Fenomena keris pusaka dan daya tariknya

Senjata keris pusaka
Sebagai artifak budaya, keris adalah warisan khas kebudayaan Nusantara dan juga Melayu. Oleh karena itu, keris lazim dipakai orang di Riau, Bugis, Jawa dan Bali sebagai pelengkap busana mereka. Bahkan dalam kehidupan modern saat ini keris banyak di buru untuk dijadikan sebagai benda koleksi hingga sebagai pemenuhan kebutuhan tertentu dari sang pemiliknya.

Seiring berjalannya waktu, budaya keris kemudian menyebar ke kawasan lain di Asia Tenggara, terutama yang mempunyai asas kebudayaan Melayu, seperti Malaysia, Brunei, Filipina Selatan, Singapura dan Thailand Selatan. Keris termasuk jenis senjata tikam, namun bukan semua senjata tikam dapat disebut sebagai keris. Untuk itu, perlu dijelaskan kriteria yang harus dipenuhi sehingga layak disebut sebagai keris.

Di sisi lain keris disebut sebagai karya seni yang bernilai tinggi. Nilainya terletak pada keindahan bentuk dan bahan yang dipakai serta proses pembuatannya yang memerlukan waktu yang lama, ketekunan dan keterampilan yang khusus.

Sebagian besar orang menyebutnya sebagai senjata dan sebagian lagi menyebutnya sebagai benda berharga yang mempunyai daya magis tinggi. Namun dalam hal ini, penulis mengartikan keris sebagai senjata tikam yang berbentuk asimetris, bermata dua dan berasal dari budaya Jawa. Dari tempat asalnya, keris kemudian menyebar ke Pulau Bali, Lombok, Kalimantan, dan bahkan hingga Brunei Darussalam, Malaysia, dan Pulau Mindanao di Filipina. Dari hanya sekedar senjata tikam, keris kemudian berkembang menjadi simbol status sosial dan simbol kejantanan atau kekuasaan bagi pemiliknya.

Fenomena keris pusaka 
Pengaruh teknologi dan informasi dalam era globalisasi ini akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan budaya daerah; otomatis akan mempengaruhi kebudayaan nasional yang mengacu pada puncak budaya daerah. Kebudayaan yang merupakan kekayaan budaya nasional mulai terancam eksistensi dan esensinya. Keris sebagai kekuatan transenden dan sebagai budaya keyakinan lokal pada masyarakat mulai tergeser pada kekuatan ontologis yang mengarah pada kekuatan untuk menguasai dan mengolah budaya lokal sebagai seni komoditas, dan keris dihadapkan pada pasar. Keris yang konon sebagai lambang status kebangsawanan, kini dihadapkan budaya masa sebagai salah satu alternatif pelestarian. Keris yang konon sebagai benda bertuah dan dikeramatkan dan diyakini sebagai pusaka. Kini keris merupakan benda alternatif seolah barang dagangan siap jual dan menunggu pembelinya.

Fenomena “Keris” sebagai budaya masa atau seni populer di Indonesia, mulai terasa dan bahkan sudah menjadi tren di dalam perkembangan bisnis kesenian. Kesenian yang konon merupakan satu kebudayaan yang punya kekuatan spiritual, nilai magis, sebagai satu hiburan dan sekaligus sebagai tuntunan hidup yang diyakini kini mulai terkoyak eksistensinya. Seni rakyat mulai direkayasa sebagai satu bentuk kesenian yang mengarah pada seni komoditas, sebagai satu alternatif pemenuhan paket-paket pariwisata dengan satu atribut “identitas budaya daerah”.

Kesenian sebagai identitas budaya daerah, kesenian rakyat sebagai aset budaya daerah, kesenian sebagai aset budaya pariwisata yang diharapkan akan menambah income perkapita diharapkan mampu menambah devisa negara akan menjadikan prospek seni yang mengarah pada seni komoditas dan mengacu pada seni budaya massa.

Rekayasa arus atas akan mengancam eksistensi dan esensi seni yang sudah lama berkembang di masyarakat. Ikatan nilai sosiokultural dari arus bawah akan digeser oleh rekayasa kultural dalam berbagai alasan. Seni dijual sebagai satu rekayasa kultural komunitasnya. Kekokohan kekentalan ikatan nilai sosiokultural pada kesenian tradisi sebagai high culture terancam oleh kerakusan mass kultur yang semakin menjanjikan segala impian.

Persoalan yang dianggap paling mendasar dalam konteks ini adalah bagaimana memaknai keris yang tidak sekedar sebagai komoditas ekonomi semata tetapi bagaimana relasinya dengan masalah sosial dan perkembangan budaya di komunitas masyarakat itu sendiri. Pada bagian lain keris juga dianggap mampu memetakan status sosial tertentu bagi komunitas masyarakat.

