahkan sebagai daya isoteri keris pusaka1 dalam kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jawa mungkin berada pada paparan ada dan tiada. Daya magis keris memang sulit untuk dibuktikan secara nyata, namun hal yang bisa dilihat kasat mata dan dapat dibuktikan ialah reaksi masyarakat terhadap keberadaan hal yang sebenarnya sulit dibuktikan ini.

Masyarakat menanggapi daya isoteri keris pusaka dengan berbagai macam reaksi, mulai dari takut, ngeri, penasaran bahkan sampai antipati. Reaksi-reaksi inilah yang nampak nyata. Reaksi takut akan lazim muncul terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak diketahui dengan pasti. Rasa takut bisa mengarah pada sikap hati-hati namun tak jarang rasa takut membuat orang menjauhi sesuatu.

Daya magis keris telah menjadi bagian dari mitos-mitos sejarah yang berkembang di masyarakat, terutama masyarakat Jawa. Mulai dari cerita-cerita pewayangan, cerita-cerita kethoprak  (babad tanah Jawa), lakon-lakon ludruk (cerita-cerita khas Jawa Timur) sampai pada cerita-cerita silat klasik dan cerpen (cerita pendek) misteri. Tayangan mini seri di televisi serta program-program acara mistis televisi-televisi swasta tak ketinggalan menampilkan tokoh-tokoh yang membawa keris dan memancarkan daya magis.

Sejarah pun mencatat peranan daya magis keris dalam kehidupan tokoh-tokoh di dalamnya. Dalam perang Diponegoro (1825 - 1830), sang pangeran dari Tegal Rejo ini selalu membawa keris pusaka Kyai Carang Mayit dengan cara diselipkan di pinggangnya. Bila keris tersebut menebarkan bau amis, maka pasukan Diponegoro bakal unggul dalam palagan. Namun bila tercium bau bunga melati dari keris itu, maka akan banyak jatuh korban di pihak pasukan Jawa. Tokoh-tokoh perjuangan kemerdekaan juga tak ketinggalan menggunakan keris pusaka sebagai senjata andalan dalam melawan penjajah.

Jenderal Besar Soedirman membawa (menyengkelit) keris pusaka di balik mantelnya. Dalam konteks ini, keris bukanlah senjata untuk menentang Belanda, melainkan sebagai artefak yang diyakini membuat orang yang menyandangnya menjadi lebih berani dan kelihatan lebih berwibawa. Bagi masyarakat kota Surabaya, sudah tak asing lagi dengan potret hitam putih Bung Tomo (Sutomo) yang sedang membakar semangat arek-arek Suroboyo dalam pertempuran 10 November. Dalam foto itu jelas terlihat Bung Tomo menyelipkan keris pusaka di bagian pinggangnya. Hal demikianlah yang menyebabkan keberadaan keris beserta kepercayaan akan daya magis di dalamnya melekat erat dan hidup di alam berpikir masyarakat.
 
Sedikit sekali informasi faktual yang diperoleh lewat karya-karya mengenai keris pusaka. Dalam berbagai literatur yang ada daya magis keris hanya lewat begitu saja. Dalam karya-karya literatur yang ada tidak banyak ditemukan pernyataan-pernyataan yang jelas mengenai keberadaan daya magis keris pusaka. Para penulis hanya berkutat pada sejarah dan cerita-cerita mistis saja tanpa mengungkap lebih dalam hal-hal yang justru bersifat esensial mengenai daya magis keris pusaka. Contoh hal yang esensial misalnya bagaimanakah sebilah keris pusaka mampu mempengaruhi sikap dan tindakan pengagemnya atau pengaruh-pengaruh apa saja yang dapat ditimbulkan oleh daya magis sebilah keris pusaka.

Keris pusaka atau tombak pusaka yang merupakan pusaka unggulan itu keampuhannya bukan saja karena dibuat dari unsur besi baja, besi, nikel, tetapi juga dicampur dengan unsur batu meteorid yang jatuh dari angkasa sehingga kokoh kuat. Cara pembuatannya juga disertai dengan iringan doa kepada Sang Maha Pencipta Alam (Tuhan) dengan suatu upaya spiritual oleh Sang Mpu, sehingga kekuatan spiritual Sang Maha Pencipta Alam itu pun dipercaya terinduksi ke dalam bilah keris pusaka tersebut. Keris pusaka itu dipercaya mengandung tuah yang dapat mempengaruhi baik si pengagem pusaka itu sendiri maupun orang-orang di sekitarnya. Sebagai contoh, seringkali ada dugaan bahwa usaha dagang seorang pengagem keris pusaka berhasil karena pengaruh daya magis keris pusakanya membuat atau mempengaruhi orang-orang yang berhubungan dengan usahanya.