Berangkat dari konsep wujud budaya yang disampaikan oleh Koentjaraningrat bahwa wujud budaya dapat berupa gagasan atau ide (Cultural Knowledge), wujud perilaku (Cultural Behavior) dan wujud hasil perilaku (Cultural Artefact), maka keberadaan daya magis keris pusaka ini merupakan sebuah manifestasi atau perwujudan dari sebuah budaya. Ide atau gagasan mengenai daya magis keris pusaka ini kiranya tidak dapat dipisahkan dari perwujudan yang lainnya seperti perilaku para pengagem keris pusaka, misalnya melakukan ritual-ritual yang berhubungan dengan keyakinan mereka akan adanya daya magis dalam sebilah keris pusaka.

Beberapa pengagem pusaka melakukan ritual suguh, yakni ritual mempersembahkan sesajen kepada roh leluhur yang berada di dalam keris pusaka berupa kembang melati, kembang tiga rupa (telon), kopi pahit dan kopi manis, teh manis serta dupa atau kemenyan pada malam Jumat Legi yang menurut perhitungan penanggalan Jawa merupakan hari baik atau yang termasuk dalam hitungan hari Anggoro Kasih. Wujud perilaku ini merupakan salah satu wujud budaya perilaku (Cultural Behavior). Wujud fisik atau benda dari keris pusaka itu sendiri tentu saja dapat dipandang sebagai sebuah wujud hasil perilaku budaya (Cultural Artefact). Dalam melakukan kajian identitas budaya suatu masyarakat, ketiga perwujudan budaya tersebut kerap kali dijadikan pengamatan serta kajian yang mendalam oleh para peneliti.

Pada berbagai kasus perilaku seorang pengagem keris pusaka seringkali dikategorikan sebagai perilaku menyimpang atau sebagian kalangan misalnya para agamawan bahkan memberikan pernyataan bahwa perilaku para pengagem keris pusaka tersebut sesat. Keunikan perilaku dan pola pikir seorang pengagem keris pusaka menjadi bahan dasar kajian etnografi tentang daya magis keris pusaka ini.

Kajian mendalam tentang daya magis keris pusaka kiranya tidak akan terlepas dari konsep-konsep tentang simbol-simbol budaya. Ernest Cassirer dalam bukunya Manusia dan Kebudayaan: Sebuah Esai Tentang Manusia, menyatakan konsep tentang manusia sebagai animal symbolicum. Hal penting yang ditemukan dalam konsep ini ialah bahwa manusia dibedakan dari makhluk ciptaan Tuhan lainnya berdasarkan kemampuan manusia dalam menciptakan serta memahami simbol-simbol.

Pemahaman tentang daya magis keris pusaka sarat dengan kemampuan para pengagem keris pusaka untuk berpikir dan memahami simbol-simbol yang berkaitan dengan daya tersebut. Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh seorang pengagem keris pusaka juga merupakan tindakan-tindakan simbolis. Seorang pengagem keris pusaka tentu saja melakukan gerakan-gerakan khusus yang mengandung arti khusus pula serta merupakan simbol pemahamannya terhadap daya magis keris pusaka. Sebagai contoh, ketika seorang pengagem keris pusaka hendak menarik keluar sebilah keris pusaka dari sarung (warangka) keris tersebut ia akan terlebih dahulu meletakkan/menempelkan keris beserta warangkanya pada keningnya. Perilaku ini merupakan perilaku simbolis yang mewujudkan sebuah penghormatan terhadap daya magis yang dalam pemahaman seorang pengagem keris pusaka berada dalam keris pusaka yang sedang dipegangnya tersebut.

Keris pusaka sebagai sebuah benda hasil perilaku budaya (Cultural Artefact) merupakan manifestasi dari simbol-simbol budaya yang merupakan cerminan pola tatanan hidup dan pemahaman spritualitas dari masyarakat sebagai sebuah entitas budaya. Bentuk keris (dapur) yang bermacam-macam jenis adalah simbolisasi pesan tentang apa yang dapat dihayati sebagai hasil dari penghayatan tentang kehidupan. Sebagai contoh, bentuk keris yang condong ke depan (condong leleh) menggambarkan manusia yang sedang membungkukkan badannya yang dapat diartikan seseorang yang menyembah kepada Tuhan pencipta alam semesta. Bentuk lurus merupakan sebuah tuntunan untuk bertakwa kepada Tuhan serta bentuk berlekuk atau keluk seperti asap dupa yang berkeluk-keluk menuju kearah atas sebagai manifestasi menuju kemanunggalan terhadap sang Maha Kuasa. Ratusan bentuk dapur mencerminkan bermacam-macam harapan, dapur Brojol misalnya, adalah sebuah pengejawantahan keinginan manusia untuk dapat lancar (mbrojol) dalam hal menyelesaikan kesulitan yang dihadapinya.

Pandangan sebagian masyarakat (Jawa) terhadap keris akan selalu berkaitan dengan soal gaib dan berhubungan erat dengan keyakinan (kepercayaan) mereka. Namun kemampuan untuk menafsirkan “kegaiban” pada setiap keris sangat beragam. Berdasarkan cerita mitos, keris berasal dari pemberian Dewa tanpa diketahui pembuatnya, misalnya keris Pasupati dalam pewayangan diberikan oleh dewa kepada Harjuna karena membunuh raksasa Newatakawaca yang menyerang kayangan. Ada keris yang terjadi dari taring Batara Kala dan bernama Keris Kaladete, keris yang kemudian dimiliki oleh Adipati Karna.

Pada cerita sejarah, ada keris yang berhubungan dengan berdirinya suatu kerajaan, misalnya “Keris Empu Gandring” yang dipesan oleh Ken Arok akhirnya untuk membunuh Tunggul Ametung dari Tumapel, setelah berhasil Ken Arok mendirikan Kerajaan Singasari, Cerita ini terdapat dalam Kitab Pararaton. Diceritakan juga pada jaman Mataram, Ki Ageng Wanabaya (Ki Ageng Mangir) mendapat keris kyai baru. Kyai Baru adalah penjelmaan seekor naga yang sedang bertapa dan membelit Gunung Merapi, sebagai syarat untuk mendapatkan separo kerajaan Pajang. Cerita ini berhubungan dengan terjadinya Rawapening Ambarawa. Dan cerita ini sangat populer dalam masyarakat dan bersifat cerita rakyat.

Fenomena keris di atas dalam cerita mitos, cerita sejarah dan cerita rakyat dan bahkan mungkin cerita-cerita yang lain seolah mempunyai kekuatan di luar kemampuan manusia (kekuatan gaib). Bahkan ada cerita tentang keris yang mampu menghilang dan datang dan kembali ke asalnya (Dewa), dan atau pindah ke lain pemilik sesuai kehendaknya. Ini kemudian diyakini oleh sebagian masyarakat karena fenomena gaib atau mempunyai kekuatan di luar kekuatan manusia. Pokok persoalannya bukanlah isi cerita, kebenaran cerita atau kebenaran bahwa keris mempunyai kekuatan gaib. Yang sangat penting adalah fenomena cerita di atas mempunyai kekuatan yang dahsyat dan mampu membentuk image masyarakat tentang keberadaan keris.

Cerita-cerita tersebut mampu membentuk opini masyarakat untuk dan mampu mempertahankan artifak budaya (keris), sekaligus mengantarkan keris sebagai warisan budaya. Keris sebagai ekspresi budaya nusantara mampu dilestarikan keberadaannya, melalui fenomena cerita-cerita dan kemudian mampu memberikan wacana kepada masyarakat sebagai keyakinan, Termasuk keyakinan terhadap keris sebagai benda pusaka yang dikeramatkan, maka seolah ada kewajiban masyarakat untuk merawatnya. Hal ini menjadi bukti daya tahan kebudayaan dalam masyarakat.

Fenomena keyakinan masyarakat itu lahir dan berkembang di semua individu masyarakat Jawa. Keyakinan-keyakinan itu menghantarkan keris sebagai artifak yang mampu bertahan sebagai pusaka budaya. Fenomena ini yang disebut dengan metode rekayasa kultural yang mereka terapkan melalui munculnya cerita mitos, cerita sejarah dan cerita rakyat. Keris kemudian bukan lagi sekedar sebagai senjata tetapi merupakan fenomena dalam rangka membangun pilar-pilar kebudayaan. 

Keris yang konon sebagai senjata tikam, kemudian keris digunakan para prajurit dan pengageng keraton sebagai senjata sekaligus sebagai lambang status dalam tata busana di dalam keraton. Bahkan keris juga dipakai sebagai pelengkap upacara di lingkungan istana dan keris secara sah menjadi lambang pengagungan dan status kebangsawanan. Dewasa ini telah mengalami pergeseran nilai dan
fungsi.

Perubahan pranata sosial masyarakat, mengakibatkan perubahan fungsi keris. Keris sebagai senjata tikam dan sekaligus sebagai lambang status kebangsawanan di lingkungan keraton mulai bergeser. Namun perlu dicatat bahwa pergeseran keris tersebut di atas tetap mengacu pada fenomena keraton sebagai sumber budaya pengagungan. Sehingga berbicara “keris” tidak akan lepas dari keraton sebagai pusat kebudayaan. Itulah mengapa pemakaian keris pada upacara-upacara hajatan yang diselenggarakan oleh masyarakat tetap mengacu ke dalam keraton sebagai sumber budaya pengagungan.