Keris yang dipakai untuk kelengkapan busana pengantin pria khas Jawa sangat menarik hati. Keris itu dihiasi dengan untaian bunga mawar dan melati yang dikalungkan pada hulu batang keris. Ternyata itu bukan hanya sekedar hiasan, melainkan mengandung makna untuk mengingatkan orang agar jangan memiliki watak beringas, emosional, pemarah, adigangadigung-adiguna, sewenang-wenang dan mau menangnya sendiri seperti watak Arya Penangsang. Kaitannya dengan Arya Penangsang ialah saat ia berperang melawan Danang Sutawijaya, karena Penangsang pemarah, emosional, tidak bisa menahan diri, perutnya tertusuk tombak Kyai Plered yang dihujamkan oleh Sutawijaya. Usus keluar dari perutnya yang robek. Dalam keadaan ingin balas dendam dengan penuh kemarahan Penangsang yang sudah kesakitan itu mengalungkan ususnya ke hulu keris di pinggangnya. Ia terus menyerang musuhnya. Pada suatu saat Penangsang akan menusuk lawannya dengan keris Kyai Setan Kober di bagian pinggang, begitu keris dihunus, ususnya terputus oleh mata keris pusakanya. Arya Penangsang mati dalam perang dahsyat yang menelan banyak korban.

Tosan aji atau senjata pusaka seperti tombak, keris dan lain-lain itu bisa menimbulkan rasa keberanian yang luar biasa kepada pemilik atau pembawanya. Orang menyebut itu sebagai piandel, penambah kepercayaan diri.

Para priyayi Jawa masih meyakini bahwa keris pusaka tersebut malati, artinya apabila tidak dirawat dengan baik atau tidak diperlakukan dengan hormat bisa mendatangkan kutukan. Dari kesaksian seorang informan yang memiliki keris pusaka warisan orang tua, mendeskripsikan hal tersebut di atas dalam sebuah rangkaian peristiwa. Ibu Winarsih, seorang priyayi Jawa yang tinggal di wilayah Sidoarjo mengisahkan peristiwa yang berhubungan dengan pemahaman bahwa keris pusaka dapat mendatangkan kutukan bila tidak diperlakukan sebagaimana mestinya. Keris milik keluarga Ibu Winarsih, menurut yang bersangkutan telah dipesankan oleh orang tuanya agar tidak diletakkan/ditempatkan di ruang tamu atau ruang dimana orang luar (bukan keluarga) dapat melihatnya.

Meminjam istilah yang dipakai Ibu Winarsih; keris pusaka tersebut tidak suka dipamerkan. Suatu ketika keris tersebut secara tidak sengaja, tanpa disadari ataupun lupa ditempatkan menempel pada dinding ruang tamu. Setelah beberapa waktu putra Ibu Winarsih mengalami sakit. Ketika dibawa berobat ke dokter diketahui bahwa putra Ibu Winarsih tidak mengalami gangguan penyakit apapun. Kemudian Ibu Winarsih menyadari kesalahannya dan segera memindahkan keris tersebut ke ruang lain. Begitu hal tersebut dilakukan, maka kesehatan putra Ibu Winarsih berangsur membaik. Demikian kesaksian dari Ibu Winarsih ini dapat dijadikan informasi serta dapat disimpulkan bahwa priyayi Jawa masih meyakini konsep malati dari daya magis keris pusaka.


Referensi:

Al-Mudra, M. 2004. Keris dan Budaya Melayu. Yogyakarta. Balai Kajian dan Pengembanga Budaya Melayu.
Maisey, A.G. 1998. “Origin of The Keris and Its Development to the 14th Century” hlm 8-23. dlm Arrms Cavalcade, Official Journal of the Antique Arms Collectors Society of Australia Co-op Limited. 1:2 April.

0 Response to "Asal usul sejarah keris dan daya magisnya"

Posting Komentar