Di sisi lain, masyarakat tetap menganggap keris sebagai sebuah benda yang memiliki nilai magis dan dikeramatkan, sehingga ada pengaruh dari keraton ataupun tidak, sebenarnya manset masyarakat telah terbentuk sekian lama, yang menyatakan bahwa keris merupakan warisan leluhur yang memiliki nilai tinggi dan perlu di jaga dengan baik.

Keyakinan masyarakat akan kebudayaan, tradisi dan peninggalan leluhur yang di kemas dalam kehidupan sehari-hari juga tidak lepas dengan kepercayaannya terhadap sebuah agama dan tuhan. Bagi sebagian masyarakat, benda-benda seperti keris dan pusaka lainnya, tidak ubahnya hanya sebagai benda pusaka yang menjadi peninggalan leluhur yang perlu dijaga dan dilestarikan. Sebagian masyarakat yang lain melihat peninggalan-peninggalan tersebut sebagai sarana atau media untuk menguatkan keyakinan bahwa dalam kehidupan ini ada yang memiliki dan menjalankannya, yaitu sang maha kuasa.

Daya tarik keris pusaka
Alasan utama para pengagem keris pusaka ialah keindahan dan seni dari bentuk fisik keris pusaka. Namun para kolektor keris pusaka merasakan hal-hal yang menurut mereka merupakan rasa yang didapat ketika mereka berada dekat dengan koleksi keris-keris mereka, seperti yang dapat disimak dari petikan wawancara yang akan diberikan di akhir bagian ini. Rasa-rasa yang diperoleh ketika seorang kolektor keris pusaka dan sekaligus pengagem keris pusaka antara lain:

1. Ketenangan jiwa/bathin
2. Kepuasan diri karena telah melestarikan budaya bangsa
3. Kebanggaan pribadi
4. Harapan akan pertolongan Tuhan melalui perantaraan daya magis keris pusaka

Para kolektor keris pusaka memiliki khazanah kriteria-kriteria yang secara umum dapat dikatakan sama, antara seorang kolektor keris pusaka dan lainnya. Para kolektor keris sangat jeli dan bahkan dapat dikatakan ahli dalam mengamati dan menilai wujud keris pusaka. Hal-hal yang menjadi perhatian utama para kolektor keris pusaka ketika menilai sebuah keris pusaka antara lain:

1. Dapur (wajah) berarti wujud atau bentuk keris.
2. Pamor artinya campuran. Sederhananya pamor adalah hiasan pada bilah keris yang nampak lebih terang dari warna logam bilahnya. Hal ini berkat logam campuran yang diikutan pada penempaan saat proses pembuatan keris.
3. Dalam dunia perkerisan dikenal pula istilah pasikutan. Yang dimaksudkan adalah kesan selintas, ketika memandang bentuk keris. Kesan ini tentu saja hanya bisa dirasakan oleh para kolektor keris pusaka.
4. Pertimbangan lain yang tak kalah pentingnya adalah Tangguh. Yang dimaksudkan adalah gaya daerah asal atau gaya jaman pembuatan keris tersebut.

Para kolektor keris pusaka ternyata meyakini bahwa keris pusaka memiliki daya magis atau yang kerap kali disebut daya isoteri keris pusaka. Para kolektor keris pusaka tidak melulu memakai pertimbangan wujud fisik sebagai dasar/alasan untuk mengoleksi sebuag keris pusaka. Daya magis keris pusaka merupakan aspek penting dalam menentukan apakah sebuah keris pusaka layak dikoleksi atau tidak. Keris-keris pusaka kuno tentu saja menjadi incaran para kolektor keris pusaka. Ada beberapa hal yang membuat keris-keris pusaka kuno tersebut menjadi sangat berharga di mata para kolektor. Di antara alasan-alasan mengapa keris-keris pusaka kuno tersebut menjadi incaran ialah nilai historis keris pusaka, nilai koleksi keris pusaka, daya magis keris pusaka kuno.


Referensi:

Cassier, Ernest. 1990. Manusia dan Kebudayaan: Sebuah Esai Tentang Manusia. Jakarta: Gramedia.
Koentjoroningrat. 2002. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineke Cipta.
Koesni, Pakem Pengetahuan Tentang Keris, (Semarang: CV. Aneka Ilmu, 2003).
Dharsono (Sony kartika) & Hj.Sunarmi, Estetika seni rupa nusantara, Surakarta: Citra saint, 2007.

0 Response to "Fenomena keris pusaka dan daya tariknya"

Posting Komentar